Divestasi: Definisi, Tujuan, Metode Pelaksanaannya

Divestasi adalah tindakan mengurangi jenis aset yang dimiliki oleh perusahaan atau individu. Tujuannya bervariasi, termasuk mengurangi beban, meningkatkan pendapatan, fokus pada bisnis yang lebih menguntungkan, menghasilkan keuntungan besar, dan menghindari potensi kerugian yang lebih besar. Divestasi dapat dilakukan melalui berbagai metode, termasuk penjualan, spin-off, tracking stock, dan carve out. Pelaksanaan divestasi memiliki dampak positif dan negatif, termasuk pengurangan aset, peningkatan pendapatan, implikasi pajak, perubahan struktur perusahaan, dan perubahan dalam laporan keuangan. Selain itu, PPN juga perlu dipertimbangkan dalam divestasi yang melibatkan penjualan aset barang. Oleh karena itu, perencanaan divestasi yang matang dan pemahaman yang baik tentang konsekuensinya sangat penting dalam mengambil keputusan divestasi yang tepat.

Apa Itu Definisi Divestasi?

Divestasi adalah salah satu konsep yang penting dalam dunia bisnis, ekonomi, dan keuangan. Istilah ini mengacu pada tindakan pengurangan jenis aset yang dimiliki oleh sebuah perusahaan atau individu. Aset ini bisa berupa aset finansial seperti saham atau obligasi, atau aset barang seperti tanah, bangunan, atau peralatan. Dalam konteks bisnis, divestasi sering dianggap sebagai tindakan yang berlawanan dengan investasi.

Investasi adalah tindakan menambah aset dengan tujuan memperoleh keuntungan yang lebih besar di masa depan. Di sisi lain, divestasi adalah tindakan mengurangi aset yang dimiliki. Meskipun divestasi sering dikonotasikan sebagai tindakan negatif karena mengurangi aset, namun sebenarnya tujuannya bisa sangat positif. Divestasi dapat dilakukan untuk mencapai sejumlah tujuan yang dapat meningkatkan kesehatan keuangan dan kinerja perusahaan atau individu yang bersangkutan.

Tujuan Divestasi

Divestasi dapat menjadi alat strategis yang kuat dalam manajemen keuangan dan bisnis. Tujuannya sangat bervariasi dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi perusahaan atau individu. Berikut adalah beberapa tujuan umum dari divestasi:

Mengurangi Beban dan Menambah Pendapatan

Salah satu tujuan utama dari divestasi adalah mengurangi beban yang terkait dengan aset yang akan dijual dan pada saat yang sama meningkatkan pendapatan. Beban yang dimaksud di sini mencakup berbagai biaya terkait dengan pemeliharaan, operasional, dan kepemilikan aset yang sudah tidak lagi relevan atau menguntungkan. Dengan cara ini, divestasi dapat membantu perusahaan untuk menghemat sumber daya yang berharga dan meningkatkan efisiensi operasionalnya.

Pengurangan Beban Operasional

Salah satu jenis beban yang dapat dikurangi melalui divestasi adalah beban operasional. Aset yang tidak lagi diperlukan sering kali memerlukan biaya operasional yang signifikan. Misalnya, pemeliharaan mesin atau peralatan yang sudah tua dan tidak efisien dapat menjadi beban yang signifikan bagi perusahaan. Dengan menjual aset ini, perusahaan dapat menghindari biaya pemeliharaan yang terus menerus dan mengalokasikan sumber daya tersebut ke tempat lain yang lebih produktif.

Selain itu, divestasi juga dapat membantu perusahaan untuk mengurangi biaya-biaya lain yang terkait dengan aset yang akan dijual. Biaya penyimpanan, biaya administrasi, dan bahkan biaya pajak properti adalah contoh-contoh beban lain yang dapat dikurangi melalui divestasi.

Pendapatan Tambahan

Selain mengurangi beban, divestasi juga dapat memberikan pendapatan tambahan kepada perusahaan atau individu yang menjalankannya. Pendapatan ini berasal dari hasil penjualan aset yang sudah tidak lagi diperlukan atau aset yang telah meningkat nilainya.

Pendapatan dari penjualan aset dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Misalnya, perusahaan dapat menggunakannya untuk melunasi utang atau menginvestasikan kembali dalam bisnis inti yang lebih menguntungkan. Pendapatan tambahan ini juga dapat membantu perusahaan untuk membiayai proyek-proyek strategis atau melakukan inovasi yang dapat meningkatkan daya saingnya.

Dengan demikian, pengurangan beban dan peningkatan pendapatan adalah dua tujuan utama divestasi yang dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi perusahaan atau individu yang melaksanakannya. Namun, penting untuk diingat bahwa keputusan divestasi harus didasarkan pada analisis yang cermat terkait dengan aset yang akan dijual dan dampaknya terhadap kesehatan keuangan dan strategi bisnis secara keseluruhan.

Fokus pada Bisnis yang Lebih Menguntungkan

Salah satu alasan utama di balik divestasi adalah untuk membantu perusahaan untuk lebih fokus pada bisnis yang lebih menguntungkan atau yang lebih sesuai dengan strategi jangka panjangnya. Terkadang, perusahaan memiliki berbagai unit bisnis atau divisi yang beragam dalam berbagai industri atau sektor. Sementara beberapa unit bisnis dapat sangat menguntungkan, yang lain mungkin mengalami kinerja yang kurang baik atau tidak lagi sesuai dengan arah perusahaan.

BACA JUGA :  Mengenal Siklus Penggajian dalam Suatu Perusahaan

Dengan melakukan divestasi, perusahaan dapat mengidentifikasi dan menghapus unit bisnis yang tidak lagi memberikan nilai tambah atau yang menghambat fokus pada bisnis inti yang lebih menguntungkan. Ini dapat membantu perusahaan untuk merampingkan operasinya dan mengalokasikan sumber daya ke tempat yang paling diperlukan.

Meningkatkan Efisiensi Operasional

Selain membantu perusahaan untuk fokus pada bisnis yang lebih menguntungkan, divestasi juga dapat meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan. Dengan mengurangi jumlah unit bisnis atau divisi yang harus dikelola, perusahaan dapat mengalokasikan sumber daya manajemen dan operasionalnya dengan lebih efisien.

Efisiensi operasional ini dapat menghasilkan berbagai manfaat, termasuk peningkatan produktivitas, pengurangan biaya, dan peningkatan kualitas produk atau layanan. Selain itu, dengan menghilangkan unit bisnis yang tidak lagi menguntungkan, perusahaan dapat merampingkan proses bisnisnya dan mengurangi kompleksitas yang tidak perlu.

Menghasilkan Keuntungan Besar

Salah satu tujuan yang mungkin paling menarik dari divestasi adalah potensi untuk menghasilkan keuntungan besar. Ini terutama berlaku jika aset yang dijual telah meningkat nilainya sejak pertama kali diperoleh oleh perusahaan atau individu yang bersangkutan.

Pada saat yang tepat, penjualan aset dapat menghasilkan keuntungan yang signifikan. Keuntungan ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan, seperti investasi lebih lanjut, melunasi utang, atau memberikan pengembalian kepada pemegang saham atau pemilik perusahaan.

Namun, penting untuk diingat bahwa keuntungan dari divestasi tidak selalu dijamin, dan hasil penjualan aset dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi pasar dan strategi penjualan yang digunakan. Oleh karena itu, keputusan divestasi harus dilakukan setelah pertimbangan yang matang dan analisis yang teliti.

Mengurangi Potensi Kerugian yang Lebih Besar

Terakhir, divestasi juga dapat berfungsi sebagai langkah proaktif untuk menghindari potensi kerugian yang lebih besar di masa depan. Beberapa aset atau unit bisnis mungkin sudah tidak lagi menguntungkan atau berisiko mengalami kerugian yang lebih besar jika tetap dipertahankan.

Dalam situasi seperti ini, menjual aset atau menutup unit bisnis yang tidak lagi menguntungkan dapat menjadi tindakan bijak. Ini dapat membantu perusahaan untuk menghentikan penurunan nilai atau menghindari kerugian yang lebih besar yang mungkin terjadi jika aset tersebut terus dipertahankan.

Selain itu, divestasi juga dapat membantu perusahaan untuk memfokuskan sumber daya dan energi pada peluang yang lebih menjanjikan. Ini dapat memungkinkan perusahaan untuk berkembang dan tumbuh di bidang yang lebih menguntungkan dan memiliki potensi pertumbuhan yang lebih besar.

Tujuan divestasi sangat bervariasi dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi perusahaan atau individu yang bersangkutan. Dari mengurangi beban dan menambah pendapatan hingga fokus pada bisnis yang lebih menguntungkan, menghasilkan keuntungan besar, dan menghindari potensi kerugian yang lebih besar, divestasi dapat menjadi alat strategis yang kuat dalam manajemen keuangan dan bisnis.

Namun, penting untuk diingat bahwa keputusan divestasi harus didasarkan pada analisis yang teliti terkait dengan dampaknya terhadap perusahaan atau individu yang bersangkutan. Tidak semua divestasi akan menghasilkan keuntungan, dan ada risiko yang terkait dengan setiap tindakan divestasi. Oleh karena itu, perencanaan yang matang dan pemahaman yang baik tentang tujuan dan konsekuensi divestasi sangat penting dalam mengambil keputusan yang tepat.

Metode Divestasi

Terdapat berbagai metode yang dapat digunakan dalam pelaksanaan divestasi, dan pemilihan metode yang tepat akan sangat bergantung pada situasi spesifik perusahaan atau individu. Berikut adalah beberapa metode divestasi yang umum digunakan:

Metode Penjualan

Metode penjualan adalah salah satu metode divestasi yang paling umum digunakan dalam dunia bisnis. Dalam metode ini, perusahaan yang melakukan divestasi menjual unit bisnis, segmen, divisi, atau sekelompok aset kepada perusahaan atau entitas lain. Prosedur penjualan dapat bervariasi tergantung pada keadaan pasar, aset yang dijual, dan kesepakatan antara pihak-pihak yang terlibat.

BACA JUGA :  Dasar Hukum NPWP yang Wajib Pajak Perlu Ketahui

Proses penjualan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Penjualan Langsung: Ini adalah cara paling sederhana di mana perusahaan yang melakukan divestasi menjual aset langsung kepada pihak pembeli dengan harga yang telah disepakati sebelumnya. Penjualan langsung ini sering kali terjadi jika terdapat pihak yang tertarik untuk membeli aset tersebut.
  2. Proses Lelang: Dalam beberapa kasus, perusahaan yang melakukan divestasi mungkin memutuskan untuk menjual asetnya melalui proses lelang. Proses lelang ini dapat terbuka untuk publik atau dibatasi hanya kepada pihak-pihak tertentu yang diundang. Pihak yang menawar tertinggi akan memenangkan aset tersebut. Proses lelang ini dapat meningkatkan harga jual aset jika terdapat minat yang kuat dari para pembeli potensial.
  3. Penawaran Saham: Dalam beberapa situasi, perusahaan yang melakukan divestasi dapat mengeluarkan saham tambahan atau saham khusus yang mewakili kepemilikan dalam unit bisnis atau divisi yang akan dijual. Pihak yang membeli saham ini akan memiliki kepentingan dalam bisnis tersebut. Metode ini memungkinkan perusahaan untuk membagi kepemilikan dalam bisnis tersebut dengan pihak lain tanpa harus menjual seluruh unit bisnis.

Metode Spin-Off

Metode spin-off adalah salah satu cara di mana perusahaan dapat memisahkan divisi atau unit bisnis tertentu menjadi entitas yang terpisah. Namun, yang membedakan spin-off dengan metode lainnya adalah bahwa entitas yang terpisah ini masih satu buku akuntansi dengan perusahaan induknya. Ini berarti bahwa entitas yang terpisah akan tetap tercatat dalam laporan keuangan perusahaan induk.

Tetapi, pemisahan ini membawa dampak lain, yaitu pemegang saham perusahaan induk menerima saham dari entitas yang terpisah ini. Dengan cara ini, pemegang saham perusahaan induk juga menjadi pemegang saham entitas yang baru terbentuk. Pemegang saham kemudian memiliki dua investasi terpisah: saham perusahaan induk dan saham entitas yang terpisah.

Spin-off biasanya dilakukan untuk beberapa alasan, termasuk untuk memungkinkan entitas yang terpisah untuk lebih fokus pada bisnis mereka sendiri tanpa gangguan dari perusahaan induk, atau untuk memungkinkan pemegang saham untuk mendapatkan nilai dari bisnis yang terpisah tersebut.

Metode Tracking Stock

Metode tracking stock adalah metode divestasi yang jarang digunakan, tetapi bisa menjadi pilihan yang menarik dalam beberapa situasi. Dalam metode ini, perusahaan mengeluarkan saham “tracking stock” yang mewakili kepemilikan dalam divisi atau unit bisnis tertentu. Saham-saham ini memiliki karakteristik yang berbeda dari saham biasa perusahaan dan tidak memberikan hak suara kepada pemegangnya.

Salah satu hal yang unik dari metode ini adalah bahwa pembayaran dividen atas saham tracking stock tergantung pada kinerja divisi atau unit bisnis yang bersangkutan. Jika divisi tersebut menghasilkan laba, pemegang saham tracking stock akan menerima dividen. Namun, jika divisi mengalami kerugian, dividen mungkin tidak dibayarkan.

Metode tracking stock dapat menjadi cara bagi perusahaan untuk memberikan nilai kepada pemegang saham sambil tetap mempertahankan kendali atas divisi atau unit bisnis tertentu. Namun, metode ini juga kompleks dan memerlukan perhatian khusus dalam perencanaan dan pelaksanaannya.

Metode Carve Out

Terakhir, metode divestasi yang dapat digunakan adalah metode carve out. Dalam metode ini, perusahaan induk mengubah divisi atau unit bisnis tertentu menjadi entitas yang sepenuhnya terpisah dan independen. Berbeda dengan metode spin-off, entitas yang terpisah dalam metode carve out tidak lagi termasuk dalam satu buku akuntansi dengan perusahaan induk.

Setelah entitas yang terpisah terbentuk, sahamnya dapat dijual kepada masyarakat atau pemegang saham lainnya. Dengan demikian, pemilik entitas yang terpisah tidak hanya terdiri dari pemilik perusahaan induk, tetapi juga termasuk pihak eksternal.

Metode carve out dapat digunakan jika perusahaan ingin sepenuhnya melepaskan kendali atas divisi atau unit bisnis tertentu dan memberikan kesempatan kepada entitas tersebut untuk beroperasi secara independen. Hal ini dapat menjadi pilihan yang tepat jika perusahaan tidak lagi melihat divisi tersebut sebagai bagian integral dari bisnis intinya.

Pemilihan metode divestasi harus mempertimbangkan banyak faktor, termasuk aset yang akan dijual, kondisi pasar, dan tujuan divestasi.

Pemilihan Metode Divestasi

Pemilihan metode divestasi harus mempertimbangkan banyak faktor, termasuk jenis aset yang akan dijual, kondisi pasar, tujuan divestasi, dan struktur perusahaan. Setiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, dan keputusan harus didasarkan pada analisis yang cermat.

BACA JUGA :  Pemindahbukuan (Pbk): Pengertian dan Prosesnya

Misalnya, jika perusahaan ingin mempertahankan sebagian kepemilikan dalam divisi yang akan dijual, metode spin-off atau tracking stock mungkin menjadi pilihan yang cocok. Namun, jika perusahaan ingin sepenuhnya melepaskan kendali atas divisi tersebut, metode carve out atau penjualan mungkin lebih sesuai.

Selain itu, kondisi pasar juga dapat memengaruhi pemilihan metode. Jika terdapat minat yang tinggi dari pihak pembeli potensial, metode penjualan atau lelang mungkin menjadi pilihan yang menguntungkan. Sebaliknya, jika pasar tidak mendukung penjualan langsung, metode spin-off atau carve out mungkin menjadi alternatif yang lebih baik.

Penting untuk melibatkan tim yang terampil dan berkualitas dalam proses divestasi untuk memastikan bahwa metode yang dipilih sesuai dengan tujuan perusahaan dan memberikan hasil yang optimal. Kesalahan dalam pemilihan metode divestasi dapat memiliki konsekuensi finansial yang serius.

Dampak Pelaksanaan Divestasi

Divestasi memiliki dampak yang signifikan terhadap perusahaan atau individu yang melaksanakannya. Dampaknya dapat sangat positif jika divestasi dilakukan dengan bijak dan sesuai dengan strategi bisnis yang tepat. Namun, juga ada dampak negatif yang harus diperhatikan. Berikut adalah beberapa dampak pelaksanaan divestasi:

  1. Mengurangi Aset: Divestasi, pada dasarnya, adalah tindakan mengurangi aset yang dimiliki. Ini berarti bahwa perusahaan atau individu yang melaksanakan divestasi akan memiliki lebih sedikit aset setelahnya. Hal ini dapat berdampak pada kemampuan perusahaan untuk melakukan investasi lebih lanjut atau untuk mengamankan pinjaman.
  2. Peningkatan Pendapatan: Salah satu dampak positif yang dapat diperoleh dari divestasi adalah peningkatan pendapatan. Hasil penjualan aset dapat memberikan pendapatan tambahan yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk pengembangan bisnis yang lebih menguntungkan.
  3. Pajak: Penjualan aset perusahaan dapat berdampak pada pengenaan pajak. Beberapa negara mungkin mengenakan pajak atas keuntungan yang diperoleh dari penjualan aset. Oleh karena itu, perusahaan atau individu yang melaksanakan divestasi perlu mempertimbangkan implikasi pajaknya.
  4. Fokus Bisnis: Divestasi dapat membantu perusahaan untuk lebih fokus pada bisnis inti atau yang lebih menguntungkan. Ini dapat meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing perusahaan.
  5. Perubahan Struktur Perusahaan: Terkadang, divestasi dapat mengubah struktur perusahaan secara signifikan. Misalnya, dengan melakukan spin-off atau carve out, perusahaan dapat memiliki entitas terpisah yang memiliki pemegang saham yang berbeda. Hal ini dapat mengubah dinamika kepemilikan dan pengendalian perusahaan.
  6. Laba dan Laporan Keuangan: Divestasi akan menciptakan dampak langsung pada laporan keuangan perusahaan. Hasil penjualan harus dicatat dalam laporan laba rugi, dan aset yang dijual harus dihapuskan dari neraca. Ini dapat memengaruhi laba bersih perusahaan serta rasio keuangan lainnya.
  7. Manajemen Portofolio: Divestasi adalah salah satu cara untuk mengelola portofolio aset perusahaan. Dengan menjual aset yang tidak lagi relevan atau menguntungkan, perusahaan dapat merampingkan portofolio dan mengalokasikan sumber daya dengan lebih efisien.

Penting untuk diingat bahwa dampak divestasi dapat berbeda-beda tergantung pada metode yang digunakan, jenis aset yang dijual, dan tujuan divestasi itu sendiri. Oleh karena itu, perencanaan divestasi yang matang dan analisis yang cermat sangat diperlukan.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dalam Divestasi

Penjualan aset perusahaan, terutama yang berhubungan dengan aset barang seperti tanah, bangunan, atau peralatan, dapat memiliki implikasi terkait Pajak Pertambahan Nilai (PPN). PPN adalah pajak yang dikenakan pada penyerahan barang dan jasa di beberapa negara.

Dalam pasal 16D Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (UU PPN) di Indonesia, diatur mengenai pungutan pajak atas aktiva perusahaan. PPN dikenakan atas penyerahan BKP (Barang Kena Pajak) berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh PKP (Pengusaha Kena Pajak), kecuali atas penyerahan aktiva yang pajak masukannya tidak dapat dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 atar (8) huruf b dan c. Dengan demikian, penjualan aset perusahaan yang semula tidak dimaksudkan untuk dijual dapat dikenakan PPN, terutama jika PPN masukan yang terkait dengan aset tersebut tidak dapat dikreditkan.

Pengenaan PPN dalam divestasi merupakan aspek penting yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan divestasi. Perusahaan atau individu yang melaksanakan divestasi perlu memahami implikasi PPN dan mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ikuti terus bloghrd.com untuk mendapatkan informasi seputar HR, karir, info lowongan kerja, juga inspirasi terbaru terkait dunia kerja setiap harinya!


Putri Ayudhia

Putri Ayudhia

Putri Ayudhia adalah seorang penulis konten SEO dan blogger paruh waktu yang telah bekerja secara profesional selama lebih dari 7 tahun. Dia telah membantu berbagai perusahaan di Indonesia untuk menulis konten yang berkualitas, SEO-friendly, dan relevan dengan bidang HR dan Psikologi. Ayudhia memiliki pengetahuan yang kuat dalam SEO dan penulisan konten. Dia juga memiliki pengetahuan mendalam tentang HR dan Psikologi, yang membantu dia dalam menciptakan konten yang relevan dan berbobot. Dia memiliki keterampilan dalam melakukan riset pasar dan analisis, yang membantu dia dalam menciptakan strategi konten yang efektif.
https://bloghrd.com