Pengertian, Fungsi, dan Sumber Devisa Adalah?

Devisa adalah aset atau alat pembayaran internasional yang dapat digunakan suatu negara untuk melakukan transaksi dengan negara lain. Bentuk devisa dapat berupa valuta asing, emas moneter, surat berharga luar negeri, hak tarik khusus, maupun aset luar negeri lain yang diterima secara internasional.

Dalam kegiatan ekonomi modern, devisa memiliki peran sangat penting. Devisa digunakan untuk membayar impor, membayar utang luar negeri, menjaga stabilitas nilai tukar, membiayai kegiatan diplomatik, hingga mendukung ketahanan ekonomi suatu negara.

Bagi Indonesia, devisa tidak hanya penting untuk pemerintah dan Bank Indonesia. Devisa juga berkaitan langsung dengan dunia usaha, terutama perusahaan yang melakukan ekspor-impor, menggunakan bahan baku luar negeri, membayar jasa dari luar negeri, menerima pembayaran dari pelanggan internasional, atau memiliki transaksi dalam mata uang asing.

Jika cadangan devisa kuat, negara memiliki bantalan yang lebih baik untuk menghadapi tekanan eksternal. Sebaliknya, jika cadangan devisa melemah, stabilitas nilai tukar dan kemampuan pembayaran luar negeri dapat ikut terpengaruh.

Untuk memahami kaitan devisa dengan kondisi ekonomi secara lebih luas, Anda juga dapat membaca artikel tentang pengertian, fungsi, dan macam-macam sistem ekonomi.

Apa Itu Devisa?

Devisa adalah alat pembayaran yang digunakan dalam transaksi internasional dan diakui oleh negara lain. Secara sederhana, devisa dapat dipahami sebagai kekayaan negara dalam bentuk aset luar negeri yang dapat digunakan untuk membayar kewajiban kepada pihak luar negeri.

Devisa berbeda dari uang rupiah yang digunakan untuk transaksi domestik. Rupiah digunakan sebagai alat pembayaran sah di Indonesia, sedangkan devisa digunakan untuk transaksi lintas negara. Karena itu, devisa biasanya berbentuk mata uang asing yang diterima luas secara internasional, seperti dolar Amerika Serikat, euro, yen, pound sterling, atau mata uang asing lain yang likuid.

Dalam praktik ekonomi, devisa berada dalam pengelolaan dan pengawasan otoritas moneter. Di Indonesia, cadangan devisa dikelola oleh Bank Indonesia sebagai bank sentral. Cadangan devisa digunakan untuk mendukung stabilitas makroekonomi, terutama ketika terjadi tekanan terhadap nilai tukar Rupiah atau kebutuhan pembayaran luar negeri meningkat.

Untuk memahami hubungan devisa dengan nilai tukar, baca juga artikel tentang kurs tengah BI dan kaitannya dengan pajak.

Pengertian Cadangan Devisa

Cadangan devisa adalah aset luar negeri yang dikuasai oleh otoritas moneter dan dapat digunakan untuk membiayai transaksi internasional, menjaga stabilitas nilai tukar, serta memenuhi kewajiban luar negeri negara.

Cadangan devisa biasanya menjadi indikator penting dalam menilai ketahanan eksternal suatu negara. Semakin memadai cadangan devisa, semakin besar kemampuan negara dalam menghadapi tekanan ekonomi global, gejolak nilai tukar, kebutuhan impor, dan pembayaran utang luar negeri.

Cadangan devisa juga sering dibandingkan dengan kebutuhan impor. Misalnya, jika cadangan devisa setara dengan beberapa bulan impor, maka negara dinilai memiliki kemampuan membiayai kebutuhan impor dalam periode tertentu tanpa tekanan berlebihan.

Dalam data terbaru Bank Indonesia, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 tetap terjaga sebesar US$145,3 miliar. Angka ini setara dengan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Pengertian, Fungsi, dan Sumber Devisa Adalah?

Fungsi Devisa bagi Negara

1. Sebagai alat pembayaran internasional

Fungsi utama devisa adalah sebagai alat pembayaran dalam transaksi internasional. Ketika Indonesia mengimpor mesin, obat-obatan, bahan baku industri, teknologi, atau barang konsumsi dari luar negeri, pembayaran biasanya dilakukan menggunakan valuta asing.

Tanpa devisa yang cukup, negara akan kesulitan membayar kebutuhan impor. Hal ini dapat berdampak pada produksi, konsumsi, harga barang, dan kegiatan ekonomi domestik.

Bagi perusahaan yang berhubungan dengan transaksi internasional, pembahasan tentang bisnis internasional dan pentingnya memahami sistem ekonomi dapat menjadi referensi tambahan.

2. Sebagai alat pembayaran utang luar negeri

Devisa juga digunakan untuk membayar cicilan pokok dan bunga utang luar negeri. Pembayaran utang luar negeri dilakukan dalam mata uang asing, sehingga negara membutuhkan cadangan devisa yang memadai.

Jika cadangan devisa lemah, pembayaran utang luar negeri dapat memberi tekanan pada nilai tukar dan stabilitas keuangan. Karena itu, pengelolaan devisa menjadi bagian penting dari ketahanan ekonomi negara.

3. Sebagai cadangan moneter negara

Cadangan devisa berfungsi sebagai bantalan moneter. Ketika terjadi tekanan nilai tukar atau ketidakpastian global, cadangan devisa dapat digunakan untuk menjaga stabilitas Rupiah sesuai kebijakan Bank Indonesia.

Fungsi ini berkaitan erat dengan kebijakan moneter. Untuk memahami hubungan antara nilai tukar, inflasi, dan kebijakan bank sentral, baca juga artikel pengertian, tujuan, dan instrumen kebijakan moneter.

4. Sebagai indikator ketahanan ekonomi

Cadangan devisa sering digunakan sebagai indikator kemampuan negara menghadapi risiko eksternal. Negara dengan cadangan devisa memadai dinilai lebih siap menghadapi tekanan seperti pelemahan mata uang, kenaikan harga impor, krisis global, atau arus modal keluar.

Bagi investor, cadangan devisa yang kuat dapat meningkatkan kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi suatu negara.

5. Mendukung stabilitas nilai tukar

Nilai tukar Rupiah dapat bergerak karena banyak faktor, seperti ekspor-impor, arus modal, kebijakan suku bunga global, harga komoditas, dan sentimen pasar. Cadangan devisa membantu otoritas moneter menjaga agar pergerakan nilai tukar tidak terlalu bergejolak.

Stabilitas nilai tukar penting bagi perusahaan, terutama yang memiliki transaksi valuta asing. Jika kurs bergerak terlalu tajam, biaya impor, pendapatan ekspor, beban utang, dan laporan keuangan perusahaan dapat ikut berubah.

6. Membiayai hubungan internasional

Devisa juga digunakan untuk membiayai kegiatan hubungan luar negeri, seperti biaya kedutaan, misi diplomatik, perjalanan dinas luar negeri, kerja sama internasional, bantuan luar negeri, dan program pendidikan internasional.

Dengan devisa yang cukup, negara dapat menjalankan hubungan internasional dan kerja sama ekonomi secara lebih lancar.

7. Mendukung pembangunan nasional

Devisa dapat membantu mendukung pembangunan, terutama ketika negara membutuhkan teknologi, mesin, bahan baku, atau jasa dari luar negeri. Banyak proyek pembangunan membutuhkan impor barang modal atau jasa teknis internasional.

Karena itu, devisa tidak hanya berhubungan dengan perdagangan, tetapi juga dengan pembangunan infrastruktur, industri, pendidikan, kesehatan, dan transformasi ekonomi.

Sumber-Sumber Devisa Negara

Setiap negara memiliki sumber devisa yang berbeda. Negara dengan industri ekspor kuat biasanya memperoleh devisa dari perdagangan barang. Negara yang kuat di sektor pariwisata memperoleh devisa dari wisatawan mancanegara. Negara yang banyak memiliki pekerja migran juga memperoleh devisa dari remitansi.

Indonesia memiliki beberapa sumber devisa utama, mulai dari ekspor barang, ekspor jasa, pariwisata, investasi asing, pinjaman luar negeri, hibah, remitansi pekerja migran, hingga pendapatan dari aset luar negeri.

1. Kegiatan ekspor barang

Ekspor adalah salah satu sumber devisa utama bagi negara dengan ekonomi terbuka. Ketika perusahaan Indonesia menjual barang ke luar negeri, pembayaran biasanya diterima dalam mata uang asing. Mata uang asing inilah yang menjadi salah satu sumber devisa.

Indonesia mengekspor berbagai produk, seperti komoditas pertambangan, minyak sawit, produk manufaktur, tekstil, alas kaki, kendaraan, produk kimia, hasil perikanan, kopi, rempah, dan produk lainnya.

Semakin besar nilai ekspor suatu negara, semakin besar pula potensi penerimaan devisanya. Namun, nilai ekspor juga dipengaruhi oleh harga komoditas global, permintaan negara tujuan, kualitas produk, biaya logistik, dan daya saing industri.

Untuk memahami kaitan perdagangan internasional dan ekspansi pasar, baca juga artikel tentang integrasi ekonomi ASEAN untuk perluasan pasar.

Contoh hubungan ekspor dengan devisa

Jika perusahaan Indonesia mengekspor kopi ke Jepang dan menerima pembayaran dalam dolar AS atau yen, maka transaksi tersebut menghasilkan devisa. Devisa tersebut kemudian dapat masuk ke sistem perbankan dan menjadi bagian dari transaksi valuta asing nasional.

2. Ekspor jasa dan perdagangan jasa

Devisa tidak hanya berasal dari barang. Jasa juga dapat menjadi sumber devisa. Ekspor jasa terjadi ketika pihak luar negeri membayar layanan yang diberikan oleh pelaku usaha atau tenaga profesional dari Indonesia.

Contohnya jasa teknologi informasi, desain, konsultansi, pendidikan, kesehatan, keuangan, transportasi, logistik, konstruksi, dan layanan kreatif. Dalam era digital, ekspor jasa semakin penting karena pekerja profesional dapat melayani klien luar negeri tanpa harus membuka kantor fisik di negara tersebut.

Perusahaan yang menerima pembayaran jasa dari luar negeri perlu memahami aspek pajak internasional dan transaksi lintas negara. Anda dapat membaca artikel pajak internasional di Indonesia dan PPN jasa luar negeri sebagai referensi tambahan.

3. Pariwisata mancanegara

Pariwisata adalah sumber devisa penting bagi negara yang memiliki daya tarik wisata. Ketika wisatawan mancanegara datang ke Indonesia, mereka menukar mata uang asing menjadi Rupiah dan membelanjakannya untuk hotel, transportasi, makanan, tiket wisata, belanja, pemandu wisata, dan layanan lainnya.

Belanja wisatawan mancanegara tersebut dapat meningkatkan penerimaan devisa. Selain itu, sektor pariwisata juga menggerakkan banyak pelaku ekonomi, mulai dari hotel, restoran, transportasi, UMKM, agen perjalanan, hingga pelaku seni dan budaya.

Indonesia memiliki potensi besar dalam pariwisata karena memiliki alam, budaya, kuliner, dan destinasi yang beragam. Namun, sektor ini tetap perlu didukung oleh infrastruktur, keamanan, layanan berkualitas, promosi, dan konektivitas.

4. Investasi asing

Investasi asing juga dapat menjadi sumber devisa. Ketika investor luar negeri menanamkan modal di Indonesia, dana tersebut dapat masuk dalam bentuk valuta asing. Investasi ini dapat digunakan untuk membangun pabrik, membuka kantor, membeli saham, membiayai proyek, atau mengembangkan bisnis.

Investasi asing penting karena tidak hanya membawa modal, tetapi juga dapat membawa teknologi, keahlian, jaringan pasar, dan standar manajemen baru. Namun, investasi juga perlu dikelola agar memberi manfaat bagi ekonomi nasional, tenaga kerja, dan pembangunan daerah.

Dalam konteks bisnis, investasi asing berkaitan dengan sistem ekonomi, kebijakan pemerintah, perizinan, pajak, dan stabilitas nilai tukar.

5. Pinjaman luar negeri

Pinjaman luar negeri dapat menjadi sumber devisa karena dana yang diterima berasal dari pihak luar negeri dalam valuta asing. Pinjaman ini dapat digunakan untuk membiayai pembangunan, menutup kebutuhan pembiayaan, atau mendukung proyek tertentu.

Namun, pinjaman luar negeri berbeda dengan ekspor karena pinjaman harus dikembalikan bersama bunga atau biaya tertentu. Karena itu, pinjaman luar negeri perlu dikelola secara hati-hati agar tidak menimbulkan beban yang terlalu besar di masa depan.

Pembahasan ini berkaitan dengan kebijakan fiskal, APBN, dan pembiayaan negara. Untuk konteks tersebut, baca artikel pengertian kebijakan fiskal dan tujuannya serta fungsi APBN.

6. Hibah dan bantuan luar negeri

Hibah adalah bantuan dari negara lain, lembaga internasional, organisasi, atau pihak luar negeri yang tidak perlu dikembalikan seperti pinjaman. Hibah dapat diberikan untuk pendidikan, kesehatan, bantuan kemanusiaan, lingkungan, pembangunan daerah, atau program tertentu.

Jika hibah diberikan dalam bentuk valuta asing, maka hibah tersebut dapat menjadi sumber devisa. Namun, hibah biasanya tidak menjadi sumber devisa utama karena jumlah dan keberlanjutannya tidak selalu stabil.

7. Remitansi pekerja migran

Warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri dapat mengirimkan uang ke keluarganya di Indonesia. Kiriman uang dari pekerja migran ini disebut remitansi. Karena berasal dari luar negeri dan umumnya dikirim dalam valuta asing, remitansi dapat menjadi salah satu sumber devisa.

Remitansi tidak hanya membantu keluarga penerima, tetapi juga dapat menggerakkan konsumsi, pendidikan, perumahan, dan usaha kecil di daerah asal pekerja migran.

Perkembangan sistem pembayaran lintas negara juga membuat remitansi menjadi semakin penting. Bank Indonesia bahkan menyebut Indonesia sebagai salah satu koridor remitansi terbesar di dunia, baik sebagai negara asal utama pekerja migran maupun penerima remitansi.

8. Pendapatan dari aset luar negeri

Devisa juga dapat berasal dari pendapatan aset luar negeri. Misalnya, bunga dari simpanan luar negeri, dividen dari investasi luar negeri, keuntungan portofolio, atau pendapatan dari aset yang dimiliki oleh pemerintah, perusahaan, maupun warga negara di luar negeri.

Sumber ini biasanya berkaitan dengan investasi internasional dan pengelolaan aset lintas negara.

9. Devisa hasil ekspor sumber daya alam

Indonesia memiliki komoditas sumber daya alam yang menjadi sumber devisa penting. Contohnya hasil pertambangan, perkebunan, perikanan, dan produk berbasis sumber daya alam lainnya.

Karena nilainya besar, pemerintah dan Bank Indonesia mengatur ketentuan tertentu terkait Devisa Hasil Ekspor dari kegiatan pengusahaan, pengelolaan, dan pengolahan sumber daya alam. Tujuannya agar devisa dari ekspor SDA dapat mendukung stabilitas ekonomi dan pasar keuangan domestik.

Jenis-Jenis Devisa

1. Devisa umum

Devisa umum adalah devisa yang diperoleh tanpa kewajiban untuk mengembalikannya. Contohnya devisa dari ekspor, pariwisata, jasa internasional, dan remitansi pekerja migran.

Devisa umum biasanya lebih sehat bagi perekonomian karena berasal dari aktivitas produktif atau transaksi ekonomi yang menghasilkan penerimaan.

2. Devisa kredit

Devisa kredit adalah devisa yang berasal dari pinjaman luar negeri. Berbeda dari devisa umum, devisa kredit memiliki kewajiban untuk dikembalikan sesuai perjanjian.

Devisa kredit dapat membantu pembiayaan pembangunan, tetapi perlu dikelola secara bijak agar tidak meningkatkan risiko utang secara berlebihan.

3. Devisa kartal

Devisa kartal adalah devisa dalam bentuk uang tunai asing, seperti dolar AS, euro, yen, atau mata uang asing lainnya yang dipegang secara fisik.

4. Devisa giral

Devisa giral adalah devisa dalam bentuk simpanan, transfer bank, cek, wesel, atau instrumen pembayaran non-tunai lain yang dapat digunakan dalam transaksi internasional.

Tujuan Penggunaan Devisa

1. Membayar barang impor

Negara membutuhkan devisa untuk membayar impor barang. Barang impor dapat berupa bahan baku, barang modal, mesin, obat-obatan, teknologi, pangan tertentu, energi, atau barang konsumsi.

Bagi perusahaan yang melakukan impor, perubahan kurs dapat memengaruhi biaya. Karena itu, perusahaan perlu memahami pajak impor dan bea masuk. Artikel perbedaan PPN dan PPh 22 impor, PPh Pasal 22, dan cara bayar bea cukai dapat menjadi referensi tambahan.

2. Membayar jasa luar negeri

Selain barang, perusahaan dan pemerintah juga dapat membeli jasa dari luar negeri. Contohnya lisensi software, jasa konsultan, layanan cloud, royalti, jasa desain, jasa engineering, atau layanan digital internasional.

Pembayaran jasa luar negeri membutuhkan devisa dan dapat memiliki konsekuensi pajak tertentu. Karena itu, perusahaan perlu memastikan transaksi lintas negara dicatat dengan benar.

3. Membayar utang luar negeri

Devisa digunakan untuk membayar cicilan utang luar negeri dan bunganya. Pembayaran ini dapat dilakukan oleh pemerintah, BUMN, perusahaan swasta, atau pihak lain yang memiliki kewajiban luar negeri.

4. Membiayai perjalanan dinas dan diplomasi

Kegiatan diplomatik, kedutaan, misi perdagangan, pameran internasional, dan perjalanan dinas luar negeri membutuhkan devisa. Pembiayaan ini penting untuk menjaga hubungan internasional dan membuka peluang kerja sama ekonomi.

5. Membiayai pendidikan dan beasiswa luar negeri

Pemerintah, lembaga, perusahaan, atau keluarga dapat menggunakan devisa untuk membiayai pendidikan di luar negeri. Dalam jangka panjang, pendidikan internasional dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

6. Memberikan bantuan ke negara lain

Negara dapat menggunakan devisa untuk memberikan bantuan kemanusiaan, bantuan bencana, atau dukungan internasional kepada negara lain. Hal ini merupakan bagian dari hubungan diplomatik dan kerja sama global.

7. Menjaga stabilitas nilai tukar

Cadangan devisa dapat digunakan oleh bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar ketika terjadi tekanan pasar. Stabilitas nilai tukar penting agar kegiatan ekonomi tetap berjalan dengan lebih terprediksi.

Devisa dan Nilai Tukar Rupiah

Devisa dan nilai tukar memiliki hubungan yang erat. Ketika pasokan valuta asing cukup dan kepercayaan pasar terhadap ekonomi kuat, nilai tukar cenderung lebih stabil. Sebaliknya, ketika permintaan valuta asing meningkat tajam atau terjadi ketidakpastian global, nilai tukar dapat mengalami tekanan.

Perubahan nilai tukar akan memengaruhi banyak pihak. Importir akan merasakan kenaikan biaya jika Rupiah melemah. Eksportir dapat memperoleh keuntungan lebih besar dalam Rupiah jika menerima pembayaran dalam valuta asing, tetapi tetap perlu memperhatikan biaya bahan baku impor. Perusahaan dengan utang valas juga dapat mengalami kenaikan beban jika Rupiah melemah.

Karena itu, bisnis yang memiliki transaksi internasional perlu memantau kurs secara rutin dan memiliki strategi lindung nilai jika diperlukan.

Dampak Devisa bagi Bisnis

1. Memengaruhi biaya impor

Perusahaan yang mengimpor bahan baku, mesin, atau barang jadi sangat dipengaruhi oleh kurs. Jika Rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya impor dapat meningkat. Kenaikan ini dapat memengaruhi harga pokok penjualan dan margin keuntungan.

Untuk menjaga profitabilitas, perusahaan perlu memiliki perencanaan biaya yang baik. Baca juga artikel tentang manajemen biaya dalam bisnis.

2. Memengaruhi pendapatan ekspor

Perusahaan eksportir menerima pembayaran dalam valuta asing. Jika dikelola dengan baik, ekspor dapat menjadi sumber pendapatan yang kuat. Namun, eksportir juga tetap menghadapi risiko kurs, biaya logistik, kebijakan negara tujuan, dan fluktuasi permintaan global.

3. Memengaruhi laporan keuangan

Transaksi dalam mata uang asing perlu dicatat dengan benar dalam laporan keuangan. Perubahan kurs dapat menimbulkan selisih kurs yang memengaruhi laba rugi perusahaan.

Untuk memahami pencatatan keuangan, baca juga laporan keuangan yang wajib diketahui, standar akuntansi keuangan, dan PSAK atau Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan.

4. Memengaruhi strategi harga

Jika biaya impor naik akibat pelemahan kurs, perusahaan mungkin perlu menyesuaikan harga jual. Namun, kenaikan harga juga harus memperhatikan daya beli konsumen dan harga kompetitor.

Karena itu, perusahaan perlu menyusun strategi harga berdasarkan data biaya, pasar, dan kondisi nilai tukar.

5. Memengaruhi rencana ekspansi bisnis

Perusahaan yang ingin ekspansi ke luar negeri perlu memahami risiko devisa. Penjualan internasional, pembayaran vendor luar negeri, biaya marketing global, pajak internasional, dan perbedaan kurs dapat memengaruhi arus kas.

Perencanaan seperti ini sebaiknya masuk dalam business plan agar ekspansi lebih terukur.

Hubungan Devisa dengan Ekspor dan Impor

1. Ekspor menambah devisa

Ekspor barang dan jasa dapat menambah devisa karena negara menerima pembayaran dari luar negeri. Semakin kompetitif produk Indonesia di pasar global, semakin besar potensi penerimaan devisa.

Untuk meningkatkan devisa dari ekspor, perusahaan perlu meningkatkan kualitas produk, memenuhi standar internasional, memperkuat branding, memperbaiki logistik, dan memahami regulasi negara tujuan.

2. Impor menggunakan devisa

Impor membutuhkan devisa karena pembayaran dilakukan kepada pihak luar negeri. Impor tidak selalu buruk karena banyak industri membutuhkan bahan baku, mesin, teknologi, dan barang modal dari luar negeri.

Namun, jika impor terlalu besar dan tidak diimbangi ekspor atau penerimaan devisa lain, neraca pembayaran dapat mengalami tekanan.

3. Neraca perdagangan memengaruhi devisa

Neraca perdagangan menunjukkan selisih antara ekspor dan impor barang. Jika ekspor lebih besar dari impor, terjadi surplus perdagangan. Jika impor lebih besar dari ekspor, terjadi defisit perdagangan.

Surplus perdagangan dapat membantu memperkuat devisa, sedangkan defisit perdagangan dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing.

Hubungan Devisa dengan Sistem Pembayaran Internasional

Devisa juga berkaitan dengan sistem pembayaran internasional. Transaksi lintas negara membutuhkan bank, lembaga pembayaran, valuta asing, sistem settlement, dan regulasi keuangan.

Di era digital, pembayaran lintas negara semakin berkembang. Remitansi pekerja migran, transaksi e-commerce global, layanan digital internasional, dan pembayaran bisnis lintas negara menjadi semakin penting.

Untuk memahami sistem pembayaran secara umum, Anda dapat membaca artikel tentang jenis sistem pembayaran di Indonesia.

Risiko yang Berkaitan dengan Devisa

1. Risiko nilai tukar

Risiko nilai tukar terjadi ketika perubahan kurs memengaruhi biaya, pendapatan, aset, atau kewajiban perusahaan. Risiko ini paling sering dialami oleh eksportir, importir, perusahaan dengan pinjaman valas, dan bisnis yang menggunakan layanan luar negeri.

2. Risiko likuiditas valuta asing

Risiko ini muncul ketika perusahaan membutuhkan valuta asing, tetapi tidak memiliki ketersediaan dana valas yang cukup. Akibatnya, perusahaan harus membeli valas pada saat kurs kurang menguntungkan.

3. Risiko kepatuhan transaksi internasional

Transaksi internasional dapat memiliki aturan pajak, bea masuk, pelaporan, dan dokumen kepabeanan tertentu. Jika tidak dikelola dengan benar, perusahaan dapat menghadapi risiko administrasi dan denda.

4. Risiko fluktuasi harga komoditas global

Bagi negara dan perusahaan yang bergantung pada ekspor komoditas, harga global sangat berpengaruh terhadap penerimaan devisa. Ketika harga komoditas turun, penerimaan ekspor dapat ikut turun.

5. Risiko ketidakpastian global

Ketidakpastian global seperti perubahan suku bunga negara besar, konflik geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, dan perubahan kebijakan perdagangan dapat memengaruhi arus devisa dan nilai tukar.

Cara Bisnis Mengelola Risiko Devisa

1. Pantau kurs secara rutin

Perusahaan yang memiliki transaksi valuta asing perlu memantau kurs secara berkala. Informasi kurs dapat membantu perusahaan menentukan waktu pembayaran, penagihan, pembelian bahan baku, dan penetapan harga.

2. Buat anggaran dalam beberapa skenario kurs

Jangan hanya menggunakan satu asumsi kurs. Perusahaan dapat membuat skenario optimistis, moderat, dan konservatif agar lebih siap menghadapi perubahan nilai tukar.

3. Gunakan rekening valuta asing jika diperlukan

Perusahaan yang sering menerima atau membayar dalam mata uang asing dapat mempertimbangkan rekening valas untuk mengurangi kebutuhan konversi berulang.

4. Pertimbangkan lindung nilai

Untuk transaksi besar, perusahaan dapat mempertimbangkan instrumen lindung nilai atau hedging melalui bank sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku. Tujuannya adalah mengurangi risiko perubahan kurs yang terlalu tajam.

5. Catat transaksi valas dengan benar

Setiap transaksi valuta asing perlu dicatat sesuai standar akuntansi dan ketentuan pajak. Pencatatan yang rapi membantu perusahaan menghitung laba rugi, selisih kurs, pajak, dan arus kas dengan lebih akurat.

6. Pahami kewajiban pajak lintas negara

Transaksi internasional dapat berkaitan dengan PPN, PPh, bea masuk, withholding tax, dan ketentuan pajak internasional. Karena itu, perusahaan perlu memahami aturan sebelum melakukan transaksi besar.

Kesalahan Umum dalam Memahami Devisa

1. Menganggap devisa hanya berupa dolar AS

Dolar AS memang mata uang internasional yang banyak digunakan, tetapi devisa tidak hanya berbentuk dolar. Devisa dapat berupa berbagai mata uang asing, emas moneter, aset luar negeri, dan instrumen cadangan lain yang diakui secara internasional.

2. Menganggap ekspor adalah satu-satunya sumber devisa

Ekspor memang penting, tetapi bukan satu-satunya sumber devisa. Pariwisata, jasa internasional, remitansi, investasi asing, hibah, dan pendapatan aset luar negeri juga dapat menjadi sumber devisa.

3. Menganggap impor selalu merugikan devisa

Impor memang menggunakan devisa, tetapi tidak selalu merugikan. Banyak impor berupa bahan baku, mesin, teknologi, dan barang modal yang digunakan untuk meningkatkan produksi dalam negeri.

4. Tidak memperhatikan risiko kurs dalam bisnis

Banyak perusahaan baru menyadari risiko kurs setelah biaya impor naik atau tagihan valas membengkak. Padahal, risiko kurs perlu diperhitungkan sejak awal dalam pricing, kontrak, dan perencanaan arus kas.

5. Mencampur transaksi pribadi dan bisnis dalam valuta asing

Bagi UMKM yang mulai menerima pembayaran luar negeri, penting untuk memisahkan transaksi pribadi dan transaksi bisnis. Pencatatan yang rapi akan membantu pelaporan pajak dan analisis keuangan.

Untuk bisnis kecil, pembahasan pembukuan sederhana UMKM dapat membantu membuat pencatatan lebih tertib.

Checklist untuk Perusahaan yang Berhubungan dengan Devisa

1. Apakah perusahaan memiliki transaksi valas?

Identifikasi apakah bisnis menerima pembayaran dari luar negeri, membayar vendor luar negeri, membeli software luar negeri, mengimpor barang, mengekspor produk, atau memiliki pinjaman valas.

2. Apakah kurs sudah masuk dalam perhitungan biaya?

Pastikan perubahan kurs sudah diperhitungkan dalam harga pokok, harga jual, margin, dan proyeksi laba.

3. Apakah transaksi internasional sudah dicatat dengan benar?

Setiap transaksi valas perlu dicatat sesuai tanggal transaksi, kurs yang digunakan, nilai pembayaran, dan dokumen pendukung.

4. Apakah perusahaan memahami pajak ekspor-impor?

Jika bisnis terlibat ekspor atau impor, pahami PPN, PPh 22, bea masuk, dan aturan kepabeanan yang berlaku.

5. Apakah perusahaan memiliki strategi lindung nilai?

Untuk transaksi bernilai besar, pertimbangkan strategi hedging agar risiko kurs lebih terkendali.

6. Apakah laporan keuangan sudah siap untuk transaksi valas?

Pastikan sistem akuntansi dapat mencatat selisih kurs, piutang valas, utang valas, pendapatan ekspor, dan biaya impor secara benar.

Kesimpulan

Devisa adalah alat pembayaran internasional atau aset luar negeri yang dapat digunakan negara untuk melakukan transaksi dengan pihak luar negeri. Devisa memiliki fungsi penting sebagai alat pembayaran ekspor-impor, pembayaran utang luar negeri, cadangan moneter, penjaga stabilitas nilai tukar, indikator ketahanan ekonomi, serta pendukung pembangunan nasional.

Sumber devisa dapat berasal dari ekspor barang, ekspor jasa, pariwisata mancanegara, investasi asing, pinjaman luar negeri, hibah, remitansi pekerja migran, pendapatan aset luar negeri, dan devisa hasil ekspor sumber daya alam.

Bagi negara, devisa yang memadai membantu menjaga ketahanan ekonomi dan stabilitas nilai tukar. Bagi bisnis, devisa sangat berpengaruh pada biaya impor, pendapatan ekspor, risiko kurs, laporan keuangan, pajak internasional, dan strategi ekspansi pasar.

Karena itu, perusahaan yang berhubungan dengan transaksi internasional perlu memahami kurs, pajak ekspor-impor, pencatatan transaksi valas, dan risiko perubahan nilai tukar. Dengan pengelolaan yang tepat, transaksi valas tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga dapat menjadi peluang pertumbuhan bisnis.

Referensi External


Putri Ayudhia

Putri Ayudhia

Putri Ayudhia adalah seorang penulis konten SEO dan blogger paruh waktu yang telah bekerja secara profesional selama lebih dari 7 tahun. Dia telah membantu berbagai perusahaan di Indonesia untuk menulis konten yang berkualitas, SEO-friendly, dan relevan dengan bidang HR dan Psikologi. Ayudhia memiliki pengetahuan yang kuat dalam SEO dan penulisan konten. Dia juga memiliki pengetahuan mendalam tentang HR dan Psikologi, yang membantu dia dalam menciptakan konten yang relevan dan berbobot. Dia memiliki keterampilan dalam melakukan riset pasar dan analisis, yang membantu dia dalam menciptakan strategi konten yang efektif.
https://bloghrd.com