Gaji Pekerja Perikanan Tangkap, Tugas, Risiko & Hak Kerja

Pekerja perikanan tangkap di perairan umum dan pesisir memiliki peran penting dalam rantai pasok pangan Indonesia. Mereka menangkap ikan, udang, kerang, kepiting, dan berbagai hasil perairan lain untuk dijual ke pedagang, pengepul, pasar tradisional, tempat pelelangan ikan, industri pengolahan, restoran, atau jalur distribusi lainnya.

Profesi ini dapat dilakukan secara mandiri oleh nelayan kecil, bersama keluarga, dalam kelompok usaha, atau sebagai awak kapal nelayan. Lokasinya juga beragam, mulai dari perairan pesisir, sungai, danau, waduk, rawa, muara, hingga wilayah perairan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.

Walaupun sering dianggap sebagai pekerjaan tradisional, pekerjaan perikanan tangkap membutuhkan keterampilan yang tidak sederhana. Pekerja perlu memahami cuaca, arus, musim ikan, alat tangkap, keselamatan di air, perawatan peralatan, penanganan hasil tangkapan, hingga cara menjual hasil agar tidak merugi.

Karena itu, pembahasan gaji pekerja perikanan tangkap di perairan umum dan pesisir tidak cukup hanya melihat angka bulanan. Penghasilan pekerja di sektor ini sangat dipengaruhi oleh musim, lokasi, hasil tangkapan, harga ikan, biaya bahan bakar, sistem bagi hasil, status kerja, ukuran kapal, dan risiko pekerjaan.

Berapa Gaji Pekerja Perikanan Tangkap di Indonesia Tahun 2026?

Berdasarkan data gaji terbaru, mayoritas pekerja pada profesi Pekerja Perikanan Tangkap di Perairan Umum dan Pesisir memperoleh penghasilan sekitar Rp3.703.262 hingga Rp6.056.274 per bulan pada 2026.

Untuk pekerja pada awal karier, kisaran pendapatan biasanya berada di sekitar Rp3.703.262 hingga Rp6.312.174 bersih per bulan. Setelah memiliki pengalaman kerja sekitar lima tahun, pendapatan dapat meningkat menjadi sekitar Rp4.297.218 hingga Rp6.552.655 per bulan untuk pola kerja 40 jam per minggu.

Kategori Pengalaman Estimasi Kisaran Penghasilan per Bulan Catatan
Entry level / awal karier Rp3.703.262 – Rp6.312.174 Umumnya untuk pekerja baru, awak kapal pemula, atau nelayan yang masih belajar alat tangkap dan pola musim.
Pengalaman 1–3 tahun Rp3.700.000 – Rp6.300.000 Bisa berbeda tergantung lokasi, hasil tangkapan, sistem bagi hasil, dan biaya operasional.
Pengalaman sekitar 5 tahun Rp4.297.218 – Rp6.552.655 Biasanya sudah lebih memahami musim, area tangkap, alat tangkap, dan penanganan hasil.
Awak kapal berpengalaman Bisa lebih tinggi Penghasilan dapat meningkat jika bekerja pada kapal lebih besar, hasil tangkapan tinggi, atau sistem bagi hasil menguntungkan.
Koordinator, juragan, atau pemilik kapal kecil Sangat bervariasi Penghasilan dipengaruhi modal, biaya BBM, alat tangkap, harga jual ikan, dan jumlah awak.

Angka di atas sebaiknya dipahami sebagai gambaran umum. Dalam praktik lapangan, tidak semua pekerja perikanan menerima gaji tetap bulanan. Banyak pekerja bekerja dengan sistem bagi hasil, upah harian, pembayaran per trip, atau pendapatan yang mengikuti nilai penjualan hasil tangkapan.

Karena itu, perusahaan, koperasi, pemilik kapal, dan pekerja perlu memahami dasar sistem upah ketenagakerjaan di Indonesia agar pengaturan pembayaran lebih transparan. Untuk pekerja yang masuk dalam hubungan kerja formal, pembahasan tentang struktur dan skala upah juga dapat menjadi referensi dalam menyusun sistem penghasilan yang lebih jelas.

Mengapa Penghasilan Pekerja Perikanan Tangkap Bisa Berbeda-beda?

Penghasilan pekerja perikanan tangkap sangat dinamis. Dalam satu bulan, pendapatan bisa tinggi jika hasil tangkapan bagus dan harga jual sedang baik. Namun, pada bulan lain pendapatan bisa menurun karena cuaca buruk, musim paceklik, biaya bahan bakar naik, atau hasil tangkapan berkurang.

Inilah yang membuat profesi perikanan tangkap berbeda dari pekerjaan kantoran dengan gaji tetap. Berikut beberapa faktor utama yang memengaruhi penghasilan pekerja perikanan di perairan umum dan pesisir.

1. Lokasi dan Potensi Perairan

Lokasi menentukan jenis ikan, musim tangkap, jarak melaut, biaya operasional, dan harga jual. Nelayan di daerah pesisir yang dekat dengan pasar besar atau tempat pelelangan ikan dapat memiliki peluang berbeda dibandingkan pekerja di perairan pedalaman yang bergantung pada sungai, danau, rawa, atau waduk.

Daerah dengan akses distribusi yang baik biasanya lebih mudah menjual hasil tangkapan. Sebaliknya, wilayah dengan infrastruktur terbatas dapat menghadapi tantangan harga, penyimpanan, dan pengiriman.

2. Musim dan Kondisi Cuaca

Cuaca merupakan faktor besar dalam pekerjaan perikanan tangkap. Gelombang tinggi, hujan, angin kencang, banjir, atau perubahan arus dapat memengaruhi keselamatan dan hasil tangkapan.

Pada musim tertentu, nelayan mungkin tidak bisa bekerja setiap hari. Hal ini dapat membuat pendapatan tidak stabil, terutama bagi pekerja yang tidak memiliki tabungan, pekerjaan sampingan, atau sistem perlindungan sosial yang memadai.

3. Jenis Alat Tangkap

Jenis alat tangkap yang digunakan memengaruhi produktivitas dan biaya kerja. Alat tangkap yang lebih efektif dapat meningkatkan hasil, tetapi biasanya membutuhkan modal dan perawatan yang lebih besar.

Di sisi lain, pekerja juga perlu memperhatikan aturan penggunaan alat tangkap agar tidak merusak ekosistem. Penggunaan alat yang tidak sesuai dapat berdampak pada keberlanjutan sumber daya ikan dan menimbulkan risiko hukum.

4. Sistem Bagi Hasil

Dalam banyak komunitas nelayan, pendapatan dibagi berdasarkan kesepakatan antara pemilik kapal, nakhoda, awak kapal, dan pihak lain yang terlibat. Sistem ini dapat berbeda di setiap daerah.

Beberapa biaya operasional, seperti bahan bakar, es, logistik, perbaikan alat, atau biaya pelabuhan, dapat dipotong terlebih dahulu sebelum hasil dibagi. Karena itu, pekerja perlu memahami kesepakatan kerja sejak awal agar tidak terjadi kesalahpahaman.

5. Status Kerja

Pekerja perikanan tangkap dapat berstatus pekerja mandiri, awak kapal, pekerja harian, pekerja kontrak, atau pekerja yang bekerja melalui pihak tertentu. Status ini memengaruhi cara pembayaran, hak kerja, jaminan sosial, dan perlindungan jika terjadi kecelakaan.

Jika pekerja bekerja secara harian atau tidak tetap, artikel tentang pekerja harian, manfaat, dan perhitungan pajaknya dapat menjadi bacaan lanjutan. Jika hubungan kerja menggunakan kontrak, pembahasan tentang ketentuan PKWT dan jenis-jenis pekerjaannya juga relevan.

Apa Saja Tugas Pekerja Perikanan Tangkap?

Tugas pekerja perikanan tangkap tidak hanya menangkap ikan. Mereka juga menyiapkan alat, menjaga keselamatan, menangani hasil tangkapan, membersihkan peralatan, memperbaiki jaring, dan memastikan hasil dapat dijual dalam kondisi baik.

Dalam banyak kasus, pekerjaan ini dilakukan sejak dini hari, malam hari, atau mengikuti waktu terbaik untuk menangkap ikan. Jam kerja bisa tidak teratur karena mengikuti kondisi alam dan kebiasaan ikan di perairan tertentu.

1. Menyiapkan Kapal, Perahu, dan Alat Tangkap

Sebelum berangkat, pekerja perlu memeriksa perahu, mesin, bahan bakar, jaring, pancing, bubu, perangkap, kotak penyimpanan, es, dan perlengkapan keselamatan. Persiapan yang buruk dapat menyebabkan hasil tangkapan menurun atau bahkan membahayakan keselamatan.

Pekerjaan yang berkaitan dengan kapal juga memiliki hubungan dengan profesi awak kapal serta petugas geladak kapal dan pilot, meskipun ruang lingkup dan jenis kapalnya dapat berbeda.

2. Menangkap Ikan atau Mengumpulkan Hasil Perairan

Tugas utama pekerja adalah menangkap ikan atau mengumpulkan hasil perairan lain. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan berbagai alat, tergantung jenis perairan, target tangkapan, dan kebiasaan lokal.

Untuk pekerjaan yang dilakukan lebih jauh dari pesisir, pembaca dapat melihat pembahasan tentang pekerja penangkap ikan di laut dalam. Sementara untuk pekerjaan yang lebih rutin dan sederhana di sektor perikanan, artikel tentang buruh penangkapan dan budidaya perikanan juga masih berkaitan.

3. Menjaga Kualitas Hasil Tangkapan

Setelah ikan ditangkap, pekerja perlu menjaga kualitasnya. Ikan harus disortir, dibersihkan jika diperlukan, disimpan dengan es, dan dilindungi dari panas agar tidak cepat rusak.

Kualitas hasil sangat memengaruhi harga jual. Ikan yang segar dan tertangani dengan baik biasanya memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan ikan yang rusak, memar, atau terlambat didinginkan.

4. Menjual atau Menyerahkan Hasil Tangkapan

Hasil tangkapan dapat dijual ke pengepul, pedagang borongan, tempat pelelangan ikan, pasar lokal, rumah makan, atau organisasi pemasaran. Di beberapa daerah, nelayan kecil masih bergantung pada pengepul karena keterbatasan akses pasar dan fasilitas penyimpanan.

Semakin baik akses ke pasar, semakin besar peluang pekerja mendapatkan harga yang lebih adil. Karena itu, koperasi, kelompok nelayan, dan sistem distribusi yang transparan dapat membantu meningkatkan posisi tawar pekerja perikanan.

5. Merawat Alat dan Perlengkapan

Jaring robek, mesin rusak, tali putus, atau alat tangkap yang tidak dirawat dapat menurunkan produktivitas. Karena itu, pekerja perikanan perlu memiliki keterampilan dasar dalam merawat dan memperbaiki perlengkapan.

Perawatan ini penting karena biaya peralatan dapat menjadi beban besar, terutama bagi nelayan kecil yang modalnya terbatas.

Skill yang Dibutuhkan Pekerja Perikanan Tangkap

Pekerjaan perikanan tangkap biasanya tidak selalu mensyaratkan pendidikan formal tinggi. Namun, pekerjaan ini membutuhkan keterampilan praktis yang kuat, pengalaman lapangan, dan kemampuan membaca kondisi alam.

1. Memahami Cuaca dan Kondisi Perairan

Pekerja perlu memahami tanda-tanda cuaca, arah angin, arus, pasang surut, kondisi air, dan musim ikan. Pengetahuan ini biasanya diperoleh dari pengalaman, pelatihan, dan pembelajaran dari nelayan senior.

Kemampuan membaca kondisi alam sangat penting karena berkaitan langsung dengan keselamatan dan hasil kerja.

2. Mengoperasikan Alat Tangkap

Setiap alat tangkap memiliki teknik penggunaan yang berbeda. Pekerja perlu memahami cara memasang, menarik, membersihkan, memperbaiki, dan menyimpan alat tersebut agar tetap awet dan efektif.

3. Menjaga Keselamatan Kerja

Keselamatan menjadi aspek penting dalam pekerjaan ini. Risiko jatuh ke air, luka karena alat tajam, terpeleset, cuaca buruk, kelelahan, hingga kecelakaan kapal harus diperhatikan.

Dalam konteks kerja secara umum, pembaca dapat memahami dasar keselamatan dan kesehatan kerja serta jaminan kecelakaan kerja. Untuk pekerja perikanan, prinsip tersebut menjadi sangat penting karena lingkungan kerjanya memiliki risiko tinggi.

4. Mengelola Hasil dan Biaya Operasional

Pekerja perikanan perlu memahami biaya bahan bakar, es, perawatan alat, perbekalan, perbaikan kapal, dan biaya lain yang memengaruhi pendapatan bersih. Hasil tangkapan yang besar belum tentu berarti pendapatan tinggi jika biaya operasional juga besar.

5. Bekerja dalam Tim

Jika bekerja sebagai awak kapal, kerja sama tim sangat penting. Setiap orang memiliki peran, mulai dari menyiapkan alat, mengoperasikan perahu, menebar jaring, menarik hasil tangkapan, hingga menyimpan ikan.

Koordinasi yang buruk dapat menurunkan hasil dan meningkatkan risiko kecelakaan.

Hak Kerja yang Perlu Dipahami Pekerja Perikanan

Pekerja perikanan tangkap, terutama awak kapal perikanan, semakin mendapat perhatian dari sisi perlindungan kerja. Pemerintah memperkuat tata kelola pengawakan kapal perikanan, perjanjian kerja, sertifikasi, jaminan sosial, dan keselamatan kerja.

1. Perjanjian Kerja yang Jelas

Pekerja perlu memiliki kesepakatan yang jelas mengenai sistem pembayaran, pembagian hasil, masa kerja, biaya yang dipotong, tanggung jawab masing-masing pihak, dan mekanisme penyelesaian masalah.

Untuk awak kapal perikanan, Perjanjian Kerja Laut menjadi salah satu instrumen penting karena memuat persyaratan kerja, jaminan upah, jaminan kesehatan, asuransi kecelakaan, keamanan, serta perlindungan hukum.

2. Upah atau Bagi Hasil yang Transparan

Salah satu masalah umum dalam pekerjaan perikanan adalah ketidakjelasan perhitungan hasil. Pekerja perlu mengetahui nilai penjualan, biaya yang dipotong, dan bagian yang menjadi haknya.

Pembahasan ini berkaitan dengan prinsip pengupahan serta perbedaan upah dan gaji. Dalam sektor perikanan, bentuk penghasilan tidak selalu berupa gaji tetap, sehingga transparansi menjadi sangat penting.

3. Perlindungan Jaminan Sosial

Pekerjaan perikanan memiliki risiko kecelakaan yang tinggi. Karena itu, pekerja perlu mendapatkan perlindungan jaminan sosial sesuai ketentuan yang berlaku.

Untuk memahami konteks ini, pekerja dan pemilik usaha dapat membaca panduan tentang BPJS Ketenagakerjaan serta manfaat dan iuran BPJS Ketenagakerjaan.

4. Jam Kerja dan Waktu Istirahat

Jam kerja di sektor perikanan sering tidak sama seperti pekerjaan kantor. Pekerja dapat berangkat malam, pulang pagi, atau bekerja mengikuti musim dan kondisi cuaca. Meski demikian, waktu istirahat tetap penting untuk mencegah kelelahan dan kecelakaan.

Untuk pekerjaan yang menggunakan sistem bergilir, artikel tentang pembagian shift kerja dapat menjadi referensi. Jika ada pekerjaan tambahan yang memenuhi ketentuan lembur, pembahasan ketentuan upah lembur karyawan atau pegawai juga relevan untuk dipahami dalam hubungan kerja formal.

5. Kesempatan Mengikuti Pelatihan

Pekerja perikanan dapat meningkatkan keterampilan melalui pelatihan keselamatan, teknik penangkapan, penanganan hasil, navigasi dasar, perawatan alat, dan pengelolaan usaha kecil.

Pelatihan penting karena pekerjaan perikanan tidak hanya membutuhkan tenaga fisik, tetapi juga pengetahuan teknis. Pembaca dapat melihat artikel tentang pentingnya pelatihan kerja dan metode pelatihan kerja sebagai referensi pengembangan keterampilan.

Perbedaan Pekerja Perikanan Tangkap, Buruh Perikanan, dan Manajer Produksi Perikanan

Dalam sektor perikanan, ada beberapa profesi yang saling berkaitan tetapi memiliki tanggung jawab berbeda. Memahami perbedaannya membantu pembaca melihat jenjang kerja dan peluang pengembangan karier.

1. Pekerja Perikanan Tangkap di Perairan Umum dan Pesisir

Profesi ini berfokus pada penangkapan ikan atau pengumpulan hasil perairan di kawasan pesisir dan perairan umum daratan. Pekerja dapat bekerja secara mandiri atau menjadi bagian dari kelompok nelayan.

2. Buruh Penangkapan dan Budidaya Perikanan

Buruh perikanan biasanya mengerjakan tugas rutin dan sederhana, baik dalam penangkapan maupun budidaya. Tugasnya bisa mencakup membantu memanen, membersihkan, mengangkut, atau menyiapkan peralatan.

Artikel tentang buruh penangkapan dan budidaya perikanan dapat menjadi bacaan tambahan untuk membandingkan ruang lingkup pekerjaannya.

3. Manajer Produksi Perikanan

Manajer produksi perikanan memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam mengatur kegiatan produksi, tenaga kerja, biaya, target hasil, dan strategi usaha. Posisi ini membutuhkan pengalaman, kemampuan manajemen, dan pemahaman bisnis yang lebih kuat.

Untuk jenjang yang lebih tinggi, pembaca dapat melihat artikel tentang manajer produksi perikanan dan tanaman air.

4. Penasihat Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

Pekerja yang memiliki pengalaman luas dan pengetahuan teknis juga dapat berkembang ke arah pendampingan, penyuluhan, atau konsultasi. Peran seperti ini berkaitan dengan penasihat pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Komponen Penghasilan Pekerja Perikanan Tangkap

Penghasilan pekerja perikanan tangkap dapat terdiri dari beberapa bentuk, tergantung status kerja dan kesepakatan. Karena itu, pekerja perlu memahami apa saja yang termasuk penghasilan kotor, biaya operasional, dan pendapatan bersih.

  • Upah tetap bulanan, jika bekerja sebagai karyawan atau awak kapal dengan sistem gaji.
  • Upah harian, jika bekerja berdasarkan hari kerja atau trip tertentu.
  • Bagi hasil dari nilai penjualan tangkapan.
  • Bonus atau tambahan tertentu jika hasil tangkapan melebihi target.
  • Uang makan atau perbekalan selama bekerja, jika disediakan.
  • Jaminan sosial atau asuransi kecelakaan, jika diikutsertakan.
  • THR, cuti, atau benefit lain jika status hubungan kerja memenuhi ketentuan.

Dalam hubungan kerja formal, komponen tersebut dapat dibandingkan dengan konsep komponen gaji karyawan. Namun, untuk nelayan mandiri atau sistem bagi hasil tradisional, perhitungannya bisa berbeda karena pendapatan sangat bergantung pada hasil tangkapan dan biaya usaha.

Apakah Pekerja Perikanan Berhak atas Upah Minimum?

Jawabannya bergantung pada status hubungan kerja. Jika pekerja berstatus karyawan atau buruh dalam hubungan kerja formal, maka prinsip pengupahan dan upah minimum dapat berlaku sesuai ketentuan. Namun, jika pekerja bekerja sebagai nelayan mandiri atau pemilik usaha kecil, pendapatannya lebih bergantung pada hasil usaha.

Karena itu, penting untuk membedakan antara pekerja berupah dan pekerja mandiri. Artikel tentang pengertian UMR, UMP, dan UMK dapat membantu memahami posisi upah minimum dalam hubungan kerja.

Untuk pekerja yang bekerja melalui pihak ketiga atau sistem penempatan tertentu, pembahasan tentang pekerja outsourcing atau alih daya juga dapat menjadi referensi, meskipun praktik di sektor perikanan memiliki kekhasan tersendiri.

Risiko Kerja Pekerja Perikanan Tangkap

Pekerjaan perikanan tangkap memiliki risiko yang tidak kecil. Risiko tersebut bukan hanya terkait fisik, tetapi juga ekonomi, kesehatan, dan keberlanjutan usaha.

1. Risiko Cuaca dan Kecelakaan

Cuaca buruk, gelombang tinggi, arus kuat, atau perahu rusak dapat membahayakan pekerja. Karena itu, perlengkapan keselamatan seperti pelampung, komunikasi, penerangan, dan pengetahuan dasar pertolongan darurat sangat penting.

2. Risiko Kesehatan

Pekerja perikanan sering terpapar panas matahari, air, angin, kelembapan, luka karena alat tajam, dan kelelahan. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan jangka panjang.

3. Risiko Pendapatan Tidak Stabil

Pendapatan dapat turun saat musim buruk, hasil tangkapan sedikit, atau harga ikan rendah. Karena itu, pekerja perlu mengelola keuangan dengan hati-hati, terutama jika pendapatannya berbasis harian atau bagi hasil.

4. Risiko Ketergantungan pada Pengepul

Di beberapa daerah, nelayan kecil bergantung pada pengepul karena keterbatasan modal, pendingin, transportasi, dan akses pasar. Ketergantungan ini dapat memengaruhi posisi tawar harga.

5. Risiko Keberlanjutan Sumber Daya

Jika penangkapan ikan dilakukan secara berlebihan atau menggunakan alat yang merusak, sumber daya perikanan dapat menurun. Dalam jangka panjang, hal ini akan memengaruhi pendapatan nelayan sendiri.

Cara Meningkatkan Penghasilan Pekerja Perikanan

Meningkatkan penghasilan di sektor perikanan tidak selalu berarti menangkap ikan lebih banyak. Pekerja juga perlu memperhatikan kualitas hasil, efisiensi biaya, akses pasar, dan keberlanjutan sumber daya.

1. Memperbaiki Penanganan Hasil Tangkapan

Ikan yang ditangani dengan baik dapat memiliki harga jual lebih tinggi. Penggunaan es, wadah bersih, pemisahan ukuran, dan proses distribusi yang cepat dapat membantu menjaga kualitas.

2. Mengurangi Biaya Operasional

Biaya bahan bakar, perawatan alat, dan logistik dapat mengurangi pendapatan bersih. Dengan pengelolaan yang lebih efisien, pekerja atau kelompok nelayan dapat meningkatkan keuntungan tanpa harus menambah risiko.

3. Bergabung dengan Kelompok atau Koperasi

Kelompok nelayan atau koperasi dapat membantu memperkuat posisi tawar, membeli perlengkapan bersama, mengakses pelatihan, memperoleh bantuan, atau menjual hasil dengan harga yang lebih baik.

4. Mengembangkan Produk Turunan

Sebagian hasil tangkapan dapat diolah menjadi ikan asin, ikan asap, abon ikan, kerupuk ikan, atau produk olahan lain. Diversifikasi ini dapat membantu meningkatkan nilai jual, terutama saat harga ikan segar sedang rendah.

5. Memahami Pasar dan Harga

Pekerja yang memahami harga pasar dapat membuat keputusan lebih baik, misalnya kapan menjual, kepada siapa menjual, atau apakah hasil tangkapan perlu disimpan sementara jika fasilitas memungkinkan.

Prospek Kerja Pekerja Perikanan Tangkap

Prospek pekerjaan perikanan tangkap masih penting karena ikan dan produk perairan merupakan bagian besar dari konsumsi masyarakat Indonesia. Selain itu, sektor ini menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga di wilayah pesisir dan perairan umum.

Namun, tantangannya juga semakin besar. Perubahan iklim, biaya operasional, fluktuasi harga, keberlanjutan sumber daya, keselamatan kerja, dan akses pasar menjadi isu yang perlu diperhatikan.

Ke depan, pekerja perikanan yang mampu beradaptasi dengan teknologi, memperbaiki kualitas hasil, mengikuti pelatihan, dan memahami aturan akan memiliki peluang lebih baik. Sementara itu, pemerintah, koperasi, dan pelaku usaha perlu mendukung perlindungan kerja serta tata kelola perikanan yang lebih adil.

Tips untuk Pekerja Perikanan Tangkap Pemula

Bagi pemula yang ingin bekerja di sektor perikanan tangkap, beberapa hal berikut dapat membantu memulai dengan lebih aman dan terarah.

1. Belajar dari Pekerja Berpengalaman

Pengetahuan lokal sangat penting. Pelajari pola musim, lokasi tangkap, jenis alat, risiko perairan, dan cara menangani hasil dari nelayan yang sudah berpengalaman.

2. Pahami Kesepakatan Kerja Sejak Awal

Sebelum ikut bekerja, pastikan sistem pembayaran, pembagian hasil, biaya yang dipotong, waktu kerja, dan tanggung jawab sudah jelas.

3. Jangan Abaikan Keselamatan

Gunakan perlengkapan keselamatan, pahami kondisi cuaca, dan jangan memaksakan berangkat jika kondisi perairan berbahaya.

4. Pelajari Penanganan Hasil

Hasil tangkapan yang segar dapat meningkatkan harga jual. Karena itu, cara menyimpan dan menjaga kualitas ikan sangat penting.

5. Mulai Mencatat Penghasilan dan Biaya

Catatan sederhana tentang hasil tangkapan, harga jual, biaya bahan bakar, biaya es, dan pembagian hasil dapat membantu pekerja memahami pendapatan bersih yang sebenarnya.

Kesimpulan

Gaji atau penghasilan pekerja perikanan tangkap di perairan umum dan pesisir pada 2026 berada pada kisaran sekitar Rp3.703.262 hingga Rp6.056.274 per bulan. Untuk pekerja awal, kisaran pendapatan berada di sekitar Rp3.703.262 hingga Rp6.312.174 per bulan, sedangkan setelah pengalaman sekitar lima tahun dapat meningkat menjadi sekitar Rp4.297.218 hingga Rp6.552.655 per bulan.

Namun, profesi ini tidak selalu memiliki pola gaji tetap. Banyak pekerja perikanan menerima pendapatan berdasarkan sistem bagi hasil, upah harian, nilai tangkapan, atau kesepakatan per trip. Karena itu, penghasilan sangat dipengaruhi oleh musim, lokasi, alat tangkap, biaya operasional, harga ikan, dan sistem kerja.

Pekerja perikanan tangkap memiliki peran penting dalam ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat pesisir. Mereka membantu memasok ikan dan produk perairan untuk pasar Indonesia, sekaligus menjaga roda ekonomi lokal tetap berjalan.

Di sisi lain, pekerjaan ini memiliki risiko tinggi. Keselamatan kerja, jaminan sosial, perjanjian kerja yang jelas, pengupahan yang transparan, dan pelatihan menjadi faktor penting agar pekerja perikanan dapat bekerja dengan lebih aman dan sejahtera.

Referensi Eksternal


Putri Ayudhia

Putri Ayudhia

Putri Ayudhia adalah seorang penulis konten SEO dan blogger paruh waktu yang telah bekerja secara profesional selama lebih dari 7 tahun. Dia telah membantu berbagai perusahaan di Indonesia untuk menulis konten yang berkualitas, SEO-friendly, dan relevan dengan bidang HR dan Psikologi. Ayudhia memiliki pengetahuan yang kuat dalam SEO dan penulisan konten. Dia juga memiliki pengetahuan mendalam tentang HR dan Psikologi, yang membantu dia dalam menciptakan konten yang relevan dan berbobot. Dia memiliki keterampilan dalam melakukan riset pasar dan analisis, yang membantu dia dalam menciptakan strategi konten yang efektif.
https://bloghrd.com