Buruh pertanian adalah pekerja yang melakukan tugas-tugas rutin dan sederhana dalam produksi hasil pertanian di ladang, kebun, sawah, atau area budidaya lainnya. Pekerjaan ini dapat mencakup memanen buah, memetik sayuran, mengumpulkan biji-bijian, mencabut gulma, membersihkan lahan, membantu penanaman, mengangkut hasil panen, hingga memilah hasil pertanian sebelum dijual atau dikirim ke pengepul.
Profesi ini sering dianggap sebagai pekerjaan tidak terampil karena tidak selalu mensyaratkan pendidikan formal tinggi. Namun, dalam praktiknya, buruh pertanian membutuhkan ketahanan fisik, kecepatan kerja, ketelitian, pengetahuan lapangan, serta kemampuan mengikuti instruksi agar hasil panen tetap berkualitas dan tidak banyak terbuang.
Karena itu, pembahasan mengenai gaji upah buruh pertanian perlu dilihat lebih luas. Tidak cukup hanya membahas angka gaji bulanan, tetapi juga sistem upah harian, borongan, musiman, jenis komoditas, lokasi kerja, risiko cuaca, penggunaan alat pertanian, paparan pestisida, jam kerja, hingga status hubungan kerja.
Bagi HR, pemilik usaha pertanian, perusahaan perkebunan, koperasi tani, kontraktor panen, atau pelaku agribisnis, informasi ini penting saat menghitung gaji pegawai, menyusun kebijakan upah harian, dan memastikan pekerja lapangan mendapatkan hak yang layak.
Daftar Isi
Ringkasan Gaji Buruh Pertanian 2026
Berdasarkan data pasar kerja terbaru, tercatat bahwa sebagian besar pekerja pada profesi buruh pertanian di Indonesia memperoleh gaji sekitar Rp3.327.348 hingga Rp8.834.290 per bulan pada 2026.
Untuk buruh pertanian pada awal pekerjaan, kisaran penghasilan bersih bulanan biasanya berada di sekitar Rp3.327.348 hingga Rp5.550.177. Setelah memiliki pengalaman kerja sekitar 5 tahun, pendapatan dapat berada di kisaran Rp3.900.881 hingga Rp7.099.387 per bulan untuk standar kerja 40 jam per minggu.
Namun, angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Di lapangan, banyak buruh pertanian tidak selalu menerima gaji bulanan tetap. Sebagian bekerja dengan sistem harian, borongan per luas lahan, borongan per kilogram hasil panen, musiman saat panen, atau berdasarkan kesepakatan dengan pemilik lahan. Karena itu, kebijakan pengupahan perlu disesuaikan dengan bentuk hubungan kerja dan pola kerja yang digunakan.
| Kategori Pekerja | Estimasi Kisaran Gaji 2026 | Catatan |
|---|---|---|
| Buruh pertanian pemula | Sekitar Rp3,3 juta hingga Rp5,5 juta per bulan | Biasanya mengerjakan tugas panen, pembersihan lahan, pemilahan, atau pengangkutan hasil dengan arahan langsung. |
| Buruh pertanian berpengalaman | Sekitar Rp3,9 juta hingga Rp7 juta per bulan | Dipengaruhi pengalaman, jenis komoditas, lokasi, sistem kerja, musim panen, dan produktivitas. |
| Pekerja panen borongan | Sangat bervariasi | Penghasilan tergantung hasil kerja, luas lahan, berat hasil panen, kecepatan kerja, dan kesepakatan upah. |
| Mandor atau koordinator pekerja lapangan | Dapat lebih tinggi dari buruh pelaksana | Bertanggung jawab membagi tugas, mengawasi kualitas panen, mencatat kehadiran, dan mengatur tim. |
Total pendapatan buruh pertanian dapat terdiri dari upah harian, upah borongan, uang makan, fasilitas tempat tinggal sementara, transportasi, insentif panen, uang lembur, dan benefit lain. Karena itu, pemberi kerja perlu memahami komponen gaji karyawan serta perbedaan upah dan gaji agar sistem pembayarannya jelas.
Apa Itu Buruh Pertanian?
Buruh pertanian adalah pekerja yang membantu proses produksi pertanian tanpa selalu memiliki lahan sendiri. Mereka dapat bekerja untuk petani pemilik lahan, kelompok tani, perusahaan pertanian, perkebunan, koperasi, pengusaha hortikultura, atau kontraktor panen.
Pekerjaan buruh pertanian biasanya dilakukan secara langsung di lapangan. Aktivitasnya dapat berubah mengikuti musim tanam, musim panen, jenis tanaman, kondisi cuaca, dan kebutuhan pemilik lahan. Pada masa tanam, pekerja dapat membantu menyiapkan lahan dan menanam. Pada masa perawatan, mereka dapat membantu menyiangi gulma, menyiram, memupuk, atau merapikan tanaman. Pada masa panen, mereka bertugas memetik, memotong, mengumpulkan, memilah, dan mengangkut hasil.
Contoh Pekerjaan Buruh Pertanian
Beberapa contoh pekerjaan yang termasuk dalam kelompok buruh pertanian antara lain:
- Buruh penuai atau pemungut hasil panen.
- Pembantu petani ladang.
- Pembantu petani pohon dan semak belukar.
- Pemetik sayuran.
- Pemetik buah.
- Pemetik kacang-kacangan.
- Pemetik hazelnut atau komoditas sejenis.
- Buruh pengangkut hasil panen.
- Buruh sortasi hasil pertanian.
- Buruh pembersih lahan pertanian.
Peran Buruh Pertanian dalam Rantai Pangan
Buruh pertanian memiliki peran penting dalam rantai pangan. Hasil pertanian tidak akan sampai ke pasar tanpa pekerja yang menanam, merawat, memanen, memilah, dan mengangkutnya. Meski pekerjaannya sering tidak terlihat oleh konsumen akhir, kualitas hasil pangan sangat dipengaruhi oleh ketelitian dan kecepatan kerja buruh pertanian.
Untuk profesi terkait, pembaca juga dapat melihat pembahasan BlogHRD tentang penanam sayur dan tanaman ladang, petani yang penghidupannya dari hasil tanaman, dan buruh kebun dan tanaman.
Tugas Buruh Pertanian
Tugas buruh pertanian dapat berbeda tergantung jenis tanaman, musim kerja, luas lahan, alat yang digunakan, dan sistem kerja. Namun, secara umum, tugas mereka berhubungan dengan persiapan lahan, perawatan tanaman, panen, sortasi, dan pemindahan hasil.
1. Membantu Persiapan Lahan
Sebelum penanaman dilakukan, buruh pertanian dapat membantu membersihkan lahan dari gulma, sisa tanaman, batu, ranting, atau sampah organik. Pada beberapa jenis tanaman, mereka juga membantu menggemburkan tanah, membuat bedengan, menyiapkan lubang tanam, atau mengatur jarak tanam sesuai arahan petani.
Pekerjaan ini membutuhkan tenaga fisik yang cukup besar, terutama jika dilakukan secara manual tanpa banyak bantuan alat mesin pertanian.
2. Membantu Penanaman
Buruh pertanian dapat membantu menanam bibit, menabur benih, memindahkan tanaman muda, atau memasang ajir dan penyangga tanaman. Ketelitian penting karena kesalahan jarak tanam atau kedalaman tanam dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman.
3. Merawat Tanaman
Pekerjaan perawatan dapat mencakup penyiraman, penyiangan gulma, pemupukan, pemangkasan, penyulaman tanaman mati, atau membantu pengendalian hama. Jika pekerja dilibatkan dalam penggunaan pestisida, pemberi kerja perlu memastikan ada instruksi dan alat pelindung yang memadai.
4. Memanen Hasil Pertanian
Pada masa panen, buruh pertanian bertugas memetik, memotong, mencabut, memungut, atau mengumpulkan hasil tanaman. Setiap komoditas memiliki cara panen berbeda. Memanen padi, cabai, sayuran daun, buah, kacang, dan tanaman umbi membutuhkan teknik yang tidak sama.
Kesalahan panen dapat menurunkan kualitas hasil. Misalnya buah terlalu muda, sayuran rusak, tangkai patah, atau hasil panen tercampur dengan bagian tanaman yang tidak layak jual.
5. Menyortir dan Membersihkan Hasil Panen
Setelah dipanen, hasil pertanian sering perlu dipilah berdasarkan ukuran, warna, kematangan, kualitas, dan kondisi fisik. Buruh pertanian dapat membantu memisahkan hasil yang baik dari hasil yang rusak, busuk, terlalu kecil, atau terkena hama.
6. Mengangkut Hasil Panen
Buruh pertanian juga dapat mengangkat, memindahkan, atau membawa hasil panen ke tempat penimbangan, gudang, kendaraan, atau tempat pengumpulan. Pekerjaan ini sering berat karena melibatkan karung, keranjang, peti, atau hasil panen dalam jumlah besar.
7. Membersihkan Area Setelah Panen
Setelah panen selesai, lahan dapat dibersihkan dari sisa tanaman, plastik mulsa, tali, batang, daun, atau limbah pertanian lain. Pembersihan ini penting agar lahan siap digunakan kembali dan tidak menjadi sumber hama atau penyakit tanaman.
Jenis Buruh Pertanian Berdasarkan Pekerjaannya
Dalam praktik lapangan, buruh pertanian dapat dibedakan berdasarkan jenis pekerjaan yang dilakukan. Pembagian ini penting karena beban kerja, risiko, dan sistem upahnya bisa berbeda.
Buruh Penuai atau Pemungut Hasil Panen
Buruh penuai bertugas memanen tanaman yang sudah siap. Pada komoditas padi, mereka dapat memotong batang, mengumpulkan hasil, dan membantu proses pascapanen. Pada komoditas lain, mereka dapat memetik, mencabut, atau memotong bagian tanaman yang bernilai jual.
Pembantu Petani Ladang
Pembantu petani ladang mengerjakan berbagai tugas umum di lahan, seperti membersihkan gulma, merapikan bedengan, membantu menanam, mengangkut pupuk, atau melakukan pekerjaan manual lain sesuai kebutuhan petani.
Pembantu Petani Pohon dan Semak Belukar
Pekerja ini membantu merawat tanaman pohon atau semak, seperti memangkas, membersihkan sekitar batang, membantu pemupukan, menyiram, atau mengumpulkan buah yang sudah siap panen.
Pemetik Sayuran
Pemetik sayuran bertugas memanen sayuran yang sudah layak jual. Pekerjaan ini membutuhkan ketelitian karena sayuran mudah rusak, layu, atau patah jika ditangani terlalu kasar.
Pemetik Buah dan Kacang
Pemetik buah dan kacang perlu memahami tingkat kematangan hasil panen. Buah yang terlalu muda dapat sulit dijual, sementara buah yang terlalu matang lebih cepat rusak saat pengangkutan.
Pekerja Sortasi dan Pengemasan
Setelah panen, sebagian pekerja bertugas memilah, membersihkan, menimbang, dan mengemas hasil pertanian. Pekerjaan ini penting agar produk lebih siap masuk ke pasar atau pengepul.
Faktor yang Mempengaruhi Gaji Buruh Pertanian
Gaji atau upah buruh pertanian tidak selalu sama. Perbedaan upah dapat terjadi antar daerah, antar komoditas, antar musim, bahkan antar pemilik lahan.
1. Lokasi Kerja
Lokasi kerja sangat memengaruhi upah. Daerah dengan biaya hidup lebih tinggi, kebutuhan tenaga panen besar, atau lahan pertanian komersial yang luas biasanya memiliki standar upah berbeda dari wilayah lain.
Jika buruh pertanian bekerja dalam hubungan kerja formal, pemberi kerja tetap perlu memperhatikan upah minimum yang berlaku di wilayah kerja. Namun, pada praktik pertanian rakyat, masih banyak pekerja yang dibayar harian atau borongan berdasarkan kesepakatan lokal.
2. Jenis Komoditas
Komoditas yang berbeda membutuhkan cara kerja berbeda. Memanen cabai, tomat, padi, jagung, sawit, kopi, teh, buah, sayuran daun, atau kacang-kacangan memiliki tingkat kesulitan dan risiko yang tidak sama.
Komoditas yang mudah rusak biasanya membutuhkan ketelitian lebih tinggi. Komoditas yang berat atau berada di lahan luas membutuhkan tenaga fisik lebih besar.
3. Sistem Upah
Buruh pertanian dapat dibayar dengan beberapa sistem. Ada yang menerima upah harian, upah borongan per luas lahan, upah per kilogram hasil panen, atau upah musiman. Sistem ini harus dijelaskan sejak awal agar tidak menimbulkan perselisihan.
Untuk memahami karakter pekerja harian, pembaca dapat membaca artikel BlogHRD tentang seluk-beluk pekerja harian.
4. Musim Tanam dan Musim Panen
Pada masa panen raya, kebutuhan tenaga kerja dapat meningkat. Jika tenaga kerja terbatas, upah harian atau borongan bisa naik. Sebaliknya, pada masa tidak ada panen, kesempatan kerja dapat berkurang.
5. Pengalaman dan Kecepatan Kerja
Buruh yang sudah berpengalaman biasanya bekerja lebih cepat, lebih rapi, dan lebih sedikit merusak hasil panen. Dalam sistem borongan, kecepatan dan ketelitian dapat langsung memengaruhi pendapatan.
6. Kondisi Lahan
Lahan yang becek, berbukit, jauh dari jalan, sempit, licin, atau berada di area panas dapat membuat pekerjaan lebih berat. Kondisi lahan seperti ini sebaiknya dipertimbangkan dalam kesepakatan upah.
Komponen Upah Buruh Pertanian
Total pendapatan buruh pertanian dapat terdiri dari beberapa komponen. Tidak semua komponen tersedia di setiap tempat kerja, tetapi penting bagi pemberi kerja untuk membuatnya jelas.
Upah Harian
Upah harian adalah pembayaran berdasarkan jumlah hari kerja. Sistem ini umum digunakan untuk pekerjaan tanam, perawatan, penyiangan, pemupukan, atau panen dalam skala kecil.
Upah Borongan
Upah borongan diberikan berdasarkan hasil kerja, misalnya luas lahan yang selesai dipanen, jumlah karung, berat hasil panen, atau jumlah tanaman yang dikerjakan. Sistem ini bisa menguntungkan pekerja yang cepat dan berpengalaman, tetapi perlu tetap menjaga kualitas hasil kerja.
Uang Makan
Di beberapa daerah, pemilik lahan menyediakan makan atau uang makan. Komponen ini penting karena pekerjaan pertanian sering dilakukan seharian di lapangan.
Transportasi
Jika lokasi lahan jauh, pemberi kerja dapat menyediakan transportasi atau tambahan biaya transportasi. Ini penting terutama untuk pekerja musiman yang datang dari desa atau wilayah lain.
Insentif Panen
Beberapa pemberi kerja memberikan insentif jika hasil panen tinggi, pekerjaan selesai tepat waktu, atau kualitas panen baik. Namun, insentif perlu dibuat jelas agar tidak menjadi janji yang tidak terukur.
Uang Lembur
Jika pekerja berada dalam hubungan kerja formal dan bekerja melebihi jam kerja yang ditentukan, maka pengaturan waktu kerja lembur dan perhitungan lembur perlu diperhatikan.
BPJS dan Jaminan Sosial
Jika buruh pertanian bekerja dalam hubungan kerja formal, pekerja perlu mendapatkan perlindungan jaminan sosial sesuai ketentuan, termasuk BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.
Kualifikasi untuk Menjadi Buruh Pertanian
Buruh pertanian umumnya tidak membutuhkan pendidikan tinggi. Namun, bukan berarti pekerjaan ini tidak membutuhkan kemampuan. Pekerja tetap perlu memahami instruksi, kondisi tanaman, cara memanen, cara menggunakan alat sederhana, dan cara menjaga keselamatan diri di lahan.
Pendidikan
Banyak pekerjaan buruh pertanian dapat dilakukan oleh pekerja dengan latar pendidikan dasar. Namun, kemampuan membaca instruksi, memahami tanda bahaya, mencatat hasil kerja, atau menggunakan alat tertentu dapat menjadi nilai tambah.
Kondisi Fisik
Pekerjaan pertanian membutuhkan stamina. Pekerja dapat berdiri lama, membungkuk, berjalan di lahan, mengangkat hasil panen, bekerja di bawah matahari, atau bekerja dalam kondisi hujan dan lumpur.
Ketelitian
Ketelitian penting saat memilih buah matang, memetik sayuran, memilah hasil panen, atau menjaga agar produk tidak rusak. Pekerja yang teliti dapat membantu meningkatkan kualitas jual hasil pertanian.
Kemampuan Mengikuti Instruksi
Setiap komoditas memiliki cara kerja berbeda. Buruh pertanian perlu mengikuti instruksi petani, mandor, atau supervisor agar pekerjaan tidak merusak tanaman maupun hasil panen.
Pelatihan Dasar Pertanian
Pelatihan dapat membantu pekerja memahami teknik panen, pemilahan hasil, penggunaan alat, keselamatan kerja, dan penggunaan bahan pertanian. Untuk pengembangan kompetensi, pembaca dapat membaca artikel BlogHRD tentang metode pelatihan kerja dan lembaga pelatihan kerja.
Skill Penting Buruh Pertanian
Buruh pertanian yang baik tidak hanya kuat secara fisik. Mereka juga perlu bekerja rapi, cepat, aman, dan memahami kualitas hasil panen.
1. Ketahanan Fisik
Pekerjaan pertanian sering dilakukan di luar ruangan. Pekerja perlu memiliki ketahanan tubuh yang baik agar mampu bekerja di bawah panas, hujan, atau kondisi lahan yang tidak selalu nyaman.
2. Kecepatan Kerja
Kecepatan penting, terutama saat musim panen. Hasil pertanian yang terlalu lama dipanen atau terlalu lama tertinggal di lahan dapat menurun kualitasnya.
3. Ketelitian Memilih Hasil Panen
Pekerja perlu membedakan hasil yang matang, belum matang, busuk, rusak, atau tidak layak jual. Ketelitian ini sangat penting pada komoditas buah, sayuran, dan hortikultura.
4. Penggunaan Alat Sederhana
Buruh pertanian dapat menggunakan sabit, gunting panen, cangkul, keranjang, sprayer, pisau panen, atau alat bantu lain. Penggunaan alat harus aman agar tidak melukai diri sendiri atau merusak tanaman.
5. Kerja Sama Tim
Pekerjaan panen sering dilakukan dalam kelompok. Koordinasi penting agar pekerjaan selesai cepat dan hasil tidak tercampur sembarangan.
6. Kesadaran K3
Buruh pertanian perlu memahami risiko kerja seperti panas, dehidrasi, alat tajam, pestisida, gigitan serangga, beban berat, dan tanah licin. Kesadaran K3 membantu mengurangi kecelakaan di lahan.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Buruh Pertanian
Pekerjaan pertanian memiliki risiko yang sering tidak terlihat. Buruh pertanian dapat bekerja di bawah panas, terkena hujan, membungkuk lama, membawa beban berat, menggunakan alat tajam, terkena pestisida, atau bekerja di lahan yang licin.
Karena itu, pemberi kerja perlu memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja meskipun pekerjaan dilakukan di lahan terbuka dan bukan di pabrik.
Risiko Kerja di Lahan Pertanian
- Dehidrasi dan kelelahan akibat panas.
- Luka karena sabit, pisau, gunting panen, atau alat tajam lain.
- Nyeri punggung karena membungkuk lama.
- Cedera otot karena mengangkat karung atau keranjang berat.
- Terpeleset di lahan basah atau berlumpur.
- Iritasi kulit atau gangguan pernapasan akibat pestisida.
- Gigitan serangga atau hewan kecil di lahan.
- Paparan debu, tanah, dan bahan organik.
APD yang Perlu Dipertimbangkan
APD buruh pertanian dapat disesuaikan dengan jenis pekerjaan. Contohnya topi atau pelindung kepala, sepatu boots, sarung tangan, masker, kacamata pelindung, baju lengan panjang, dan alat pelindung lain jika pekerja berhubungan dengan pestisida atau bahan kimia pertanian.
Pestisida dan Bahan Pertanian
Jika buruh pertanian membantu penyemprotan atau bekerja di area yang baru disemprot, pemberi kerja perlu memastikan pekerja memahami instruksi penggunaan, waktu aman masuk kembali ke lahan, serta alat pelindung yang dibutuhkan. Pestisida tidak boleh diperlakukan seperti bahan biasa karena dapat berdampak pada kesehatan pekerja.
Sistem Manajemen K3 Sederhana
Usaha pertanian skala kecil sekalipun dapat menerapkan K3 sederhana. Misalnya menyediakan air minum, memberi waktu istirahat, menyediakan alat yang layak, memberikan instruksi kerja, menyimpan pestisida dengan aman, dan memastikan pekerja tidak bekerja dalam kondisi sakit atau kelelahan. Untuk konsep yang lebih luas, pembaca dapat membaca artikel BlogHRD tentang sistem manajemen K3.
Sistem Kerja Harian, Borongan, dan Musiman
Salah satu ciri khas pekerjaan buruh pertanian adalah sistem kerjanya yang fleksibel. Tidak semua pekerja bekerja sepanjang tahun di tempat yang sama. Banyak buruh pertanian bekerja mengikuti musim tanam dan panen.
Upah Harian
Sistem harian cocok untuk pekerjaan yang waktunya mudah dihitung, seperti membersihkan lahan, menyiangi gulma, menanam, atau membantu perawatan tanaman. Kelebihannya, pekerja memiliki kepastian upah per hari. Kekurangannya, produktivitas dapat sulit diukur jika tidak ada pengawasan yang baik.
Upah Borongan
Sistem borongan cocok untuk pekerjaan yang hasilnya mudah diukur, seperti memanen luas lahan tertentu atau mengumpulkan hasil dalam jumlah tertentu. Kelebihannya, pekerja yang cepat dan terampil bisa memperoleh pendapatan lebih besar. Kekurangannya, kualitas dapat turun jika pekerja hanya mengejar kuantitas.
Kerja Musiman
Kerja musiman umum terjadi saat panen raya. Pekerja dapat berpindah dari satu lahan ke lahan lain mengikuti kebutuhan tenaga kerja. Dalam sistem seperti ini, kesepakatan upah, jam kerja, makan, transportasi, dan tempat tinggal sementara perlu dibuat jelas sejak awal.
Hubungan Kerja Buruh Pertanian
Buruh pertanian dapat bekerja secara informal, harian, borongan, musiman, kontrak, atau sebagai karyawan perusahaan pertanian. Semakin formal hubungan kerjanya, semakin penting dokumen dan hak ketenagakerjaan disusun dengan jelas.
Kesepakatan Kerja Harus Jelas
Walaupun pekerjaan dilakukan di desa atau lahan pertanian, kesepakatan kerja tetap perlu jelas. Setidaknya, pekerja dan pemberi kerja perlu menyepakati jenis pekerjaan, lokasi, durasi, jam kerja, upah, cara pembayaran, makan, transportasi, dan siapa yang menyediakan alat.
Perjanjian Kerja untuk Pekerja Formal
Jika buruh pertanian bekerja pada perusahaan, koperasi, atau usaha agribisnis formal, hubungan kerja sebaiknya dijelaskan melalui perjanjian kerja. Jika sistemnya kontrak, HR dapat merujuk pada Perjanjian Kerja Waktu Tertentu atau PKWT.
Jam Kerja dan Istirahat
Pekerjaan pertanian sering dimulai pagi untuk menghindari panas berlebihan. Namun, pada musim panen, pekerjaan bisa berlangsung lebih panjang. Pemberi kerja tetap perlu memperhatikan jam kerja, istirahat, dan cuti, terutama jika pekerja bekerja dalam hubungan kerja formal.
Jenjang Karier Buruh Pertanian
Meski terlihat sebagai pekerjaan dasar, buruh pertanian tetap memiliki peluang berkembang. Pekerja yang tekun, cepat, teliti, dan memahami proses pertanian dapat naik menjadi pekerja senior, mandor, operator alat, atau bahkan pengelola lahan.
Buruh Pertanian Pemula
Pada tahap awal, pekerja biasanya melakukan pekerjaan dasar seperti membersihkan lahan, membantu panen, mengangkut hasil, dan memilah produk.
Buruh Pertanian Berpengalaman
Pekerja berpengalaman sudah memahami waktu panen, cara memilih hasil yang baik, teknik memetik, dan cara menjaga hasil pertanian tetap layak jual.
Pekerja Senior
Pekerja senior dapat membantu mengarahkan pekerja baru, memastikan hasil panen tidak rusak, dan menjaga ritme kerja kelompok.
Mandor Lapangan
Mandor bertugas membagi pekerjaan, mencatat kehadiran, mengawasi kualitas kerja, menghitung hasil borongan, dan menjadi penghubung antara pekerja dengan pemilik lahan atau perusahaan.
Operator Alat Pertanian
Jika pekerja belajar menggunakan mesin atau alat pertanian, ia dapat berkembang menjadi operator alat. Posisi ini biasanya membutuhkan keterampilan tambahan dan tanggung jawab lebih besar.
Pengelola Lahan atau Usaha Pertanian
Dengan pengalaman dan pengetahuan yang cukup, pekerja dapat naik menjadi pengelola lahan, penyelia produksi, atau bahkan memulai usaha pertanian sendiri.
Cara Meningkatkan Gaji Buruh Pertanian
Buruh pertanian dapat meningkatkan pendapatan dengan memperkuat keterampilan, memperluas jenis pekerjaan yang dikuasai, dan menjaga reputasi kerja.
1. Kuasai Teknik Panen yang Benar
Teknik panen yang benar dapat menjaga kualitas hasil pertanian. Pekerja yang mampu memanen cepat tanpa merusak hasil biasanya lebih dipercaya dan lebih mudah mendapatkan pekerjaan.
2. Pelajari Sortasi dan Pengemasan
Sortasi dan pengemasan dapat meningkatkan nilai jual produk. Pekerja yang dapat memilah hasil sesuai kualitas memiliki nilai tambah dibanding pekerja yang hanya memanen.
3. Belajar Menggunakan Alat Pertanian
Kemampuan menggunakan alat seperti sprayer, mesin potong rumput, pompa air, atau alat panen tertentu dapat meningkatkan peluang kerja. Namun, penggunaan alat harus disertai instruksi keselamatan.
4. Jaga Kedisiplinan dan Kepercayaan
Pekerjaan pertanian sering mengandalkan kepercayaan. Pekerja yang datang tepat waktu, bekerja rapi, tidak merusak tanaman, dan jujur dalam hasil kerja akan lebih mudah dipanggil kembali.
5. Ambil Peran Koordinasi
Pekerja yang mampu mengatur kelompok kecil, mencatat hasil, dan menjaga kualitas panen dapat naik menjadi mandor atau koordinator lapangan.
6. Pahami Faktor Kenaikan Gaji
Pekerja dapat memahami faktor yang menentukan kenaikan gaji, seperti pengalaman, produktivitas, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan teknis. Untuk pemberi kerja, evaluasi dapat dibuat lebih objektif dengan referensi rumus kenaikan gaji karyawan.
Cara HR atau Pemberi Kerja Menentukan Upah Buruh Pertanian
Menentukan upah buruh pertanian perlu mempertimbangkan kondisi lapangan. Pekerjaan yang sama bisa terasa berbeda jika lahan lebih jauh, hasil panen lebih berat, atau risiko kerja lebih tinggi.
Gunakan Struktur Upah yang Jelas
Untuk perusahaan pertanian atau perkebunan, sebaiknya ada struktur dan skala upah yang membedakan buruh pemula, buruh berpengalaman, pekerja senior, mandor, operator alat, dan supervisor lapangan.
Bedakan Upah Harian dan Borongan
Upah harian cocok untuk pekerjaan yang sulit diukur hasilnya secara langsung. Upah borongan cocok untuk pekerjaan yang hasilnya mudah dihitung. Namun, sistem borongan perlu tetap menjaga kualitas dan keselamatan pekerja.
Perhitungkan Kondisi Lahan
Lahan yang jauh, berat, panas, berlumpur, atau membutuhkan pengangkutan hasil yang sulit sebaiknya mendapat pertimbangan tambahan dalam penentuan upah.
Pastikan Alat dan APD Tersedia
Pemberi kerja perlu memastikan alat kerja tersedia dan layak digunakan. Jika pekerjaan berhubungan dengan bahan kimia, pestisida, alat tajam, atau beban berat, APD perlu disediakan sesuai risiko.
Penuhi Hak Dasar Pekerja
Buruh pertanian tetap memiliki hak sebagai pekerja, terutama jika bekerja dalam hubungan kerja formal. Hak tersebut dapat mencakup upah, istirahat, keselamatan kerja, perlindungan sosial, dan kejelasan hubungan kerja. Pembaca dapat merujuk artikel BlogHRD tentang hak dan kewajiban pekerja menurut UU Ketenagakerjaan.
Perbandingan Buruh Pertanian dengan Profesi Pertanian Lain
Buruh pertanian sering bekerja bersama petani, mandor, operator alat, penyuluh, dan manajer produksi pertanian. Namun, masing-masing memiliki fokus berbeda.
Buruh Pertanian vs Petani Pemilik Lahan
Buruh pertanian menjual tenaga kerja untuk membantu proses produksi. Petani pemilik lahan mengelola lahan, modal, risiko usaha, keputusan tanam, dan penjualan hasil panen.
Buruh Pertanian vs Mandor
Buruh pertanian mengerjakan pekerjaan lapangan. Mandor mengatur tim, membagi tugas, mengawasi kualitas, dan memastikan pekerjaan selesai sesuai target.
Buruh Pertanian vs Operator Alat Pertanian
Operator alat pertanian menggunakan mesin atau alat tertentu. Buruh pertanian lebih banyak mengerjakan aktivitas manual, meskipun sebagian pekerja dapat berkembang menjadi operator setelah belajar menggunakan alat.
Buruh Pertanian vs Penyuluh Pertanian
Penyuluh pertanian memberi pendampingan teknis kepada petani, sementara buruh pertanian melakukan pekerjaan langsung di lahan.
Tantangan Profesi Buruh Pertanian
Buruh pertanian memiliki peran penting dalam ketahanan pangan, tetapi pekerjaannya memiliki banyak tantangan. Sebagian tantangan berasal dari alam, sebagian lagi berasal dari sistem kerja yang belum selalu formal.
1. Pekerjaan Bergantung Musim
Kebutuhan tenaga kerja meningkat saat tanam dan panen, tetapi bisa menurun di luar musim tersebut. Hal ini membuat pendapatan sebagian buruh pertanian tidak selalu stabil.
2. Risiko Cuaca
Pekerja dapat menghadapi panas, hujan, angin, atau lahan berlumpur. Cuaca ekstrem dapat membuat pekerjaan lebih berat dan meningkatkan risiko sakit atau cedera.
3. Beban Fisik Berat
Buruh pertanian sering membungkuk, mengangkat beban, berjalan jauh, dan bekerja dengan gerakan berulang. Jika tidak ada istirahat cukup, risiko kelelahan dan cedera meningkat.
4. Paparan Bahan Kimia
Pupuk, pestisida, dan bahan pertanian lain perlu digunakan dengan hati-hati. Pekerja yang tidak mendapatkan instruksi dan APD dapat mengalami gangguan kesehatan.
5. Pendapatan Tidak Selalu Stabil
Jika sistem kerja borongan atau musiman, pendapatan dapat berubah tergantung hasil panen, cuaca, permintaan tenaga kerja, dan harga komoditas.
6. Minimnya Dokumentasi Kerja
Di sektor informal, kesepakatan kerja sering dilakukan secara lisan. Hal ini dapat menimbulkan masalah jika terjadi perbedaan pemahaman tentang upah, jam kerja, atau tanggung jawab.
FAQ Seputar Gaji Upah Buruh Pertanian
Berapa gaji buruh pertanian di Indonesia?
Berdasarkan data pasar kerja 2026, gaji buruh pertanian di Indonesia berada di kisaran sekitar Rp3.327.348 hingga Rp8.834.290 per bulan. Untuk awal pekerjaan, kisarannya sekitar Rp3.327.348 hingga Rp5.550.177, sedangkan setelah 5 tahun pengalaman berada di sekitar Rp3.900.881 hingga Rp7.099.387 per bulan untuk 40 jam kerja per minggu.
Apa tugas utama buruh pertanian?
Tugas utama buruh pertanian adalah membantu produksi pertanian, seperti membersihkan lahan, menanam, merawat tanaman, memanen, memilah hasil, mengangkut hasil panen, dan membersihkan area kerja setelah panen.
Apakah buruh pertanian membutuhkan pendidikan tinggi?
Tidak. Pekerjaan ini umumnya tidak membutuhkan pendidikan tinggi. Namun, pekerja tetap membutuhkan stamina, ketelitian, kemampuan mengikuti instruksi, dan pemahaman dasar keselamatan kerja di lahan.
Apakah buruh pertanian dibayar bulanan?
Tidak selalu. Banyak buruh pertanian dibayar harian, borongan, atau musiman. Pembayaran bulanan biasanya lebih umum jika pekerja bekerja pada perusahaan pertanian, perkebunan, atau usaha agribisnis formal.
Apa perbedaan upah harian dan borongan?
Upah harian dibayar berdasarkan hari kerja. Upah borongan dibayar berdasarkan hasil pekerjaan, seperti luas lahan yang selesai dipanen, jumlah karung, berat hasil panen, atau target tertentu.
Apakah buruh pertanian berhak mendapatkan BPJS?
Jika bekerja dalam hubungan kerja formal, buruh pertanian perlu mendapatkan perlindungan jaminan sosial sesuai ketentuan. Untuk pekerja informal, perlindungan jaminan sosial dapat disesuaikan dengan skema yang tersedia.
Apakah buruh pertanian berhak mendapat uang lembur?
Jika pekerja bekerja dalam hubungan kerja formal dan bekerja melebihi jam kerja yang ditentukan, maka aturan lembur perlu diperhatikan. Untuk pekerja harian atau borongan informal, kesepakatan kerja sebaiknya dibuat jelas sejak awal.
Bagaimana cara meningkatkan penghasilan sebagai buruh pertanian?
Pekerja dapat meningkatkan penghasilan dengan menguasai teknik panen yang benar, belajar sortasi, menggunakan alat pertanian, menjaga kedisiplinan, mengambil peran koordinator, dan membangun reputasi sebagai pekerja yang cepat, teliti, dan dapat dipercaya.
Kesimpulan
Buruh pertanian adalah pekerja penting dalam produksi pangan dan hasil pertanian. Mereka membantu proses tanam, perawatan, panen, sortasi, dan pengangkutan hasil. Meskipun sering dikategorikan sebagai pekerjaan tidak terampil, peran mereka sangat menentukan kualitas dan kelancaran produksi di lapangan.
Dari sisi gaji, pada 2026 buruh pertanian di Indonesia memiliki kisaran upah sekitar Rp3,3 juta hingga Rp8,8 juta per bulan berdasarkan data pasar kerja. Namun, dalam praktik lapangan, pendapatan dapat berbeda karena banyak pekerja menggunakan sistem harian, borongan, atau musiman.
Bagi pekerja, peningkatan penghasilan dapat dilakukan dengan memperkuat teknik panen, ketelitian, kecepatan, kemampuan sortasi, dan kemampuan menggunakan alat. Bagi pemberi kerja, penentuan upah perlu mempertimbangkan jenis pekerjaan, kondisi lahan, musim panen, risiko kerja, jam kerja, APD, dan kejelasan hubungan kerja.
Pekerjaan buruh pertanian mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Di balik hasil pangan yang sampai ke pasar, ada pekerja lapangan yang setiap hari menjaga proses produksi tetap berjalan.
Referensi Eksternal
- WageIndicator/Gajimu – Pekerjaan dan Gaji Buruh Pertanian
- BPS – Statistik Nilai Tukar Petani 2025
- JDIH Kementerian Pertanian – PP Nomor 7 Tahun 2026 tentang Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan
- JDIH Kemnaker – Kepmenaker Nomor 19 Tahun 2024 tentang SKKNI Bidang Hortikultura
- BNSP – Daftar Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia
- Kemnaker – Apa Itu SKKNI?
- JDIH Kementerian Pertanian – Permentan Nomor 03 Tahun 2026
- Kemnaker – Rekapitulasi Dokumen SKKNI