Gaji Upah Nakhoda Kapal dan Perwira Geladak

Profesi nakhoda dan perwira geladak kapal sering dianggap sebagai salah satu jalur karier pelayaran yang menarik karena menawarkan pengalaman kerja lintas wilayah, tanggung jawab besar, serta potensi penghasilan yang kompetitif. Namun, sebelum membayangkan gaji tinggi di industri maritim, penting untuk memahami dulu bahwa jalur menuju posisi nakhoda tidak instan. Ada tahapan pendidikan, praktik berlayar, sertifikasi, pengalaman, dan masa kerja yang perlu dilalui.

Bagi pelajar SMK pelayaran, taruna akademi maritim, lulusan perguruan tinggi, peserta magang, maupun pekerja yang sedang mempertimbangkan karier di bidang pelayaran, informasi gaji nakhoda dan perwira geladak kapal perlu dibaca secara hati-hati. Angka gaji yang terlihat besar biasanya berlaku untuk pekerja yang sudah memiliki sertifikat, pengalaman berlayar, tanggung jawab operasional, dan jabatan tertentu di atas kapal. Sementara itu, peserta magang atau cadet umumnya belum menerima gaji seperti perwira kapal profesional.

Karena itu, pembahasan ini akan mengulas kisaran gaji nakhoda dan perwira geladak kapal terbaru, perbedaan uang saku magang dengan upah kerja, tugas utama, faktor yang memengaruhi gaji, serta hal-hal yang perlu diperhatikan oleh HR, perusahaan pelayaran, maupun calon pelaut. Untuk memahami konteks magang secara umum, pembaca juga dapat melihat panduan Bloghrd.com tentang sistem magang di Indonesia dan perbedaan uang saku dan upah untuk karyawan magang.

Ringkasan Gaji Nakhoda dan Perwira Geladak Kapal 2026

Berdasarkan data WageIndicator/Gajimu 2026, kisaran gaji sebagian besar pekerja pada profesi nakhoda dan perwira geladak kapal berada di rentang Rp5.684.647 sampai Rp71.922.919 per bulan. Pada awal pekerjaan, profesi ini biasanya menghasilkan sekitar Rp5.684.647 sampai Rp35.708.311 bersih per bulan. Setelah memiliki pengalaman kerja sekitar lima tahun, kisarannya dapat meningkat menjadi sekitar Rp7.041.268 sampai Rp56.395.137 per bulan untuk acuan minggu kerja 40 jam.

Kategori Pengalaman Estimasi Kisaran Gaji Bulanan 2026 Catatan Penting
Sebagian besar pekerja Rp5.684.647 – Rp71.922.919 Rentang umum untuk profesi nakhoda dan perwira geladak kapal.
Awal pekerjaan Rp5.684.647 – Rp35.708.311 bersih per bulan Biasanya berlaku untuk pekerja yang sudah memenuhi syarat jabatan, bukan peserta magang biasa.
Setelah sekitar 5 tahun pengalaman Rp7.041.268 – Rp56.395.137 per bulan Dapat berbeda berdasarkan jenis kapal, rute pelayaran, sertifikat, dan tanggung jawab.

Angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai gambaran pasar, bukan angka pasti yang harus diterima semua pekerja. Dalam praktiknya, pendapatan pelaut bagian dek dapat dipengaruhi oleh jenis kapal, ukuran kapal, status kontrak, perusahaan, rute pelayaran, sertifikasi, lama pengalaman, pola kerja, tunjangan, dan isi Perjanjian Kerja Laut. Karena itu, untuk keperluan administrasi penggajian, perusahaan tetap perlu menyusun penghasilan secara rapi sesuai komponen gaji dalam sistem pengupahan dan kebijakan internal yang berlaku.

Apa Itu Nakhoda dan Perwira Geladak Kapal?

Nakhoda adalah pemimpin tertinggi di atas kapal yang bertanggung jawab terhadap keselamatan kapal, awak kapal, muatan, penumpang, operasi pelayaran, serta kepatuhan terhadap ketentuan pelayaran. Dalam struktur operasional kapal, nakhoda tidak bekerja sendiri. Ia dibantu oleh perwira geladak kapal atau deck officer, seperti Mualim I, Mualim II, Mualim III, dan jabatan lain sesuai ukuran serta kebutuhan kapal.

Perwira geladak kapal adalah perwira bagian dek yang berhubungan langsung dengan navigasi, pengawasan pelayaran, keselamatan, komunikasi, pengaturan muatan, dan pelaksanaan dinas jaga di anjungan. Dalam regulasi pengawakan kapal niaga, Mualim I atau Chief Mate berada satu tingkat di bawah nakhoda dan dapat menggantikan tugas nakhoda jika nakhoda tidak dapat melaksanakan tugasnya. Sementara itu, Mualim atau Deck Officer menjalankan fungsi perwira bagian dek sesuai jabatan dan sertifikasi yang dimiliki.

Penting juga untuk meluruskan istilah pada artikel lama. Profesi ini berbeda dengan pilot pesawat terbang. Dalam konteks pelayaran, istilah pilot dapat merujuk pada pilot kapal atau pandu yang membantu kapal bermanuver di area tertentu seperti pelabuhan, alur sempit, atau perairan yang membutuhkan keahlian lokal. Jadi, fokus artikel ini adalah nakhoda, mualim, perwira geladak, dan jalur karier pelaut bagian dek, bukan pilot penerbangan.

Mengapa Profesi Ini Membutuhkan Keahlian Khusus?

Bekerja sebagai nakhoda atau perwira geladak kapal bukan hanya soal mampu mengemudikan kapal. Pekerjaan ini menuntut kemampuan membaca kondisi cuaca, memahami peta laut, mengoperasikan perangkat navigasi, berkomunikasi dengan otoritas pelabuhan, menjaga disiplin awak kapal, mengelola risiko keselamatan, dan mengambil keputusan cepat dalam keadaan darurat.

Karena tanggung jawabnya besar, struktur gaji profesi ini biasanya tidak bisa disamakan dengan pekerjaan operasional biasa di darat. Perusahaan perlu menilai tingkat risiko, kompetensi, sertifikat, pengalaman berlayar, dan beban jabatan. Pembahasan ini berkaitan erat dengan konsep struktur dan skala upah, terutama bila perusahaan pelayaran ingin membuat jenjang gaji yang adil antara cadet, rating, perwira junior, perwira senior, dan nakhoda.

Tugas Utama Nakhoda dan Perwira Geladak Kapal

Tugas nakhoda dan perwira geladak kapal dapat berbeda tergantung jenis kapal, rute, ukuran kapal, jumlah awak, dan kebijakan perusahaan. Namun secara umum, berikut beberapa tanggung jawab utama yang melekat pada profesi ini.

1. Mengawasi Navigasi dan Keselamatan Pelayaran

Perwira geladak bertugas membantu pelaksanaan navigasi kapal. Mereka perlu memastikan kapal bergerak sesuai rute, memperhatikan lalu lintas laut, membaca alat navigasi, dan menjaga komunikasi selama perjalanan. Dalam kondisi tertentu, keputusan navigasi harus dilakukan dengan sangat cepat karena menyangkut keselamatan kapal dan awak.

Pada level yang lebih tinggi, nakhoda memegang tanggung jawab akhir terhadap keselamatan pelayaran. Ia harus memastikan kapal layak berlayar, dokumen tersedia, kru bekerja sesuai peran, dan semua prosedur keselamatan dijalankan dengan disiplin. Jika terjadi cuaca buruk, gangguan teknis, keadaan darurat medis, atau potensi bahaya navigasi, nakhoda menjadi pihak yang mengambil keputusan utama.

2. Melakukan Dinas Jaga di Anjungan

Dinas jaga di anjungan merupakan bagian penting dari pekerjaan perwira geladak. Perwira yang bertugas harus memantau posisi kapal, arah gerak, kecepatan, kondisi sekitar, instruksi nakhoda, serta komunikasi dengan pihak luar. Kesalahan kecil dalam dinas jaga dapat berdampak besar, terutama pada kapal besar, kapal tanker, kapal penumpang, kapal kargo, atau kapal yang melintasi jalur padat.

Karena pekerjaan ini sering melibatkan sistem shift, perusahaan perlu memperhatikan pengaturan jam kerja, istirahat, dan kompensasi tambahan bila ada pekerjaan di luar ketentuan normal. Untuk memahami prinsip perhitungan kerja tambahan secara umum, HR dapat membaca panduan Bloghrd.com tentang ketentuan waktu kerja lembur dan pengaturan upah lembur karyawan.

3. Mengelola Muatan dan Stabilitas Kapal

Dalam banyak jenis kapal, perwira geladak juga terlibat dalam pengawasan muatan. Mereka harus memahami bagaimana muatan ditempatkan, diamankan, dan dikelola agar tidak mengganggu stabilitas kapal. Untuk kapal kargo, kapal kontainer, kapal tanker, atau kapal pengangkut barang tertentu, kesalahan penanganan muatan dapat menimbulkan risiko keselamatan, kerugian finansial, bahkan pencemaran lingkungan.

4. Mengawasi Awak Kapal Bagian Dek

Nakhoda dan perwira geladak bertugas mengarahkan awak kapal bagian dek seperti juru mudi, kelasi, able seafarer deck, dan posisi pendukung lain. Dalam praktiknya, kemampuan teknis harus diimbangi kemampuan kepemimpinan. Seorang perwira tidak hanya dituntut paham navigasi, tetapi juga mampu memberi instruksi yang jelas, menjaga disiplin kerja, serta memastikan prosedur dijalankan oleh semua anggota tim.

Aspek kepemimpinan ini penting karena status hubungan kerja di atas kapal bisa berbeda-beda, mulai dari pekerja tetap, kontrak, hingga kerja berdasarkan periode pelayaran tertentu. Perusahaan perlu memastikan status kerja ditulis jelas, sebagaimana pembahasan Bloghrd.com mengenai status hubungan kerja dalam UU Ketenagakerjaan dan ketentuan PKWT.

5. Menjalankan Prosedur Darurat

Dalam situasi darurat, nakhoda dan perwira geladak harus memahami prosedur keselamatan, evakuasi, komunikasi darurat, pengendalian kebakaran, pertolongan pertama, serta koordinasi dengan pihak terkait. Karena itu, berbagai sertifikat keterampilan seperti Basic Safety Training, Advanced Fire Fighting, Medical First Aid, Bridge Resource Management, ECDIS, dan sertifikat lain dapat menjadi bagian dari persyaratan kerja sesuai jenis kapal dan jabatan.

Apakah Peserta Magang Bisa Mendapat Gaji Seperti Nakhoda?

Jawabannya: umumnya tidak. Peserta magang, cadet, taruna praktik laut, atau peserta pemagangan belum memiliki tanggung jawab yang sama dengan nakhoda maupun perwira geladak kapal profesional. Mereka berada dalam tahap belajar, praktik, observasi, dan pembentukan kompetensi di bawah bimbingan instruktur atau pekerja yang lebih berpengalaman.

Dalam konteks ketenagakerjaan umum, magang merupakan bagian dari sistem pelatihan kerja. Peserta magang dapat memperoleh uang saku, fasilitas, jaminan sosial, pembimbing, evaluasi, dan sertifikat atau surat keterangan sesuai program yang dijalankan. Namun, uang saku magang tidak selalu sama dengan upah karyawan. Karena itu, calon peserta perlu memahami isi perjanjian pemagangan, durasi program, hak dan kewajiban, serta apakah program tersebut merupakan pemagangan resmi atau hanya praktik kerja dari lembaga pendidikan.

Untuk pembahasan lebih luas mengenai hak pekerja dan peserta kerja, Bloghrd.com juga memiliki artikel tentang hak dan kewajiban pekerja menurut UU Ketenagakerjaan. Artikel tersebut dapat menjadi rujukan tambahan bagi peserta magang, HR, dan perusahaan agar tidak keliru membedakan relasi pemagangan dengan hubungan kerja.

Perbedaan Uang Saku Magang dan Gaji Pelaut Profesional

Aspek Peserta Magang atau Cadet Nakhoda atau Perwira Geladak Profesional
Status utama Peserta pelatihan atau praktik kerja Pekerja profesional dengan jabatan operasional
Kompensasi Umumnya uang saku atau bantuan sesuai perjanjian/program Gaji, tunjangan, dan komponen penghasilan sesuai kontrak atau Perjanjian Kerja Laut
Tanggung jawab Belajar dan membantu di bawah pengawasan Bertanggung jawab terhadap navigasi, keselamatan, awak kapal, dan operasional
Syarat sertifikasi Menyesuaikan tahap pendidikan dan praktik Wajib memenuhi sertifikat keahlian dan keterampilan sesuai jabatan
Tujuan utama Pembelajaran dan pemenuhan kompetensi Pelaksanaan pekerjaan profesional di atas kapal

Pada 2026, terdapat juga ketentuan khusus mengenai PPh 21 ditanggung pemerintah untuk program pemagangan lulusan perguruan tinggi tertentu. Dalam skema ini, uang saku atau imbalan sejenis yang termasuk dalam program pemerintah tetap menjadi objek pemotongan PPh 21, tetapi pajaknya dapat ditanggung pemerintah jika memenuhi syarat. Namun, fasilitas tersebut tidak otomatis berlaku untuk semua bentuk magang di industri pelayaran. HR dan peserta tetap perlu mengecek apakah program yang diikuti memang termasuk program resmi yang memenuhi kriteria.

Bila peserta magang kemudian diangkat menjadi pekerja, maka perusahaan perlu memperlakukan haknya sesuai status hubungan kerja baru. Pada titik ini, pembahasan tentang BPJS Ketenagakerjaan untuk pegawai kontrak, PPh 21, dan komponen payroll menjadi relevan.

Faktor yang Mempengaruhi Gaji Nakhoda dan Perwira Geladak Kapal

Kisaran gaji nakhoda dan perwira geladak kapal sangat lebar. Ada yang menerima penghasilan beberapa juta rupiah per bulan, ada pula yang bisa memperoleh puluhan juta rupiah tergantung jabatan, jenis kapal, perusahaan, rute, dan pengalaman. Berikut faktor-faktor yang paling sering memengaruhi besaran upah.

1. Jabatan di Atas Kapal

Dalam struktur kapal, jabatan sangat menentukan penghasilan. Seorang cadet tentu belum berada pada level gaji yang sama dengan Mualim III. Mualim III biasanya juga belum memiliki gaji sebesar Mualim I. Di sisi lain, nakhoda sebagai pemegang tanggung jawab tertinggi umumnya berada pada level kompensasi paling tinggi di bagian dek.

Jenjang umum di bagian dek dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Deck cadet atau taruna praktik laut.
  • Juru mudi atau awak kapal bagian dek.
  • Mualim III atau perwira jaga junior.
  • Mualim II.
  • Mualim I atau Chief Mate.
  • Nakhoda atau Master.

Setiap perusahaan bisa menggunakan istilah, struktur, dan sistem pengupahan yang berbeda. Oleh karena itu, HR perlu menulis jabatan, grade, tunjangan, pola kerja, dan syarat sertifikat secara jelas dalam kontrak atau dokumen penggajian.

2. Sertifikat Keahlian dan Sertifikat Keterampilan

Industri pelayaran merupakan sektor yang sangat bergantung pada sertifikasi. Untuk menduduki jabatan tertentu, pelaut harus memiliki sertifikat yang sesuai dengan ketentuan. Sertifikat ini dapat mencakup Sertifikat Keahlian atau Certificate of Competence, Sertifikat Pengukuhan atau Certificate of Endorsement, serta berbagai Sertifikat Keterampilan atau Certificate of Proficiency.

Beberapa sertifikat yang sering dikaitkan dengan jabatan bagian dek antara lain Basic Safety Training, Medical First Aid, Medical Care, Advanced Fire Fighting, Bridge Resource Management, Radar Simulator, ARPA Simulator, ECDIS, Ship Security Officer, serta sertifikat khusus untuk kapal tanker, kapal penumpang, kapal ro-ro, kapal gas, atau kapal dengan karakteristik tertentu.

Semakin tinggi jabatan dan semakin kompleks jenis kapal, semakin besar pula kebutuhan sertifikasi. Hal ini dapat berpengaruh terhadap gaji karena perusahaan membayar bukan hanya tenaga kerja, tetapi juga kompetensi, legalitas, dan kemampuan pekerja menjalankan tanggung jawab keselamatan.

3. Jenis Kapal dan Risiko Pekerjaan

Gaji pelaut pada kapal penumpang, kapal barang, kapal tanker, kapal offshore, kapal tunda, kapal perintis, kapal wisata, atau kapal internasional dapat berbeda. Kapal dengan risiko lebih tinggi, muatan berbahaya, rute panjang, atau standar internasional ketat biasanya menawarkan struktur kompensasi yang lebih kompetitif.

Misalnya, kapal tanker minyak, kapal kimia, atau kapal gas membutuhkan kompetensi tambahan karena berkaitan dengan muatan berisiko tinggi. Begitu juga kapal yang beroperasi di wilayah offshore atau rute internasional dapat memiliki sistem pengupahan yang berbeda dibanding kapal dengan rute lokal.

4. Rute Pelayaran dan Lama Kontrak

Rute pelayaran juga memengaruhi penghasilan. Kapal yang berlayar di perairan domestik, antar pulau, rute internasional, atau wilayah dengan tingkat risiko tertentu dapat memiliki sistem kompensasi berbeda. Selain itu, lama kontrak juga menentukan total pendapatan yang diterima selama periode berlayar.

Untuk pekerja yang masuk dalam hubungan kerja kontrak, kejelasan durasi kerja sangat penting. Hal ini berkaitan dengan administrasi PKWT, hak akhir kontrak, dan potensi perpanjangan. HR dapat membandingkannya dengan pembahasan Bloghrd.com tentang PKWTT serta perbedaan hubungan kerja tetap dan kontrak.

5. Perusahaan dan Skala Operasi

Perusahaan pelayaran besar, perusahaan dengan standar internasional, atau perusahaan yang mengoperasikan kapal berisiko tinggi biasanya memiliki struktur gaji yang lebih formal. Di sisi lain, perusahaan kecil atau operator kapal lokal mungkin menggunakan skema yang lebih sederhana. Perbedaan inilah yang membuat kisaran gaji profesi pelaut sangat luas.

Untuk perusahaan, pengelolaan payroll pelaut perlu dilakukan dengan teliti karena bisa melibatkan gaji pokok, tunjangan tetap, tunjangan tidak tetap, premi, kompensasi kerja tertentu, potongan pajak, jaminan sosial, dan fasilitas lain. Agar administrasi lebih rapi, perusahaan dapat membaca panduan cara menghitung gaji bersih dan cara membuat slip gaji di Excel.

6. Pengalaman dan Rekam Jejak Berlayar

Pengalaman berlayar menjadi faktor penting dalam karier pelaut. Nakhoda dan perwira geladak kapal tidak hanya dinilai dari pendidikan formal, tetapi juga dari jam terbang, jenis kapal yang pernah ditangani, rute yang pernah dilalui, kemampuan menghadapi keadaan darurat, dan rekam jejak disiplin.

Setelah beberapa tahun pengalaman, seorang perwira dapat memiliki peluang peningkatan jabatan dan penghasilan. Namun, promosi tetap bergantung pada sertifikasi, kebutuhan perusahaan, penilaian kinerja, dan ketersediaan posisi.

Komponen Penghasilan Nakhoda dan Perwira Geladak Kapal

Gaji yang diterima nakhoda atau perwira geladak kapal tidak selalu hanya terdiri dari gaji pokok. Dalam beberapa perusahaan, penghasilan dapat mencakup beberapa komponen berikut.

1. Gaji Pokok

Gaji pokok adalah penghasilan dasar yang dibayarkan sesuai jabatan, masa kerja, dan perjanjian. Dalam konteks awak kapal, gaji pokok perlu ditulis jelas dalam Perjanjian Kerja Laut atau dokumen kerja lain yang berlaku. Kejelasan ini penting agar tidak terjadi perbedaan persepsi antara pekerja dan perusahaan.

2. Tunjangan Tetap

Tunjangan tetap dapat diberikan secara rutin dan tidak bergantung pada kehadiran atau kondisi tertentu. Bentuknya dapat berbeda-beda, misalnya tunjangan jabatan, tunjangan keluarga, atau tunjangan lain sesuai kebijakan perusahaan.

3. Tunjangan Tidak Tetap dan Premi

Tunjangan tidak tetap dapat bergantung pada penugasan, rute, risiko, atau kondisi pekerjaan. Dalam industri pelayaran, istilah premi, uang layar, uang makan, tunjangan perjalanan, atau tunjangan operasional dapat muncul tergantung kebijakan perusahaan dan isi kontrak.

4. Tunjangan Komando atau Tanggung Jawab

Untuk jabatan tertentu seperti nakhoda, chief engineer, atau perwira senior, perusahaan dapat memberikan tunjangan yang mencerminkan tingkat tanggung jawab. Namun, skema ini sangat bergantung pada kebijakan perusahaan, jenis kapal, dan perjanjian yang disepakati.

5. Potongan Pajak dan Jaminan Sosial

Penghasilan pekerja yang memenuhi ketentuan dapat menjadi objek PPh 21. Karena itu, HR dan finance perlu memastikan apakah penghasilan pelaut diperlakukan sebagai penghasilan pegawai tetap, pegawai tidak tetap, atau kategori lain sesuai status kerja dan pola pembayaran. Untuk memahami dasar pajaknya, pembaca dapat melihat artikel Bloghrd.com tentang subjek pajak PPh 21, cara menghitung PPh 21 dengan tarif TER, dan PPh 21 untuk karyawan tidak tetap.

Selain pajak, perusahaan juga perlu memperhatikan jaminan sosial ketenagakerjaan sesuai ketentuan yang berlaku. Pembahasan umum mengenai hal ini dapat dilihat pada artikel iuran BPJS Ketenagakerjaan.

Jalur Karier dari Magang sampai Menjadi Nakhoda

Menjadi nakhoda membutuhkan proses panjang. Seseorang biasanya memulai dari pendidikan atau pelatihan pelayaran, praktik laut, pengalaman sebagai awak atau perwira junior, lalu naik bertahap ke posisi yang lebih tinggi. Setiap tahap membutuhkan evaluasi, sertifikasi, dan pengalaman kerja yang memadai.

1. Pendidikan atau Pelatihan Pelayaran

Calon pelaut umumnya memulai dari pendidikan di SMK pelayaran, politeknik pelayaran, akademi maritim, atau lembaga pelatihan yang relevan. Pada tahap ini, mereka belajar dasar-dasar navigasi, keselamatan, meteorologi, hukum maritim, komunikasi, stabilitas kapal, dan pengetahuan teknis lain.

2. Magang, Cadet, atau Praktik Laut

Setelah memperoleh dasar teori, calon pelaut perlu menjalani praktik. Pada tahap ini, mereka belum memegang tanggung jawab seperti perwira penuh. Peran mereka lebih banyak belajar, mengamati, membantu pekerjaan tertentu, mencatat pengalaman, dan memenuhi persyaratan praktik sesuai ketentuan pendidikan atau program.

Inilah alasan mengapa penghasilan peserta magang tidak bisa langsung dibandingkan dengan gaji nakhoda. Uang saku magang lebih tepat dipahami sebagai dukungan selama proses pelatihan, bukan imbalan penuh atas jabatan profesional. Dalam konteks administratif, hal ini mirip dengan perbedaan antara peserta pelatihan dan pekerja yang sudah memiliki hubungan kerja sebagaimana dibahas dalam artikel uang saku dan upah peserta magang.

3. Menjadi Perwira Junior

Setelah memenuhi persyaratan pendidikan, praktik, sertifikasi, dan pengalaman tertentu, seseorang dapat mulai masuk ke posisi perwira junior. Pada tahap ini, tanggung jawab meningkat, terutama dalam dinas jaga, navigasi, administrasi dek, dan pelaksanaan instruksi nakhoda atau perwira senior.

4. Naik ke Mualim I atau Chief Mate

Mualim I adalah posisi penting di bawah nakhoda. Tugasnya bisa mencakup pengawasan operasional dek, pengaturan muatan, pengawasan awak, dan menggantikan nakhoda jika diperlukan. Karena tanggung jawabnya lebih besar, posisi ini biasanya memiliki gaji lebih tinggi dibanding perwira junior.

5. Menjadi Nakhoda

Nakhoda adalah puncak karier bagian dek. Posisi ini membutuhkan kombinasi kompetensi teknis, pengalaman, kepemimpinan, ketenangan dalam mengambil keputusan, serta pemahaman regulasi pelayaran. Gaji nakhoda dapat tinggi karena tanggung jawabnya tidak hanya pada operasional, tetapi juga keselamatan manusia, aset, muatan, dan kepatuhan hukum.

Hal yang Harus Dicek Sebelum Menerima Tawaran Kerja atau Magang di Kapal

Karena industri pelayaran memiliki sistem kerja yang berbeda dengan pekerjaan kantoran biasa, calon pelaut perlu memeriksa tawaran kerja atau magang secara cermat. Jangan hanya melihat angka gaji besar, tetapi cek juga legalitas perusahaan, jenis kapal, durasi kontrak, dokumen kerja, fasilitas, asuransi, potongan, dan kewajiban selama bekerja.

1. Cek Status Program: Magang atau Hubungan Kerja

Pertama, pastikan apakah posisi yang ditawarkan merupakan program magang, cadet, praktik laut, trainee, pekerja kontrak, atau pekerja profesional. Perbedaan status ini akan memengaruhi hak, kompensasi, tanggung jawab, dan dokumen yang harus ditandatangani.

2. Cek Besaran Uang Saku atau Gaji

Untuk program magang, pastikan uang saku, fasilitas, transportasi, akomodasi, jaminan sosial, dan durasi program tertulis jelas. Untuk hubungan kerja profesional, pastikan gaji pokok, tunjangan, premi, potongan, dan jadwal pembayaran dijelaskan secara transparan. Jika ada penghitungan proporsional karena bekerja tidak sebulan penuh, perusahaan dapat mengacu pada prinsip gaji prorate atau cara menghitung gaji prorata pegawai.

3. Cek Sertifikat yang Diminta

Pastikan sertifikat yang diminta sesuai dengan jabatan dan jenis kapal. Waspadai tawaran kerja yang meminta biaya besar tanpa penjelasan resmi, menjanjikan jabatan tinggi tanpa pengalaman, atau tidak menjelaskan syarat dokumen pelaut secara transparan.

4. Cek Perjanjian Kerja Laut atau Kontrak

Untuk pekerja kapal, Perjanjian Kerja Laut menjadi dokumen penting karena memuat hak dan kewajiban, jabatan, upah, periode kerja, serta ketentuan lain. Jangan menandatangani dokumen yang belum dipahami. Bila perlu, mintalah waktu untuk membaca atau berkonsultasi.

5. Cek Perlindungan dan Jaminan Sosial

Pekerjaan di kapal memiliki risiko yang berbeda dengan pekerjaan di darat. Karena itu, perlindungan kerja, jaminan sosial, asuransi, fasilitas medis, dan prosedur keselamatan perlu diperhatikan sejak awal. Hal ini bukan hanya penting bagi pekerja, tetapi juga bagi perusahaan agar kepatuhan dan reputasi tetap terjaga.

Catatan untuk HR dan Perusahaan Pelayaran

Bagi HR perusahaan pelayaran, pengelolaan gaji nakhoda dan perwira geladak kapal membutuhkan ketelitian lebih tinggi dibanding payroll umum. Hal ini karena struktur penghasilan dapat melibatkan komponen rutin, tunjangan jabatan, tunjangan pelayaran, premi, jaminan sosial, pajak, jadwal naik-turun kapal, serta dokumen kerja khusus.

Perusahaan sebaiknya memiliki struktur pengupahan yang transparan berdasarkan jabatan, sertifikat, pengalaman, jenis kapal, dan tanggung jawab. Selain itu, perusahaan juga perlu membuat slip gaji yang mudah dipahami agar pekerja mengetahui perbedaan antara penghasilan bruto, potongan, dan take home pay. Panduan dasar mengenai administrasi ini dapat dibaca pada artikel contoh slip gaji di Excel.

Checklist Payroll untuk Pekerja Kapal

  • Pastikan jabatan dan grade pekerja tercatat dengan benar.
  • Pastikan sertifikat dan dokumen pelaut masih berlaku.
  • Pastikan gaji pokok dan tunjangan tertulis jelas dalam kontrak atau PKL.
  • Pastikan skema pajak sesuai status penghasilan.
  • Pastikan kepesertaan jaminan sosial diperiksa secara berkala.
  • Pastikan pembayaran dilakukan tepat waktu.
  • Pastikan slip gaji mencantumkan komponen penghasilan dan potongan secara transparan.

Dalam menentukan nilai upah, perusahaan juga tetap perlu memperhatikan prinsip upah minimum dan pemahaman umum mengenai UMR, UMP, dan UMK. Meski industri pelayaran memiliki karakteristik khusus, prinsip keadilan, kepatuhan, dan transparansi upah tetap penting untuk menjaga hubungan kerja yang sehat.

FAQ tentang Gaji Nakhoda, Perwira Geladak, dan Magang Pelaut

Berapa gaji nakhoda kapal di Indonesia?

Berdasarkan data WageIndicator/Gajimu 2026, kisaran gaji profesi nakhoda dan perwira geladak kapal berada sekitar Rp5.684.647 sampai Rp71.922.919 per bulan. Namun, angka aktual dapat berbeda tergantung jabatan, jenis kapal, perusahaan, pengalaman, sertifikat, dan isi perjanjian kerja.

Apakah perwira geladak kapal sama dengan nakhoda?

Tidak selalu. Nakhoda adalah pemimpin tertinggi di atas kapal. Perwira geladak kapal adalah perwira bagian dek yang membantu fungsi navigasi, pengawasan, muatan, dan keselamatan. Mualim I berada satu tingkat di bawah nakhoda, sedangkan Mualim II atau Mualim III biasanya berada pada level perwira yang lebih junior.

Apakah peserta magang pelaut mendapatkan gaji?

Peserta magang umumnya mendapatkan uang saku atau fasilitas sesuai perjanjian program, bukan gaji penuh seperti pekerja profesional. Besaran dan bentuknya perlu dilihat dari perjanjian magang, kebijakan perusahaan, lembaga pendidikan, atau program pemerintah yang diikuti.

Apakah uang saku magang dikenakan PPh 21?

Dalam prinsip pajak, penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan dapat menjadi objek PPh 21. Untuk program pemagangan lulusan perguruan tinggi tertentu pada 2026, terdapat fasilitas PPh 21 ditanggung pemerintah jika memenuhi syarat. Namun, hal ini tidak otomatis berlaku untuk semua program magang. HR perlu mengecek dasar program dan ketentuan pajaknya.

Apakah lulusan baru bisa langsung menjadi nakhoda?

Umumnya tidak. Posisi nakhoda membutuhkan pengalaman berlayar, sertifikasi, kompetensi, dan rekam jejak yang memadai. Lulusan baru biasanya memulai dari tahap cadet, praktik laut, atau posisi junior sebelum naik ke jenjang perwira dan akhirnya berpeluang menjadi nakhoda.

Apa yang membuat gaji nakhoda kapal bisa tinggi?

Gaji nakhoda dapat tinggi karena tanggung jawabnya besar. Ia bertanggung jawab terhadap keselamatan kapal, awak, muatan, penumpang, rute pelayaran, dokumen, serta pengambilan keputusan dalam situasi darurat. Selain itu, jenis kapal, rute internasional, kapal tanker, kapal offshore, dan sertifikat khusus juga dapat meningkatkan nilai kompensasi.

Apakah gaji pelaut selalu dibayar bulanan?

Tergantung perjanjian kerja dan kebijakan perusahaan. Ada yang menggunakan pembayaran bulanan, ada pula yang menghitung berdasarkan periode kontrak, masa layar, atau sistem tertentu. Karena itu, pekerja perlu membaca kontrak dan memastikan jadwal pembayaran tertulis jelas.

Apa bedanya gaji pokok, tunjangan, dan take home pay?

Gaji pokok adalah penghasilan dasar. Tunjangan adalah tambahan penghasilan yang bisa bersifat tetap atau tidak tetap. Take home pay adalah jumlah yang diterima pekerja setelah memperhitungkan seluruh penghasilan dan potongan seperti pajak, jaminan sosial, atau potongan lain yang sah. Pembahasan umum tentang hal ini dapat dilihat pada artikel cara menghitung gaji bersih.

Kesimpulan

Nakhoda dan perwira geladak kapal adalah profesi dengan tanggung jawab besar di industri pelayaran. Mereka tidak hanya bekerja mengarahkan kapal, tetapi juga menjaga keselamatan, mengawasi navigasi, memimpin awak kapal, mengelola risiko, serta memastikan operasi pelayaran berjalan sesuai prosedur. Karena tanggung jawab tersebut, kisaran gajinya bisa cukup kompetitif, terutama untuk pekerja yang sudah berpengalaman dan memiliki sertifikasi lengkap.

Berdasarkan data 2026, gaji nakhoda dan perwira geladak kapal dapat berada pada rentang jutaan hingga puluhan juta rupiah per bulan. Namun, angka tersebut tidak bisa langsung disamakan dengan uang saku magang. Peserta magang atau cadet masih berada pada tahap belajar dan praktik, sehingga kompensasinya bergantung pada program, perjanjian, fasilitas, serta ketentuan yang berlaku.

Bagi calon pelaut, penting untuk membangun karier secara bertahap melalui pendidikan, praktik laut, sertifikasi, dan pengalaman. Bagi HR dan perusahaan pelayaran, penting untuk mengelola struktur upah, kontrak, pajak, jaminan sosial, dan slip gaji secara transparan. Dengan administrasi yang rapi dan pemahaman yang tepat, profesi pelaut bagian dek dapat menjadi jalur karier yang menjanjikan sekaligus tetap terlindungi secara hukum.

Referensi Eksternal


Putri Ayudhia

Putri Ayudhia

Putri Ayudhia adalah seorang penulis konten SEO dan blogger paruh waktu yang telah bekerja secara profesional selama lebih dari 7 tahun. Dia telah membantu berbagai perusahaan di Indonesia untuk menulis konten yang berkualitas, SEO-friendly, dan relevan dengan bidang HR dan Psikologi. Ayudhia memiliki pengetahuan yang kuat dalam SEO dan penulisan konten. Dia juga memiliki pengetahuan mendalam tentang HR dan Psikologi, yang membantu dia dalam menciptakan konten yang relevan dan berbobot. Dia memiliki keterampilan dalam melakukan riset pasar dan analisis, yang membantu dia dalam menciptakan strategi konten yang efektif.
https://bloghrd.com