Magang adalah bagian dari sistem pelatihan kerja yang dilakukan secara terpadu antara pembelajaran dan praktik langsung di perusahaan, di bawah bimbingan instruktur atau pekerja yang lebih berpengalaman. Tujuannya adalah membantu peserta menguasai keterampilan, memahami dunia kerja, dan mempersiapkan diri sebelum benar-benar masuk ke pasar kerja.
Di Indonesia, istilah magang sering digunakan untuk banyak hal. Ada magang mahasiswa, praktik kerja lapangan siswa SMK, magang Kampus Merdeka, pemagangan lulusan perguruan tinggi, hingga pemagangan kerja yang diatur dalam ketentuan ketenagakerjaan. Karena itu, penting untuk memahami konteksnya agar tidak keliru membedakan peserta magang, karyawan kontrak, karyawan tetap, atau pekerja harian.
Bagi peserta, magang dapat menjadi jembatan untuk mengenal pekerjaan nyata, membangun portofolio, menambah pengalaman, dan memperluas jaringan. Bagi perusahaan, program magang dapat membantu membangun talent pipeline, memperkenalkan budaya kerja, dan menyiapkan calon tenaga kerja yang lebih siap.
Namun, program magang juga harus dikelola dengan benar. Perusahaan perlu memahami perjanjian pemagangan, hak peserta, kewajiban penyelenggara, uang saku, jaminan sosial, sertifikat, pembimbing, durasi program, dan batas antara magang dengan hubungan kerja. Jika tidak, program magang bisa menimbulkan salah paham atau bahkan berisiko dianggap sebagai hubungan kerja terselubung.
Daftar Isi
Apa Itu Magang?
Magang adalah proses belajar kerja secara langsung di lingkungan kerja nyata. Peserta tidak hanya mempelajari teori, tetapi ikut melihat, mencoba, dan memahami proses produksi barang atau jasa di perusahaan sesuai bidang yang dipelajari.
Dalam konteks ketenagakerjaan, pemagangan merupakan bagian dari sistem pelatihan kerja. Artinya, tujuan utamanya adalah penguasaan keterampilan atau keahlian tertentu, bukan semata-mata memenuhi kebutuhan tenaga kerja perusahaan.
Karena itu, magang seharusnya memiliki program yang jelas, pembimbing, target kompetensi, evaluasi, dan bukti penyelesaian. Jika peserta hanya diberi pekerjaan rutin tanpa pembelajaran, tanpa pembimbing, tanpa perjanjian, dan tanpa program yang terstruktur, maka perusahaan perlu mengevaluasi ulang praktik tersebut.
Dasar Hukum Magang di Indonesia
Naskah lama masih menyebut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER.22/MEN/IX/2009. Aturan tersebut sudah tidak berlaku. Saat ini, rujukan utama untuk pemagangan di dalam negeri adalah Permenaker No. 6 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri.
Beberapa dasar hukum dan aturan yang relevan dalam pembahasan magang antara lain:
- Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagaimana telah beberapa kali diubah;
- PP Nomor 31 Tahun 2006 tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional;
- Permenaker Nomor 6 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri;
- Surat Edaran Menaker Nomor M/1/HK.04/III/2023 tentang pelaksanaan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi peserta pelatihan vokasi dan pemagangan;
- Permenaker terkait program bantuan pemerintah pemagangan lulusan perguruan tinggi;
- PMK Nomor 6 Tahun 2026 tentang PPh 21 atas penghasilan peserta pemagangan lulusan perguruan tinggi yang ditanggung pemerintah untuk Tahun Anggaran 2026.
Untuk memahami dasar ketenagakerjaan secara lebih luas, pembaca juga dapat membaca artikel BlogHRD tentang UU Ketenagakerjaan.
Tujuan Magang
Magang bukan hanya formalitas pendidikan atau cara perusahaan mendapatkan bantuan tenaga kerja. Program magang yang baik harus memiliki tujuan pembelajaran yang jelas.
1. Menguasai Keterampilan Kerja
Tujuan utama magang adalah membantu peserta menguasai keterampilan tertentu. Misalnya administrasi, produksi, digital marketing, akuntansi, HR, IT, desain, pelayanan pelanggan, operasional, atau bidang teknis lain.
2. Mengenal Dunia Kerja Nyata
Peserta magang dapat belajar tentang jam kerja, komunikasi profesional, target, laporan, koordinasi lintas tim, budaya kerja, dan ekspektasi perusahaan.
3. Menghubungkan Teori dengan Praktik
Mahasiswa atau lulusan baru sering mempelajari teori di kampus atau lembaga pelatihan. Melalui magang, teori tersebut diuji dalam situasi kerja yang nyata.
4. Menyiapkan Karier
Pengalaman magang dapat membantu peserta memahami bidang pekerjaan yang cocok, membangun portofolio, dan memperkuat CV. Untuk kebutuhan melamar kerja, pembaca dapat membaca panduan BlogHRD tentang cara membuat CV, resume, dan daftar riwayat hidup.
5. Membantu Perusahaan Menemukan Talenta
Bagi perusahaan, magang dapat menjadi cara untuk mengenal calon talenta sejak awal. Peserta yang menunjukkan kemampuan baik dapat dipertimbangkan untuk rekrutmen setelah program selesai, sepanjang prosesnya mengikuti aturan yang benar.
Manfaat Magang bagi Peserta
Magang memberikan banyak manfaat bagi peserta, terutama mahasiswa, siswa vokasi, fresh graduate, pencari kerja, atau orang yang ingin berpindah bidang.
1. Mendapat Pengalaman Kerja Pertama
Banyak lowongan entry level tetap meminta pengalaman. Magang dapat menjadi pengalaman awal yang membantu peserta memahami pekerjaan, tools, komunikasi kerja, dan standar profesional.
2. Membangun Portofolio
Peserta magang dapat menggunakan hasil kerja selama program sebagai portofolio, sepanjang tidak melanggar kerahasiaan perusahaan. Misalnya laporan, desain, campaign, analisis data, dokumen administrasi, atau project summary.
3. Memperluas Jaringan Profesional
Magang membuka kesempatan bertemu mentor, rekan kerja, HR, user, klien, atau profesional di bidang tertentu. Jaringan ini dapat membantu perkembangan karier di masa depan.
4. Memahami Budaya Kerja
Peserta belajar bahwa dunia kerja tidak hanya soal kemampuan teknis. Ada komunikasi, disiplin, tanggung jawab, etika, kolaborasi, dan manajemen waktu yang perlu dibangun.
5. Menambah Nilai Saat Melamar Kerja
Pengalaman magang yang relevan dapat membuat CV lebih kuat. Kandidat yang pernah magang biasanya lebih mudah menjelaskan contoh pekerjaan nyata saat interview.
6. Mengenal Bidang Karier yang Cocok
Magang juga membantu peserta mengevaluasi minat karier. Seseorang yang magang di marketing, misalnya, dapat mengetahui apakah ia lebih cocok di content, performance marketing, event, brand, atau sales support.
Manfaat Magang bagi Perusahaan
Perusahaan juga mendapatkan manfaat dari program magang yang dirancang dengan baik.
1. Membangun Talent Pipeline
Perusahaan dapat mengenal calon pekerja potensial sebelum membuka rekrutmen penuh. Peserta magang yang cocok dengan budaya dan kebutuhan perusahaan dapat menjadi kandidat yang lebih siap.
2. Mendukung Transfer Pengetahuan
Program magang mendorong karyawan senior atau pembimbing untuk membagikan pengetahuan, SOP, dan praktik kerja kepada generasi baru.
3. Membantu Employer Branding
Perusahaan yang memperlakukan peserta magang dengan baik akan lebih mudah membangun reputasi sebagai tempat kerja yang mendukung pembelajaran.
4. Membantu Proyek Tertentu
Peserta magang dapat membantu proyek sesuai program pembelajaran. Namun, perusahaan tetap perlu memastikan pekerjaan yang diberikan sesuai tujuan magang dan tidak menggantikan posisi karyawan tetap secara tidak tepat.
5. Menyiapkan Proses Rekrutmen yang Lebih Efisien
Jika peserta magang kemudian direkrut sebagai karyawan, perusahaan sudah mengenal kemampuan dan karakter kerjanya. Proses transisi juga bisa lebih mudah melalui orientasi karyawan baru yang terstruktur.
Jenis-Jenis Magang yang Umum Ditemui
Istilah magang digunakan dalam beberapa konteks. Karena itu, peserta dan perusahaan perlu memahami jenisnya.
1. Magang Mahasiswa
Magang mahasiswa biasanya menjadi bagian dari kurikulum kampus atau program pembelajaran di luar kampus. Tujuannya adalah memberikan pengalaman kerja yang relevan dengan bidang studi atau minat karier mahasiswa.
2. Praktik Kerja Lapangan atau PKL
PKL umumnya dilakukan oleh siswa SMK atau pendidikan vokasi sebagai bagian dari proses pembelajaran. Fokusnya adalah praktik langsung sesuai kompetensi keahlian.
3. Pemagangan Kerja Dalam Negeri
Pemagangan kerja dalam negeri mengacu pada sistem pelatihan kerja yang diatur dalam ketentuan ketenagakerjaan. Program ini perlu memiliki perjanjian pemagangan, pembimbing, uang saku, jaminan sosial, evaluasi, dan sertifikat atau surat keterangan.
4. Magang Lulusan Perguruan Tinggi
Magang lulusan perguruan tinggi dapat berbentuk program pemerintah, program perusahaan, atau program pelatihan kerja tertentu. Pada 2026, terdapat aturan khusus terkait bantuan pemerintah dan insentif PPh 21 untuk peserta program pemagangan lulusan perguruan tinggi.
5. Internship Profesional
Beberapa perusahaan memakai istilah internship untuk program magang yang lebih dekat dengan kebutuhan rekrutmen. Program ini tetap perlu dibuat jelas agar tidak mencampuradukkan peserta magang dengan karyawan kontrak.
Perbedaan Magang, Pelatihan Kerja, dan Karyawan
Magang sering disamakan dengan pelatihan kerja atau pekerjaan biasa. Padahal, ketiganya memiliki perbedaan penting.
| Aspek | Magang | Pelatihan Kerja | Karyawan |
|---|---|---|---|
| Tujuan utama | Menguasai keterampilan melalui praktik langsung | Meningkatkan kompetensi peserta pelatihan | Melaksanakan pekerjaan berdasarkan hubungan kerja |
| Dasar hubungan | Perjanjian pemagangan | Program pelatihan | Perjanjian kerja |
| Pembayaran | Uang saku sesuai perjanjian | Dapat berbeda sesuai program | Upah/gaji |
| Fokus aktivitas | Pembelajaran dan praktik kerja | Pembelajaran kompetensi | Produktivitas kerja dan target jabatan |
| Status | Peserta pemagangan | Peserta pelatihan | Pekerja/karyawan |
Perbedaan status ini penting karena berkaitan dengan hak, kewajiban, uang saku, upah, THR, BPJS, pajak, dan perjanjian. Untuk memahami perbedaan status pekerja, pembaca dapat membaca artikel BlogHRD tentang status hubungan kerja.
Apakah Peserta Magang Sama dengan Karyawan?
Peserta magang tidak otomatis sama dengan karyawan. Peserta magang mengikuti program pelatihan kerja, sedangkan karyawan bekerja berdasarkan hubungan kerja dengan menerima upah.
Namun, dalam praktiknya, batas ini bisa menjadi kabur jika perusahaan menggunakan peserta magang untuk pekerjaan rutin seperti karyawan, memberi target penuh seperti pekerja tetap, tidak menyediakan pembimbing, tidak membuat program pembelajaran, dan tidak memiliki perjanjian pemagangan.
Jika perusahaan sebenarnya membutuhkan tenaga kerja, maka sebaiknya menggunakan hubungan kerja yang sesuai, misalnya PKWT atau PKWTT. Untuk memahami dokumen hubungan kerja, pembaca dapat membaca artikel BlogHRD tentang perjanjian kerja dan aturan perjanjian kerja.
Apakah Peserta Magang Harus Mendapat Perjanjian Pemagangan?
Ya. Program pemagangan sebaiknya dilaksanakan berdasarkan perjanjian pemagangan tertulis. Perjanjian ini penting agar peserta dan perusahaan memahami hak, kewajiban, program, jangka waktu, uang saku, pembimbing, dan aturan pelaksanaan.
Perjanjian pemagangan bukan hanya dokumen formal. Dokumen ini melindungi peserta agar tidak diperlakukan seperti pekerja penuh tanpa hak yang jelas. Di sisi perusahaan, dokumen ini membantu membuktikan bahwa program magang memang memiliki tujuan pelatihan.
Isi Minimal Perjanjian Pemagangan
Dalam praktik yang baik, perjanjian pemagangan perlu memuat beberapa hal berikut:
- identitas peserta dan penyelenggara pemagangan;
- hak dan kewajiban peserta pemagangan;
- hak dan kewajiban perusahaan atau penyelenggara;
- program pemagangan;
- bidang atau kompetensi yang dipelajari;
- jangka waktu pemagangan;
- besaran uang saku;
- pembimbing atau instruktur;
- fasilitas keselamatan dan kesehatan kerja;
- ketentuan evaluasi dan sertifikat.
Jika sejak awal perusahaan ingin merekrut seseorang sebagai pekerja untuk mengisi posisi tertentu, maka dokumen yang digunakan bukan perjanjian pemagangan, melainkan perjanjian kerja. Dalam situasi kerja sementara, pembaca dapat membaca penjelasan BlogHRD tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu atau PKWT.
Berapa Lama Durasi Magang?
Durasi magang bergantung pada jenis programnya. Magang mahasiswa dapat mengikuti ketentuan kampus atau program pembelajaran. PKL siswa vokasi mengikuti kurikulum sekolah. Sementara itu, pemagangan kerja dalam negeri memiliki ketentuan program dan jangka waktu sesuai aturan pemagangan.
Dalam pemagangan kerja, jangka waktu perlu ditentukan sejak awal dalam perjanjian. Program tidak seharusnya dibuat tanpa batas waktu atau diperpanjang terus-menerus tanpa tujuan pembelajaran yang jelas.
Jika perusahaan membutuhkan pekerja dalam jangka waktu tertentu, skema yang lebih tepat bisa saja PKWT, bukan magang. Untuk memahami jenis pekerjaan kontrak, pembaca dapat membaca artikel BlogHRD tentang ketentuan PKWT dan jenis pekerjaannya.
Hak Peserta Magang
Peserta magang memiliki hak yang perlu dipenuhi oleh perusahaan atau penyelenggara program. Hak ini penting agar magang benar-benar menjadi proses pembelajaran yang aman dan bermanfaat.
1. Mendapat Bimbingan
Peserta magang berhak mendapat bimbingan dari pembimbing, instruktur, atau pekerja yang lebih berpengalaman. Pembimbing membantu peserta memahami pekerjaan, SOP, alat kerja, keselamatan, dan standar hasil kerja.
2. Mendapat Program yang Jelas
Peserta sebaiknya mengetahui apa yang akan dipelajari, kompetensi yang dituju, durasi program, tugas praktik, dan bentuk evaluasi.
3. Mendapat Uang Saku
Peserta magang berhak memperoleh uang saku sesuai perjanjian pemagangan. Uang saku berbeda dari upah karyawan. Untuk pembahasan lebih detail, pembaca dapat membaca artikel BlogHRD tentang perbedaan uang saku dan upah untuk karyawan magang.
4. Mendapat Fasilitas Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Jika kegiatan magang memiliki risiko, perusahaan perlu menyediakan alat pelindung diri, arahan keselamatan, dan pengawasan kerja yang memadai.
5. Diikutsertakan dalam Jaminan Sosial
Peserta pemagangan perlu mendapat perlindungan jaminan sosial sesuai ketentuan yang berlaku. Ini penting karena peserta tetap berada di lingkungan kerja yang memiliki risiko kecelakaan kerja.
6. Mendapat Sertifikat atau Surat Keterangan
Setelah menyelesaikan program, peserta berhak memperoleh sertifikat pemagangan atau surat keterangan telah mengikuti pemagangan. Dokumen ini dapat digunakan sebagai bukti pengalaman saat melamar kerja.
Kewajiban Peserta Magang
Selain hak, peserta magang juga memiliki kewajiban. Program magang akan berjalan baik jika peserta menjaga sikap profesional sejak awal.
- mengikuti program pemagangan sesuai perjanjian;
- mematuhi tata tertib perusahaan;
- mengikuti arahan pembimbing atau instruktur;
- menjaga keselamatan kerja;
- menjaga kerahasiaan informasi perusahaan;
- menggunakan fasilitas kerja secara bertanggung jawab;
- menyelesaikan tugas dan evaluasi yang diberikan;
- memberikan laporan jika diminta oleh kampus, sekolah, atau penyelenggara.
Sikap profesional selama magang dapat menjadi nilai tambah jika peserta ingin melamar kerja di perusahaan yang sama setelah program selesai.
Kewajiban Perusahaan dalam Program Magang
Perusahaan atau penyelenggara pemagangan juga memiliki kewajiban. Kewajiban ini perlu dipahami oleh HR agar program magang tidak hanya menjadi aktivitas administratif.
1. Menyusun Program Pemagangan
Program harus menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai, materi, praktik kerja, pembimbing, durasi, dan evaluasi.
2. Menyediakan Pembimbing
Peserta magang tidak boleh dibiarkan bekerja tanpa arahan. Pembimbing berperan memastikan proses belajar berjalan aman, terarah, dan sesuai tujuan.
3. Memberikan Uang Saku
Uang saku perlu diberikan sesuai perjanjian pemagangan. Besarannya sebaiknya mempertimbangkan transportasi, makan, dan kebutuhan dasar peserta selama mengikuti program.
4. Menyediakan Perlindungan Keselamatan Kerja
Perusahaan perlu memberikan briefing K3, alat pelindung diri jika diperlukan, dan pembatasan pekerjaan berisiko bagi peserta yang belum memiliki kompetensi.
5. Mengikutsertakan Peserta dalam Jaminan Sosial
Perusahaan perlu memperhatikan perlindungan jaminan sosial bagi peserta. Untuk konteks jaminan sosial pekerja, pembaca dapat membaca artikel BlogHRD tentang iuran BPJS Ketenagakerjaan dan cara menghitung manfaat serta iuran BPJS Ketenagakerjaan.
6. Melakukan Evaluasi
Evaluasi diperlukan untuk menilai apakah peserta sudah mencapai kompetensi yang ditargetkan. Hasil evaluasi juga dapat menjadi dasar pemberian sertifikat atau rekomendasi.
Apakah Peserta Magang Mendapat Gaji?
Dalam konteks pemagangan, istilah yang lebih tepat adalah uang saku, bukan gaji. Gaji atau upah biasanya digunakan untuk pekerja dalam hubungan kerja, sedangkan peserta magang mengikuti program pelatihan kerja.
Namun, perusahaan tidak boleh memakai istilah magang untuk menghindari kewajiban membayar upah jika kenyataannya peserta menjalankan pekerjaan seperti karyawan. Jika seseorang bekerja dengan unsur pekerjaan, perintah, dan upah dalam hubungan kerja, maka statusnya perlu dievaluasi.
Untuk memahami konsep upah, pembaca dapat membaca artikel BlogHRD tentang komponen gaji, upah minimum, dan prosedur pembayaran upah.
Apakah Uang Saku Magang Kena Pajak?
Uang saku, honorarium, atau imbalan sejenis yang diterima peserta magang dapat memiliki konsekuensi pajak, tergantung program, sumber pembayaran, status penerima, dan ketentuan yang berlaku.
Dalam program pemagangan lulusan perguruan tinggi tertentu pada 2026, terdapat ketentuan PPh 21 ditanggung pemerintah. Namun, ini berlaku untuk program yang memenuhi kriteria aturan tersebut, bukan otomatis untuk semua program magang di perusahaan.
Untuk memahami pemotongan pajak penghasilan, pembaca dapat membaca artikel BlogHRD tentang subjek pajak PPh 21, cara menghitung PPh 21 dengan Tarif Efektif Rata-rata, dan kode objek pajak PPh 21.
Magang Mahasiswa, PKL, dan Pemagangan Kerja: Apa Bedanya?
Perbedaan magang mahasiswa, PKL, dan pemagangan kerja perlu dipahami karena dasar penyelenggaraannya tidak selalu sama.
| Jenis Program | Peserta Umum | Tujuan | Dokumen Utama |
|---|---|---|---|
| Magang mahasiswa | Mahasiswa aktif | Pengalaman kerja dan pemenuhan pembelajaran kampus | Surat pengantar kampus, perjanjian/kontrak program, laporan magang |
| PKL | Siswa SMK atau vokasi | Praktik kompetensi sesuai kurikulum | Dokumen sekolah, surat tugas, laporan PKL |
| Pemagangan kerja | Pencari kerja, lulusan, atau peserta pelatihan | Penguasaan keterampilan kerja tertentu | Perjanjian pemagangan dan program pemagangan |
| Karyawan kontrak | Pekerja | Melaksanakan pekerjaan dalam hubungan kerja | Perjanjian kerja atau PKWT |
Perbedaan ini penting agar perusahaan tidak salah menggunakan dokumen. Program belajar memakai dokumen pemagangan atau dokumen pendidikan, sedangkan hubungan kerja memakai perjanjian kerja.
Contoh Struktur Program Magang yang Baik
Program magang yang baik sebaiknya memiliki alur yang jelas dari awal sampai akhir. Berikut contoh struktur sederhana yang bisa digunakan HR.
| Tahap | Kegiatan | Tujuan |
|---|---|---|
| Pra-magang | Seleksi peserta, penjelasan program, tanda tangan perjanjian | Memastikan peserta dan perusahaan memahami hak serta kewajiban |
| Onboarding | Pengenalan perusahaan, aturan kerja, K3, tools, dan tim | Membantu peserta beradaptasi |
| Pembelajaran awal | Materi dasar, observasi, shadowing pembimbing | Mengenalkan proses kerja sebelum praktik mandiri |
| Praktik kerja | Pengerjaan tugas sesuai program | Membangun keterampilan teknis dan profesional |
| Evaluasi berkala | Feedback mingguan atau bulanan | Memantau perkembangan peserta |
| Penutup program | Evaluasi akhir, sertifikat, rekomendasi | Memberikan bukti penyelesaian dan catatan pengembangan |
Contoh Isi Perjanjian Magang
Berikut contoh struktur isi perjanjian magang. Contoh ini bersifat umum dan perlu disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan serta aturan yang berlaku.
PERJANJIAN PEMAGANGAN Para pihak: 1. Nama perusahaan/penyelenggara 2. Nama peserta pemagangan Program: Peserta mengikuti program pemagangan pada bidang Administrasi Operasional selama 3 bulan. Hak peserta: - Mendapat bimbingan dari pembimbing. - Mendapat uang saku sesuai perjanjian. - Mendapat fasilitas keselamatan kerja. - Mendapat sertifikat atau surat keterangan setelah program selesai. Kewajiban peserta: - Mengikuti program sesuai jadwal. - Mematuhi tata tertib perusahaan. - Menjaga kerahasiaan informasi perusahaan. - Menyelesaikan tugas dan evaluasi. Kewajiban perusahaan: - Menyediakan pembimbing. - Menyediakan program pemagangan. - Memberikan uang saku. - Memberikan evaluasi. - Memberikan sertifikat atau surat keterangan. Jangka waktu: Program berlangsung dari tanggal ... sampai tanggal ... Uang saku: Peserta menerima uang saku sebesar Rp... per bulan.
Jika peserta kemudian diangkat menjadi karyawan, perusahaan perlu membuat dokumen hubungan kerja baru dan memberikan hak sesuai ketentuan pekerja sejak statusnya berubah.
Kesalahan Umum dalam Program Magang
Banyak masalah magang muncul karena perusahaan atau peserta tidak memahami batas antara pembelajaran dan hubungan kerja. Berikut beberapa kesalahan yang perlu dihindari.
1. Tidak Ada Perjanjian Tertulis
Tanpa perjanjian, hak dan kewajiban menjadi tidak jelas. Peserta tidak tahu durasi, uang saku, pembimbing, tugas, dan hasil akhir program.
2. Peserta Magang Menggantikan Posisi Karyawan
Magang tidak seharusnya digunakan untuk mengisi kekurangan tenaga kerja secara permanen. Jika perusahaan membutuhkan pekerja penuh, gunakan hubungan kerja yang sesuai.
3. Tidak Ada Pembimbing
Peserta magang membutuhkan arahan. Tanpa pembimbing, program magang berubah menjadi pemberian tugas tanpa proses belajar.
4. Tidak Ada Evaluasi
Evaluasi membantu peserta mengetahui perkembangan kompetensinya. Tanpa evaluasi, peserta sulit memahami apa yang sudah baik dan apa yang perlu diperbaiki.
5. Tidak Memberikan Sertifikat atau Surat Keterangan
Sertifikat atau surat keterangan penting sebagai bukti pengalaman. Dokumen ini dapat membantu peserta saat melamar kerja.
6. Mencampur Magang dengan Masa Percobaan
Magang berbeda dari probation atau masa percobaan karyawan baru. Jika seseorang sudah menjadi karyawan, aturan yang berlaku adalah hubungan kerja, bukan pemagangan. Untuk memahami masa percobaan, pembaca dapat membaca artikel BlogHRD tentang ketentuan masa percobaan karyawan baru.
Tips untuk Peserta Magang
Agar pengalaman magang memberi manfaat maksimal, peserta perlu bersikap aktif dan profesional.
1. Pahami Isi Perjanjian
Baca perjanjian magang sebelum menandatangani. Perhatikan durasi, jam kegiatan, uang saku, pembimbing, kewajiban, dan hasil akhir program.
2. Tentukan Target Belajar
Sebelum mulai, tulis keterampilan apa yang ingin dikuasai. Misalnya Excel, laporan, desain, copywriting, riset, coding, administrasi, komunikasi klien, atau project management.
3. Minta Feedback
Jangan hanya menunggu penilaian akhir. Minta masukan dari pembimbing agar bisa memperbaiki kualitas kerja selama program berjalan.
4. Catat Hasil Kerja
Buat catatan tugas, project, tools, dan pencapaian yang bisa dimasukkan ke CV atau portofolio. Hindari membocorkan data rahasia perusahaan.
5. Bangun Relasi Profesional
Jaga komunikasi dengan pembimbing dan rekan kerja. Relasi yang baik dapat membantu saat mencari rekomendasi atau peluang kerja.
Tips HR dalam Mengelola Program Magang
HR perlu merancang program magang seperti program pembelajaran, bukan sekadar penempatan peserta.
1. Susun Program Sebelum Membuka Lowongan
Tentukan bidang, kompetensi, pembimbing, durasi, tugas praktik, evaluasi, dan output yang diharapkan.
2. Buat Perjanjian Pemagangan
Perjanjian harus menjelaskan hak dan kewajiban para pihak, program, jangka waktu, serta uang saku.
3. Siapkan Pembimbing
Pilih pembimbing yang mampu mengarahkan peserta, memberi feedback, dan memastikan peserta tidak diberi pekerjaan di luar kapasitas pembelajaran.
4. Bedakan Peserta Magang dan Karyawan
Jangan mencampur perjanjian pemagangan dengan kontrak kerja. Jika peserta bekerja sebagai karyawan, gunakan skema hubungan kerja yang tepat.
5. Berikan Uang Saku dan Perlindungan
Pastikan uang saku, fasilitas keselamatan kerja, dan jaminan sosial sesuai ketentuan program.
6. Buat Evaluasi dan Sertifikat
Evaluasi akhir membantu peserta mengetahui perkembangan dirinya, sedangkan sertifikat menjadi bukti pengalaman.
Jika perusahaan ingin menjadikan peserta magang sebagai karyawan, HR perlu menyiapkan proses rekrutmen, offering, kontrak kerja, payroll, dan onboarding yang benar. Untuk memahami fungsi HR secara umum, pembaca dapat membaca artikel BlogHRD tentang tugas dan syarat menjadi HRD.
Pertanyaan Seputar Magang
Apa yang dimaksud dengan magang?
Magang adalah bagian dari sistem pelatihan kerja yang menggabungkan pembelajaran dan praktik langsung di perusahaan untuk menguasai keterampilan tertentu.
Apakah magang sama dengan kerja?
Tidak selalu. Magang berfokus pada pelatihan dan pembelajaran, sedangkan kerja dilakukan dalam hubungan kerja dengan hak dan kewajiban sebagai pekerja.
Apakah peserta magang harus mendapat perjanjian?
Ya. Program pemagangan sebaiknya memiliki perjanjian tertulis yang memuat hak dan kewajiban peserta, hak dan kewajiban penyelenggara, program, jangka waktu, dan uang saku.
Apakah peserta magang mendapat gaji?
Dalam pemagangan, istilah yang lebih tepat adalah uang saku, bukan gaji. Gaji atau upah umumnya diberikan kepada pekerja dalam hubungan kerja.
Apakah uang saku magang sama dengan upah?
Tidak. Uang saku diberikan kepada peserta pemagangan, sedangkan upah diberikan kepada pekerja atau karyawan dalam hubungan kerja.
Apakah peserta magang harus mendapat BPJS?
Peserta pemagangan perlu memperoleh perlindungan jaminan sosial sesuai ketentuan yang berlaku, terutama karena peserta menjalankan kegiatan di lingkungan kerja.
Berapa lama magang dilakukan?
Durasi magang bergantung pada jenis program. Untuk pemagangan kerja, jangka waktu harus dicantumkan dalam perjanjian dan tidak boleh dibuat tanpa batas yang jelas.
Apakah magang mahasiswa sama dengan PKL?
Keduanya sama-sama praktik belajar di dunia kerja, tetapi peserta, dasar program, dan dokumen pendukungnya dapat berbeda. Magang mahasiswa biasanya terkait kampus, sedangkan PKL lebih sering terkait pendidikan vokasi atau SMK.
Apakah peserta magang bisa direkrut menjadi karyawan?
Bisa. Namun, setelah status berubah menjadi karyawan, perusahaan perlu membuat perjanjian kerja dan memberikan hak pekerja sesuai ketentuan.
Apa manfaat magang bagi fresh graduate?
Magang membantu fresh graduate memperoleh pengalaman kerja, membangun portofolio, memperluas jaringan, memahami budaya kerja, dan memperkuat CV saat melamar pekerjaan.
Kesimpulan
Magang adalah proses belajar kerja yang penting bagi mahasiswa, siswa vokasi, lulusan baru, pencari kerja, dan perusahaan. Tujuan utamanya adalah menguasai keterampilan melalui praktik langsung di bawah bimbingan, bukan sekadar menyelesaikan tugas operasional perusahaan.
Artikel lama perlu diperbarui karena masih merujuk pada Permenakertrans No. PER.22/MEN/IX/2009 yang sudah tidak berlaku. Saat ini, rujukan utama pemagangan di dalam negeri adalah Permenaker No. 6 Tahun 2020. Untuk konteks terbaru, terdapat pula aturan program bantuan pemerintah pemagangan lulusan perguruan tinggi dan ketentuan PPh 21 yang ditanggung pemerintah pada program tertentu tahun anggaran 2026.
Bagi peserta, magang dapat memberikan pengalaman, portofolio, jaringan, dan kesiapan kerja. Bagi perusahaan, magang dapat menjadi sarana membangun talent pipeline dan employer branding. Namun, perusahaan tetap perlu memastikan program magang memiliki perjanjian, pembimbing, uang saku, jaminan sosial, evaluasi, serta sertifikat atau surat keterangan.
Yang paling penting, magang tidak boleh digunakan untuk menyamarkan hubungan kerja. Jika seseorang benar-benar bekerja sebagai karyawan, maka perusahaan perlu menggunakan perjanjian kerja yang sesuai dan memenuhi hak pekerja berdasarkan ketentuan ketenagakerjaan.
Referensi
- JDIH Kemnaker – Permenaker No. 6 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri
- BPK RI – Permenaker No. 6 Tahun 2020
- JDIH Kemnaker – Permenakertrans No. PER.22/MEN/IX/2009 tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri
- JDIH Kemnaker – SE Menaker No. M/1/HK.04/III/2023 tentang Jaminan Sosial bagi Peserta Pelatihan Vokasi dan Pemagangan
- JDIH Kemnaker – Permenaker No. 12 Tahun 2026 tentang Program Pemagangan Lulusan Perguruan Tinggi
- JDIH Kemenkeu – PMK No. 6 Tahun 2026 tentang PPh 21 Peserta Pemagangan Lulusan Perguruan Tinggi Ditanggung Pemerintah
- BPJS Ketenagakerjaan – Bisakah Anak Magang Didaftarkan BPJS Ketenagakerjaan?
- Repositori Kemendikdasmen – Panduan Magang dan Studi Independen Bersertifikat
- Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi – Komitmen Mitra Program MSIB