Karyawan work from home? Sebelum menerapkan sistem kerja dari rumah secara penuh atau sebagian, perusahaan perlu mengenali risiko dan solusinya terlebih dahulu. WFH memang dapat membantu perusahaan menjaga fleksibilitas kerja, mengurangi kebutuhan mobilitas, dan mempertahankan operasional dalam situasi tertentu. Namun, sistem ini tetap membutuhkan aturan, alat kerja, komunikasi, serta pengukuran kinerja yang jelas.
Work from home atau WFH tidak lagi menjadi istilah asing bagi dunia kerja modern. Jika sebelumnya WFH banyak diterapkan secara darurat pada masa pandemi, kini sistem kerja jarak jauh mulai menjadi bagian dari pola kerja fleksibel, terutama di perusahaan yang pekerjaannya dapat dilakukan secara digital.
Meski demikian, WFH tidak bisa dijalankan hanya dengan memberikan laptop dan akses internet kepada karyawan. Perusahaan tetap perlu memastikan bahwa pekerjaan dapat dipantau, target tetap tercapai, data perusahaan aman, hak karyawan terlindungi, dan komunikasi antar tim berjalan lancar.
Karena itu, HRD memiliki peran penting dalam menyusun kebijakan WFH yang seimbang. Perusahaan dapat mempelajari terlebih dahulu konsep work from home di Indonesia agar memahami bahwa WFH bukan sekadar bekerja dari rumah, melainkan perubahan cara perusahaan mengelola pekerjaan, waktu, produktivitas, dan hubungan kerja.
Daftar Isi
Apa Itu Work From Home?
Work from home adalah sistem kerja yang memungkinkan karyawan menjalankan tugas dari rumah atau lokasi lain yang disetujui perusahaan, dengan bantuan perangkat digital dan koneksi internet. Karyawan tetap bekerja, mengikuti jam kerja, menyelesaikan target, berkomunikasi dengan tim, dan mematuhi peraturan perusahaan meskipun tidak hadir secara fisik di kantor.
WFH dapat diterapkan dalam berbagai bentuk. Ada perusahaan yang menjalankan WFH penuh, ada yang menerapkan sistem hybrid, dan ada pula yang hanya memberikan WFH pada kondisi tertentu. Misalnya saat terjadi gangguan transportasi, pemeliharaan kantor, kondisi kesehatan, efisiensi energi, atau kebutuhan operasional lain.
Dalam hubungan kerja, pelaksanaan WFH sebaiknya tetap memiliki dasar yang jelas. Ketentuan mengenai lokasi kerja, jam kerja, kewajiban karyawan, perangkat kerja, dan keamanan data dapat diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau kebijakan internal.
Mengapa Risiko WFH Perlu Diantisipasi?
WFH memiliki banyak manfaat, tetapi juga memiliki risiko yang dapat memengaruhi produktivitas perusahaan. Risiko tersebut bisa muncul dari sisi komunikasi, pengawasan, kedisiplinan, keamanan data, kesehatan mental, hingga administrasi HR.
Jika risiko ini tidak diantisipasi, WFH dapat menimbulkan masalah seperti pekerjaan terlambat, miskomunikasi, karyawan sulit dihubungi, penilaian kinerja tidak objektif, jam kerja melebar, absensi tidak akurat, dan data perusahaan tersebar di perangkat yang tidak aman.
Sebaliknya, jika dikelola dengan baik, WFH dapat menjadi sistem kerja yang produktif. Perusahaan dapat menerapkan strategi meningkatkan produktivitas karyawan saat WFH melalui target yang jelas, teknologi yang memadai, dan komunikasi yang sehat.

Risiko Work From Home dan Solusinya untuk Perusahaan
Berikut beberapa risiko WFH yang paling sering terjadi, lengkap dengan solusi yang dapat diterapkan oleh HR dan manajemen.
1. Sulit Berkomunikasi dengan Tim
Risiko pertama dalam WFH adalah berkurangnya interaksi tatap muka. Saat bekerja di kantor, karyawan dapat bertanya langsung, berdiskusi spontan, atau meminta klarifikasi secara cepat. Saat WFH, komunikasi bergantung pada chat, email, panggilan telepon, video conference, dan dokumen digital.
Masalah muncul ketika perusahaan tidak memiliki kanal komunikasi yang jelas. Instruksi bisa tercecer di banyak grup, keputusan penting hilang di antara chat, dan pesan tertulis dapat disalahartikan karena tidak ada ekspresi wajah atau intonasi suara.
Solusinya
Perusahaan perlu membuat aturan komunikasi digital. Misalnya, chat digunakan untuk koordinasi cepat, email untuk komunikasi formal, video meeting untuk diskusi yang kompleks, dan project management tools untuk memantau progres pekerjaan.
Selain itu, atasan dapat mengadakan check-in singkat secara berkala. Tidak harus lama, cukup 10 sampai 15 menit untuk menyampaikan prioritas, hambatan, dan perkembangan pekerjaan. Untuk pekerjaan lintas tim, perusahaan dapat menggunakan prinsip manajemen proyek agar tugas, deadline, PIC, dan hasil kerja lebih mudah dipantau.
2. Kinerja Karyawan Sulit Diawasi
Dalam sistem kerja kantor, atasan dapat melihat kehadiran fisik karyawan. Namun, dalam WFH, kehadiran fisik tidak lagi menjadi indikator utama. Manajer tidak bisa melihat langsung kapan karyawan mulai bekerja, bagaimana progresnya, atau apakah karyawan mengalami kendala.
Jika perusahaan masih memakai cara pengawasan lama, WFH akan terasa sulit. Atasan bisa menjadi terlalu curiga, sementara karyawan merasa tidak dipercaya. Akibatnya, hubungan kerja menjadi tidak sehat.
Solusinya
Perusahaan perlu beralih dari pengawasan berbasis kehadiran fisik menjadi pengawasan berbasis output. Artinya, yang dinilai bukan hanya apakah karyawan online, tetapi apakah pekerjaan selesai tepat waktu, kualitasnya sesuai standar, dan targetnya tercapai.
Untuk itu, HR dapat membantu perusahaan menyusun KPI atau Key Performance Indicator yang relevan untuk sistem kerja remote. Selain itu, perusahaan juga perlu melakukan penilaian kinerja karyawan secara berkala agar performa tidak hanya dinilai dari persepsi atasan.
3. Produktivitas Menurun
Salah satu kekhawatiran terbesar perusahaan adalah menurunnya produktivitas selama WFH. Karyawan bisa terdistraksi oleh pekerjaan rumah, keluarga, media sosial, game, atau suasana rumah yang terlalu santai.
Di sisi lain, ada juga karyawan yang justru bekerja terlalu lama karena merasa harus selalu membuktikan diri. Kedua kondisi ini sama-sama berisiko. Karyawan yang terlalu santai dapat menurunkan output, sedangkan karyawan yang bekerja berlebihan dapat mengalami kelelahan.
Solusinya
Perusahaan perlu memberikan target kerja yang jelas dan realistis. Setiap karyawan perlu tahu apa prioritasnya, kapan deadline, dan seperti apa standar hasil yang diharapkan. Atasan juga sebaiknya tidak memberikan instruksi mendadak terlalu sering karena dapat merusak fokus kerja.
Karyawan dapat dibantu dengan rutinitas kerja yang sehat, seperti membuat daftar prioritas, mengatur waktu fokus, dan mengambil jeda istirahat. HR juga dapat membagikan panduan aktivitas sederhana agar karyawan dapat menjalani work from home dengan lebih seru tanpa mengorbankan produktivitas.
4. Absensi Karyawan Tidak Tercatat Akurat
WFH membuat proses pencatatan kehadiran menjadi lebih menantang. Jika perusahaan masih menggunakan absensi manual, HR akan kesulitan mengetahui apakah karyawan sudah mulai bekerja, sedang izin, terlambat, cuti, atau mengalami kendala teknis.
Masalah ini menjadi lebih kompleks jika perusahaan memiliki banyak cabang, banyak divisi, atau pola kerja shift. Data kehadiran yang tidak akurat dapat berdampak pada payroll, tunjangan, lembur, dan evaluasi kedisiplinan.
Solusinya
Perusahaan dapat menggunakan absensi online karyawan untuk mencatat kehadiran secara lebih fleksibel. Sistem ini dapat membantu karyawan melakukan clock-in dan clock-out dari lokasi yang disetujui perusahaan.
Selain itu, HR dapat mempertimbangkan aplikasi absensi karyawan yang memiliki fitur mobile attendance, GPS, selfie, approval atasan, dan laporan kehadiran. Perusahaan yang masih memakai cara lama juga dapat membaca perbandingan absensi manual dan absensi digital untuk memahami manfaat transisi ke sistem digital.
5. Jam Kerja Menjadi Tidak Jelas
WFH sering membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur. Karena bekerja dari rumah, sebagian karyawan merasa harus selalu siap merespons chat atau email, bahkan di luar jam kerja. Sebaliknya, ada juga karyawan yang kesulitan menjaga ritme kerja karena tidak ada batas fisik antara rumah dan kantor.
Jika tidak diatur, kondisi ini dapat menimbulkan konflik. Perusahaan merasa pekerjaan tidak berjalan optimal, sementara karyawan merasa waktu pribadinya terganggu.
Solusinya
HR perlu memastikan jam kerja tetap jelas meskipun karyawan bekerja dari rumah. Tentukan jam mulai kerja, jam istirahat, standar respons komunikasi, dan jam akhir kerja.
Jika perusahaan meminta karyawan bekerja melebihi ketentuan waktu kerja yang berlaku dan memenuhi syarat lembur, perusahaan perlu memperhatikan ketentuan waktu kerja lembur. Dengan begitu, WFH tidak menjadi alasan untuk memperpanjang jam kerja tanpa kompensasi yang sesuai.
6. Risiko Miskomunikasi dengan Atasan
WFH dapat memperbesar jarak komunikasi antara karyawan dan atasan. Karyawan bisa merasa tidak mendapat arahan yang cukup, sementara atasan merasa karyawan kurang memberi update. Jika dibiarkan, hal ini dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Masalah ini biasanya muncul karena tidak ada standar pelaporan. Karyawan tidak tahu seberapa sering harus memberi kabar, sedangkan atasan tidak tahu cara memantau pekerjaan tanpa terkesan micromanaging.
Solusinya
Buat ritme pelaporan yang jelas. Misalnya, update harian singkat untuk pekerjaan operasional, update mingguan untuk pekerjaan strategis, dan laporan khusus untuk proyek yang memiliki deadline penting.
Atasan juga perlu dilatih untuk memimpin tim remote. Kemampuan memberi instruksi, membangun kepercayaan, membaca beban kerja, dan memberi feedback menjadi sangat penting. Pelatihan seperti ini dapat dimasukkan dalam program pelatihan dan pengembangan SDM.
7. Karyawan Sulit Fokus karena Gangguan di Rumah
Tidak semua rumah ideal untuk bekerja. Ada karyawan yang tinggal bersama keluarga besar, memiliki anak kecil, berbagi ruang dengan orang lain, atau tidak memiliki meja kerja khusus. Kondisi ini dapat membuat karyawan sulit fokus.
Selain itu, pekerjaan rumah tangga juga dapat menjadi distraksi. Karyawan yang berada di rumah sering dianggap lebih tersedia untuk mengurus hal-hal pribadi, padahal mereka tetap memiliki tanggung jawab kerja.
Solusinya
Perusahaan perlu memahami bahwa kondisi rumah setiap karyawan berbeda. Solusinya bukan menurunkan standar kerja, tetapi memberikan fleksibilitas yang wajar selama output tetap tercapai.
Karyawan dapat membuat area kerja khusus, menggunakan jadwal kerja yang konsisten, dan mengomunikasikan batas waktu kerja kepada keluarga. Sementara itu, atasan perlu memberi target yang jelas agar karyawan dapat mengatur prioritas tanpa harus terus-menerus menunggu instruksi.
8. Keamanan Data Perusahaan Lebih Rentan
WFH membuat data perusahaan diakses dari luar kantor. Karyawan bisa menggunakan jaringan internet rumah, perangkat pribadi, penyimpanan pribadi, atau aplikasi komunikasi yang tidak selalu dikontrol perusahaan. Hal ini meningkatkan risiko kebocoran data, akses tidak sah, dan penyalahgunaan dokumen.
Risiko ini semakin besar jika perusahaan tidak memiliki aturan mengenai penggunaan perangkat, penyimpanan file, password, VPN, atau akses sistem.
Solusinya
Perusahaan perlu membuat kebijakan keamanan data untuk WFH. Atur perangkat apa yang boleh digunakan, bagaimana cara mengakses sistem perusahaan, aplikasi apa yang boleh dipakai, dan bagaimana penyimpanan dokumen dilakukan.
Penggunaan cloud computing dapat membantu penyimpanan dokumen lebih terpusat, tetapi tetap harus disertai kontrol akses yang jelas. HR juga perlu bekerja sama dengan tim IT untuk memastikan karyawan memahami risiko keamanan digital.
9. Sistem Kerja Shift Lebih Sulit Dipantau
Untuk perusahaan dengan sistem shift, WFH dapat menimbulkan tantangan tambahan. HR perlu memastikan karyawan bekerja sesuai jadwal, tidak menukar shift tanpa persetujuan, dan tetap memenuhi kebutuhan layanan pada jam yang telah ditentukan.
Masalah ini sering terjadi pada tim customer support, IT support, call center, administrasi operasional, dan layanan pelanggan yang tetap berjalan di luar jam kerja biasa.
Solusinya
Perusahaan perlu menyusun jadwal shift yang jelas dan menghubungkannya dengan sistem absensi. HR dapat membaca panduan cara efektif HR mengelola shift karyawan serta pembagian shift kerja agar jadwal tetap adil dan sesuai kebutuhan operasional.
Jika ada perubahan shift, pastikan karyawan mengajukan perubahan melalui sistem atau persetujuan atasan. Hindari perubahan informal yang tidak tercatat karena dapat berdampak pada payroll dan akuntabilitas kerja.
10. Administrasi Cuti dan Izin Menjadi Tidak Rapi
Karyawan yang bekerja dari rumah tetap memiliki hak cuti dan izin. Namun, dalam praktiknya, beberapa perusahaan justru menjadi lebih longgar atau sebaliknya terlalu tidak jelas dalam mencatat cuti selama WFH.
Misalnya, karyawan izin setengah hari tetapi tidak dicatat, cuti tahunan dianggap tidak perlu karena karyawan bekerja dari rumah, atau sakit ringan hanya disampaikan melalui chat tanpa dokumentasi.
Solusinya
HR perlu tetap mengelola cuti dan izin secara formal. Penggunaan aplikasi cuti online karyawan dapat membantu pengajuan, persetujuan, dan pencatatan cuti menjadi lebih rapi.
Karyawan WFH juga tetap perlu menggunakan cuti tahunan jika memang ingin beristirahat dari pekerjaan. Bekerja dari rumah bukan berarti karyawan tidak membutuhkan waktu pemulihan.
11. Payroll Berisiko Salah Hitung
Kesalahan data absensi, cuti, izin, lembur, dan tunjangan dapat berdampak langsung pada payroll. Jika karyawan lupa clock-in, jadwal shift berubah, atau lembur tidak tercatat, HR dan payroll dapat mengalami kesulitan menghitung gaji secara akurat.
Masalah ini dapat menimbulkan komplain dari karyawan. Terlebih jika ada komponen seperti tunjangan kehadiran, uang makan, uang transport, insentif, atau lembur yang bergantung pada data kehadiran.
Solusinya
Perusahaan sebaiknya menggunakan software payroll yang terintegrasi dengan absensi, cuti, lembur, dan data karyawan. Dengan sistem yang terhubung, risiko human error dapat berkurang.
HR juga perlu memahami siklus penggajian agar data kehadiran dan perubahan jadwal masuk tepat waktu sebelum proses payroll dilakukan.
12. Karyawan Merasa Terisolasi
WFH dapat membuat sebagian karyawan merasa jauh dari tim. Mereka tidak lagi merasakan suasana kantor, diskusi santai, makan siang bersama, atau interaksi informal yang biasanya membantu membangun hubungan kerja.
Jika rasa terisolasi berlangsung lama, employee engagement dapat menurun. Karyawan mungkin tetap menyelesaikan pekerjaan, tetapi tidak lagi merasa terhubung dengan perusahaan.
Solusinya
HR dapat membuat aktivitas engagement yang sehat, seperti virtual coffee break, sesi sharing, mentoring, town hall, atau diskusi informal antar tim. Namun, kegiatan tersebut sebaiknya tidak berlebihan agar tidak menambah beban meeting.
Atasan juga perlu melakukan one-on-one meeting secara berkala untuk memahami kondisi karyawan, bukan hanya menanyakan pekerjaan. Pendekatan ini membantu perusahaan menjaga komunikasi yang lebih manusiawi.
13. Disiplin Kerja Menurun
WFH memberi fleksibilitas, tetapi tetap membutuhkan disiplin. Risiko muncul ketika karyawan mulai terlambat online, sering melewatkan meeting, lambat merespons pesan penting, atau tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai deadline.
Di sisi lain, perusahaan juga perlu berhati-hati agar tidak menyamakan fleksibilitas dengan ketidakdisiplinan. Tidak semua karyawan yang tidak selalu aktif di chat berarti tidak bekerja.
Solusinya
Perusahaan perlu mendefinisikan disiplin kerja secara jelas. Misalnya, hadir sesuai jam kerja, memberi kabar jika ada kendala, menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, mengikuti meeting penting, dan menjaga kualitas kerja.
Pembahasan tentang disiplin kerja dalam hubungan industrial dapat menjadi referensi bagi HR agar kedisiplinan dikelola secara proporsional, bukan dengan pendekatan yang terlalu kaku.
14. Risiko Burnout karena Selalu Terhubung
Salah satu risiko WFH yang sering tidak terlihat adalah burnout. Karena bekerja dari rumah, karyawan bisa merasa harus selalu tersedia. Chat kerja masuk setelah jam kerja, meeting terlalu sering, dan tugas baru datang tanpa memperhatikan beban kerja.
Kondisi ini dapat membuat karyawan kelelahan secara fisik dan mental. Dalam jangka panjang, produktivitas justru menurun meskipun karyawan terlihat selalu aktif.
Solusinya
Perusahaan perlu menetapkan batas komunikasi. Misalnya, pesan kerja hanya wajib direspons pada jam kerja, kecuali kondisi darurat. HR juga dapat mendorong manajer untuk memantau beban kerja dan tidak menjadikan WFH sebagai alasan untuk menambah tugas tanpa batas.
Karyawan juga perlu didorong untuk mengambil istirahat, menggunakan cuti bila diperlukan, dan menutup hari kerja dengan jelas. Hal sederhana seperti mematikan notifikasi kerja setelah jam kerja dapat membantu menjaga keseimbangan.
Peran HRIS dan Employee Self-Service dalam Mengelola WFH
Salah satu solusi penting dalam penerapan WFH adalah penggunaan teknologi HR. Perusahaan dapat menggunakan Human Resource Information System atau HRIS untuk mengelola data karyawan, absensi, cuti, payroll, dokumen, struktur organisasi, dan laporan HR secara terpusat.
Dalam sistem kerja WFH, HRIS dapat membantu HR mengurangi pekerjaan administratif manual. Karyawan dapat melakukan absensi, mengajukan cuti, melihat slip gaji, memperbarui data tertentu, dan mengakses dokumen perusahaan melalui satu sistem.
Fitur employee self-service juga membantu karyawan lebih mandiri. Mereka tidak harus selalu menghubungi HR untuk hal-hal administratif sederhana. Misalnya, melihat saldo cuti, mengecek riwayat absensi, mengunduh slip gaji, atau mengajukan perubahan data.
Bagi manajer, HRIS dapat membantu memantau kehadiran, persetujuan cuti, laporan tim, dan data kinerja. Namun, HRIS tetap harus digunakan secara bijak. Sistem digital sebaiknya membantu transparansi dan akurasi, bukan menjadi alat pengawasan berlebihan yang membuat karyawan merasa tidak dipercaya.
Contoh Kebijakan WFH untuk Mengurangi Risiko
Agar risiko WFH dapat dikendalikan, perusahaan perlu membuat kebijakan tertulis. Berikut contoh poin kebijakan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perusahaan.
Contoh Kebijakan Work From Home
Perusahaan dapat memberikan fasilitas Work From Home atau WFH kepada karyawan pada posisi tertentu berdasarkan karakter pekerjaan, kebutuhan operasional, kesiapan teknologi, dan persetujuan atasan langsung.
Selama menjalankan WFH, karyawan tetap wajib mengikuti jam kerja perusahaan, melakukan absensi melalui sistem yang ditentukan, menjaga komunikasi selama jam kerja, menyelesaikan target pekerjaan sesuai prioritas, serta menjaga kerahasiaan data dan dokumen perusahaan.
Karyawan wajib memberikan update pekerjaan sesuai mekanisme yang telah ditentukan oleh atasan langsung. Apabila terjadi kendala internet, listrik, perangkat kerja, kesehatan, atau kondisi lain yang menghambat pekerjaan, karyawan wajib segera menginformasikan kepada atasan langsung.
Pelaksanaan WFH tidak menghapus kewajiban karyawan untuk hadir di kantor apabila diperlukan untuk meeting, pelatihan, koordinasi, pekerjaan tertentu, atau kebutuhan operasional perusahaan.
Ketentuan mengenai cuti, izin, lembur, tunjangan, fasilitas kerja, keamanan data, dan evaluasi kinerja mengikuti peraturan perusahaan dan kebijakan internal yang berlaku.
Checklist Risiko WFH untuk HRD
HR dapat menggunakan checklist berikut untuk mengevaluasi apakah sistem WFH di perusahaan sudah berjalan dengan baik.
| Area Risiko | Pertanyaan Evaluasi | Solusi yang Disarankan |
|---|---|---|
| Komunikasi | Apakah kanal komunikasi resmi sudah ditentukan? | Buat aturan penggunaan chat, email, meeting, dan dokumen kerja. |
| Kinerja | Apakah target karyawan sudah jelas? | Gunakan KPI, weekly review, dan penilaian berbasis output. |
| Absensi | Apakah kehadiran WFH tercatat akurat? | Gunakan absensi online yang terintegrasi dengan sistem HR. |
| Jam kerja | Apakah batas jam kerja dan komunikasi sudah jelas? | Tentukan jam kerja, jam istirahat, dan aturan komunikasi darurat. |
| Payroll | Apakah data absensi, cuti, dan lembur sudah masuk payroll? | Integrasikan absensi, cuti, lembur, dan payroll. |
| Keamanan data | Apakah karyawan memahami aturan akses data? | Buat panduan keamanan data, akses terbatas, dan sosialisasi rutin. |
| Wellbeing | Apakah karyawan berisiko burnout atau merasa terisolasi? | Lakukan check-in, batasi meeting, dan dukung hak istirahat. |
| Shift | Apakah jadwal kerja remote sudah sesuai kebutuhan operasional? | Gunakan jadwal shift digital dan approval perubahan jadwal. |
Tips untuk Karyawan agar WFH Tetap Produktif
Selain kebijakan dari perusahaan, karyawan juga perlu bertanggung jawab menjaga produktivitas selama WFH. Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan.
1. Buat Area Kerja Khusus
Jika memungkinkan, siapkan satu area khusus untuk bekerja. Tidak harus ruangan besar, yang penting cukup nyaman, terang, dan minim gangguan. Area kerja membantu tubuh dan pikiran mengenali kapan waktunya bekerja dan kapan waktunya beristirahat.
2. Ikuti Rutinitas Kerja
Mulailah hari seperti saat akan bekerja di kantor. Mandi, sarapan, berpakaian rapi, membuka agenda, dan menyusun prioritas dapat membantu membangun mood kerja.
3. Beri Update secara Proaktif
Jangan menunggu atasan terus bertanya. Jika pekerjaan sudah selesai, ada hambatan, atau membutuhkan keputusan, sampaikan update secara jelas. Komunikasi proaktif membantu membangun kepercayaan dalam sistem kerja remote.
4. Kelola Distraksi Digital
Matikan notifikasi yang tidak penting saat bekerja fokus. Tentukan waktu untuk membuka email, chat, dan media sosial agar pekerjaan tidak terus terpotong.
5. Tetap Gunakan Hak Istirahat
WFH bukan berarti harus bekerja tanpa jeda. Ambil istirahat makan siang, lakukan stretching, dan berhenti bekerja sesuai jam kerja. Istirahat yang cukup membantu menjaga kualitas kerja.
Kesalahan yang Harus Dihindari Perusahaan saat Menerapkan WFH
Berikut beberapa kesalahan yang sering membuat sistem WFH tidak efektif.
1. Tidak Membuat Kebijakan Tertulis
WFH tanpa aturan tertulis mudah menimbulkan perbedaan tafsir. Karyawan bingung, atasan memiliki standar berbeda, dan HR kesulitan menegakkan aturan.
2. Mengukur Produktivitas dari Status Online
Status online tidak selalu berarti produktif. Perusahaan perlu menilai output, kualitas kerja, dan pencapaian target, bukan hanya aktivitas digital yang terlihat.
3. Terlalu Banyak Meeting
Meeting memang penting, tetapi terlalu banyak meeting dapat mengurangi waktu kerja fokus. Gunakan meeting untuk hal yang membutuhkan diskusi, bukan semua informasi.
4. Mengabaikan Keamanan Data
WFH tanpa standar keamanan data dapat membahayakan perusahaan. Akses sistem, dokumen, password, perangkat, dan penyimpanan file perlu diatur dengan serius.
5. Mengabaikan Kesehatan Mental Karyawan
Produktivitas jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh target. Karyawan juga perlu memiliki beban kerja yang sehat, waktu istirahat, komunikasi yang baik, dan dukungan dari atasan.
Kesimpulan
Work from home dapat menjadi sistem kerja yang efektif jika risikonya dikenali dan dikelola dengan baik. Beberapa risiko yang perlu diantisipasi perusahaan meliputi sulitnya komunikasi, pengawasan kinerja, penurunan produktivitas, data absensi yang tidak akurat, jam kerja yang kabur, gangguan dari rumah, keamanan data, hingga risiko burnout.
Solusinya adalah membuat kebijakan WFH yang jelas, menggunakan absensi online, menetapkan KPI berbasis output, memperkuat komunikasi digital, mengintegrasikan data dengan payroll, menjaga keamanan data, serta memperhatikan kesejahteraan karyawan.
HRD memiliki peran penting dalam memastikan WFH tidak hanya menjadi fasilitas, tetapi juga sistem kerja yang tertib. Dengan dukungan HRIS, employee self-service, manajemen kinerja yang baik, dan kepemimpinan yang empatik, WFH dapat membantu perusahaan tetap produktif tanpa mengabaikan hak dan kenyamanan karyawan.
Pada akhirnya, WFH bukan sekadar bekerja dari rumah. WFH adalah cara kerja yang membutuhkan kepercayaan, disiplin, teknologi, komunikasi, dan tanggung jawab dari perusahaan maupun karyawan.
Referensi Eksternal
- Sekretariat Negara – Menaker Terbitkan Edaran WFH Perusahaan Swasta, BUMN, dan BUMD
- JDIH Kemnaker – Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor M/6/HK.04/III/2026
- International Labour Organization – Healthy and Safe Telework
- World Health Organization – Healthy and Safe Telework Technical Brief
- Gallup – The Remote Work Paradox: Higher Engagement, Lower Wellbeing
- Microsoft – Work Trend Index 2026: Indonesian Workers and AI Adoption
- JDIH Kemnaker – Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021