Efektivitas Balanced Scorecard Untuk Pengukuran Kinerja

Seperti apa efektivitas balanced scorecard untuk pengukuran kinerja? Bloghrd.com akan mengulasnya disini.

Persaingan bukan lagi hal yang baru bagi kalangan para pebisnis.

Semakin maju peradaban, maka semakin kompetitif pula dunia bisnis itu sendiri.

Untuk dapat bertahan di tengah ketatnya persaingan bisnis, maka mau tidak mau dibutuhkan manajemen yang baik dan sejumlah inovasi.

Terutama untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja suatu bisnis atau perusahaan yang dapat dilakukan dengan cara mengubah pola dalam hal produksi, pemasaran, pengelolaan sumber daya manusia, atau penanganan masalah internal maupun eksternal.

Kinerja atau hasil dari sesuatu yang telah dikerjakan, dalam hal ini, dapat dianggap sebagai faktor penentu kesuksesan suatu perusahaan atau bisnis.

Oleh karena itu, kinerja perlu diukur seperti dengan menggunakan Balance Scorecard.

Whittaker dan Simons (2000) mengartikan pengukuran kinerja sebagai suatu metode untuk menilai kemajuan yang telah dicapai dibandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Dengan kata lain, pengukuran kinerja adalah suatu metode analisis untuk menilai peningkatan atau kemajuan pekerjaan berdasarkan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan suatu perusahaan.

Dengan adanya pengukuran kinerja, dapat pula diketahui seberapa efisien karyawan dalam menjalankan fungsinya.

Peningkatan dalam pekerjaan dan efisiensi karyawan dalam melaksanakan tugasnya pada suatu perusahaan sangat memengaruhi keberhasilan perusahaan secara keseluruhan.

Dahulu, untuk dapat mengukur kinerja suatu perusahaan, Anda hanya perlu meninjau aspek keuangannya saja.

Namun, sejalan dengan berkembangnya zaman, sistem pengukuran seperti itu dianggap bukan lagi cara yang relevan untuk mengukur kinerja, karena hanya berfokus pada aspek keuangan dan cenderung tidak memperhatikan aspek nonkeuangan.

Jadi, agar dapat mengukur kinerja suatu perusahaan dari berbagai aspek dengan lebih mudah, diciptakan sebuah perangkat bernama Balanced Scorecard.

Pengertian Balanced Scorecard Adalah?

Pengertian Balanced Scorecard Adalah?

Balanced scorecard  (BSC) atau kartu skor berimbang masih tergolong baru di Indonesia. Konsep ini pertama kali digagas oleh Robert S. Kaplan dan David P.

Norton pada tahun 1992 melalui sebuah tulisan yang diterbitkan dalam majalah Harvard Business Review berjudul “The Balanced Scorecard — Measures That Drive Performance”.

Selanjutnya pada tahun 1995, Kaplan dan Norton menggali teori ini lebih dalam dengan meluncurkan sebuah buku yang berjudul “The Balanced Scorecard — Translating Strategy Into Action”.

Balanced Scorecard sendiri berasal dari kata balanced yang artinya berimbang.

Berimbang di sini maksudnya adalah adanya keseimbangan di antara seluruh aspek-aspek perusahaan yang mencakup segala urusan keuangan atau non-keuangan.

Sedangkan, scorecard berarti kartu skor, alat yang dipergunakan untuk mengukur kinerja secara kuantitatif.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa Balanced Scorecard adalah merupakan suatu konsep sistem manajemen strategi atau metode penilaian yang digunakan untuk mengukur kinerja suatu perusahaan secara utuh, mengelola implementasi strategi, serta mewujudkan visi dan misi perusahaan dalam tindakan nyata melalui empat perspektif, yaitu finansial atau keuangan, aktivitas internal, pelanggan, serta inovasi dan pertumbuhan bisnis.

Manfaat Penerapan Balanced Scorecard Adalah?

Balanced Scorecard tentunya memiliki beberapa manfaat signifikan bagi perusahaan yang menerapkannya.

BACA JUGA :  Apa Pentingnya Membangun Budaya Perusahaan?

Salah satunya adalah meningkatkan komunikasi strategi antara seluruh jajaran perusahaan.

Untuk menerapkan konsep Balanced Scorecard, setiap divisi perusahaan harus bekerja sama dengan divisi lainnya demi mencapai tujuan tertentu.

Konsep ini secara tidak langsung membantu mendorong kesempatan untuk meningkatkan komunikasi strategi dalam suatu perusahaan.

Komunikasi dan kerja sama yang baik antarkaryawan akan berdampak pada sistem kinerja perusahaan agar menjadi lebih terbuka dan dinamis.

Selain itu, Balanced Scorecard juga dapat menunjukkan apa saja target yang perlu dicapai oleh suatu perusahaan di masa depan serta meningkatkan fokus perusahaan terhadap strategi yang akan dipergunakan.

Hal itu mempermudah para karyawan dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan.

Dengan adanya konsep tersebut, prioritas suatu perusahaan dapat ditentukan sesuai dengan tingkat kebutuhan dan waktu yang tersedia.

Bertahan di tengah dunia yang kompetitif, bukanlah hal yang mudah.

Untuk dapat melakukan itu, dibutuhkan peran Balance Scorecard, sehingga perusahaan dapat memantau perkembangan yang terjadi serta melakukan evaluasi secara menyeluruh guna meningkatkan performa agar menjadi semakin baik.

Bukan hanya perusahaan, penerapan Balance Scorecard juga dapat memotivasi karyawan menjalankan fungsinya dengan lebih baik lagi, salah satunya dalam hal memberikan pelayanan terhadap pelanggan.

Kaplan dan Norton juga menyebutkan beberapa manfaat Balanced Scorecard, antara lain sebagai berikut:

  1. Mengklasifikasikan dan mengkomunikasikan strategi keseluruh organisasi.
  2. Menyelaraskan sasaran departemen dan individu dengan strategi organisasi.
  3. Mengaitkan sasaran strategis dengan target jangka panjang dan anggaran tahunan,
  4. Mengidentifikasikan dan menyelaraskan inisiatif strategi,
  5. Melaksanakan peninjauan strategi secara periodik,
  6. Mendapatkan umpan balik yang dibutuhkan untuk memperbaiki strategi.

Empat Perspektif Balanced Scorecard Adalah Sebagai Berikut

Balanced Scorecard mengukur kinerja perusahaan melalui empat perspektif yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan atau konsumen, perspektif proses internal bisnis, dan perspektif inovasi dan pertumbuhan bisnis.

Perspektif Keuangan (Financial Perspective) 

Financial perspective atau sudut pandang finansial merupakan tolak ukur yang penting, mengingat aspek finansial memberikan penilaian signifikan terhadap tumbuh kembangnya suatu bisnis. Perspektif keuangan ini berkaitan dengan pendapatan dan pengeluaran perusahaan.

Suatu perusahaan dapat dikatakan sukses apabila aspek keuangannya berjalan dengan stabil dan tanpa ada masalah.

Untuk itu, dibutuhkan suatu laporan yang mencatat segala aktivitas keuangan dalam suatu perusahaan dengan jelas dan rinci terkait berapa nominal yang masuk, berapa nominal yang keluar serta apa tujuannya.

Secara umum, ada tiga tolak ukur dalam perspektif keuangan, yaitu tahap perkembangan, tahap bertahan, dan tahap panen.

Tahap Perkembangan (Growth)

Tahap perkembangan merupakan fase awal dari siklus kehidupan bisnis atau perusahaan.

Pada tahap ini, perusahaan akan berupaya memanfaatkan segala modal dan sumber daya yang dimiliki untuk meningkatkan pertumbuhan bisnisnya.

Kerugian bukan merupakan hal yang mengherankan dalam fase ini, sebab untuk dapat berkembang, diperlukan penanaman investasi dalam menciptakan produk baru, memperbaiki proses produksi, merebut pangsa pasar agar kelak dapat menikmati hasil untuk jangka waktu yang panjang.

BACA JUGA :  4 Cara Membangun Tim Bermotivasi Tinggi

Tahap Bertahan (Sustain)

Dalam tahap ini, perusahaan masih berupaya untuk meningkatkan strategi dalam penanaman investasi guna memperoleh pengembalian modal yang cukup tinggi.

Fase sustain menuntut perusahaan mempertahankan pangsa pasar yang sudah dimiliki.

Selain itu, kualitas produk dan pelayanan juga harus diperbaiki secara berkelanjutan agar perusahaan mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun.

Tahap Panen (Harvest)

Tahap panen disebut juga tahap mature atau tahap kematangan.

Pada tahap ini, perusahaan akan memanen investasi yang telah ditanam pada dua tahap sebelumnya, tahap pertumbuhan dan tahap bertahan.

Perusahaan akan fokus memangkas pengeluaran dan memaksimalkan produktivitas kerja dan tidak menanam investasi lagi atau melakukan ekspansi, kecuali untuk hal-hal prioritas seperti perbaikan atau pemeliharaan fasilitas.

Tahapan-tahapan di atas dapat dijadikan acuan dalam menjalankan suatu perusahaan untuk mengukur perkembangan perusahaan melalui perspektif keuangan.

Balanced Scorecard mengukur kinerja perusahaan melalui empat perspektif yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan atau konsumen, perspektif proses internal bisnis, dan perspektif inovasi dan pertumbuhan bisnis.

Perspektif Konsumen (Customer Perspective)

Dalam perspektif konsumen, perusahaan harus terlebih dahulu menentukan siapa segmen pasar atau pelanggan yang akan disasar oleh perusahaan.

Misalnya,  produk yang dipasarkan oleh perusahaan tersebut akan ditujukan khusus untuk remaja dan orang tua, namun tidak untuk anak-anak.

Segmen pasar memiliki peran yang penting dalam menentukan kesuksesan suatu produk.

Pelanggan merupakan sumber penghasilan utama bagi perusahaan, oleh karena itu ada istilah “pelanggan adalah raja”.

Artinya, perusahaan harus melayani pelanggan dengan baik agar mereka merasa puas. J

ika pelanggan merasa puas, maka mereka akan meningkatkan loyalitasnya terhadap perusahaan tersebut.

Kaplan dan Norton membagi perspektif konsumen ke dalam dua kelompok pengukuran.

Pengukuran Pelanggan Utama (Core Measurement Group) termasuk”

  • Market Share atau Pangsa Pasar yang mengukur situasi keseluruhan pasar meliputi jumlah pelanggan, jumlah penjualan, dan volume unit penjualan.
  • Customer Retention atau Retensi Pelanggan, mempertahankan hubungan perusahaan dengan konsumen.
  • Customer Acquisition atau Akuisisi Pelanggan, mengukur kemampuan perusahaan untuk menarik pelanggan baru.
  • Customer Satisfaction atau Kepuasan Pelanggan, menaksir tingkat kepuasan pelanggan terkait dengan kriteria kinerja spesifik dalam value proposition.
  • Customer Profitability atau Profitabilitas Pelanggan, menaksir keuntungan yang diraup perusahaan dari penjualan produk atau jasa kepada konsumen.

Pengukuran Nilai Pelanggan (Customer Value Proposition) termasuk:

  • Atribut Produk dan Jasa atau Product or Service Attributes, meliputi fungsi barang atau jasa, harga, dan kualitas.
  • Hubungan dengan Konsumen atau Konsumen Relationship, respons pelanggan terhadap proses pembelian produk dan pelayanan yang diberikan oleh perusahaan.
  • Citra dan Reputasi atau Image and Reputation, pembangunan citra dan reputasi perusahaan melalui iklan agar mendapatkan daya tarik pelanggan.

Perspektif Proses Bisnis Internal (Internal Process Perspective)

Perspektif ini sangat erat kaitannya dengan bagian internal perusahaan termasuk karyawan.

Semakin bagus keahlian yang dimiliki oleh karyawan, maka semakin bagus pula proses bisnis internalnya.

Perspektif proses bisnis internal mencerminkan proses penting dalam perusahaan yang dapat dioptimalkan untuk meningkatkan nilai-nilai guna mempertahankan konsumen.

Kepuasan pelanggan terhadap pelayanan dan produk akan mendatangkan financial return atau imbalan keuangan yang cukup tinggi.

BACA JUGA :  Seberapa Pentingnya Hari Libur Nasional Bagi Karyawan

Di dalam perspektif proses bisnis internal ini ada tiga proses yang harus diperhatikan.

Yaitu proses inovasi yaitu proses awal yang berhubungan dengan gagasan terhadap produksi barang, proses operasi yaitu proses pembuatan atau penyampaian barang dan jasa kepada pelanggan, dan yang terakhir proses pascapenjualan yaitu proses memasarkan produk atau jasa kepada segmen pasar yang tepat sehingga dapat meningkatkan omzet dan keuntungan.

Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran (Growth and Learning Perspective

Perspektif ini menyediakan sarana agar tiga perspektif yang sebelumnya dapat tercapai.

Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran mengedepankan pengukuran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan sumber daya manusia.

Fungsinya adalah untuk mempersiapkan SDM yang berkualitas dan mampu menjalankan internal perusahaan dengan baik.

Ada tiga dimensi yang harus diperhatikan dalam perspektif ini, yakni kemampuan karyawan, kemampuan sistem informasi, serta motivasi, kekuasaan, dan keselarasan.

Karakteristik Balanced Scorecard yang Tepat bagi Perusahaan

Balanced Scorecard yang tepat bagi perusahaan memiliki beberapa karakteristik, yakni komprehensif, seimbang, terukur, dan koheren.

Komprehensif

Komprehensif artinya meluas atau menyeluruh.

Balance scorecard berperan untuk memperluas cakupan aspek  dalam pengukuran kinerja.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dahulu pengukuran kinerja hanya berpusat pada aspek keuangan saja.

Namun kini pengukuran dapat dilihat melalui perspektif konsumen, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan.

Semakin banyak perspektif yang dinilai, maka pengukuran kinerja akan semakin efektif.

Selain itu, ada banyak manfaat yang diraih oleh perusahaan, salah satunya adalah meningkatkan kualitas kinerja di segala aspek menjadi lebih baik.

Hal ini akan sangat memudahkan perusahaan, terutama bila merambah dunia bisnis yang kompleks.

Seimbang

Seimbang merupakan salah satu karakteristik penting lainnya dalam BSC.

Maksudnya, porsi keempat perspektif di atas dalam Balanced scorecard harus seimbang dan saling mendukung.

Tidak boleh ada satu perspektif yang melebihi porsi perspektif lainnya.

Keseimbangan perspektif-perspektif tersebut akan berdampak baik bagi perusahaan yaitu untuk memperoleh kinerja keuangan yang berjangka panjang.

Terukur

Balanced Scorecard dapat mengukur kinerja masa lalu dan memprediksi kinerja masa depan.

Selain perspektif keuangan, Balanced Scorecard juga dapat menentukan ukuran perspektif nonkeuangan lainnya.

Seperti perspektif pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan yang pada dasarnya merupakan sasaran strategis yang sulit diukur supaya apa yang dicita-citakan perusahaan dapat tercapai.

Koheren. 

Koheren memiliki makna saling berkaitan.

Balanced Scorecard mengharuskan seluruh karyawan atau jajaran perusahaan merajut causal relationship atau hubungan sebab dan akibat terhadap berbagai sasaran strategis yang dihasilkan dari perencanaan.

Sasaran yang telah ditetapkan dalam perspektif keuangan, baik secara langsung maupun tidak langsung, harus memiliki hubungan kausal dengan sasaran keuangan.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa eksistensi Balance Scorecard atau BSC sangat penting dan bermanfaat bagi perusahaan dalam berbagai aspek.

BSC dapat memperlihatkan apa saja keunggulan dan kelemahan perusahaan, sehingga perusahaan dapat dengan cepat mencari solusi untuk memperbaiki diri.

Dengan adanya BSC, perusahaan akan mampu bertahan di tengah lingkungan bisnis yang kompetitif.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *