Deposito adalah salah satu produk simpanan bank yang sering dipilih sebagai instrumen investasi sederhana, terutama oleh pemilik bisnis, pelaku UMKM, maupun perusahaan yang ingin menempatkan dana menganggur secara lebih terencana. Berbeda dengan tabungan biasa, deposito memiliki jangka waktu tertentu dan bunga yang umumnya sudah disepakati sejak awal penempatan dana.
Dalam konteks bisnis, deposito bisa digunakan untuk mengelola dana cadangan, dana pajak, dana operasional jangka pendek, atau simpanan sementara sebelum digunakan untuk kebutuhan perusahaan. Namun, sebelum menempatkan dana usaha ke instrumen ini, penting untuk memahami karakteristik deposito, risiko, pajak, ketentuan LPS, hingga cara menghitung potensi imbal hasil bersihnya.
Artikel bloghrd.com ini akan membahas apa itu deposito, jenis-jenis deposito, karakteristik utama deposito untuk bisnis, kelebihan dan kekurangannya, serta tips memilih deposito agar sesuai dengan kebutuhan keuangan perusahaan.
Daftar Isi
Apa Itu Deposito?
Deposito adalah simpanan berjangka di bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu sesuai perjanjian antara nasabah dan bank. Artinya, dana yang ditempatkan dalam deposito tidak bisa digunakan sebebas tabungan harian karena terikat dengan tenor atau jangka waktu tertentu.
Menurut OJK, deposito berjangka merupakan simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan bank. Karena itulah, deposito sering disebut sebagai tabungan berjangka.
Bagi perusahaan, deposito dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan kas. Misalnya, bisnis memiliki dana yang belum akan digunakan dalam 1 bulan, 3 bulan, atau 6 bulan ke depan. Daripada dana tersebut mengendap di rekening biasa, perusahaan dapat menempatkannya dalam deposito agar memperoleh bunga yang lebih jelas.
Namun, sebelum menempatkan dana ke deposito, perusahaan juga perlu memastikan kebutuhan kas hariannya sudah aman. Untuk memahami pengelolaan kas perusahaan secara lebih luas, Anda juga dapat membaca pembahasan tentang laporan arus kas perusahaan dan pentingnya sistem kas kecil.
Mengapa Deposito Menarik untuk Investasi Bisnis?
Deposito menarik bagi bisnis karena menawarkan kepastian bunga, risiko yang relatif rendah, serta tenor yang dapat disesuaikan dengan rencana penggunaan dana. Instrumen ini cocok untuk perusahaan yang ingin menjaga likuiditas sekaligus tetap memperoleh imbal hasil dari dana yang belum digunakan.
Dalam praktiknya, deposito sering digunakan untuk menyimpan dana cadangan bisnis, dana pembayaran pajak, dana bonus atau THR karyawan, dana pembelian aset, atau dana proyek yang baru akan digunakan pada periode tertentu. Dengan penempatan yang tepat, deposito dapat membantu perusahaan mengelola uang tanpa mengambil risiko pasar yang terlalu tinggi.
Meski begitu, deposito bukan pengganti seluruh strategi investasi perusahaan. Jika bisnis ingin menilai kesehatan keuangan secara lebih menyeluruh, penting juga untuk memahami jenis laporan keuangan penting untuk bisnis, analisis perbandingan laporan keuangan, serta rasio profitabilitas.

Karakteristik Deposito yang Perlu Dipahami Pemilik Bisnis
Sebelum memilih deposito sebagai instrumen investasi bisnis, berikut beberapa karakteristik utama yang perlu diperhatikan.
1. Memiliki Jangka Waktu atau Tenor Tertentu
Karakteristik paling utama dari deposito adalah adanya tenor. Biasanya bank menyediakan pilihan tenor 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, hingga 24 bulan, meskipun pilihan ini dapat berbeda pada masing-masing bank.
Tenor harus dipilih berdasarkan kebutuhan kas bisnis. Jika dana akan digunakan untuk pembayaran pajak bulan depan, sebaiknya jangan ditempatkan pada deposito tenor panjang. Sebaliknya, jika dana baru dibutuhkan beberapa bulan lagi, tenor yang lebih panjang dapat dipertimbangkan.
Contoh penggunaan tenor deposito untuk bisnis
- Tenor 1 bulan untuk dana operasional yang belum segera digunakan.
- Tenor 3 bulan untuk dana cadangan pembayaran supplier.
- Tenor 6 bulan untuk dana rencana pembelian aset.
- Tenor 12 bulan untuk dana cadangan jangka menengah yang tidak mengganggu operasional.
Jika perusahaan masih berada pada tahap awal, pengaturan tenor deposito sebaiknya dikaitkan dengan pencatatan keuangan yang rapi. Anda dapat mempelajari dasar pencatatan melalui artikel contoh pembukuan sederhana UMKM.
2. Bunga Lebih Tinggi Dibanding Tabungan Biasa
Deposito umumnya menawarkan bunga yang lebih tinggi dibandingkan tabungan biasa karena dana nasabah dikunci dalam jangka waktu tertentu. Bank memiliki kepastian bahwa dana tersebut tidak akan ditarik sewaktu-waktu, sehingga bank dapat memberikan imbal hasil yang lebih menarik.
Namun, bunga deposito tidak selalu sama antarbank. Besarnya bunga dapat dipengaruhi oleh kebijakan bank, nominal dana, tenor, kondisi likuiditas perbankan, serta suku bunga acuan Bank Indonesia.
Perlu diingat, bunga tinggi tidak otomatis berarti lebih aman. Untuk simpanan yang ingin tetap masuk cakupan penjaminan LPS, nasabah perlu memperhatikan Tingkat Bunga Penjaminan yang berlaku.
3. Dana Tidak Bisa Ditarik Bebas Sebelum Jatuh Tempo
Deposito memiliki tanggal jatuh tempo. Jika dana ditarik sebelum jatuh tempo, bank dapat mengenakan penalti, membatalkan bunga, atau menerapkan ketentuan lain sesuai perjanjian produk.
Karena itu, perusahaan perlu memisahkan dana operasional harian dengan dana yang benar-benar dapat “dikunci” sementara. Jangan menempatkan seluruh kas perusahaan ke deposito karena hal tersebut dapat mengganggu pembayaran gaji, biaya operasional, pajak, BPJS, supplier, atau kebutuhan mendadak lainnya.
Untuk pengelolaan kewajiban rutin perusahaan, Anda juga bisa membaca artikel terkait bank yang menawarkan sistem payroll dan siklus penggajian perusahaan.
4. Memiliki Setoran Minimal
Setiap bank biasanya menetapkan setoran awal minimum untuk membuka deposito. Nilainya dapat berbeda-beda, tergantung bank, jenis nasabah, kanal pembukaan, dan jenis produk deposito yang dipilih.
Untuk nasabah perorangan, setoran awal bisa lebih kecil. Namun untuk nasabah bisnis atau badan usaha, ketentuannya bisa berbeda karena bank biasanya memerlukan dokumen legalitas usaha, data rekening perusahaan, dan proses verifikasi yang lebih lengkap.
Pada tahap ini, prinsip mengenal nasabah atau KYC juga penting. Anda bisa memahami konsep tersebut lebih lanjut melalui artikel apa itu KYC atau Know Your Customer.
5. Risiko Relatif Rendah, tetapi Bukan Tanpa Risiko
Deposito dikenal sebagai instrumen yang relatif rendah risiko jika dibandingkan dengan saham, kripto, atau instrumen investasi yang nilainya bergerak mengikuti pasar. Nilai pokok deposito tidak berfluktuasi setiap hari seperti harga saham.
Meski demikian, deposito tetap memiliki beberapa risiko, seperti risiko likuiditas karena dana terkunci, risiko bunga jika suku bunga pasar berubah, risiko penalti jika dicairkan lebih awal, dan risiko tidak dijamin LPS apabila ketentuan penjaminan tidak terpenuhi.
Dalam pengelolaan bisnis, risiko seperti ini perlu masuk dalam perencanaan struktur modal dan manajemen aset. Untuk memperluas pemahaman, Anda dapat membaca artikel struktur modal perusahaan dan return on assets.
6. Dapat Diperpanjang Otomatis
Banyak bank menyediakan fitur Automatic Roll Over atau ARO. Dengan fitur ini, deposito akan diperpanjang otomatis setelah jatuh tempo apabila nasabah tidak mencairkannya.
Fitur ini praktis untuk bisnis yang ingin menempatkan dana dalam jangka waktu berulang. Namun, perusahaan tetap perlu mengecek kembali tingkat bunga yang berlaku pada periode perpanjangan. Bisa saja bunga saat perpanjangan berbeda dari bunga awal.
7. Bunga Deposito Dikenakan Pajak
Bunga deposito termasuk penghasilan yang dikenakan pajak. Di Indonesia, bunga deposito dan tabungan pada umumnya dikenakan PPh final. Berdasarkan ketentuan perpajakan, bunga deposito dan tabungan untuk Wajib Pajak dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap dikenakan PPh final sebesar 20% dari jumlah bruto, jika jumlah deposito dan tabungan lebih dari Rp7.500.000 dan bukan merupakan jumlah yang dipecah-pecah.
Karena itu, ketika menghitung keuntungan deposito, perusahaan tidak cukup hanya melihat bunga kotor. Yang perlu dihitung adalah bunga bersih setelah pajak.
Untuk pembahasan lebih detail, Anda dapat membaca artikel pajak deposito, PPh Pasal 4 ayat 2, dan PPh final.

Jenis-Jenis Deposito yang Umum Digunakan
Deposito tidak hanya satu jenis. Ada beberapa bentuk deposito yang perlu dipahami agar perusahaan dapat memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan dana.
Deposito Berjangka
Deposito berjangka adalah jenis deposito yang paling umum digunakan. Dana ditempatkan dalam jangka waktu tertentu dan dapat dicairkan saat jatuh tempo. Jenis ini cocok untuk bisnis yang ingin menempatkan dana cadangan dengan tenor yang jelas.
Contohnya, perusahaan memiliki dana Rp100 juta yang baru akan digunakan tiga bulan lagi untuk pembelian peralatan. Dana tersebut dapat ditempatkan dalam deposito berjangka tenor 3 bulan agar tetap menghasilkan bunga sebelum digunakan.
Sertifikat Deposito
Sertifikat deposito adalah bentuk simpanan berjangka yang memiliki sertifikat dan pada kondisi tertentu dapat dipindahtangankan. Produk ini lebih dekat dengan instrumen pasar uang karena bukti simpanannya dapat diperjualbelikan atau dialihkan sesuai ketentuan.
Namun, perusahaan tetap perlu membaca syarat produk dengan cermat karena setiap bank dapat memiliki ketentuan yang berbeda terkait nominal, tenor, mekanisme pencairan, dan pemindahtanganan.
Deposito On Call
Deposito on call adalah deposito dengan jangka waktu sangat pendek, biasanya digunakan untuk penempatan dana besar dalam periode singkat. Produk ini umumnya lebih relevan untuk perusahaan yang memiliki dana menganggur dalam jumlah besar, tetapi tetap membutuhkan fleksibilitas lebih tinggi dibanding deposito berjangka biasa.
Jenis deposito ini cocok untuk kebutuhan treasury perusahaan, bukan untuk dana operasional harian yang sewaktu-waktu harus digunakan.
Bagaimana Cara Menghitung Bunga Deposito?
Rumus sederhana untuk menghitung bunga deposito adalah sebagai berikut:
Bunga kotor = Nominal deposito x suku bunga tahunan x (jumlah hari / 365)
Pajak bunga = Bunga kotor x 20%
Bunga bersih = Bunga kotor - pajak bunga
Contoh Perhitungan Bunga Deposito untuk Bisnis
Misalnya, sebuah bisnis menempatkan dana Rp100.000.000 dalam deposito tenor 3 bulan dengan bunga 4% per tahun.
Bunga kotor = Rp100.000.000 x 4% x (90 / 365)
Bunga kotor = sekitar Rp986.301
Pajak bunga = Rp986.301 x 20%
Pajak bunga = sekitar Rp197.260
Bunga bersih = Rp986.301 - Rp197.260
Bunga bersih = sekitar Rp789.041
Dari contoh tersebut, keuntungan bersih yang diterima bisnis selama 90 hari adalah sekitar Rp789.041. Angka ini dapat berbeda tergantung metode perhitungan hari yang digunakan bank, besaran bunga, dan ketentuan produk.
Dalam pencatatan bisnis, bunga deposito dapat masuk sebagai pendapatan keuangan. Agar pencatatannya selaras dengan laporan perusahaan, Anda juga dapat membaca artikel standar akuntansi keuangan dan akuntansi perpajakan.
Ketentuan LPS yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membuka Deposito
Salah satu alasan deposito dianggap relatif aman adalah karena simpanan di bank peserta LPS dapat dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan. Namun, tidak semua deposito otomatis dijamin.
Untuk periode 1 Juli 2026 sampai 30 September 2026, Tingkat Bunga Penjaminan LPS untuk simpanan rupiah di bank umum adalah 3,75%, simpanan valuta asing di bank umum 2,00%, dan simpanan rupiah di BPR 6,25%. Maksimum nilai simpanan yang dijamin LPS adalah Rp2 miliar per nasabah per bank.
Agar simpanan memenuhi syarat penjaminan, nasabah perlu memperhatikan prinsip 3T berikut:
- Tercatat dalam pembukuan bank.
- Tingkat bunga yang diterima tidak melebihi Tingkat Bunga Penjaminan LPS.
- Tidak melakukan tindakan yang merugikan bank, misalnya tindakan yang menyebabkan bank menjadi tidak sehat.
Ini penting karena deposito dengan bunga sangat tinggi belum tentu masuk dalam cakupan penjaminan LPS. Jadi, sebelum tergiur dengan promosi bunga besar, pastikan bunga efektif yang diterima masih sesuai dengan batas penjaminan yang berlaku.
Kelebihan Deposito untuk Investasi Bisnis
1. Imbal Hasil Lebih Terukur
Deposito memberikan bunga yang sudah diketahui sejak awal. Hal ini memudahkan perusahaan dalam memperkirakan pendapatan bunga dan menyusun rencana kas.
2. Risiko Pasar Lebih Rendah
Berbeda dengan saham atau reksa dana saham, nilai pokok deposito tidak berubah mengikuti pergerakan pasar harian. Ini membuat deposito lebih sesuai untuk dana yang tidak boleh mengalami fluktuasi besar.
3. Membantu Menahan Penggunaan Dana yang Tidak Mendesak
Karena dana terkunci hingga jatuh tempo, deposito dapat membantu bisnis menahan diri agar tidak menggunakan dana cadangan untuk kebutuhan yang kurang prioritas.
4. Cocok untuk Dana Cadangan Jangka Pendek
Deposito dapat digunakan untuk menyimpan dana yang sudah memiliki tujuan tertentu, seperti dana pajak, dana THR, dana renovasi kantor, dana pembelian aset, atau dana proyek.
Untuk kebutuhan perencanaan laba dan pajak, artikel laba bersih setelah pajak juga dapat menjadi bacaan lanjutan yang relevan.
Kekurangan Deposito yang Harus Diantisipasi
1. Likuiditas Terbatas
Dana deposito tidak bisa ditarik bebas seperti tabungan. Jika bisnis membutuhkan dana mendadak, pencairan sebelum jatuh tempo dapat menimbulkan penalti atau kehilangan bunga.
2. Imbal Hasil Bisa Kalah dari Inflasi
Deposito aman dan stabil, tetapi imbal hasilnya bisa saja tidak selalu lebih tinggi dari inflasi atau kenaikan biaya operasional. Karena itu, deposito sebaiknya digunakan sesuai tujuan, bukan sebagai satu-satunya strategi pertumbuhan aset bisnis.
3. Bunga Bersih Berkurang karena Pajak
Bunga deposito dikenakan PPh final. Jadi, perusahaan perlu menghitung bunga bersih, bukan hanya bunga kotor yang ditawarkan bank.
4. Tidak Semua Bunga Tinggi Dijamin LPS
Jika bunga deposito melebihi Tingkat Bunga Penjaminan LPS, simpanan tersebut dapat tidak memenuhi syarat penjaminan. Ini menjadi poin penting terutama saat memilih deposito dengan promosi bunga tinggi.
Strategi Menggunakan Deposito untuk Bisnis
1. Pisahkan Dana Operasional dan Dana Investasi
Jangan menempatkan seluruh kas bisnis dalam deposito. Dana operasional harian tetap perlu tersedia di rekening yang mudah diakses. Deposito sebaiknya hanya menggunakan dana yang tidak akan dipakai dalam waktu dekat.
2. Gunakan Strategi Laddering
Laddering adalah strategi membagi dana ke beberapa deposito dengan tanggal jatuh tempo berbeda. Misalnya, dana Rp300 juta dibagi menjadi tiga deposito masing-masing Rp100 juta dengan tenor 1 bulan, 3 bulan, dan 6 bulan.
Dengan cara ini, bisnis tetap memiliki akses berkala ke sebagian dana tanpa harus mencairkan seluruh deposito sebelum jatuh tempo.
3. Sesuaikan Tenor dengan Jadwal Kewajiban Bisnis
Jika perusahaan memiliki kewajiban pembayaran pajak, gaji, THR, cicilan, atau supplier pada tanggal tertentu, pastikan tanggal jatuh tempo deposito tidak melewati kebutuhan tersebut.
Untuk memahami keterkaitan antara kewajiban pajak dan pencatatan harta, Anda juga bisa membaca kode harta pajak untuk SPT Tahunan.
4. Cek Bunga Efektif Setelah Pajak
Jangan hanya membandingkan bunga kotor. Hitung bunga bersih setelah pajak agar perusahaan mengetahui keuntungan riil yang diterima.
5. Pastikan Bank Merupakan Peserta LPS
Sebelum membuka deposito, cek apakah bank tersebut peserta LPS dan apakah bunga yang diberikan masih berada dalam batas Tingkat Bunga Penjaminan. Hal ini penting agar simpanan tetap memenuhi syarat penjaminan.
Perbandingan Deposito dengan Instrumen Lain
Deposito bukan satu-satunya pilihan investasi. Dalam bisnis, pemilihan instrumen sebaiknya disesuaikan dengan tujuan dana, toleransi risiko, dan kebutuhan likuiditas.
| Instrumen | Kelebihan | Kekurangan | Cocok Untuk |
|---|---|---|---|
| Deposito | Bunga jelas, risiko relatif rendah, tenor fleksibel | Dana terkunci, bunga terkena pajak, bisa kalah inflasi | Dana cadangan jangka pendek-menengah |
| Tabungan bisnis | Mudah dicairkan kapan saja | Bunga rendah | Dana operasional harian |
| Sukuk atau obligasi | Potensi imbal hasil lebih menarik | Ada risiko pasar dan ketentuan jatuh tempo | Dana jangka menengah-panjang |
| Dividen saham | Potensi imbal hasil dan pertumbuhan modal | Risiko fluktuasi harga saham | Investasi jangka panjang dengan risiko lebih tinggi |
Jika ingin memahami instrumen lain, Anda dapat membaca pembahasan tentang sukuk dan perlakuan pajaknya, dividen dalam bisnis, serta pajak dividen.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Bisnis Menempatkan Dana di Deposito
Menempatkan Seluruh Kas ke Deposito
Kesalahan pertama adalah mengunci terlalu banyak dana di deposito. Akibatnya, bisnis kesulitan membayar kebutuhan mendadak atau harus mencairkan deposito sebelum jatuh tempo.
Hanya Mengejar Bunga Tertinggi
Bunga tinggi memang menarik, tetapi perusahaan tetap harus mengecek ketentuan LPS, reputasi bank, pajak, dan syarat pencairan. Jangan sampai keputusan investasi hanya berdasarkan angka promosi.
Tidak Menghitung Pajak Bunga
Keuntungan deposito yang diterima perusahaan adalah bunga bersih setelah pajak, bukan bunga kotor. Karena itu, pajak final 20% perlu masuk dalam simulasi perhitungan.
Tidak Menyesuaikan Tenor dengan Kebutuhan Bisnis
Tenor yang terlalu panjang dapat mengganggu likuiditas. Sebaliknya, tenor yang terlalu pendek bisa membuat perusahaan terlalu sering memperbarui deposito dan melewatkan peluang bunga yang lebih baik.
Apakah Deposito Cocok untuk Semua Bisnis?
Deposito cocok untuk bisnis yang memiliki dana menganggur dan ingin memperoleh imbal hasil dengan risiko relatif rendah. Namun, deposito kurang cocok jika bisnis sedang membutuhkan modal kerja aktif, mengejar pertumbuhan agresif, atau memerlukan likuiditas tinggi setiap hari.
Untuk bisnis kecil dan UMKM, deposito dapat digunakan sebagai tempat menyimpan dana cadangan setelah kebutuhan operasional utama terpenuhi. Untuk perusahaan yang lebih besar, deposito bisa menjadi bagian dari manajemen treasury, terutama untuk menjaga dana jangka pendek tetap produktif.
Namun, keputusan menempatkan dana ke deposito tetap perlu mempertimbangkan kondisi keuangan perusahaan. Jika perusahaan masih memiliki kewajiban utang berbunga tinggi, piutang belum tertagih, atau arus kas tidak stabil, prioritas utama mungkin bukan deposito, melainkan memperbaiki cash flow terlebih dahulu. Artikel tentang account receivable dan account payable serta piutang tak tertagih dapat membantu memahami hal ini lebih jauh.
Kesimpulan
Deposito adalah produk simpanan berjangka yang dapat menjadi instrumen investasi sederhana untuk bisnis. Karakteristik utamanya adalah memiliki tenor tertentu, bunga yang relatif lebih tinggi dibanding tabungan biasa, risiko yang lebih rendah dibanding instrumen pasar, serta potensi penjaminan LPS selama memenuhi ketentuan yang berlaku.
Bagi pemilik bisnis, deposito dapat digunakan untuk mengelola dana cadangan, dana pajak, dana THR, atau dana yang belum akan digunakan dalam waktu dekat. Namun, perusahaan tetap perlu memperhatikan likuiditas, pajak bunga deposito, batas penjaminan LPS, dan kesesuaian tenor dengan kebutuhan kas.
Dengan perencanaan yang tepat, deposito dapat membantu dana bisnis tetap produktif tanpa mengorbankan keamanan dan stabilitas keuangan perusahaan.
Referensi Eksternal