Contoh Cara Pencatatan Jurnal Pembagian Dividen

Pencatatan jurnal pembagian dividen adalah langkah penting dalam aktivitas keuangan perusahaan. Dividen merupakan pembagian laba perusahaan kepada pemegang saham dan dapat berupa dividen tunai, dividen saham, dividen properti, dividen skrip, atau dividen likuidasi.

Pencatatan jurnal dividen mencakup pengurangan laba ditahan pada saat penetapan dividen dan pencatatan utang dividen yang akan dibayarkan kepada pemegang saham.

Pada saat pembayaran dividen, utang dividen dikurangkan dari kas/bank perusahaan.

Perhitungan dividen melibatkan laba bersih perusahaan, dividend payout ratio (DPR), dan jumlah saham yang beredar (khususnya untuk perusahaan yang tidak terdaftar di bursa saham). Besaran dividen per saham dapat dihitung dengan rumus:

Dividen per saham = (Laba bersih x DPR) / Jumlah saham yang beredar

Contoh perhitungan dividen menggambarkan bagaimana besaran dividen dihitung berdasarkan laba bersih perusahaan, kebijakan pembayaran dividen, dan jumlah saham yang beredar.

Pencatatan jurnal pembagian dividen adalah proses penting yang memastikan bahwa semua transaksi tercatat dengan benar dalam buku akuntansi perusahaan.

Jurnal ini mencerminkan perubahan dalam posisi keuangan perusahaan seiring dengan pembayaran dividen kepada pemegang saham.

Cara Pencatatan Jurnal Pembagian Dividen

Pencatatan jurnal pembagian dividen adalah langkah penting dalam aktivitas keuangan sebuah perusahaan.

Jurnal ini mencerminkan transparansi dan akuntabilitas perusahaan terhadap pemegang sahamnya.

Dalam pembagian dividen, terutama dividen tunai, terdapat beberapa langkah yang harus diikuti untuk mencatatnya dengan benar dalam jurnal akuntansi.

Penetapan Besaran Dividen

Langkah pertama dalam mencatat pembagian dividen adalah penetapan besaran dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham.

Besaran dividen ini biasanya ditetapkan dalam rapat direksi dan disahkan dalam rapat pemegang saham.

Besaran dividen bisa berupa persentase tertentu dari laba bersih perusahaan atau besaran tetap per saham.

Pencatatan Jurnal saat Dividen Ditetapkan

Ketika besaran dividen sudah ditetapkan, langkah selanjutnya adalah mencatatnya dalam jurnal.

Pada saat penetapan dividen, perusahaan akan mengurangkan laba yang akan dibagikan sebagai dividen dari laba ditahan.

Laba ditahan adalah bagian dari ekuitas perusahaan yang mencerminkan akumulasi laba dari tahun-tahun sebelumnya yang tidak dibagikan kepada pemegang saham.

Contoh jurnal pada saat penetapan dividen:

BACA JUGA :  Akuntansi Perpajakan: Pengertian, Contoh Perhitungan

Pada contoh di atas, kita mengurangkan laba ditahan sebesar jumlah dividen yang akan dibayarkan, yaitu Rp300,000, dan mencatatnya sebagai utang dividen yang akan dibayarkan kepada pemegang saham.

Pencatatan Jurnal saat Dividen Dibayarkan

Setelah dividen ditetapkan dan dinyatakan sebagai utang dividen, langkah selanjutnya adalah mencatat pembayaran dividen kepada pemegang saham.

Pencatatan ini terjadi pada saat dividen benar-benar dibayarkan kepada pemegang saham.

Contoh jurnal pada saat pembayaran dividen:

Pada contoh di atas, kita mengurangkan utang dividen sebesar jumlah dividen yang dibayarkan, yaitu Rp300,000, dan mencatatnya sebagai pengeluaran kas/bank.

Pencatatan Jurnal untuk Pembayaran Dividen Saham

Jika perusahaan membagikan dividen dalam bentuk saham baru kepada pemegang saham, pencatatan jurnalnya akan sedikit berbeda.

Pada saat pembayaran dividen saham, perusahaan akan mengurangkan laba ditahan dan mencatat penambahan modal saham.

Contoh jurnal pada saat pembayaran dividen saham:

Dalam contoh di atas, laba ditahan dikurangkan sebesar jumlah dividen saham yang akan dibayarkan, yaitu Rp300,000, dan jumlah saham yang beredar akan ditambahkan sebesar jumlah saham yang dibagikan sebagai dividen.

Pencatatan jurnal pembagian dividen sangat penting karena mencerminkan perubahan dalam posisi keuangan perusahaan.

Dengan mencatatnya secara akurat, pemegang saham dan pihak terkait dapat melacak dan memahami bagaimana dividen dibagikan dan bagaimana hal ini memengaruhi laporan keuangan perusahaan.

Jenis-Jenis Dividen

Sebelum membahas lebih lanjut tentang pencatatan jurnal dividen, penting untuk memahami jenis-jenis dividen yang dapat dibagikan oleh perusahaan kepada pemegang saham.

Jenis dividen ini mencerminkan bagaimana dividen dibagikan dan dalam bentuk apa.

  1. Dividen Tunai (Cash Dividend): Dividen tunai adalah jenis dividen yang paling umum. Dividen ini dibayarkan kepada pemegang saham dalam bentuk uang tunai. Besaran dividen tunai biasanya dinyatakan dalam jumlah rupiah atau persentase dari laba bersih per saham.
  2. Dividen Saham (Stock Dividend): Dividen saham dibayarkan dengan cara mengeluarkan saham baru kepada pemegang saham yang ada. Ini berarti pemegang saham akan menerima lebih banyak saham perusahaan sebagai dividen, yang kemudian dapat mereka jual atau simpan.
  3. Dividen Properti (Property Dividend): Dividen properti adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk properti fisik atau aset perusahaan. Properti ini bisa berupa persediaan, tanah, bangunan, kendaraan, atau aset lainnya. Perusahaan akan mencatat properti yang diberikan sebagai dividen pada nilai pasar wajar.
  4. Dividen Skrip (Script Dividend): Dividen skrip adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk surat janji utang kepada pemegang saham. Pemegang saham akan menerima surat berharga yang dapat mereka tukar dengan uang tunai pada tanggal jatuh tempo.
  5. Dividen Likuidasi (Liquidating Dividend): Dividen likuidasi terjadi saat perusahaan memutuskan untuk mengakhiri bisnisnya atau dalam proses likuidasi. Dividen ini mengembalikan modal yang telah ditanamkan oleh pemegang saham sebagai ekuitas perusahaan.
BACA JUGA :  Jenis, Pengertian, Faktor Yang Mempengaruhi Penawaran Adalah Berikut

Jenis dividen yang dipilih oleh perusahaan akan bergantung pada kebijakan perusahaan, kondisi keuangan, dan tujuan perusahaan dalam membagikan dividen.

Setiap jenis dividen memiliki implikasi akuntansi yang berbeda, dan pencatatannya harus sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku.

Perhitungan Dividen

Perhitungan dividen adalah langkah penting dalam menentukan besaran dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham.

Besaran dividen ini dapat bervariasi tergantung pada kebijakan perusahaan dan laba yang tersedia. Ada beberapa komponen yang perlu diperhitungkan dalam perhitungan dividen:

  1. Laba Bersih Perusahaan (Net Income): Laba bersih perusahaan adalah laba yang diperoleh setelah mengurangkan semua biaya dan beban dari pendapatan perusahaan. Laba bersih ini menjadi dasar untuk menghitung dividen.
  2. Dividend Payout Ratio (DPR): Dividend Payout Ratio adalah persentase dari laba bersih perusahaan yang akan dibagikan sebagai dividen. DPR adalah kebijakan perusahaan yang dapat bervariasi dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Jika DPR adalah 30%, maka 30% dari laba bersih akan dibagikan sebagai dividen.
  3. Jumlah Saham yang Beredar (for Non-Public Companies): Jumlah saham yang beredar perlu diketahui untuk menghitung dividen per saham. Bagi perusahaan yang tidak terdaftar di bursa saham, jumlah saham ini dapat lebih mudah dihitung.

Dengan menggunakan rumus berikut, kita dapat menghitung besaran dividen per saham:

Dividen per saham = (Laba bersih x DPR) / Jumlah saham yang beredar

Contoh Perhitungan Pembagian Dividen:

Suatu perusahaan memiliki saham beredar sebanyak 30.000.000 lembar per saham yang mencetak laba bersih sebesar Rp6.000.000.000. Kebijakan pembagian dividen perusahaan tersebut adalah sebesar 30% dari laba bersih.

Berdasarkan keterangan tersebut, maka perhitungan dividennya adalah: Dividen total = Laba bersih x DPR (%) Dividen total = Rp6.000.000.000 x 30% Dividen total = Rp1.800.000.000

Lalu, hitung besaran pembagian dividennya: Dividen per saham = Total dividen / saham yang beredar Dividen per saham = Rp1.800.000.000 / 30.000.000 Dividen per saham = Rp60/lembar saham

BACA JUGA :  Integrasi Ekonomi ASEAN untuk Ekspansi Perluasan Pasar

Dalam contoh ini, besaran dividen per saham adalah Rp60 per lembar saham.

Contoh Pencatatan Jurnal Pembagian Dividen

Pencatatan jurnal pembagian dividen adalah langkah kunci dalam menggambarkan bagaimana dividen dibagikan dan mencerminkan perubahan dalam posisi keuangan perusahaan.

Selain itu, pencatatan jurnal ini juga memastikan bahwa perusahaan mematuhi prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku.

Mari kita lihat contoh pencatatan jurnal untuk pembagian dividen tunai dalam sebuah perusahaan.

Pada contoh ini, PT ABC akan membagikan dividen tunai sebesar Rp150 per lembar saham kepada 2.000 lembar saham yang dimiliki oleh pemegang saham.

Contoh Kasus:

Pada tanggal 15 Desember 2021, PT ABC memutuskan untuk membagikan dividen tunai sebesar Rp150 per lembar saham sebanyak 2.000 lembar saham, yang berarti totalnya sebesar Rp300.000. Lalu pada tanggal 29 Desember 2021, dividen tersebut dibayarkan kepada para pemegang saham.

Bagaimana pencatatan jurnalnya?

Jurnal dividen pada tanggal 15 Desember:

Contoh Pencatatan Jurnal Pembagian Dividen

Pada contoh di atas, kita mengurangkan laba ditahan sebesar jumlah dividen yang akan dibayarkan, yaitu Rp300,000, dan mencatatnya sebagai utang dividen yang akan dibayarkan kepada pemegang saham.

Jurnal pembagian dividen pada tanggal 29 Desember:

Contoh Pencatatan Jurnal Pembagian Dividen

Pada contoh di atas, kita mengurangkan utang dividen sebesar jumlah dividen yang dibayarkan, yaitu Rp300,000, dan mencatatnya sebagai pengeluaran kas/bank.

Pencatatan jurnal dividen ini mencerminkan perubahan dalam posisi keuangan perusahaan.

Laba ditahan yang semula mengakumulasi laba yang belum dibagikan kepada pemegang saham, kini mengurangi jumlahnya karena sebagian laba digunakan untuk membayar dividen.

Selanjutnya, utang dividen juga mencerminkan kewajiban perusahaan untuk membayar dividen kepada pemegang saham.

Apakah Pembagian Dividen Dikenakan Pajak?

Pertanyaan umum yang sering muncul adalah apakah pembagian dividen dikenakan pajak.

Jawabannya tergantung pada hukum perpajakan di negara tempat perusahaan beroperasi. Di banyak negara, dividen yang diterima oleh pemegang saham biasanya dikenakan pajak.

Pajak dividen biasanya dibebankan kepada pemegang saham, dan perusahaan bertanggung jawab untuk memotong pajak tersebut dari jumlah dividen yang dibayarkan.

Pajak dividen ini kemudian disetor kepada pihak berwenang.

Namun, pajak dividen dapat berbeda-beda tergantung pada peraturan perpajakan di setiap negara.

Beberapa negara mungkin memberikan perlakuan pajak khusus atau insentif untuk dividen saham tertentu.

Oleh karena itu, perusahaan dan pemegang saham perlu memahami peraturan perpajakan yang berlaku di negara mereka untuk memahami bagaimana dividen mereka akan dikenakan pajak.

Ikuti terus bloghrd.com untuk mendapatkan informasi seputar HR, karir, info lowongan kerja, juga inspirasi terbaru terkait dunia kerja setiap harinya!


Putri Ayudhia

Putri Ayudhia

Putri Ayudhia adalah seorang penulis konten SEO dan blogger paruh waktu yang telah bekerja secara profesional selama lebih dari 7 tahun. Dia telah membantu berbagai perusahaan di Indonesia untuk menulis konten yang berkualitas, SEO-friendly, dan relevan dengan bidang HR dan Psikologi. Ayudhia memiliki pengetahuan yang kuat dalam SEO dan penulisan konten. Dia juga memiliki pengetahuan mendalam tentang HR dan Psikologi, yang membantu dia dalam menciptakan konten yang relevan dan berbobot. Dia memiliki keterampilan dalam melakukan riset pasar dan analisis, yang membantu dia dalam menciptakan strategi konten yang efektif.
https://bloghrd.com