Capital Gain & Besaran Pajak yang Harus Dikeluarkan


Sekilas Mengenai Capital Gain

Mencari keuntungan merupakan salah satu tujuan orang berinvestasi. Istilah ini sering disebut dengan capital gain atau keuntungan modal, yaitu keuntungan sebesar-besarnya yang diperoleh dari penjualan aset untuk investasi tertentu, seperti saham, properti, reksa dana, bisnis, dan lain sebagainya.
Nah, berdasarkan pengertian di atas, hal yang perlu Anda garis-bawahi berada di kata “penjualan”. Artinya, keuntungan tersebut bisa dikatakan sebagai capital gain saat Anda sudah menjual aset investasi tersebut. Jika Anda memiliki suatu aset dan harganya terus naik dari modal awal namun Anda belum menjualnya, maka hal tersebut belum bisa dikatakan sebagai keuntungan modal.
Sebagai contoh, Budi membeli properti di tahun 2010 dengan harga Rp300 juta dan menempatinya sampai tahun 2015 sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah. Saat ingin menjual, harga properti tersebut mencapai Rp500 juta dalam jangka waktu 5 tahun. Namun, Budi perlu mengeluarkan dana mencapai Rp20 juta untuk biaya notaris dan lain-lain saat mengurusi penjualan rumah. Maka, keuntungan modal yang didapat dari investasi itu adalah:
Rp500 juta – Rp300 juta – Rp20 juta = Rp180 juta
Tidak hanya sampai di situ, masih ada hal-hal lain yang terkait dengan keuntungan modal yang perlu Anda ketahui. Apa saja? Yuk, simak penjelasannya pada artikel berikut ini!
Baca juga: Pahami Pajak Kos-Kosan & Cara Penghitungannya di Sini!

Ketahui Jenis-Jenis Capital Gain

Sama seperti jenis investasi, keuntungan modal yang didapat juga dibagi menjadi dua, yaitu capital gain jangka panjang dan capital gain jangka pendek.
Yang membedakan keduanya adalah jangka waktu berapa lama investasi itu dilakukan. Capital gain jangka pendek didapat dari investasi yang lamanya kurang dari satu tahun, sedangkan untuk investasi yang lebih dari satu tahun masuk ke ranah capital gain jangka panjang.
Jangka waktu ini juga yang menentukan jenis dan besaran pajak yang harus dibayarkan. Untuk lebih jelasnya, baca terus artikel ini.
Baca juga: Investasi Saham dan Tarif Pajaknya

Bagaimana dengan Penghitungan Pajaknya?

Tahukah Anda, kedua jenis keuntungan modal di atas berpotensi dikenakan pajak dengan tarif yang berbeda-beda, tergantung pada golongan pajak penghasilan yang dimiliki, berapa lama memiliki aset, serta jenis aset modal yang dihadapi.
Investasi jangka pendek dalam bentuk kolektibilitas dikenakan pajak sebagai keuntungan modal jangka pendek dengan tarif pajak penghasilan biasa. Sedangkan, investasi jangka panjang dalam barang koleksi dikenai pajak pada flat 28%.
Di tahun 2015, capital gain jangka panjang dikenakan pajak yang bermacam-macam, mulai dari 0% untuk pajak penghasilan 10% dan 15%, 15% untuk pajak penghasilan 25% sampai 35%, atau 20% untuk 39.6% pajak penghasilan.

Selain Capital Gain, Anda Juga Bisa Mengalami Capital Loss

Investasi tidak selalu untung, terkadang Anda juga bisa merugi. Inilah yang disebut dengan capital loss, yaitu kondisi ketika Anda kehilangan sejumlah uang dari investasi tersebut. Kondisi ini menimbulkan selisih harga yang berkurang ketika Anda menjual aset tersebut.
Sebagai contoh, Anda membeli saham sebesar Rp20.000 per saham namun saat dijual kembali harganya hanya Rp19.500 per saham. Selisih Rp500 inilah yang disebut dengan capital loss.
Selain itu, kondisi ini akan membuat besaran pajak yang ditanggung menjadi berkurang. Kemudian jika besaran capital loss lebih tinggi dari capital gain, maka Anda dapat mengurangi kerugian tersebut dari penghasilan yang dimiliki.
Baca juga: Serba-Serbi Pajak Penjualan Saham
Nah, sudah jelas kan mengenai capital gain dan kaitannya dengan pajak? Untung dan rugi merupakan hal yang wajar dalam berinvestasi, sehingga bisa menjadi pembelajaran yang baik bagi Anda dalam mengambil langkah selanjutnya. Selain itu, jangan lupa bayar pajak sebagai warga negara yang baik.



Ikuti terus bloghrd.com untuk mendapatkan informasi seputar HR, karir, info lowongan kerja, juga inspirasi terbaru terkait dunia kerja setiap harinya!

Capital gain adalah konsep yang penting dalam dunia investasi. Istilah ini merujuk pada keuntungan yang diperoleh dari penjualan aset investasi seperti saham atau properti, yang nilainya telah meningkat dari harga beli awal.Memahami konsep capital gain adalah hal yang penting karena hal ini dapat membantu kamu dalam memaksimalkan keuntungan dari investasi. Simak penjelasan secara detail tentang capital gain dan segala hal yang perlu kamu ketahui tentang konsepnya, termasuk definisi, jenisnya, cara menghitung, serta perbedaan capital gain dan dividen.

Apa Itu Capital Gain?

capital gainCapital gain adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada keuntungan yang diperoleh dari penjualan aset investasi seperti saham atau properti. Hal ini terjadi ketika harga jual dari aset investasi tersebut lebih tinggi dari harga beli awalnya. Misalnya, seseorang membeli saham dengan harga Rp1.000.000, kemudian menjualnya dengan harga Rp1.500.000, maka ia akan memperoleh capital gain sebesar Rp500.000.Capital gain juga bisa diperoleh dari investasi saham. Misalnya, seseorang membeli saham dengan harga Rp1.000 per lembar, kemudian menjualnya dengan harga Rp1.500 per lembar. Dalam hal ini, capital gain yang diperoleh adalah sebesar Rp500 per lembar saham.Dalam investasi, capital gain seringkali dijadikan sebagai tujuan atau indikator keberhasilan investasi. Namun, perlu diingat bahwa capital gain bukanlah keuntungan yang pasti, karena nilai aset investasi bisa naik dan turun tergantung pada kondisi pasar dan faktor-faktor lainnya. Oleh karena itu, sebelum memulai investasi, kamu perlu memahami risiko yang terkait dengan hal tersebut dan membuat keputusan investasi dengan hati-hati.Baca Juga: 7 Jenis Investasi Paling Menguntungkan & Aman untuk Pemula

Jenis Capital Gain yang Perlu Diketahui

Capital gain merupakan keuntungan yang diperoleh dari penjualan aset investasi seperti saham atau properti dengan harga yang lebih tinggi daripada harga beli awalnya. Ada dua jenis capital gain, yaitu:

1. Short-term Capital Gain

Short-term capital gain terjadi ketika aset investasi dijual dengan keuntungan dalam waktu kurang dari 1 tahun. Di banyak negara, capital gain yang diperoleh dalam waktu kurang dari 1 tahun dikenakan pajak dengan tarif yang lebih tinggi daripada capital gain yang diperoleh dalam jangka waktu yang lebih lama. Sebagai contoh, di Indonesia, capital gain yang diperoleh dari penjualan saham dalam waktu kurang dari 1 tahun dikenakan pajak sebesar 30% dari keuntungan yang diperoleh.

2. Long-term Capital Gain

Long-term capital gain terjadi ketika aset investasi dijual dengan keuntungan setelah lebih dari 1 tahun. Pada umumnya, capital gain yang diperoleh dalam waktu yang lebih lama dikenakan pajak dengan tarif yang lebih rendah daripada capital gain yang diperoleh dalam waktu yang lebih singkat. Sebagai contoh, di Indonesia, capital gain yang diperoleh dari penjualan saham setelah lebih dari 1 tahun dikenakan pajak sebesar 0,5% dari harga jual.Dalam investasi saham, long-term capital gain dapat menjadi target utama bagi para investor yang ingin memaksimalkan keuntungan investasi mereka. Hal ini dikarenakan saham-saham yang memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang seringkali memberikan capital gain yang lebih besar jika dijual setelah lebih dari 1 tahun.Kedua jenis capital gain memiliki perbedaan tarif pajak yang signifikan, sehingga kamu perlu memperhitungkan jangka waktu investasi mereka dengan hati-hati. Ada keuntungan dan risiko terkait dengan setiap jenis capital gain, jadi, para investor harus melakukan analisis yang cermat sebelum melakukan investasi.Baca Juga: Saham adalah: Definisi, Jenis, Keuntungan, Risiko, dan Tips

Cara Menghitung Capital Gain yang Benar

Cara menghitung capital gain adalah langkah penting dalam investasi karena dapat membantumu untuk memahami seberapa besar keuntungan yang mereka peroleh dari aset investasi yang mereka miliki. Berikut adalah cara menghitung capital gain yang benar:

1. Tentukan Harga Beli

Harga beli adalah harga awal yang dibayarkan oleh investor saat membeli aset investasi tersebut. Harga beli dapat mencakup biaya-biaya tambahan seperti biaya transaksi dan biaya administrasi.

2. Tentukan Harga Jual

Harga jual adalah harga yang diterima oleh investor saat menjual aset investasi tersebut. Harga jual juga dapat mencakup biaya-biaya tambahan seperti biaya transaksi dan biaya administrasi.

3. Kurangi Harga Beli dari Harga Jual

Setelah menentukan harga beli dan harga jual, langkah selanjutnya adalah mengurangi harga beli dari harga jual. Hasil dari pengurangan ini adalah capital gain yang diperoleh dari investasi tersebut.Rumusnya adalah: Capital Gain = Harga Jual – Harga Beli

4. Hitung Pajak Capital Gain

Pajak capital gain dihitung berdasarkan peraturan yang berlaku di negara masing-masing. Tarif pajak capital gain biasanya berbeda-beda tergantung pada jangka waktu investasi, jenis aset investasi, dan besaran keuntungan yang diperoleh.Untuk menghitung pajak capital gain, investor perlu mengetahui tarif pajak yang berlaku dan mengalikan capital gain yang diperoleh dengan tarif pajak tersebut. Setelah itu, investor perlu mengurangi pajak yang dikenakan dari capital gain yang diperoleh.Rumusnya adalah: Pajak Capital Gain = Capital Gain x Tarif Pajak

5. Hasil Akhir

Setelah menghitung capital gain dan pajak yang terkait, investor dapat menghitung hasil akhir dari investasi tersebut dengan mengurangi pajak yang dikenakan dari capital gain yang diperoleh.Rumusnya adalah: Hasil Akhir = Capital Gain – Pajak Capital GainJadi, cara menghitung capital gain adalah langkah penting dalam investasi. Dalam melakukan perhitungan, investor perlu memperhitungkan biaya-biaya tambahan dan tarif pajak yang berlaku untuk mendapatkan hasil akhir yang akurat dan sesuai dengan kondisi pasar.Baca Juga: Perbedaan Saham dan Obligasi, Mana yang Terbaik Untukmu?

Perbedaan Capital Gain dan Dividen dalam Investasi

perbedaan capital gain dan dividenPerbedaan mendasar antara capital gain dan dividen adalah sumber keuntungannya. Capital gain diperoleh dari kenaikan harga aset investasi, sedangkan dividen diperoleh dari keuntungan perusahaan.Capital gain biasanya diperoleh setelah jangka waktu tertentu yang tergantung pada kondisi pasar, sedangkan dividen diberikan secara periodik bisa setiap bulan atau setiap tahun.Aset investasi yang memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang seringkali memberikan capital gain yang lebih besar jika dijual setelah lebih dari 1 tahun. Capital gain juga biasanya dikenakan pajak, tergantung pada kebijakan pemerintah yang berlaku.Lalu untuk besaran dividen yang diberikan perusahaan biasanya berbeda-beda, tergantung dari kondisi keuangan dan kebijakan perusahaan tempat berinvestasi.Kedua jenis penghasilan dalam investasi tersebut dapat memberikan keuntungan kepada investor. Namun, perlu diingat bahwa kedua jenis penghasilan tersebut juga memiliki risiko yang terkait dengan kondisi pasar dan kinerja perusahaan.Oleh karena itu, sebelum memulai investasi, kamu perlu memahami risiko yang terkait dengan hal tersebut dan membuat keputusan investasi dengan hati-hati. Selain itu, cara menghitung capital gain yang benar juga sangat penting agar kamu dapat memahami seberapa besar keuntungan yang kamu peroleh dari aset investasi yang kamu miliki. Jadi, selalu lakukan analisis yang cermat sebelum melakukan investasi dan pilihlah investasi yang tepat untuk memaksimalkan keuntungan investasimu.Agar kamu lebih cemat lagi dalam berinvestasi, langganan newsletter di KitaMapan, yuk! Pasti kamu bisa mendapatkan informasi seputar keuangan dan investasi dengan lebih lengkap dan terdepan. Demikian informasi mengenai capital gain, semoga artikel ini bermanfaat, ya!‍

Ikuti terus bloghrd.com untuk mendapatkan informasi seputar HR, karir, info lowongan kerja, juga inspirasi terbaru terkait dunia kerja setiap harinya!


Putri Ayudhia

Putri Ayudhia

Putri Ayudhia adalah seorang penulis konten SEO dan blogger paruh waktu yang telah bekerja secara profesional selama lebih dari 7 tahun. Dia telah membantu berbagai perusahaan di Indonesia untuk menulis konten yang berkualitas, SEO-friendly, dan relevan dengan bidang HR dan Psikologi. Ayudhia memiliki pengetahuan yang kuat dalam SEO dan penulisan konten. Dia juga memiliki pengetahuan mendalam tentang HR dan Psikologi, yang membantu dia dalam menciptakan konten yang relevan dan berbobot. Dia memiliki keterampilan dalam melakukan riset pasar dan analisis, yang membantu dia dalam menciptakan strategi konten yang efektif.
https://bloghrd.com