Memahami Jenis Sistem Kerja Outsourcing dan Penerapannya

Jenis sistem kerja outsourcing atau penyalur tenaga kerja adalah hal yang lazim diterapkan di berbagai perusahaan. Apa kelebihan dan kekuranganya? Bloghrd.com akan mengulasnya disini.

Dalam dunia kerja, terdapat istilah tenaga kerja outsource.

Tenaga kerja outsource berasal dari suatu perusahaan penyedia jasa tenaga kerja atau dikenal dengan sebutan alih daya (outsourcing) yang menjadi pihak ketiga bagi perusahaan lain.

Dewasa ini, permintaan tenaga kerja outsource semakin meningkat.

Perusahaan membutuhkan pekerja untuk melaksanakan tugas penting yang tidak berhubungan dengan bisnis inti perusahaan tersebut, misalnya bagian kebersihan, keamanan, dan jasa boga.

Terkadang, hal ini  cenderung membuat perusahaan lebih memilih untuk menggunakan sistem kerja outsourcing guna mendapatkan tenaga kerja karena dinilai lebih efektif dan efisien.

Jenis sistem kerja outsourcing atau penyalur tenaga kerja adalah hal yang lazim diterapkan di berbagai perusahaan. Apa kelebihan dan kekuranganya? Bloghrd.com akan mengulasnya disini.

Mengenal Sistem Kerja Outsource dan Outsourcing

Outsourcing adalah merupakan pengalihan pengerjaan urusan perusahaan oleh orang dari penyedia tenaga kerja outsource.

Dalam hal ini, perusahaan menggunakan tenaga kerja dari pihak ketiga untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu.

Penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan pihak ketiga dapat dilakukan melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau perjanjian penyediaan  jasa tenaga kerja.

Peraturan tentang tenaga kerja outsource tercantum pada Peraturan Menteri Nomor 19 Tahun 2012 tentang Syarat-Syarat Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan Kepada Perusahaan Lain.

Terdapat beberapa hal yang perlu dipahami dari peraturan tersebut, misalnya pada pasal 3 yang berisi:

  1. Perusahaan pemberi pekerjaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan penerima pemborongan.
  2. Pekerjaan yang dapat diserahkan kepada perusahaan penerima pemborongan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat sebagai berikut:
  1. Dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama baik manajemen maupun  kegiatan pelaksanaan pekerjaan;
  2. Dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan, dimaksudkan untuk memberi penjelasan tentang cara melaksanakan pekerjaan agar sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh perusahaan pemberi pekerjaan;
  3. Merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan, artinya kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang mendukung dan memperlancar pelaksanaan kegiatan utama sesuai dengan alur kegiatan proses pelaksanaan pekerjaan yang ditetapkan oleh asosiasi sektor usaha yang dibentuk sesuai peraturan perundang-undangan; dan
  4. Tidak menghambat proses produksi secara langsung, artinya kegiatan tersebut merupakan kegiatan tambahan yang apabila tidak dilakukan oleh perusahaan pemberi pekerjaan, proses pelaksanaan pekerjaan tetap berjalan sebagaimana mestinya.
BACA JUGA :  Kenali Hak Cuti Suami Karyawan dan Manfaatnya bagi Perusahaan

Kelebihan dan Kekurangan Tenaga Kerja Outsource

Menggunakan tenaga kerja outsource yang berasal dari perusahaan pihak ketiga pastilah memiliki kelebihan dan kekurangan.

Berikut beberapa kelebihan memakai tenaga kerja outsource.

  • Perusahaan dapat menghemat biaya karena tidak perlu melakukan pelatihan sebab biasanya tenaga kerja outsource sudah dilengkapi kemampuan spesifik yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
  • Perusahaan tidak perlu repot mengurusi masalah perekrutan karena semua sudah dilakukan oleh perusahaan penyedia jasa tenaga kerja (outsourcing).
  • Perusahaan tidak perlu lagi menyediakan fasilitas, tunjangan makan, bahkan asuransi kesehatan/BPJS Kesehatan karena sudah diurus oleh perusahaan penyedia jasa tenaga kerja (outsourcing).
  •  Perusahaan dapat lebih fokus mengurus aktivitas bisnis inti perusahaan.
  • Tidak perlu mencari tenaga kerja khusus dan melakukan pelatihan untuk posisi tertentu.
  • Dapat membatasi jumlah karyawan pada perusahaan itu sendiri.

Sementara itu, beberapa kekurangan menggunakan tenaga kerja outsource adalah sebagai berikut.

  • Kontrak kerja dengan tenaga kerja outsource biasanya tidak berlangsung lama. Hal ini cukup merepotkan karena perusahaan butuh waktu lagi untuk memperbarui kontrak atau mencari perusahaan outsourcing lain.
  • Mengganggu kelancaran pekerjaan jika terjadi peralihan tugas.
  • Butuh sistem keamanan yang ketat karena informasi perusahaan rentan bocor jika menempatkan tenaga kerja outsource di bagian pekerjaan yang berhubungan dengan bisnis inti perusahaan.
  • Ketergantungan yang cukup tinggi pada tenaga kerja outsource.

Jenis-jenis Pekerjaan Outsourcing

Perusahaan penyedia jasa tenaga kerja (outsourcing) biasanya menyediakan pekerja yang melakukan pekerjaan di luar bisnis inti perusahaan, seperti petugas keamanan, penjaga kebersihan, penyedia jasa boga, kurir, sopir, dan call center.

Dalam undang-undang pasal 65 ayat (2) no 13 tahun 2003 mengenai Ketenagakerjaan menyebutkan beberapa poin jenis pekerjaan yang bisa dilakukan oleh tenaga kerja outsource.

  • Dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama;
  • Dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan;
  • Merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan; dan
  • Tidak menghambat proses produksi secara langsung.
BACA JUGA :  Ketahui Tentang Work From Home Yang Sedang Terjadi di Indonesia

Sementara itu, bidang pekerjaan untuk tenaga kerja outsource seperti yang sudah diatur dalam UU 13 Tahun 2003 pasal 66 ayat (1) di antaranya adalah:

  • Usaha pelayanan Kebersihan
  • Usaha penyedia tenaga pengaman.
  • Usaha penyedia angkutan pekerja/buruh.
  • Usaha penyedia makanan bagi pekerja/buruh.
  • Usaha jasa penunjang pertambangan dan perminyakan.

Sistem Kerja Outsourcing

Disebutkan dalam Pasal 64 UU Ketenagakerjaan bahwa perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa pekerja/buruh yang dibuat secara tertulis.

Perjanjian kerja untuk tenaga kerja outsource memakai sistem kontrak yang dibagi menjadi dua menurut Undang-undang Ketenagakerjaan Pasal 56, yaitu Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dan Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT).

Perjanjian kerja untuk waktu tertentu didasarkan atas jangka waktu atau selesainya suatu pekerjaan tertentu.

Sedangkan untuk perjanjian kerja waktu tidak tertentu antara tenaga kerja outsource dengan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja (outsourcing) biasanya mengikuti jangka waktu perjanjian kerja sama antara perusahaan penyedia jasa tenaga kerja dengan perusahaan pemberi kerja.

Hal ini dimaksudkan jika perusahaan pemberi kerja sewaktu-waktu ingin mengakhiri kerja sama dengan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja, maka pada saat yang bersamaan, berakhir pula kontrak kerja antara tenaga kerja outsource dengan perusahaan pemberi kerja.

Perbedaan Pekerja Outsource dan Kontrak

Pada dasarnya, pekerja outsource merupakan tenaga kerja dari pihak ketiga yang mendapat pengalihan pekerjaan dari perusahaan.

Sedangkan pekerja kontrak direkrut sendiri oleh pihak perusahaan untuk melakukan kerja kontrak.

Jadi keduanya merupakan hal berbeda. Lama kerja pekerja outsource tidak menentu, tergantung pada perusahaan yang membutuhkannya.

Ada yang dipekerjakan selama 3 bulan atau bahkan sampai 1 tahun.

BACA JUGA :  Cara Menghitung Uang Penggantian Hak Karyawan Kena PHK

Untuk pekerja kontrak, lama kerja ditentukan sesuai kesepakatan kerja antara pekerja dan perusahaan.

Durasi maksimal pekerja kontrak adalah 2 tahun.

Namun, setelah masa kerja selama 2 tahun tersebut, atau bisa kurang dari itu, pekerja kontrak bisa diangkat menjadi pekerja tetap di perusahaan jika hasil kinerjanya memuaskan dan sesuai target.

Sedangkan untuk pekerja outsource tidak ada kemungkinan diangkat menjadi pekerja tetap karena mereka tidak berhubungan langsung dengan perusahaan, melainkan kontraknya diatur oleh perusahaan penyedia jasa tenaga kerja atau perusahaan outsourcing.

Begitu pula dengan jenjang karier.

Jangan harap pekerja outsource akan memiliki jenjang karier karena biasanya jika perusahaan pemberi kerja sudah tidak lagi membutuhkan tenaga kerja outsource, maka kontrak mereka akan diputus.

Dalam hal tanggung jawab pekerjaan, dapat dilihat perbedaan dari keduanya. Meski berstatus kontrak, pekerja kontrak memiliki tanggung jawab pekerjaan yang sama dengan pekerja tetap.

Pekerja kontrak bisa terlibat langsung dengan bisnis inti perusahaan.

Pekerja outsource tidak bisa melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan bisnis inti perusahaan karena menyangkut rahasia perusahaan.

Di atas sudah dijelaskan tentang pengertian, kelebihan dan kekurangan, jenis, serta sistem kerja outsourcing.

Kesimpulannya adalah tenaga kerja outsource tidak bisa melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan bisnis inti perusahaan.

Meski begitu, peran tenaga kerja outsource tidak kalah penting untuk menjaga kelancaran bisnis perusahaan.

Jadi meskipun misalnya tenaga kerja outsource berasal dari pihak ketiga, perusahaan tidak boleh lalai untuk mengatur pengelolaan kinerja mereka.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *