Revaluasi Aset, Penilaian Kembali Aset untuk Diskon Pajak - bloghrd.com

Revaluasi aset adalah suatu proses penting dalam dunia bisnis yang bertujuan untuk menilai kembali nilai aset tetap yang dimiliki oleh suatu perusahaan atau entitas. Proses ini dilakukan sebagai respons terhadap perubahan nilai aset tetap di pasar atau karena nilai aset tetap dalam laporan keuangan perusahaan yang tidak mencerminkan nilai wajar. Revaluasi aset adalah instrumen yang kuat dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis dan perubahan nilai aset dalam perusahaan.

Pengertian Revaluasi Aset

Revaluasi aset dapat didefinisikan sebagai penilaian kembali atas aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan atau entitas. Hal ini dilakukan sebagai akibat dari berbagai faktor, seperti kenaikan atau penurunan nilai aset tetap di pasaran, atau ketidaksesuaian nilai aset dalam laporan keuangan perusahaan. Kenaikan atau penurunan nilai aset dapat mengakibatkan nilai aset tetap pada laporan keuangan tidak mencerminkan nilai wajar.

Oleh karena itu, penilaian ulang aset dilakukan untuk memastikan bahwa perusahaan dapat melakukan perhitungan penghasilan dan biaya secara lebih wajar. Dengan begitu, nilai dan kemampuan perusahaan yang sebenarnya akan tercermin dengan lebih akurat.

Dasar Hukum Revaluasi Aset

Dasar hukum mengenai revaluasi aset telah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Pasal 19 Ayat UU 36/2008 memberikan landasan hukum untuk revaluasi aset:

“Menteri Keuangan berwenang menetapkan peraturan tentang penilaian kembali aktiva dan faktor penyesuaian apabila terjadi ketidaksesuaian antara unsur-unsur biaya dengan penghasilan karena perkembangan harga.”

Pasal tersebut memberikan kewenangan kepada Menteri Keuangan untuk mengatur mengenai penilaian kembali aset dan faktor-faktor penyesuaian yang diperlukan jika terjadi ketidaksesuaian antara unsur-unsur biaya dengan penghasilan akibat perkembangan harga.

Selain dalam UU, regulasi tentang penilaian kembali aset juga diperinci dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 191/PMK.10/2015 tentang Penilaian Kembali Aktiva Tetap untuk Tujuan Perpajakan bagi Permohonan yang Diajukan pada Tahun 2015 dan Tahun 2016. Regulasi ini menjelaskan lebih lanjut mengenai perlakuan pajak yang berkaitan dengan revaluasi aset.

Hubungan Revaluasi Aset dengan Perpajakan

Revaluasi aset memiliki hubungan yang erat dengan perpajakan. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, pemerintah membuat regulasi tentang penilaian kembali aset untuk memberikan pengurangan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 19 bagi wajib pajak badan atau perusahaan yang melakukan penilaian kembali aset.

Kebijakan ini merupakan bentuk insentif perpajakan yang diberikan kepada wajib pajak dengan tujuan mendorong pelaporan nilai aset tetap yang lebih akurat berdasarkan nilai wajar. Penilaian ulang aset adalah langkah penting dalam memastikan bahwa nilai aset dalam laporan keuangan mencerminkan nilai yang wajar sesuai dengan kondisi pasar.

BACA JUGA :  Cara dan Contoh Surat Permohonan Pencabutan PKP

Selain itu, regulasi ini juga sejalan dengan implementasi International Financial Reporting Standard (IFRS) mengenai akuntansi nilai wajar. Dalam konteks ini, penilaian kembali aset membantu perusahaan untuk memenuhi standar akuntansi internasional yang mengharuskan aset tetap dicatat berdasarkan nilai wajar.

Periode Penerapan Kebijakan Revaluasi Aset

Kebijakan insentif pajak yang berkaitan dengan revaluasi aset berlaku bertahap dengan tarif yang berbeda, yang disesuaikan pada saat wajib pajak melakukan pemanfaatan insentif perpajakan penilaian kembali aset. Tarif tersebut dikenakan atas selisih penilaian kembali aktiva sebagaimana dimaksud, dan ditetapkan oleh Peraturan Menteri Keuangan.

Periode penerapan kebijakan ini adalah sebagai berikut:

  1. Periode 2015-2016: Untuk permohonan revaluasi aset yang diajukan sampai dengan 31 Desember 2015 dan penilaian kembali selesai paling lambat 31 Desember 2016, tarif pengurangan PPh adalah sebesar 3%.
  2. Periode 2016-2017: Untuk permohonan revaluasi aset yang diajukan pada periode Januari-Juni 2016 dan penilaian kembali selesai paling lambat 30 Juni 2017, tarif pengurangan PPh adalah sebesar 4%.
  3. Periode 2016-2017: Untuk permohonan revaluasi aset yang diajukan pada periode Juli-Desember 2016 dan penilaian kembali selesai paling lambat 31 Desember 2017, tarif pengurangan PPh adalah sebesar 6%.

Perlu diperhatikan bahwa kebijakan insentif pajak ini telah berakhir setelah tahun 2017. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memahami periode penerapan kebijakan ini dan mengambil tindakan yang sesuai sesuai dengan tenggat waktu yang berlaku.

Aset yang Dapat Direvaluasi

Tidak semua aset perusahaan dapat direvaluasi. Aset yang dapat direvaluasi adalah aset tetap berwujud yang terletak di Indonesia. Aset tetap berwujud adalah aset yang memiliki bentuk fisik dan biasanya digunakan dalam operasi perusahaan untuk menghasilkan penghasilan yang merupakan objek pajak.

Contoh aset yang dapat direvaluasi meliputi:

  1. Tanah dan Bangunan: Ini mencakup tanah, gedung, dan struktur lainnya yang dimiliki oleh perusahaan.
  2. Mesin dan Peralatan: Termasuk mesin produksi, peralatan kantor, kendaraan, dan peralatan lain yang digunakan dalam operasi perusahaan.
  3. Inventaris: Barang-barang yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijual atau digunakan dalam produksi.

Aset tetap berwujud yang terletak di luar Indonesia tidak dapat direvaluasi untuk tujuan perpajakan di Indonesia.

Proses Revaluasi Aset

Proses revaluasi aset adalah langkah-langkah yang harus diikuti oleh perusahaan untuk menilai kembali nilai aset tetapnya. Proses ini melibatkan beberapa tahap, termasuk pemilihan penilai independen, pengukuran nilai wajar, dan penyusunan laporan revaluasi. Berikut adalah langkah-langkah dalam proses revaluasi aset:

  1. Pemilihan Penilai Independen: Perusahaan harus memilih penilai independen yang memiliki lisensi atau izin yang sah untuk melakukan penilaian aset tetap. Penilai ini harus memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai dalam menilai jenis aset yang akan direvaluasi.
  2. Pengukuran Nilai Wajar: Penilai independen akan melakukan pengukuran nilai wajar aset tetap berdasarkan metodologi yang relevan. Metodologi ini dapat melibatkan perbandingan dengan transaksi serupa, analisis pasar, atau metode lain yang sesuai.
  3. Penyusunan Laporan Revaluasi: Setelah penilaian selesai, penilai independen akan menyusun laporan revaluasi yang berisi informasi mengenai nilai wajar aset tetap, metodologi yang digunakan, serta asumsi-asumsi yang mendasari penilaian. Laporan ini harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh peraturan perpajakan.
  4. Pengajuan Permohonan ke DJP: Perusahaan harus mengajukan permohonan revaluasi aset kepada Direktorat Jenderal Pajak (DJP) bersama dengan laporan revaluasi dan dokumen-dokumen yang diperlukan lainnya.
  5. Pengurangan PPh: Jika permohonan revaluasi aset disetujui oleh DJP, maka perusahaan akan memperoleh pengurangan tarif PPh sesuai dengan tarif yang berlaku pada periode tersebut.
  6. Pencatatan dalam Laporan Keuangan: Setelah revaluasi aset, perusahaan harus mencatat nilai wajar aset tetap dalam laporan keuangan mereka. Hal ini memastikan bahwa nilai aset yang direvaluasi mencerminkan nilai yang wajar dalam laporan keuangan.
BACA JUGA :  Menilik Timbul dan Hapusnya Utang Pajak di Indonesia

Keuntungan Revaluasi Aset

Revaluasi aset bukan hanya sekadar kewajiban perpajakan, tetapi juga dapat memberikan sejumlah keuntungan bagi perusahaan. Berikut adalah beberapa keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan dari revaluasi aset:

1. Menunjukkan Posisi Kekayaan yang Wajar

Revaluasi aset membantu perusahaan untuk menunjukkan posisi kekayaannya yang lebih wajar. Dengan menilai aset berdasarkan nilai wajar, laporan keuangan perusahaan dapat mencerminkan nilai yang lebih realistis dari aset tetap yang dimiliki.

Hal ini sangat penting terutama jika perusahaan berencana untuk go public atau mencari investor potensial. Investor cenderung lebih percaya pada perusahaan yang memiliki laporan keuangan yang mencerminkan nilai aset yang wajar.

2. Mengontrol Permodalan

Revaluasi aset juga membantu perusahaan mengontrol permodalan dengan cara yang positif. Dengan meningkatnya nilai aset, perusahaan dapat mengurangi rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio), yang merupakan indikator kesehatan keuangan.

Rasio ini menjadi lebih rendah, sehingga perusahaan dapat lebih mudah mendapatkan pinjaman dari bank atau institusi keuangan lainnya untuk meningkatkan permodalan. Ini sangat penting terutama bagi perusahaan yang sedang berkembang dan membutuhkan sumber pendanaan tambahan.

3. Meringankan Kewajiban Perpajakan

Setelah revaluasi aset, nilai aset yang dicatat dalam laporan keuangan akan meningkat. Ini akan berdampak pada biaya penyusutan yang lebih tinggi. Dengan biaya penyusutan yang lebih tinggi, laba yang dihasilkan oleh perusahaan akan menurun. Ini dapat membantu perusahaan untuk meringankan kewajiban perpajakan mereka pada tahun-tahun selanjutnya. PPh yang harus dibayarkan oleh perusahaan akan lebih rendah karena laba yang lebih rendah.

4. Menarik Minat Investor

Revaluasi aset dapat meningkatkan performa keuangan perusahaan secara keseluruhan. Hal ini dapat menarik minat investor potensial yang mencari peluang investasi yang menguntungkan. Dengan laporan keuangan yang mencerminkan nilai aset yang wajar, investor cenderung lebih percaya dan yakin terhadap perusahaan.

BACA JUGA :  Kriteria UMKM & Pajaknya yang Perlu Anda Ketahui!

Ini dapat membantu perusahaan dalam mengumpulkan dana melalui penawaran saham atau penerbitan obligasi. Kepercayaan kreditur juga diyakini dapat meningkat, sebagai hasil dari beberapa rasio keuangan perusahaan, seperti debt-to-assets ratio dan debt-to-equity ratio.

5. Menguntungkan bagi Perusahaan yang Ingin Merger

Bagi perusahaan yang ingin melakukan merger, revaluasi aset dapat membantu memudahkan proses tersebut. Dalam konteks merger, setiap perusahaan yang ingin bergabung akan melakukan penilaian kembali aset tetap mereka.

Hasil dari penilaian ini akan membantu dalam menentukan nilai aset yang sebenarnya (nilai wajar) untuk bentuk perusahaan baru setelah merger. Hal ini sangat penting dalam proses negosiasi dan penentuan nilai perusahaan yang terlibat dalam merger.

Frekuensi Revaluasi Aset

Frekuensi revaluasi aset dapat bervariasi tergantung pada jenis aset yang dimiliki oleh perusahaan. Beberapa aset mungkin mengalami perubahan nilai yang lebih cepat daripada yang lain, dan hal ini perlu dipertimbangkan dalam menentukan jadwal revaluasi. Berikut beberapa pertimbangan dalam menentukan frekuensi revaluasi aset:

  1. Tipe Aset: Aset yang harganya cenderung fluktuatif dan dapat berubah secara signifikan dalam waktu singkat, seperti properti komersial atau saham, mungkin memerlukan revaluasi lebih sering, bahkan setiap tahun. Aset yang nilainya cenderung stabil, seperti peralatan berat dalam industri manufaktur, mungkin dapat direvaluasi secara kurang sering, misalnya setiap tiga hingga lima tahun sekali.
  2. Persyaratan Hukum: Beberapa negara atau sektor industri tertentu mungkin memiliki persyaratan hukum yang mengatur frekuensi revaluasi aset. Perusahaan harus mematuhi persyaratan ini untuk mematuhi peraturan perpajakan dan peraturan lain yang berlaku.
  3. Kebijakan Perusahaan: Perusahaan dapat memiliki kebijakan internal yang mengatur frekuensi revaluasi aset. Kebijakan ini dapat didasarkan pada risiko bisnis, nilai aset, atau kebijakan keuangan perusahaan.
  4. Tujuan Revaluasi: Tujuan revaluasi juga dapat memengaruhi frekuensi. Jika tujuannya adalah untuk mendapatkan insentif perpajakan, perusahaan harus mematuhi jadwal yang ditetapkan oleh regulasi perpajakan. Namun, jika tujuannya lebih terkait dengan manajemen risiko atau kebijakan internal, frekuensi revaluasi dapat disesuaikan sesuai kebutuhan.

Kesimpulan

Revaluasi aset adalah proses penting dalam manajemen keuangan perusahaan yang melibatkan penilaian kembali nilai aset tetap. Proses ini memiliki dasar hukum yang diatur dalam peraturan perpajakan dan dapat memberikan sejumlah keuntungan bagi perusahaan, termasuk kemampuan untuk menunjukkan posisi kekayaan yang wajar, mengontrol permodalan, meringankan kewajiban perpajakan, menarik minat investor, dan mendukung proses merger.

Frekuensi revaluasi aset dapat bervariasi tergantung pada jenis aset dan persyaratan hukum yang berlaku. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memahami peraturan dan kebijakan yang berlaku serta melaksanakan revaluasi aset secara tepat waktu sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka. Dengan demikian, perusahaan dapat memanfaatkan semua manfaat yang ditawarkan oleh revaluasi aset dalam mengelola keuangan mereka.

Ikuti terus bloghrd.com untuk mendapatkan informasi seputar HR, karir, info lowongan kerja, juga inspirasi terbaru terkait dunia kerja setiap harinya!


Putri Ayudhia

Putri Ayudhia

Putri Ayudhia adalah seorang penulis konten SEO dan blogger paruh waktu yang telah bekerja secara profesional selama lebih dari 7 tahun. Dia telah membantu berbagai perusahaan di Indonesia untuk menulis konten yang berkualitas, SEO-friendly, dan relevan dengan bidang HR dan Psikologi. Ayudhia memiliki pengetahuan yang kuat dalam SEO dan penulisan konten. Dia juga memiliki pengetahuan mendalam tentang HR dan Psikologi, yang membantu dia dalam menciptakan konten yang relevan dan berbobot. Dia memiliki keterampilan dalam melakukan riset pasar dan analisis, yang membantu dia dalam menciptakan strategi konten yang efektif.
https://bloghrd.com