Jaminan Sosial - BPJS Ketenagakerjaan - bloghrd.com



Sejak diundangkannya Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, Negara mulai merancang dan mereformasi penyelenggaraan program jaminan sosial oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial. Dengan demikian jaminan sosial bagi pekerja yang dahulu diselenggarakan oleh Jamsostek, kini melalui payung hukum SJSN diselenggarakan oleh BPJS kesehatan dan BPJS ketenagakerjaan. Berikut informasi untuk Anda mengenai BPJS Ketenagakerjaan.
 
BPJS KETENAGAKERJAAN – Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Apa itu BPJS Ketenagakerjaan?
2. Siapa saja yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan?
3. Ada berapa macam kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan?
4. Apakah ada perbedaan antara peserta Pekerja Penerima Upah (PPU), Pekerja Bukan Penerima Upah (BPU), Pekerja Jasa Konstruksi (Jakon), dan Pekerja Migran Indonesia (PMI)?
5. Apa yang harus dilakukan oleh pekerja bila perusahaan tidak mendaftarkan pekerjanya sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan?
 

APA ITU BPJS KETENAGAKERJAAN?

BPJS Ketenagakerjaan merupakan badan hukum publik yang bertanggungjawab kepada Presiden dimana BPJS Ketenagakerjaan memberikan perlindungan kepada seluruh pekerja Indonesia baik sektor formal maupun informal dan orang asing yang bekerja di Indonesia sekurang-kurangnya 6 bulan. BPJS diberi mandat oleh Negara untuk menyelenggarakan 5 (lima) program jaminan sosial yakni: Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK),  Jaminan Kematian (JK),  Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), dan yang terbaru adalah Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP)
Karena keberadaannya yang menggantikan Jamsostek, BPJS Ketenagakerjaan dikenal juga dengan sebutan BP Jamsostek. 
 

BACA JUGA :  Gaji Upah Juru Taruh, Bandar, dan YBDI

SIAPA SAJA YANG MENJADI PESERTA BPJS KETENAGAKERJAAN?

Peserta adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia (pasal 1 angka 4 Undang-undang  Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial/UU 24/2011). 

ADA BERAPA MACAM KEPESERTAAN BPJS KETENAGAKERJAAN?

Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan dibedakan menjadi 4 (empat) macam yakni Pekerja Penerima Upah (PPU), Pekerja Bukan Penerima Upah (BPU), Pekerja Jasa Konstruksi (Jakon), dan Pekerja Migran Indonesia (PMI).

APAKAH ADA PERBEDAAN ANTARA PESERTA PEKERJA PENERIMA UPAH (PPU), PEKERJA BUKAN PENERIMA UPAH (BPU), PEKERJA JASA KONSTRUKSI (JAKON), DAN PEKERJA MIGRAN INDONESIA (PMI)?

Ya. Perbedaan utama antara keempat jenis kepesertaan tersebut adalah manfaat dari masing-masing program yang berbeda-beda. Berikut penjelasannya :

  Pekerja Penerima Upah (PPU) Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU)  Pekerja Jasa Konstruksi (Jakon) Pekerja Migran 
Pengertian Setiap orang yang bekerja dengan menerima gaji, upah, atau imbalan dalam bentuk lain dari pemberi kerja. Seperti pekerja kantoran atau buruh pabrik. Orang perorangan yang melakukan kegiatan usaha secara mandiri untuk memperoleh penghasilan. Seperti dokter, pedagang, ojek online,dll. Layanan jasa konsultasi perencanaan pekerjaan konstruksi, layanan jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi dan layanan konsultasi pengawasan pekerjaan konstruksi Setiap warga negara Indonesia yang akan, sedang, atau telah melakukan pekerjaan dengan menerima upah di luar wilayah Republik Indonesia
Jaminan yang Diberikan
  1. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)
  2. Jaminan Kematian (JK)
  3. Jaminan Hari Tua (JHT)
  4. Jaminan Pensiun (JP)
  5. Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP)
  1. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)
  2. Jaminan Kematian (JK)
  3. Jaminan Hari Tua (JHT)
  1. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)
  2. Jaminan Kematian (JK)
  1. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)
  2. Jaminan Kematian (JK)
  3. Jaminan Hari Tua (JHT)
Manfaat JKK
  1. Pelayanan kesehatan (perawatan dan pengobatan) sesuai kebutuhan medis
  2. Santunan berupa uang dan 
  3. Program Kembali Bekerja (Return to work).
  1. Pelayanan kesehatan (perawatan dan pengobatan) sesuai kebutuhan medis
  2. Santunan berupa uang
  1. Pelayanan kesehatan (perawatan dan pengobatan) sesuai kebutuhan medis
  2. Santunan berupa uang 
Sebelum Bekerja:
  1. Perawatan dan pengobatan sesuai dengan kebutuhan medis bagi PMI yang mengalami kecelakaan kerja atau terbukti mengalami tindak kekerasan fisik dan pemerkosaan
  2. Pendampingan dan pelatihan vokasional bagi PMI yang mengalami kecacatan akibat kecelakaan kerja.
  3. Santunan berupa uang

Selama Bekerja:

  1. Perawatan dan pengobatan lanjutan di negara tujuan penempatan hingga dipulangkan ke Indonesia oleh Pemberi Kerja.
  2. Pendampingan dan pelatihan vokasional bagi PMI yang mengalami kecacatan akibat kecelakaan kerja.
  3. Santunan berupa uang
Manfaat JK
  1. Uang tunai berupa santunan kematian
  2. Santunan berkala
  3. Biaya pemakaman
  4. Beasiswa pendidikan anak
  1. Uang tunai berupa santunan kematian
  2. Santunan berkala
  3. Biaya pemakaman
  4. Beasiswa pendidikan anak
  1. Uang tunai berupa santunan kematian
  2. Santunan berkala
  3. Biaya pemakaman
  4. Beasiswa pendidikan anak
Sebelum bekerja:
  1. Uang tunai berupa santunan kematian
  2. Santunan berkala
  3. Biaya pemakaman

Selama Bekerja:

  1. Uang tunai berupa santunan kematian
  2. Santunan berkala
  3. Biaya pemakaman
  4. Beasiswa pendidikan anak
Manfaat JHT Uang tunai yang besarnya adalah akumulasi seluruh iuran yang telah dibayarkan ditambah dengan hasil pengembangannya Uang tunai yang besarnya adalah akumulasi seluruh iuran yang telah dibayarkan ditambah dengan hasil pengembangannya Sebesar nilai akumulasi seluruh iuran yang telah disetor ditambah hasil pengembangannya yang tercatat dalam rekening perorangan peserta.
Manfaat JP Manfaat berupa uang tunai yang dibayarkan setiap bulan dan atau sekaligus apabila peserta memasuki usia pensiun, cacat total tetap atau meninggal dunia.      
Manfaat JKP
  1. Uang tunai
  2. Akses informasi pasar kerja, dan
  3. Pelatihan kerja.
     
BACA JUGA :  Gaji Upah Pekerja Budidaya Perikanan

 

APA YANG HARUS DILAKUKAN OLEH PEKERJA BILA PERUSAHAAN TIDAK MENDAFTARKAN PEKERJANYA SEBAGAI PESERTA BPJS KETENAGAKERJAAN?

Pekerja dapat melaporkan pemberi kerja/pengusaha yang tidak mendaftarkan pekerjanya sebagai peserta ke Kantor BPJS Ketenagakerjaan setempat. Selanjutnya pemberi kerja yang tidak mendaftarkan pekerjaanya dapat dikenai sanksi administratif, berupa: teguran tertulis, denda, dan/atau tidak mendapat pelayanan publik tertentu (pasal 17 UU 24/2011).
  
Baca Juga

  1. Jaminan Kecelakaan Kerja 
  2. Jaminan Kematian 
  3. Jaminan Hari Tua
  4. Jaminan Pensiun
  5. Jaminan Kehilangan Pekerjaan
  6. BPJS Kesehatan – Keanggotaan dan Pendaftaran
  7. BPJS Kesehatan – Iuran dan Layanan

 
Sumber
Undang-undang No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
Undang-undang  No. 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Peraturan Pemerintah  No. 44 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian
Peraturan Pemerintah  No. 45 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Pensiun
Peraturan Pemerintah  No. 46 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Hari Tua
Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan
Departemen Kesehatan RI 
Situs Resmi BPJS Kesehatan 
Situs Resmi BPJS Ketenagakerjaan 
 



Ikuti terus bloghrd.com untuk mendapatkan informasi seputar HR, karir, info lowongan kerja, juga inspirasi terbaru terkait dunia kerja setiap harinya!


Putri Ayudhia

Putri Ayudhia

Putri Ayudhia adalah seorang penulis konten SEO dan blogger paruh waktu yang telah bekerja secara profesional selama lebih dari 7 tahun. Dia telah membantu berbagai perusahaan di Indonesia untuk menulis konten yang berkualitas, SEO-friendly, dan relevan dengan bidang HR dan Psikologi. Ayudhia memiliki pengetahuan yang kuat dalam SEO dan penulisan konten. Dia juga memiliki pengetahuan mendalam tentang HR dan Psikologi, yang membantu dia dalam menciptakan konten yang relevan dan berbobot. Dia memiliki keterampilan dalam melakukan riset pasar dan analisis, yang membantu dia dalam menciptakan strategi konten yang efektif.
https://bloghrd.com