Dalam akuntansi perusahaan, jurnal umum adalah salah satu catatan paling dasar yang harus dipahami sebelum menyusun laporan keuangan. Setiap transaksi keuangan yang terjadi dalam bisnis perlu dianalisis, ditentukan akun debit dan kreditnya, lalu dicatat secara kronologis dalam jurnal.
Bagi pemilik bisnis, staf finance, mahasiswa akuntansi, maupun pelaku UMKM, memahami cara membuat jurnal umum akan sangat membantu dalam membaca kondisi keuangan usaha. Dengan jurnal yang rapi, proses berikutnya seperti posting ke buku besar, penyusunan neraca saldo, jurnal penyesuaian, hingga laporan keuangan akan lebih mudah dilakukan.
Artikel bloghrd.com ini akan membahas pengertian jurnal umum, fungsi jurnal umum, persamaan dasar akuntansi, aturan debit kredit, saldo normal akun, tahapan membuat jurnal umum, serta contoh soal jurnal umum lengkap dengan analisis transaksinya.
Daftar Isi
Apa Itu Jurnal Umum?
Jurnal umum adalah catatan akuntansi yang digunakan untuk mencatat seluruh transaksi keuangan perusahaan secara sistematis dan kronologis berdasarkan tanggal terjadinya transaksi. Dalam jurnal umum, setiap transaksi dicatat dengan menunjukkan akun yang didebit, akun yang dikredit, nominal transaksi, serta keterangan yang diperlukan.
Secara sederhana, jurnal umum menjadi tempat pertama untuk mencatat transaksi sebelum data tersebut dipindahkan ke buku besar. Karena itu, kesalahan pada jurnal umum dapat memengaruhi proses akuntansi berikutnya, mulai dari rekapitulasi jurnal, buku besar, neraca saldo, hingga laporan keuangan.
Jika ingin memahami pembahasan dasar lainnya, Anda dapat membaca artikel jurnal umum dan prinsip dasar pembuatannya, rekapitulasi jurnal dalam siklus akuntansi, serta Chart of Account atau bagan akun.
Mengapa Jurnal Umum Penting dalam Akuntansi?
Jurnal umum penting karena menjadi dasar pencatatan semua transaksi keuangan perusahaan. Melalui jurnal umum, perusahaan dapat mengetahui transaksi apa saja yang terjadi, kapan transaksi dilakukan, akun apa saja yang terpengaruh, dan berapa nominalnya.
Fungsi Jurnal Umum untuk Perusahaan
1. Fungsi Historis
Jurnal umum mencatat transaksi berdasarkan urutan waktu. Dengan begitu, perusahaan dapat melihat riwayat aktivitas keuangan secara runtut dari hari ke hari.
2. Fungsi Pencatatan
Semua transaksi yang memengaruhi posisi keuangan perusahaan harus dicatat. Misalnya transaksi penjualan, pembelian, pembayaran gaji, penerimaan modal, pelunasan utang, pembayaran sewa, hingga pembelian aset.
3. Fungsi Analisis
Sebelum dicatat, transaksi harus dianalisis terlebih dahulu. Akuntan perlu menentukan akun apa yang bertambah, akun apa yang berkurang, serta posisi debit dan kreditnya.
4. Fungsi Instruksi
Jurnal umum memberi instruksi akun mana yang harus diposting ke buku besar. Setelah jurnal dibuat, data transaksi akan dikelompokkan lagi ke masing-masing akun dalam buku besar.
5. Fungsi Informatif
Jurnal umum memberikan informasi ringkas tentang transaksi, termasuk tanggal, nama akun, nominal, dan keterangan transaksi. Informasi ini sangat berguna saat perusahaan melakukan evaluasi keuangan atau pemeriksaan dokumen.
Karena jurnal umum menjadi bagian penting dari proses akuntansi, pemahaman tentang standar akuntansi keuangan dan jenis laporan keuangan penting untuk bisnis juga perlu dikuasai.

Pengetahuan Dasar Sebelum Membuat Jurnal Umum
Sebelum masuk ke contoh soal cara membuat jurnal umum, ada beberapa konsep dasar yang perlu dipahami. Tanpa memahami konsep ini, pencatatan debit dan kredit akan mudah tertukar.
1. Persamaan Dasar Akuntansi
Persamaan dasar akuntansi adalah dasar dari seluruh proses pencatatan keuangan. Rumus sederhananya adalah:
Aset = Liabilitas + EkuitasDalam bentuk yang lebih lengkap, persamaan tersebut dapat dikembangkan menjadi:
Aset = Liabilitas + Ekuitas + Pendapatan - BebanAtau dapat ditulis juga sebagai:
Aset + Beban = Liabilitas + Ekuitas + PendapatanDari persamaan ini, dapat dilihat bahwa aset dan beban berada pada sisi debit, sedangkan liabilitas, ekuitas, dan pendapatan berada pada sisi kredit. Inilah dasar untuk memahami saldo normal setiap akun.
2. Kelompok Akun dalam Jurnal Umum
Secara umum, transaksi perusahaan akan masuk ke dalam lima kelompok akun utama, yaitu aset, beban, liabilitas, ekuitas, dan pendapatan.
| Kelompok Akun | Contoh Akun | Saldo Normal |
|---|---|---|
| Aset | Kas, bank, piutang, persediaan, perlengkapan, peralatan | Debit |
| Beban | Beban gaji, beban sewa, beban listrik, beban iklan | Debit |
| Liabilitas | Utang usaha, utang bank, utang pajak | Kredit |
| Ekuitas | Modal pemilik, laba ditahan | Kredit |
| Pendapatan | Pendapatan jasa, penjualan, pendapatan usaha | Kredit |
Dalam praktik bisnis, akun-akun tersebut biasanya disusun dalam bagan akun. Bagan akun membantu perusahaan mengelompokkan transaksi dengan lebih rapi. Anda dapat membaca pembahasan lebih lengkap di artikel Chart of Account.
3. Aturan Debit dan Kredit
Salah satu bagian yang paling sering membingungkan saat belajar jurnal umum adalah menentukan debit dan kredit. Secara umum, aturan debit dan kredit dapat dipahami melalui tabel berikut.
| Kelompok Akun | Jika Bertambah | Jika Berkurang | Saldo Normal |
|---|---|---|---|
| Aset | Debit | Kredit | Debit |
| Beban | Debit | Kredit | Debit |
| Liabilitas | Kredit | Debit | Kredit |
| Ekuitas | Kredit | Debit | Kredit |
| Pendapatan | Kredit | Debit | Kredit |
Aset
Aset adalah harta atau sumber daya ekonomi yang dimiliki perusahaan. Contohnya kas, piutang usaha, persediaan, perlengkapan, peralatan, kendaraan, dan bangunan. Jika aset bertambah, dicatat di debit. Jika aset berkurang, dicatat di kredit.
Beban
Beban adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menjalankan kegiatan usaha. Contohnya beban gaji, beban listrik, beban sewa, beban iklan, dan beban transportasi. Jika beban bertambah, dicatat di debit. Jika beban berkurang, dicatat di kredit.
Dalam konteks bisnis, beban juga berkaitan dengan perhitungan laba rugi dan pajak. Untuk pembahasan lanjutan, Anda dapat membaca artikel deductible expense dalam SPT Tahunan PPh Badan.
Liabilitas
Liabilitas adalah kewajiban atau utang perusahaan kepada pihak lain. Contohnya utang usaha, utang bank, utang gaji, dan utang pajak. Jika liabilitas bertambah, dicatat di kredit. Jika liabilitas berkurang, dicatat di debit.
Untuk memahami transaksi utang dan piutang dalam bisnis, Anda juga dapat membaca artikel account receivable dan account payable.
Ekuitas
Ekuitas adalah hak pemilik atas aset perusahaan setelah dikurangi kewajiban. Contohnya modal pemilik dan laba ditahan. Jika modal bertambah, dicatat di kredit. Jika modal berkurang, dicatat di debit.
Pencatatan modal juga berkaitan dengan laporan perubahan modal. Anda dapat membaca pembahasan lengkapnya di artikel laporan perubahan modal.
Pendapatan
Pendapatan adalah hasil yang diperoleh perusahaan dari kegiatan usaha. Contohnya pendapatan penjualan barang, pendapatan jasa, dan pendapatan usaha lainnya. Jika pendapatan bertambah, dicatat di kredit. Jika pendapatan berkurang, dicatat di debit.
4. Double Entry System
Jurnal umum menggunakan sistem pencatatan berpasangan atau double entry system. Artinya, setiap transaksi minimal memengaruhi dua akun, yaitu satu akun di sisi debit dan satu akun di sisi kredit. Jumlah debit dan kredit harus selalu sama.
Contohnya, perusahaan menerima pendapatan jasa tunai sebesar Rp1.000.000. Transaksi ini membuat kas bertambah dan pendapatan bertambah. Maka jurnalnya adalah:
| Tanggal | Keterangan | Debit | Kredit |
|---|---|---|---|
| 1 Jan | Kas | Rp1.000.000 | – |
| Pendapatan Jasa | – | Rp1.000.000 |
Kas bertambah dicatat di debit, sedangkan pendapatan bertambah dicatat di kredit. Total debit dan kredit sama-sama Rp1.000.000 sehingga jurnal tersebut seimbang.
Format Jurnal Umum yang Biasa Digunakan
Format jurnal umum biasanya terdiri dari beberapa kolom utama, yaitu tanggal, keterangan akun, referensi, debit, dan kredit.
| Tanggal | Keterangan | Ref | Debit | Kredit |
|---|---|---|---|---|
| xx/xx/xxxx | Nama akun yang didebit | Rp xxx | ||
| Nama akun yang dikredit | Rp xxx |
Keterangan Kolom Jurnal Umum
- Tanggal: tanggal terjadinya transaksi.
- Keterangan: nama akun yang dipengaruhi transaksi.
- Ref: kode akun atau tanda bahwa transaksi sudah diposting ke buku besar.
- Debit: nominal transaksi pada sisi debit.
- Kredit: nominal transaksi pada sisi kredit.
Kolom referensi biasanya diisi setelah jurnal dipindahkan ke buku besar. Untuk memahami tahap setelah jurnal umum, Anda dapat membaca artikel rekapitulasi jurnal.

Tahapan Cara Membuat Jurnal Umum
Setelah memahami konsep dasar akuntansi, berikut langkah-langkah membuat jurnal umum yang dapat diterapkan dalam bisnis.
1. Mengumpulkan Bukti Transaksi
Langkah pertama adalah mengumpulkan bukti transaksi. Bukti transaksi bisa berupa faktur, kuitansi, nota, invoice, bukti transfer, bukti pembayaran, rekening koran, surat jalan, dan dokumen pendukung lainnya.
Bukti transaksi penting karena jurnal tidak boleh dibuat hanya berdasarkan ingatan. Setiap pencatatan harus memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika bukti transaksi tidak lengkap, laporan keuangan berisiko tidak akurat.
Untuk memahami bukti transaksi dalam bisnis, Anda dapat membaca artikel jenis-jenis faktur dan e-Faktur, cara membuat faktur penjualan, dan contoh faktur pengiriman barang.
2. Mengidentifikasi Transaksi
Setelah bukti transaksi terkumpul, langkah berikutnya adalah mengidentifikasi transaksi. Tidak semua aktivitas bisnis dicatat dalam jurnal. Transaksi yang dicatat adalah transaksi yang memengaruhi posisi keuangan dan dapat diukur dengan nilai uang.
Contoh transaksi yang dicatat dalam jurnal umum antara lain:
- Pemilik menyetor modal ke perusahaan.
- Perusahaan membeli peralatan secara tunai.
- Perusahaan membeli barang secara kredit.
- Perusahaan menerima pendapatan dari penjualan.
- Perusahaan membayar gaji karyawan.
- Perusahaan membayar sewa kantor.
- Perusahaan melunasi utang usaha.
3. Menentukan Akun yang Terpengaruh
Setiap transaksi harus dianalisis untuk menentukan akun apa saja yang berubah. Misalnya, saat perusahaan membeli perlengkapan kantor secara tunai, akun perlengkapan bertambah dan akun kas berkurang.
4. Menentukan Posisi Debit dan Kredit
Setelah akun ditentukan, langkah berikutnya adalah menentukan posisi debit dan kredit. Gunakan aturan saldo normal akun untuk menentukan pencatatannya.
Contohnya:
- Kas bertambah berarti debit.
- Kas berkurang berarti kredit.
- Utang bertambah berarti kredit.
- Utang berkurang berarti debit.
- Pendapatan bertambah berarti kredit.
- Beban bertambah berarti debit.
5. Mencatat Transaksi ke Format Jurnal Umum
Langkah terakhir adalah mencatat transaksi ke dalam format jurnal umum. Pastikan total debit dan kredit seimbang. Jika tidak seimbang, berarti ada kesalahan dalam analisis akun, nominal, atau posisi debit kredit.
Contoh Soal Cara Membuat Jurnal Umum
Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh soal jurnal umum sederhana untuk perusahaan jasa.
Data Transaksi
PT Maju Jaya melakukan transaksi selama bulan Januari 2026 sebagai berikut:
- 1 Januari 2026: Pemilik menyetor modal tunai sebesar Rp100.000.000.
- 3 Januari 2026: Perusahaan membayar sewa kantor untuk satu tahun sebesar Rp24.000.000.
- 5 Januari 2026: Perusahaan membeli peralatan kantor sebesar Rp15.000.000 secara tunai.
- 7 Januari 2026: Perusahaan membeli perlengkapan kantor sebesar Rp5.000.000 secara kredit.
- 10 Januari 2026: Perusahaan menerima pendapatan jasa tunai sebesar Rp12.000.000.
- 15 Januari 2026: Perusahaan membayar gaji karyawan sebesar Rp8.000.000.
- 20 Januari 2026: Perusahaan membayar sebagian utang perlengkapan sebesar Rp2.000.000.
- 25 Januari 2026: Perusahaan menerima pendapatan jasa secara kredit sebesar Rp10.000.000.
- 28 Januari 2026: Perusahaan menerima pembayaran piutang dari pelanggan sebesar Rp4.000.000.
- 31 Januari 2026: Perusahaan membayar beban listrik dan internet sebesar Rp1.500.000.
Analisis Transaksi Jurnal Umum
1 Januari 2026: Setoran Modal Pemilik
Pemilik menyetor uang tunai ke perusahaan sebesar Rp100.000.000. Transaksi ini membuat kas bertambah dan modal bertambah.
- Kas bertambah: debit Rp100.000.000.
- Modal bertambah: kredit Rp100.000.000.
3 Januari 2026: Pembayaran Sewa Kantor
Perusahaan membayar sewa kantor untuk satu tahun sebesar Rp24.000.000. Karena manfaat sewa digunakan untuk periode satu tahun, transaksi ini dapat dicatat sebagai sewa dibayar di muka.
- Sewa dibayar di muka bertambah: debit Rp24.000.000.
- Kas berkurang: kredit Rp24.000.000.
5 Januari 2026: Pembelian Peralatan Tunai
Perusahaan membeli peralatan kantor secara tunai sebesar Rp15.000.000. Peralatan termasuk aset, sedangkan kas berkurang karena pembayaran dilakukan tunai.
- Peralatan bertambah: debit Rp15.000.000.
- Kas berkurang: kredit Rp15.000.000.
7 Januari 2026: Pembelian Perlengkapan Kredit
Perusahaan membeli perlengkapan kantor sebesar Rp5.000.000 secara kredit. Perlengkapan bertambah, dan karena belum dibayar, utang usaha juga bertambah.
- Perlengkapan bertambah: debit Rp5.000.000.
- Utang usaha bertambah: kredit Rp5.000.000.
10 Januari 2026: Penerimaan Pendapatan Tunai
Perusahaan menerima pendapatan jasa tunai sebesar Rp12.000.000. Kas bertambah dan pendapatan jasa bertambah.
- Kas bertambah: debit Rp12.000.000.
- Pendapatan jasa bertambah: kredit Rp12.000.000.
15 Januari 2026: Pembayaran Gaji Karyawan
Perusahaan membayar gaji karyawan sebesar Rp8.000.000. Beban gaji bertambah, sedangkan kas berkurang.
- Beban gaji bertambah: debit Rp8.000.000.
- Kas berkurang: kredit Rp8.000.000.
Untuk contoh pencatatan gaji dan pajak karyawan, Anda juga dapat membaca artikel contoh jurnal PPh 21.
20 Januari 2026: Pembayaran Sebagian Utang
Perusahaan membayar sebagian utang perlengkapan sebesar Rp2.000.000. Utang usaha berkurang dan kas juga berkurang.
- Utang usaha berkurang: debit Rp2.000.000.
- Kas berkurang: kredit Rp2.000.000.
25 Januari 2026: Pendapatan Jasa Kredit
Perusahaan menerima pendapatan jasa sebesar Rp10.000.000, tetapi pelanggan belum membayar. Artinya, piutang usaha bertambah dan pendapatan jasa juga bertambah.
- Piutang usaha bertambah: debit Rp10.000.000.
- Pendapatan jasa bertambah: kredit Rp10.000.000.
28 Januari 2026: Penerimaan Piutang
Pelanggan membayar sebagian piutang sebesar Rp4.000.000. Kas bertambah, sedangkan piutang usaha berkurang.
- Kas bertambah: debit Rp4.000.000.
- Piutang usaha berkurang: kredit Rp4.000.000.
Jika perusahaan sering menjual secara kredit, pahami juga risiko piutang tak tertagih agar pencatatan dan pengelolaan keuangan lebih hati-hati.
31 Januari 2026: Pembayaran Beban Listrik dan Internet
Perusahaan membayar listrik dan internet sebesar Rp1.500.000. Beban bertambah dan kas berkurang.
- Beban listrik dan internet bertambah: debit Rp1.500.000.
- Kas berkurang: kredit Rp1.500.000.
Contoh Jurnal Umum Lengkap
| Tanggal | Keterangan | Ref | Debit | Kredit |
|---|---|---|---|---|
| 1 Jan 2026 | Kas | Rp100.000.000 | ||
| Modal Pemilik | Rp100.000.000 | |||
| 3 Jan 2026 | Sewa Dibayar di Muka | Rp24.000.000 | ||
| Kas | Rp24.000.000 | |||
| 5 Jan 2026 | Peralatan Kantor | Rp15.000.000 | ||
| Kas | Rp15.000.000 | |||
| 7 Jan 2026 | Perlengkapan Kantor | Rp5.000.000 | ||
| Utang Usaha | Rp5.000.000 | |||
| 10 Jan 2026 | Kas | Rp12.000.000 | ||
| Pendapatan Jasa | Rp12.000.000 | |||
| 15 Jan 2026 | Beban Gaji | Rp8.000.000 | ||
| Kas | Rp8.000.000 | |||
| 20 Jan 2026 | Utang Usaha | Rp2.000.000 | ||
| Kas | Rp2.000.000 | |||
| 25 Jan 2026 | Piutang Usaha | Rp10.000.000 | ||
| Pendapatan Jasa | Rp10.000.000 | |||
| 28 Jan 2026 | Kas | Rp4.000.000 | ||
| Piutang Usaha | Rp4.000.000 | |||
| 31 Jan 2026 | Beban Listrik dan Internet | Rp1.500.000 | ||
| Kas | Rp1.500.000 | |||
| Total | Rp181.500.000 | Rp181.500.000 |
Dari tabel di atas, total debit dan kredit sama-sama Rp181.500.000. Artinya, jurnal umum sudah seimbang. Jika total debit dan kredit tidak sama, perusahaan perlu mengecek kembali analisis transaksi dan nominal pencatatan.
Contoh Jurnal Umum untuk Transaksi yang Sering Terjadi
1. Jurnal Setoran Modal
Contoh: Pemilik menyetor modal tunai sebesar Rp50.000.000.
| Keterangan | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Kas | Rp50.000.000 | |
| Modal Pemilik | Rp50.000.000 |
2. Jurnal Pembelian Perlengkapan Tunai
Contoh: Perusahaan membeli perlengkapan kantor sebesar Rp3.000.000 secara tunai.
| Keterangan | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Perlengkapan Kantor | Rp3.000.000 | |
| Kas | Rp3.000.000 |
3. Jurnal Penjualan Tunai
Contoh: Perusahaan menerima pendapatan jasa tunai sebesar Rp7.000.000.
| Keterangan | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Kas | Rp7.000.000 | |
| Pendapatan Jasa | Rp7.000.000 |
4. Jurnal Pembayaran Beban
Contoh: Perusahaan membayar beban iklan sebesar Rp2.500.000.
| Keterangan | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Beban Iklan | Rp2.500.000 | |
| Kas | Rp2.500.000 |
5. Jurnal Pembelian Kredit
Contoh: Perusahaan membeli barang dagang sebesar Rp15.000.000 secara kredit.
| Keterangan | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Persediaan Barang Dagang | Rp15.000.000 | |
| Utang Usaha | Rp15.000.000 |
6. Jurnal Pelunasan Utang
Contoh: Perusahaan membayar utang usaha sebesar Rp5.000.000.
| Keterangan | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Utang Usaha | Rp5.000.000 | |
| Kas | Rp5.000.000 |
Hubungan Jurnal Umum dengan Siklus Akuntansi
Jurnal umum bukan proses yang berdiri sendiri. Dalam siklus akuntansi, jurnal umum adalah tahap awal setelah bukti transaksi dikumpulkan dan dianalisis. Setelah jurnal umum dibuat, data akan dipindahkan ke buku besar, lalu disusun menjadi neraca saldo dan laporan keuangan.
Urutan Sederhana Siklus Akuntansi
- Mengumpulkan bukti transaksi.
- Menganalisis transaksi.
- Mencatat transaksi ke jurnal umum.
- Melakukan rekapitulasi jurnal.
- Memposting jurnal ke buku besar.
- Menyusun neraca saldo.
- Membuat jurnal penyesuaian jika diperlukan.
- Menyusun laporan keuangan.
- Membuat jurnal penutup pada akhir periode.
Jurnal umum yang rapi akan mempermudah penyusunan laporan arus kas, laporan keuangan UMKM, dan laporan keuangan konsolidasi untuk perusahaan yang memiliki lebih dari satu entitas.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membuat Jurnal Umum
1. Salah Menentukan Debit dan Kredit
Kesalahan paling umum adalah menukar posisi debit dan kredit. Misalnya, kas bertambah justru dicatat di kredit, atau pendapatan bertambah dicatat di debit. Untuk menghindarinya, pahami saldo normal akun terlebih dahulu.
2. Tidak Menggunakan Bukti Transaksi
Jurnal harus dibuat berdasarkan bukti transaksi. Jika pencatatan dilakukan tanpa bukti, perusahaan akan kesulitan saat audit, pemeriksaan pajak, atau rekonsiliasi internal.
3. Nominal Debit dan Kredit Tidak Sama
Dalam double entry system, total debit dan kredit harus sama. Jika tidak sama, pencatatan belum benar dan perlu diperiksa ulang.
4. Salah Mengelompokkan Akun
Contohnya, perlengkapan kantor dicatat sebagai beban padahal belum seluruhnya digunakan. Atau pembayaran sewa satu tahun langsung dicatat sebagai beban, padahal dapat dicatat sebagai sewa dibayar di muka dan disesuaikan setiap periode.
5. Tidak Konsisten Menggunakan Nama Akun
Nama akun harus konsisten agar mudah diposting ke buku besar. Misalnya, jangan menggunakan “Beban Gaji” pada satu transaksi, lalu “Biaya Gaji” pada transaksi lain jika maksudnya sama. Gunakan Chart of Account agar pencatatan lebih rapi.
Tips Membuat Jurnal Umum agar Lebih Mudah
1. Gunakan Daftar Akun yang Jelas
Buat daftar akun atau Chart of Account sebelum mencatat transaksi. Dengan begitu, setiap transaksi dapat langsung diarahkan ke akun yang sesuai.
2. Biasakan Membaca Transaksi dengan Kalimat Sederhana
Sebelum mencatat, ubah transaksi menjadi kalimat sederhana. Misalnya: “Perusahaan membayar listrik tunai.” Artinya, beban listrik bertambah dan kas berkurang.
3. Pisahkan Uang Pribadi dan Uang Usaha
Untuk UMKM, kesalahan yang sering terjadi adalah mencampur uang pribadi dan uang usaha. Jika ini terjadi, jurnal akan sulit dibuat karena transaksi bisnis dan transaksi pribadi bercampur.
Untuk memulai pencatatan sederhana, Anda dapat membaca artikel contoh pembukuan sederhana UMKM.
4. Simpan Semua Bukti Transaksi
Simpan faktur, nota, kuitansi, invoice, bukti transfer, dan dokumen lainnya. Bukti transaksi akan membantu jika ada selisih pencatatan atau data yang perlu dicek kembali.
5. Lakukan Pemeriksaan Berkala
Jangan menunggu akhir tahun untuk mengecek jurnal. Lakukan pemeriksaan berkala setiap minggu atau setiap bulan agar kesalahan dapat segera diperbaiki.
6. Gunakan Software atau Template Akuntansi
Jika transaksi semakin banyak, perusahaan dapat menggunakan aplikasi akuntansi atau template spreadsheet agar pencatatan lebih cepat. Untuk kebutuhan kas kecil, Anda juga dapat membaca artikel pentingnya sistem kas kecil untuk perusahaan.
Perbedaan Jurnal Umum dan Jurnal Khusus
Dalam akuntansi, jurnal umum berbeda dengan jurnal khusus. Jurnal umum digunakan untuk mencatat berbagai transaksi yang tidak dikelompokkan secara khusus. Sementara jurnal khusus digunakan untuk mencatat transaksi sejenis yang sering terjadi.
| Aspek | Jurnal Umum | Jurnal Khusus |
|---|---|---|
| Jenis transaksi | Beragam transaksi | Transaksi sejenis |
| Penggunaan | Cocok untuk usaha dengan transaksi belum terlalu banyak | Cocok untuk perusahaan dengan transaksi berulang dan volume besar |
| Contoh | Setoran modal, pembayaran sewa, pembelian aset | Jurnal pembelian, jurnal penjualan, jurnal penerimaan kas, jurnal pengeluaran kas |
| Tujuan | Mencatat transaksi secara umum | Mempercepat pencatatan transaksi yang sering terjadi |
Untuk bisnis kecil, jurnal umum biasanya sudah cukup. Namun, jika transaksi penjualan, pembelian, penerimaan kas, dan pengeluaran kas semakin banyak, perusahaan dapat mulai menggunakan jurnal khusus agar pencatatan lebih efisien.

Hubungan Jurnal Umum dengan Pajak Perusahaan
Jurnal umum tidak hanya berguna untuk laporan keuangan internal. Catatan transaksi yang rapi juga penting untuk kewajiban perpajakan. Banyak transaksi pajak yang perlu dicatat dalam jurnal, seperti PPh 21, PPN, pembayaran pajak, piutang pajak, dan utang pajak.
Jika perusahaan tidak memiliki jurnal yang rapi, proses penyusunan laporan fiskal dan pelaporan pajak dapat menjadi lebih sulit. Karena itu, pemahaman tentang akuntansi perpajakan dan istilah dalam akuntansi perpajakan juga penting bagi tim finance dan pemilik bisnis.
Kesimpulan
Jurnal umum adalah catatan akuntansi yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan secara kronologis. Setiap transaksi dicatat dengan sistem berpasangan atau double entry system, sehingga total debit dan kredit harus selalu sama.
Untuk membuat jurnal umum, Anda perlu memahami persamaan dasar akuntansi, kelompok akun, saldo normal, aturan debit kredit, dan cara menganalisis transaksi. Setelah itu, kumpulkan bukti transaksi, tentukan akun yang terpengaruh, lalu catat transaksi ke dalam format jurnal umum.
Dengan jurnal umum yang rapi, perusahaan dapat menyusun buku besar, neraca saldo, laporan arus kas, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, serta laporan keuangan lainnya dengan lebih mudah. Bagi UMKM maupun perusahaan yang sedang berkembang, kebiasaan mencatat transaksi dengan benar adalah langkah awal untuk membangun sistem keuangan yang sehat.
Referensi Eksternal
- Ikatan Akuntan Indonesia – Modul CAFB Akuntansi Keuangan 2025, Pembahasan Jurnal
- Ikatan Akuntan Indonesia – Modul Level Dasar Akuntansi Keuangan, Format Jurnal dan Buku Besar
- Ikatan Akuntan Indonesia – PSAK Umum
- BINUS University Accounting – Persamaan Dasar Akuntansi
- Program Studi Akuntansi UMA – Memahami Dasar Akuntansi