Konsep 3P dan Implementasinya sebagai Parameter Penggajian

Apa itu konsep 3P, dan bagaimana implementasinya sebagai parameter penggajian karyawan? Disini bloghrd.com akan mengulasnya.

Tidak bisa dipungkiri, gaji merupakan salah satu faktor  utama yang paling dipertimbangkan jika seseorang mencari kerja, selain lingkungan dan lokasi kerja.

Secara garis besar, gaji merupakan imbalan atau upah yang diterima oleh seseorang setelah melakukan hak dan kewajibannya sebagai karyawan.

Biasanya, upah atau gaji ini diberikan setiap satu bulan sekali, pada tanggal tertentu yang sesuai kebijakan masing-masing perusahaan.

Salah satu peran gaji adalah memotivasi karyawan untuk meningkatkan produktivitas dan kinerja agar menjadi lebih baik lagi.

Dalam proses penggajian, tentu saja pihak perusahaan, dalam hal ini khususnya Human Resource (HR), harus memerhatikan hal-hal tertentu yang menjadi pertimbangan dalam menghitung upah.

Pihak HR tidak bisa sembarangan  dalam menentukan upah bagi masing-masing karyawan.

Oleh karena itu, untuk memudahkan karyawan memahami soal faktor-faktor yang mendasari perhitungan upah, kali ini Talenta akan membahas lebih jauh mengenai konsep 3P.

Konsep 3P dan Implementasinya sebagai Parameter Penggajian

Apa Itu Konsep 3P?

Apakah Anda familiar dengan konsep 3P?

3P atau singkatan dari Pay Position, Person, dan Performance merupakan suatu konsep yang digunakan untuk mempertimbangkan pemberian upah kepada karyawan.

Dalam melakukan penggajian, pihak perusahaan harus secara cermat menilai dan mempertimbangkan faktor-faktor yang melatarbelakanginya.

Umumnya, gaji yang diterima oleh setiap karyawan berbeda-beda.

Nah konsep 3P ini memiliki proporsi yang seimbang untuk menilai apakah seseorang tersebut layak mendapatkan gaji yang diterimanya.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, faktor-faktor pertimbangan itu terbagi menjadi tiga, yakni Position (Posisi), Person (Kemampuan Personal), dan Performance (Kinerja).

Pay Position (Berdasarkan Posisi)

Konsep penggajian Pay Position didasarkan pada jabatan atau posisi serta tanggung jawab yang dimiliki oleh karyawan.

Penggajian berdasarkan konsep ini kerap memerhatikan latar belakang pendidikan, pengalaman, dan senioritas yang ada pada karyawan tersebut.

BACA JUGA :  Ini 5 Alasan Pentingnya Kehadiran Karyawan di Kantor

Misalnya, seseorang dengan level pendidikan S2 akan memiliki gaji yang lebih besar dibandingkan seseorang yang hanya lulusan S1 dan otomatis posisinya di perusahaan lebih tinggi.

Namun, konsep penggajian pay position terkadang mengabaikan keahlian dan potensi yang sebenarnya dimiliki oleh karyawan.

Melalui penggajian dengan sistem ini, ada dua kondisi yang memungkinkan karyawan memperoleh peningkatan atau kenaikan gaji.

Yang pertama adalah kondisi secara vertikal. Maksudnya, kenaikan gaji berbanding lurus dengan tugas yang diemban oleh karyawan.

Kesimpulannya, semakin tinggi jabatan seseorang, maka semakin tinggi pula gajinya.

Kedua adalah kondisi secara horizontal.

Kondisi ini memungkinkan karyawan pada divisi berbeda yang memiliki jabatan sama dapat memperoleh  gaji yang lebih tinggi.

Misalnya, gaji yang diperoleh Manajer Produksi lebih tinggi dibanding Manajer Keuangan, meski sama-sama menduduki posisi sebagai manajer.

Biasanya, hal ini dipicu oleh  nilai pekerjaan pada suatu divisi lebih unggul dibandingkan divisi lainnya.

Mungkin secara keseluruhan, manajer produksi memiliki gagasan atau kontribusi yang lebih bermanfaat bagi perusahaan dibandingkan dengan manajer keuangan.

Pay Person (Berdasarkan Kemampuan Individu)

Konsep Pay Person merupakan sistem penggajian yang didasarkan pada kemampuan atau kecakapan yang dimiliki oleh karyawan.

Dengan kata lain, kemampuan atau kompetensi seorang karyawan ini berbanding lurus dengan tingginya penghasilan yang diterima.

Semakin cerdas dan berkualitas seorang karyawan, maka semakin tinggi pula gajinya.

Karyawan yang memiliki potensi untuk maju dan berkembang akan sangat diuntungkan dengan sistem penggajian jenis ini.

Sistem ini juga cocok diterapkan bagi karyawan yang kreatif dan inovatif, atau menonjol di suatu bidang tertentu.

Misalnya, seorang copywriter yang dapat memberikan ide-ide segar yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Namun, untuk mengetahui bagaimana perkembangan seorang karyawan, tentu perusahaan harus melakukan pemantauan secara berkala dan objektif melalui mekanisme yang sistematis agar informasi yang didapatkan benar adanya.

BACA JUGA :  Cara Login NPWP Melalui Aplikasi Ereg Pajak

Hal ini bertujuan untuk mempermudah penghitungan upah.

Selain itu, hendaknya pengimplementasian sistem ini bersifat transparan, agar karyawan dapat melihat celah dan kesempatan untuk mengasah kemampuan mereka menjadi lebih baik lagi.

Dengan menerapkan konsep penggajian yang seperti ini, pihak HR akan dapat lebih mengenal bagaimana karakteristik karyawannya.

Pay Performance (Berdasarkan Kinerja)

Karyawan yang berprestasi memang sudah sepatutnya menerima apresiasi atas kontribusinya terhadap perusahaan.

Salah satunya adalah dengan memberikan gaji yang layak.

Konsep Pay Performance merupakan sistem penggajian karyawan yang didasarkan pada kinerja atau prestasi yang capai oleh karyawan tersebut.

Semakin baik kinerja seorang karyawan, maka semakin tinggi pula gajinya. Sistem ini merupakan sistem yang paling sering dipakai oleh perusahaan.

Salah satu penerapannya adalah dengan memberikan insentif kepada karyawan yang dinilai berprestasi.

Contoh nyata yang paling sering ditemukan yakni berasal dari divisi pemasaran atau marketing dengan memasang target performa bagi setiap karyawan.

Untuk menerapkan sistem penggajian seperti ini, perusahaan, atau bahkan setiap divisi dalam perusahaan, harus memiliki suatu indikator yang jelas untuk digunakan sebagai acuan dalam menentukan apakah seorang karyawan memiliki prestasi yang layak bila diberikan gaji tinggi.

Indikator tersebut juga berfungsi untuk memberikan penilaian atau evaluasi terhadap kinerja karyawan secara akurat.

Dengan adanya sistem penggajian yang seperti ini, karyawan akan termotivasi untuk semakin mengoptimalkan produktivitas yang berujung meningkatkan kinerja perusahaan.

Cara Menentukan Standar Gaji Karyawan Sesuai Konsep 3P

Jika di atas sudah membahas mengenai konsep struktur upah 3P sebagai bahan pertimbangan dalam penggajian, maka kini Talenta akan membahas tentang cara menentukan standar gaji karyawan.

Setiap karyawan memiliki level pendidikan, kemampuan, dan pengalaman yang berbeda-beda.

Lalu, bagaimana cara menentukan standar gaji yang tepat?

Penggajian merupakan masalah yang cukup krusial dan tidak bisa dilakukan sembarangan agar terhindar dari konflik berkepanjangan.

Pertama, perusahaan dapat mengatasinya dengan cara melakukan riset.

Selain negosiasi dengan karyawan terkait berapa standar gaji yang diinginkannya, perusahaan juga harus melakukan riset. Misalnya, cari tahu berapa standar gaji yang diberikan oleh perusahaan kompetitor untuk posisi yang sama.

BACA JUGA :  Bagaimana Aturan Cuti Melahirkan Bagi Calon Ibu?

Hal ini sangat penting dilakukan agar karyawan tidak kabur begitu saja ke perusahaan kompetitor.

Kedua, perusahaan harus menyesuaikan dengan biaya hidup.

Jika suatu perusahaan berada di lingkungan yang cukup “elite”, maka karyawan pun seharusnya layak menerima gaji yang sesuai.

Hal itu bertujuan untuk menjamin kesejahteraan karyawan.

Semakin karyawan merasa cukup dengan gajinya, maka semakin nyaman dan produktif pula dia.

Ketiga, perusahaan harus menentukan konsep atau metode penghitungan gaji.

Setiap perusahaan tentunya memiliki metode penghitungan gaji yang berbeda tergantung pada jenis pekerjaan masing-masing karyawan.

Ada yang menggunakan konsep waktu seperti per jam, per hari, per minggu, per bulan.

Ada pula yang menggunakan konsep per proyek, atau bahkan per kata apabila pekerjaannya penulis.

Keempat, penggajian karyawan harus disesuaikan dengan kemampuan perusahaan. Poin ini merupakan poin paling krusial dari yang lainnya.

Sebagai penyedia kerja, tentu perusahaan harus mampu membayarkan gaji seluruh karyawannya.

Maka dari itu, perusahaan harus menyesuaikan kemampuan yang dimiliki dalam membayarkan gaji, dengan cara membuat batasan gaji untuk setiap jabatan.

Jangan mengiyakan gaji yang tidak mampu dibayar oleh perusahaan, jangan pula membayarkan gaji di bawah standar yang telah ditentukan.

Sistem penggajian menggunakan konsep 3P sangat dibutuhkan oleh perusahaan sebagai bahan pertimbangan untuk memberikan upah.

Dengan adanya sistem tersebut, perusahaan dapat memberikan gaji secara adil dan tertib kepada seluruh karyawan sesuai dengan porsinya.

Penerapan sistem 3P sebagai parameter penggajian juga memiliki banyak keuntungan, di antaranya adalah untuk mempertahankan loyalitas karyawan di suatu perusahaan dan mengoptimalkan produktivitas perusahaan.

Selain konsep 3P,  hal lain terkait penggajian yang perlu diperhatikan adalah cara menentukan standar gaji karyawan.

Perusahaan harus mampu membayar seluruh gaji perusahaan sesuai dengan kesepakatan yang telah ditentukan sebelumnya, dengan tidak memaksakan kemampuan di luar batas.


Putri Ayudhia

Putri Ayudhia

Putri Ayudhia adalah seorang penulis konten SEO dan blogger paruh waktu yang telah bekerja secara profesional selama lebih dari 7 tahun. Dia telah membantu berbagai perusahaan di Indonesia untuk menulis konten yang berkualitas, SEO-friendly, dan relevan dengan bidang HR dan Psikologi. Ayudhia memiliki pengetahuan yang kuat dalam SEO dan penulisan konten. Dia juga memiliki pengetahuan mendalam tentang HR dan Psikologi, yang membantu dia dalam menciptakan konten yang relevan dan berbobot. Dia memiliki keterampilan dalam melakukan riset pasar dan analisis, yang membantu dia dalam menciptakan strategi konten yang efektif.
https://bloghrd.com