Tips WFH Seru: Aktivitas Ringan agar Tidak Bosan

Work from home atau WFH sering terlihat menyenangkan karena karyawan dapat bekerja dari rumah tanpa harus berangkat ke kantor. Tidak perlu menghadapi macet, tidak perlu terburu-buru mengejar transportasi, dan bisa bekerja di tempat yang terasa lebih dekat dengan kehidupan pribadi.

Namun, bekerja dari rumah ternyata tidak selalu semudah yang dibayangkan. Setelah beberapa hari atau minggu, sebagian karyawan mulai merasa bosan, kurang fokus, sulit memisahkan waktu kerja dan waktu istirahat, bahkan merasa rindu dengan suasana kantor. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini bisa menurunkan produktivitas.

Karena itu, WFH perlu dijalani dengan strategi yang tepat. Karyawan perlu membuat rutinitas kerja yang sehat, sedangkan perusahaan dan HRD perlu memahami bagaimana sistem kerja jarak jauh dapat tetap mendukung performa, komunikasi, dan kesejahteraan karyawan. Untuk memahami konsep dasarnya, pembaca dapat melihat pembahasan tentang work from home di Indonesia.

Artikel ini akan membahas berbagai aktivitas yang dapat dilakukan agar WFH terasa lebih seru, tidak monoton, tetapi tetap produktif dan profesional.

Mengapa WFH Bisa Terasa Membosankan?

WFH bisa terasa membosankan karena lingkungan kerja berubah secara drastis. Di kantor, karyawan terbiasa bertemu rekan kerja, berdiskusi langsung, makan siang bersama, berpindah ruangan, dan merasakan suasana kerja yang berbeda dari rumah. Ketika semua aktivitas dilakukan di tempat yang sama, otak lebih mudah merasa jenuh.

Selain itu, rumah sering diasosiasikan sebagai tempat beristirahat. Ketika rumah berubah menjadi tempat kerja, sebagian orang kesulitan membangun batas antara waktu profesional dan waktu pribadi. Akibatnya, ada karyawan yang menjadi terlalu santai, tetapi ada juga yang justru bekerja terlalu lama karena merasa pekerjaan selalu dekat.

Inilah sebabnya perusahaan perlu memiliki strategi WFH yang jelas. HRD dan manajemen dapat membaca panduan tentang strategi perusahaan meningkatkan produktivitas karyawan saat WFH agar pengelolaan kerja dari rumah tidak hanya bergantung pada inisiatif karyawan.

Apa yang Membuat WFH Tetap Produktif?

WFH yang produktif bukan berarti karyawan harus bekerja tanpa berhenti. Produktivitas justru lebih mudah tercapai ketika karyawan memiliki rutinitas yang sehat, target kerja yang jelas, komunikasi yang baik, dan waktu istirahat yang cukup.

Perusahaan juga perlu memahami bahwa produktivitas WFH tidak cukup diukur dari status online. Karyawan perlu dinilai dari output, kualitas pekerjaan, ketepatan waktu, dan kontribusi terhadap target tim. Dalam hal ini, HR dapat menggunakan KPI atau Key Performance Indicator agar ukuran kinerja lebih objektif.

Selain itu, karyawan tetap perlu mengikuti jam kerja yang berlaku. WFH tidak sama dengan libur, tetapi juga tidak seharusnya membuat karyawan bekerja tanpa batas. Batas kerja yang sehat membantu menjaga energi, fokus, dan kesehatan mental.

Jalani Work From Home Seru dengan Melakukan 5 Aktivitas Ini!

15 Aktivitas agar Work From Home Terasa Lebih Seru dan Produktif

Berikut beberapa aktivitas yang dapat dilakukan karyawan untuk mengurangi rasa bosan saat menjalani WFH. Aktivitas ini sederhana, tetapi dapat membantu menjaga mood, fokus, dan semangat kerja.

1. Pindah Spot Kerja secara Berkala

Bekerja terus-menerus di tempat yang sama dapat membuat tubuh dan pikiran cepat jenuh. Apalagi jika karyawan bekerja dari kasur, sofa, atau tempat yang terlalu nyaman untuk beristirahat. Akibatnya, fokus kerja menurun dan rasa kantuk lebih mudah muncul.

Untuk mengatasinya, cobalah berpindah spot kerja secara berkala. Misalnya, pagi hari bekerja di meja kerja, siang hari berpindah ke ruang makan, lalu sore hari bekerja di area yang lebih terang seperti dekat jendela, balkon, atau teras.

Namun, pilih tempat yang tetap mendukung pekerjaan. Pastikan pencahayaan cukup, posisi duduk nyaman, koneksi internet stabil, dan tidak terlalu banyak gangguan. Jika memungkinkan, buat satu area utama sebagai ruang kerja agar otak terbiasa mengenali bahwa tempat tersebut adalah area untuk fokus.

2. Mulai Hari dengan Rutinitas Seperti Akan ke Kantor

Salah satu penyebab WFH terasa malas adalah karena karyawan langsung bekerja setelah bangun tidur. Padahal, tubuh dan pikiran membutuhkan transisi sebelum masuk ke mode kerja.

Cobalah membuat rutinitas pagi yang sederhana. Misalnya, mandi, sarapan, memakai pakaian yang rapi, merapikan meja kerja, mengecek jadwal, lalu menyusun daftar prioritas harian. Rutinitas ini membantu otak memahami bahwa hari kerja telah dimulai.

Karyawan tidak harus berpakaian formal seperti saat ke kantor, tetapi sebaiknya tetap memakai pakaian yang nyaman dan pantas. Cara sederhana ini dapat meningkatkan rasa siap bekerja dan membantu menjaga profesionalitas saat harus mengikuti meeting online mendadak.

3. Buat To-Do List Harian

WFH akan terasa lebih terkendali jika karyawan memiliki daftar pekerjaan harian. Tanpa daftar prioritas, waktu kerja mudah terpecah oleh chat, email, pekerjaan rumah, atau hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Buat daftar pekerjaan berdasarkan prioritas. Bedakan mana pekerjaan yang harus selesai hari ini, mana yang bisa dilanjutkan besok, dan mana yang membutuhkan koordinasi dengan tim. Jika pekerjaan berbasis proyek, gunakan prinsip manajemen proyek agar alur kerja, tanggung jawab, dan deadline lebih teratur.

To-do list tidak perlu terlalu panjang. Tiga sampai lima prioritas utama setiap hari sudah cukup membantu karyawan tetap fokus.

4. Selingi dengan Olahraga Ringan

Bekerja dari rumah dapat membuat tubuh kurang bergerak. Karyawan bisa duduk terlalu lama di depan laptop tanpa menyadari bahwa tubuhnya membutuhkan peregangan. Jika dibiarkan, tubuh terasa kaku, punggung pegal, mata lelah, dan energi menurun.

Sisihkan waktu untuk olahraga ringan di sela-sela kerja. Tidak harus berat, cukup stretching, jalan di sekitar rumah, naik turun tangga, yoga ringan, squat, plank, atau gerakan sederhana selama 5 sampai 10 menit.

Olahraga ringan membantu melancarkan peredaran darah, memperbaiki mood, dan membuat tubuh lebih segar. Aktivitas ini juga membantu karyawan kembali fokus setelah bekerja dalam waktu lama.

5. Gunakan Teknik Pomodoro atau Blok Waktu Fokus

Teknik Pomodoro dapat membantu karyawan yang mudah terdistraksi saat WFH. Caranya sederhana: bekerja fokus selama 25 menit, lalu istirahat 5 menit. Setelah beberapa sesi, ambil istirahat lebih panjang.

Jika ritme kerja Anda membutuhkan waktu fokus lebih lama, gunakan blok waktu 60 sampai 90 menit. Selama blok tersebut, matikan notifikasi yang tidak penting, tutup tab yang mengganggu, dan fokus pada satu pekerjaan utama.

Teknik ini membantu pekerjaan terasa lebih ringan karena dibagi ke dalam sesi-sesi kecil. Karyawan juga tidak merasa harus fokus tanpa henti sepanjang hari.

6. Lakukan Virtual Coffee Break dengan Rekan Kerja

Salah satu hal yang sering dirindukan dari kantor adalah interaksi informal. Di kantor, karyawan bisa mengobrol sebentar dengan rekan kerja, bertukar cerita, atau sekadar bercanda saat istirahat. Saat WFH, interaksi seperti ini sering hilang.

Untuk mengobati rasa rindu terhadap suasana kantor, lakukan virtual coffee break bersama rekan kerja. Sesi ini tidak harus lama, cukup 15 sampai 30 menit untuk mengobrol santai tanpa agenda kerja yang berat.

Aktivitas ini dapat membantu menjaga hubungan tim dan mengurangi rasa terisolasi. Namun, pastikan waktunya tidak terlalu sering dan tidak mengganggu pekerjaan utama.

7. Lakukan Conference Call untuk Koordinasi yang Penting

Komunikasi tertulis tidak selalu cukup. Ada pekerjaan yang lebih mudah dijelaskan melalui panggilan suara atau video call, terutama jika melibatkan diskusi, ide, konflik, atau keputusan penting.

Gunakan conference call untuk membahas hal-hal yang membutuhkan pemahaman bersama. Namun, jangan menjadikan semua hal sebagai meeting. Meeting online yang terlalu banyak justru bisa membuat karyawan kelelahan dan kehilangan waktu fokus.

Perusahaan perlu membuat pola komunikasi digital yang sehat. Jika tim bekerja dengan jadwal berbeda atau sistem shift, HR dapat membaca panduan cara efektif HR mengelola shift karyawan agar koordinasi tetap berjalan tanpa membebani karyawan.

8. Putar Playlist Kesukaan

Musik dapat membantu sebagian orang bekerja lebih nyaman. Saat WFH, karyawan memiliki kebebasan lebih besar untuk mengatur suasana kerja, termasuk memutar playlist favorit.

Pilih musik yang sesuai dengan jenis pekerjaan. Untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi, musik instrumental, lo-fi, jazz ringan, atau suara alam bisa membantu. Untuk pekerjaan administratif yang repetitif, musik dengan ritme lebih energik dapat membuat suasana kerja lebih menyenangkan.

Namun, tidak semua pekerjaan cocok dilakukan sambil mendengarkan musik. Jika musik justru mengganggu konsentrasi, gunakan saat jeda istirahat atau ketika mengerjakan pekerjaan ringan.

9. Rapikan Meja Kerja dan Tambahkan Elemen Personal

Meja kerja yang berantakan dapat memengaruhi mood dan fokus. Karena itu, luangkan beberapa menit untuk merapikan area kerja sebelum memulai hari. Singkirkan barang yang tidak diperlukan, siapkan air minum, rapikan kabel, dan pastikan alat kerja mudah dijangkau.

Anda juga bisa menambahkan elemen personal seperti tanaman kecil, aromaterapi, foto keluarga, sticky notes, atau lampu meja. Elemen sederhana ini dapat membuat suasana kerja lebih nyaman tanpa harus mengubah seluruh ruangan.

Namun, tetap jaga agar area kerja tidak terlalu ramai. Tujuannya adalah membuat ruang kerja terasa menyenangkan, bukan membuatnya penuh distraksi.

10. Ambil Istirahat Makan Siang yang Benar-Benar Terpisah dari Pekerjaan

Saat WFH, banyak karyawan makan siang sambil tetap membuka laptop. Kebiasaan ini terlihat efisien, tetapi bisa membuat otak tidak benar-benar beristirahat. Dalam jangka panjang, karyawan dapat merasa lebih cepat lelah.

Gunakan waktu makan siang untuk benar-benar berhenti dari pekerjaan. Tutup laptop, tinggalkan meja kerja, makan dengan tenang, dan beri tubuh waktu untuk memulihkan energi.

Istirahat yang baik bukan tanda malas. Justru, istirahat yang cukup membantu karyawan kembali bekerja dengan pikiran lebih segar. Perusahaan juga perlu memahami bahwa hak istirahat tetap penting dalam sistem kerja remote, termasuk pengelolaan cuti tahunan ketika karyawan membutuhkan waktu pemulihan lebih panjang.

11. Bermain Game Ringan saat Jam Istirahat

Bermain game dapat menjadi cara untuk melepas stres saat WFH, selama dilakukan pada waktu yang tepat. Game ringan dapat membantu otak beristirahat sejenak dari tekanan pekerjaan.

Namun, karyawan perlu mengontrol durasi bermain. Jangan sampai game membuat pekerjaan tertunda, meeting terlewat, atau deadline terganggu. Gunakan alarm jika perlu agar waktu istirahat tetap terkendali.

Untuk tim, perusahaan juga dapat sesekali mengadakan game online ringan sebagai aktivitas engagement. Namun, kegiatan seperti ini sebaiknya bersifat sukarela dan tidak menjadi beban tambahan bagi karyawan.

12. Lakukan Micro Learning di Sela Waktu

WFH dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan. Daripada menggunakan seluruh jeda untuk scrolling tanpa arah, karyawan dapat menyisihkan waktu singkat untuk micro learning.

Micro learning bisa berupa menonton video edukasi 10 menit, membaca artikel industri, mengikuti webinar singkat, belajar tools baru, atau membaca dokumentasi kerja. Aktivitas ini membuat WFH tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga kesempatan untuk berkembang.

Dari sisi perusahaan, kegiatan ini dapat menjadi bagian dari pelatihan dan pengembangan SDM. HR dapat menyediakan materi pembelajaran singkat yang relevan dengan kebutuhan pekerjaan.

13. Gunakan Jurnal Kerja Harian

Jurnal kerja harian dapat membantu karyawan mencatat apa yang sudah dikerjakan, kendala yang muncul, dan rencana untuk hari berikutnya. Aktivitas ini sederhana, tetapi sangat membantu dalam sistem kerja jarak jauh.

Dengan jurnal kerja, karyawan lebih mudah melihat progres. Atasan juga lebih mudah memahami pekerjaan yang sudah dilakukan tanpa harus terus-menerus bertanya melalui chat.

Jurnal kerja dapat dibuat dalam bentuk catatan pribadi, dokumen bersama, atau project management tools. Yang penting, formatnya mudah digunakan dan tidak menambah beban administrasi berlebihan.

14. Jadwalkan Waktu untuk Mengurangi Distraksi Digital

Saat WFH, distraksi tidak hanya datang dari rumah, tetapi juga dari perangkat digital. Notifikasi chat, email, media sosial, marketplace, dan aplikasi hiburan dapat mengganggu fokus kerja.

Cobalah membuat jadwal khusus untuk mengecek pesan. Misalnya, membuka email setiap 2 jam, mengecek chat kerja pada jam tertentu, dan mematikan notifikasi aplikasi yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.

Jika perusahaan menggunakan banyak kanal komunikasi, HR dan manajemen perlu menentukan saluran resmi agar informasi kerja tidak tercecer. Penggunaan teknologi seperti cloud computing juga dapat membantu tim menyimpan dan mengakses dokumen kerja dengan lebih rapi.

15. Tutup Hari Kerja dengan Ritual Sederhana

Karena rumah dan kantor berada di tempat yang sama, karyawan perlu membuat tanda bahwa hari kerja telah selesai. Ritual sederhana dapat membantu otak berpindah dari mode kerja ke mode istirahat.

Misalnya, menutup laptop, merapikan meja, membuat daftar pekerjaan untuk besok, mematikan notifikasi kerja, mengganti pakaian, berjalan santai, atau menghabiskan waktu dengan keluarga.

Ritual penutup hari kerja membantu mencegah pekerjaan terus terbawa hingga malam. Jika karyawan diminta bekerja di luar jam kerja karena kebutuhan perusahaan, HR perlu memahami ketentuan waktu kerja lembur agar hak karyawan tetap diperhatikan.

Aktivitas WFH yang Sebaiknya Dihindari

Agar WFH tetap menyenangkan tanpa merusak produktivitas, ada beberapa aktivitas yang sebaiknya dikontrol atau dihindari.

1. Bekerja dari Kasur Sepanjang Hari

Kasur adalah tempat istirahat. Jika digunakan untuk bekerja sepanjang hari, tubuh bisa menjadi terlalu santai dan postur kerja tidak ideal. Selain itu, kebiasaan ini dapat membuat kualitas tidur terganggu karena otak tidak lagi membedakan area kerja dan area istirahat.

2. Menonton Serial Saat Mengerjakan Tugas Penting

Menonton serial atau film mungkin terasa menyenangkan, tetapi dapat mengganggu fokus, terutama saat mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi. Jika ingin menonton, lakukan saat jam istirahat atau setelah pekerjaan selesai.

3. Terlalu Sering Membuka Media Sosial

Media sosial dapat menjadi sumber distraksi terbesar saat WFH. Tanpa sadar, waktu 5 menit bisa berubah menjadi 30 menit. Gunakan media sosial pada waktu tertentu agar pekerjaan tidak terganggu.

4. Tidak Mengikuti Jadwal Kerja

WFH memang fleksibel, tetapi bukan berarti bebas sepenuhnya. Karyawan tetap perlu mengikuti jadwal, menghadiri meeting, menyelesaikan tugas, dan berkomunikasi dengan tim. Kedisiplinan tetap penting dalam hubungan kerja. Pembaca dapat melihat pembahasan tentang disiplin kerja dalam hubungan industrial untuk memahami pentingnya perilaku kerja yang tertib.

5. Tidak Mengambil Istirahat Sama Sekali

Sebagian karyawan merasa harus membuktikan diri saat WFH dengan bekerja terus-menerus. Padahal, tanpa jeda, produktivitas justru bisa menurun. Istirahat singkat membantu menjaga energi dan mencegah kelelahan.

Tips HR agar Karyawan Tetap Nyaman Saat WFH

Aktivitas WFH yang menyenangkan tidak hanya menjadi tanggung jawab karyawan. Perusahaan dan HR juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan kerja jarak jauh yang sehat.

1. Buat Kebijakan WFH yang Jelas

HR perlu memastikan aturan WFH tertulis dengan jelas. Kebijakan ini dapat mencakup jadwal WFH, jam kerja, kewajiban absensi, standar komunikasi, prosedur izin, keamanan data, dan evaluasi kinerja.

Jika perusahaan belum memiliki aturan yang kuat, kebijakan WFH dapat diselaraskan dengan perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau kebijakan internal yang berlaku.

2. Gunakan Absensi Online

Absensi online membantu perusahaan mencatat kehadiran karyawan meskipun bekerja dari lokasi berbeda. Sistem ini dapat mendukung clock-in, clock-out, lokasi, foto, approval, serta laporan kehadiran.

Perusahaan dapat membaca referensi tentang penerapan absensi online karyawan dan aplikasi absensi karyawan untuk memahami manfaatnya dalam pengelolaan kerja fleksibel.

3. Kelola Cuti dan Izin secara Digital

Karyawan WFH tetap perlu mengajukan cuti, izin sakit, izin pribadi, atau cuti tahunan sesuai prosedur. Dengan sistem digital, HR dapat memantau pengajuan dan approval secara lebih rapi.

Penggunaan aplikasi cuti online karyawan membantu perusahaan mengurangi risiko dokumen hilang, approval terlambat, dan salah hitung saldo cuti.

4. Integrasikan Absensi dengan Payroll

Data absensi, cuti, izin, dan lembur sebaiknya terhubung dengan payroll. Jika tidak, HR berisiko salah menghitung gaji, tunjangan, potongan, atau kompensasi lembur.

Dalam hal ini, perusahaan dapat mempertimbangkan software payroll yang terintegrasi dengan absensi dan cuti. HR juga perlu memahami siklus penggajian agar data kehadiran masuk tepat waktu ke proses payroll.

5. Lakukan Penilaian Kinerja secara Teratur

WFH membutuhkan evaluasi yang jelas. Atasan perlu memberi feedback, memantau progress, dan mengevaluasi kualitas pekerjaan. Jangan hanya menilai karyawan dari seberapa sering mereka online.

Perusahaan dapat menggunakan penilaian kinerja karyawan untuk melihat capaian, kendala, dan kebutuhan pengembangan secara lebih objektif.

6. Sediakan Dukungan Teknologi

Karyawan akan lebih mudah produktif jika memiliki alat kerja yang memadai. Perusahaan dapat menyediakan laptop, akses software, koneksi VPN, tools komunikasi, cloud storage, atau reimbursement internet sesuai kebutuhan dan kemampuan perusahaan.

Untuk pengelolaan HR yang lebih menyeluruh, perusahaan dapat menggunakan Human Resource Information System atau HRIS agar data karyawan, absensi, cuti, payroll, dan dokumen personalia lebih terpusat.

Contoh Jadwal Harian WFH yang Seimbang

Berikut contoh jadwal sederhana yang dapat digunakan karyawan agar WFH lebih teratur.

Waktu Aktivitas Tujuan
07.30 – 08.00 Rutinitas pagi, mandi, sarapan, dan menyiapkan meja kerja Membangun transisi dari mode rumah ke mode kerja
08.00 – 08.30 Cek agenda dan susun prioritas Menentukan fokus kerja harian
08.30 – 10.30 Deep work atau pekerjaan prioritas Menyelesaikan tugas utama saat energi masih tinggi
10.30 – 10.45 Stretching dan istirahat singkat Mengurangi pegal dan menjaga energi
10.45 – 12.00 Koordinasi, email, atau pekerjaan lanjutan Menjaga komunikasi kerja
12.00 – 13.00 Makan siang tanpa laptop Memberi waktu istirahat yang benar-benar terpisah
13.00 – 15.00 Pekerjaan kolaboratif atau meeting Menyelesaikan koordinasi tim
15.00 – 15.15 Istirahat, jalan ringan, atau minum kopi Mengurangi kejenuhan sore hari
15.15 – 17.00 Finalisasi pekerjaan dan update progress Menutup hari dengan laporan yang jelas
17.00 Rapikan meja dan tutup hari kerja Membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi

Jadwal ini dapat disesuaikan dengan kebijakan perusahaan, jenis pekerjaan, dan kondisi masing-masing karyawan. Yang terpenting adalah menjaga ritme kerja agar tetap fokus tanpa mengabaikan waktu istirahat.

Checklist agar WFH Tetap Seru dan Tidak Membosankan

Berikut checklist sederhana yang dapat digunakan karyawan saat menjalani WFH.

  • Apakah saya sudah menyiapkan area kerja yang nyaman?
  • Apakah saya sudah membuat daftar prioritas hari ini?
  • Apakah saya sudah mengikuti jam kerja yang berlaku?
  • Apakah saya memiliki jeda istirahat di antara pekerjaan?
  • Apakah saya sudah bergerak atau stretching hari ini?
  • Apakah saya sudah berkomunikasi dengan tim jika ada kendala?
  • Apakah saya sudah mengurangi distraksi digital?
  • Apakah saya sudah makan siang tanpa bekerja?
  • Apakah saya sudah mencatat progress pekerjaan?
  • Apakah saya sudah menutup hari kerja dengan jelas?

Kesimpulan

WFH bisa terasa seru jika dijalani dengan rutinitas yang tepat. Karyawan dapat mencoba berbagai aktivitas sederhana seperti berpindah tempat kerja, olahraga ringan, virtual coffee break, memutar playlist, bermain game saat istirahat, melakukan micro learning, menulis jurnal kerja, hingga membuat ritual penutup hari.

Namun, aktivitas tersebut tetap perlu dilakukan dengan batas yang sehat. Tujuan utamanya bukan hanya menghilangkan bosan, tetapi membantu karyawan tetap fokus, produktif, dan nyaman saat bekerja dari rumah.

Dari sisi perusahaan, HRD juga perlu mendukung WFH dengan kebijakan yang jelas, absensi online, pengelolaan cuti digital, sistem payroll yang terintegrasi, KPI yang relevan, serta perhatian terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan karyawan.

Pada akhirnya, WFH yang baik bukan sekadar bekerja dari rumah. WFH yang baik adalah cara kerja yang membuat karyawan tetap produktif, tetap terhubung dengan tim, dan tetap memiliki ruang untuk menjaga keseimbangan hidup.

Referensi Eksternal


Putri Ayudhia

Putri Ayudhia

Putri Ayudhia adalah seorang penulis konten SEO dan blogger paruh waktu yang telah bekerja secara profesional selama lebih dari 7 tahun. Dia telah membantu berbagai perusahaan di Indonesia untuk menulis konten yang berkualitas, SEO-friendly, dan relevan dengan bidang HR dan Psikologi. Ayudhia memiliki pengetahuan yang kuat dalam SEO dan penulisan konten. Dia juga memiliki pengetahuan mendalam tentang HR dan Psikologi, yang membantu dia dalam menciptakan konten yang relevan dan berbobot. Dia memiliki keterampilan dalam melakukan riset pasar dan analisis, yang membantu dia dalam menciptakan strategi konten yang efektif.
https://bloghrd.com