Pengertian Instrumen Derivatif dan Aspek Perpajakannya!

Instrumen Derivatif: Alat Keuangan yang Memiliki Beragam Bentuk.

Instrumen derivatif atau produk turunan adalah bagian integral dari pasar keuangan global. Mereka digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk lindung nilai (hedging), spekulasi, dan manajemen risiko. Instrumen ini memiliki beragam bentuk, termasuk kontrak opsi, kontrak serah, dan swap.

Di Indonesia, perlakuan pajak atas instrumen derivatif dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) final dengan tarif sebesar 2,5% dari margin awal. Untuk memahami bagaimana instrumen derivatif dikenai pajak, mari kita eksplorasi lebih lanjut tentang apa itu instrumen derivatif dan contohnya.

Apa Itu Instrumen Derivatif?

Instrumen derivatif adalah istilah yang akrab di dunia keuangan. Ini merujuk pada beragam instrumen keuangan yang nilainya berasal dari atau “diturunkan” dari produk lain yang menjadi acuannya.

Produk yang menjadi acuan ini sering disebut sebagai “produk turunan” atau “underlying product.” Instrumen derivatif berfungsi sebagai kontrak bilateral atau perjanjian penukaran pembayaran yang nilainya bergantung pada kinerja atau pergerakan harga produk acuan tersebut.

Derivatif digunakan oleh berbagai pihak, termasuk manajer investasi, perusahaan, lembaga keuangan, dan investor perorangan. Tujuannya adalah untuk mengelola risiko terkait pergerakan harga saham, komoditas, suku bunga, atau nilai tukar valuta asing, tanpa harus memiliki secara fisik produk yang menjadi acuannya. Dengan kata lain, derivatif memungkinkan para pihak untuk berspekulasi tentang pergerakan harga aset dasar tanpa harus benar-benar memiliki aset tersebut.

Contoh Instrumen Derivatif

  1. Kontrak Opsi: Salah satu contoh instrumen derivatif yang umum digunakan adalah kontrak opsi. Kontrak opsi memberikan pemegangnya hak (tanpa kewajiban) untuk membeli atau menjual aset tertentu pada harga tertentu (harga pelaksanaan) dalam jangka waktu tertentu. Ada dua jenis utama kontrak opsi: opsi beli (call option) dan opsi jual (put option).
    • Opsi beli (call option) memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli aset acuan pada harga tertentu. Jika harga aset acuan naik di atas harga pelaksanaan, pemegang opsi beli dapat memanfaatkan haknya untuk membeli dengan harga lebih rendah dan kemudian menjual dengan harga pasar yang lebih tinggi, menghasilkan keuntungan.
    • Opsi jual (put option) memberikan hak kepada pemegangnya untuk menjual aset acuan pada harga tertentu. Jika harga aset acuan turun di bawah harga pelaksanaan, pemegang opsi jual dapat memanfaatkan haknya untuk menjual dengan harga lebih tinggi dan kemudian membeli kembali dengan harga pasar yang lebih rendah, juga menghasilkan keuntungan.
  2. Kontrak Serah: Kontrak serah (forward contract) adalah perjanjian antara dua pihak untuk membeli atau menjual suatu aset pada tanggal tertentu di masa depan, dengan harga dan jumlah yang telah ditetapkan sebelumnya. Kontrak serah dapat dijalankan dengan cara pengiriman fisik, di mana aset fisik benar-benar diserahkan, atau dengan penyelesaian neto, di mana perbedaan nilai antara harga kontrak dan harga pasar diselesaikan dengan pembayaran tunai.
  3. Kontrak Berjangka: Kontrak berjangka (futures contract) mirip dengan kontrak serah, namun dengan perbedaan utama: kontrak berjangka diperdagangkan di bursa berjangka yang terpusat. Kontrak berjangka memiliki spesifikasi standar, termasuk ukuran kontrak, tanggal penyelesaian, dan aturan lainnya. Mereka sering digunakan oleh pelaku pasar untuk lindung nilai dan spekulasi.
  4. Swap: Swap adalah perjanjian untuk bertukar arus kas secara terus-menerus antara dua pihak selama periode waktu tertentu. Ada berbagai jenis swap, termasuk interest rate swap, currency swap, dan commodity swap. Swap digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk mengelola risiko suku bunga dan nilai tukar, serta mengoptimalkan struktur modal.
BACA JUGA :  Letter of Credit, Pembayaran untuk Transaksi Internasional

Perlakuan Pajak Instrumen Derivatif di Indonesia

Dalam konteks perpajakan di Indonesia, instrumen derivatif tunduk pada peraturan yang mengatur Pajak Penghasilan (PPh) atas penghasilan dari transaksi derivatif berupa kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa.

Dasar hukum utama yang mengatur hal ini adalah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2009 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan dari Transaksi Derivatif Berupa Kontrak Berjangka yang Diperdagangkan di Bursa.

Dalam peraturan tersebut, dijelaskan bahwa “penghasilan yang diterima dan/atau diperoleh orang pribadi atau badan dari transaksi derivatif berupa kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final.” Artinya, penghasilan yang diperoleh dari transaksi derivatif dikenakan PPh final.

Tarif Pajak

PPh final yang dikenakan pada penghasilan dari transaksi derivatif memiliki tarif sebesar 2,5% dari margin awal. Margin awal adalah sejumlah uang atau agunan yang harus disetor oleh pihak yang melakukan transaksi derivatif sebagai jaminan atau keamanan. Tarif PPh 2,5% dikenakan pada selisih antara margin awal dan margin akhir setelah transaksi derivatif selesai.

Pengajuan PPh atas Transaksi Derivatif

Untuk melaksanakan kewajiban perpajakan terkait transaksi derivatif, wajib pajak dapat menggunakan aplikasi resmi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Republik Indonesia, yaitu Aplikasi Pajak. Aplikasi ini memudahkan wajib pajak dalam melaporkan dan membayar PPh atas transaksi derivatif mereka.

Selain itu, Aplikasi Pajak juga memungkinkan wajib pajak untuk melaporkan berbagai jenis pajak lainnya, seperti Pajak Penghasilan (PPh) pasal 21, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Dengan Aplikasi Pajak, wajib pajak dapat mengelola kewajiban perpajakan mereka dengan lebih efisien dan tepat waktu.

BACA JUGA :  Menghitung Pendapatan Nasional

Manfaat Penggunaan Aplikasi Pajak

Penggunaan Aplikasi Pajak memiliki sejumlah manfaat, termasuk:

  1. Kemudahan Pelaporan: Aplikasi Pajak memudahkan wajib pajak dalam proses pelaporan pajak. Semua formulir dan dokumen terkait pajak tersedia dalam aplikasi, sehingga wajib pajak dapat mengisi dan mengirimkan laporan mereka dengan mudah.
  2. Pembayaran Online: Aplikasi Pajak memungkinkan wajib pajak untuk membayar pajak secara online. Mereka dapat menggunakan berbagai metode pembayaran, termasuk transfer bank dan pembayaran kartu kredit.
  3. Penyimpanan Dokumen Digital: Aplikasi Pajak menyimpan bukti pelaporan (BPE) dan bukti pembayaran pajak (BPN) secara digital. Ini memudahkan wajib pajak untuk mengakses dokumen-dokumen ini jika dibutuhkan untuk keperluan perpajakan atau audit di masa depan.
  4. Pemberitahuan Pajak: Aplikasi Pajak juga memberikan pemberitahuan kepada wajib pajak tentang tenggat waktu pelaporan dan pembayaran pajak. Ini membantu wajib pajak agar tidak melewati batas waktu yang penting.

Kesimpulan

Instrumen derivatif adalah bagian penting dari pasar keuangan global, yang digunakan untuk berbagai tujuan termasuk lindung nilai, spekulasi, dan manajemen risiko. Di Indonesia, pajak atas transaksi derivatif dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) final dengan tarif sebesar 2,5% dari margin awal.

Wajib pajak dapat menggunakan Aplikasi Pajak untuk melaporkan dan membayar PPh atas transaksi derivatif mereka, serta berbagai jenis pajak lainnya. Penggunaan Aplikasi Pajak memudahkan wajib pajak dalam mengelola kewajiban perpajakan mereka dengan efisien dan tepat waktu, serta menyimpan dokumen-dokumen perpajakan secara digital untuk keperluan di masa depan.

Dengan pemahaman yang baik tentang perlakuan pajak atas instrumen derivatif, wajib pajak dapat mematuhi peraturan perpajakan yang berlaku dan menjaga kepatuhan mereka dalam dunia keuangan yang dinamis.

Referensi:

BACA JUGA :  Sejarah Singkat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Di Indonesia

Ikuti terus bloghrd.com untuk mendapatkan informasi seputar HR, karir, info lowongan kerja, juga inspirasi terbaru terkait dunia kerja setiap harinya!


Putri Ayudhia

Putri Ayudhia

Putri Ayudhia adalah seorang penulis konten SEO dan blogger paruh waktu yang telah bekerja secara profesional selama lebih dari 7 tahun. Dia telah membantu berbagai perusahaan di Indonesia untuk menulis konten yang berkualitas, SEO-friendly, dan relevan dengan bidang HR dan Psikologi. Ayudhia memiliki pengetahuan yang kuat dalam SEO dan penulisan konten. Dia juga memiliki pengetahuan mendalam tentang HR dan Psikologi, yang membantu dia dalam menciptakan konten yang relevan dan berbobot. Dia memiliki keterampilan dalam melakukan riset pasar dan analisis, yang membantu dia dalam menciptakan strategi konten yang efektif.
https://bloghrd.com