Beberapa Fungsi HR yang Dapat Digantikan oleh HRIS System

HRIS atau Human Resource Information System adalah sistem digital yang digunakan untuk membantu perusahaan mengelola data karyawan, administrasi HR, absensi, cuti, payroll, rekrutmen, penilaian kinerja, hingga laporan sumber daya manusia secara lebih terstruktur.

Dalam praktiknya, HRIS tidak sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam divisi HR. Fungsi strategis seperti membangun budaya kerja, menyelesaikan konflik, mendampingi karyawan, membuat kebijakan, dan mengambil keputusan tetap membutuhkan pertimbangan manusia. Namun, banyak pekerjaan administratif HR yang berulang, memakan waktu, dan rawan kesalahan dapat diotomatisasi dengan HRIS.

Inilah alasan mengapa semakin banyak perusahaan mulai beralih dari sistem manual ke sistem HRIS. Dengan HRIS, data karyawan lebih mudah dicari, proses approval lebih cepat, perhitungan payroll lebih akurat, dan karyawan bisa mengakses informasi tertentu secara mandiri.

Bagi perusahaan yang sedang berkembang, penggunaan HRIS dapat menjadi langkah penting untuk meningkatkan efisiensi kerja HR dan menjaga kualitas pengelolaan SDM. Terutama jika jumlah karyawan sudah semakin banyak, sistem kerja mulai kompleks, dan perusahaan perlu mengelola data secara lebih aman.

Apa Itu HRIS?

HRIS adalah sistem informasi sumber daya manusia yang menggabungkan fungsi manajemen HR dengan teknologi informasi. Sistem ini digunakan untuk menyimpan, mengelola, memproses, dan menyajikan data yang berkaitan dengan karyawan dan aktivitas HR perusahaan.

Secara sederhana, HRIS dapat dipahami sebagai pusat data dan proses HR. Di dalamnya, perusahaan dapat mengelola data pribadi karyawan, riwayat jabatan, struktur organisasi, absensi, jadwal kerja, cuti, lembur, payroll, pajak, BPJS, dokumen kerja, hingga laporan kinerja.

Jika sebelumnya semua data dikelola menggunakan kertas, spreadsheet, folder manual, dan email terpisah, HRIS membantu menyatukannya dalam satu sistem. Hal ini membuat pekerjaan HR menjadi lebih efisien dan data lebih mudah ditelusuri.

Untuk memahami konsep dasarnya, Anda juga dapat membaca artikel fungsi dan pengertian Human Resource Information System atau HRIS, software HRD gratis, dan software aplikasi payroll sesuai sistem penggajian Indonesia.

Mengapa HRIS Semakin Dibutuhkan Perusahaan?

Pengelolaan SDM akan semakin kompleks ketika jumlah karyawan bertambah. HR tidak hanya mengurus rekrutmen, tetapi juga absensi, payroll, cuti, lembur, pajak, BPJS, kontrak kerja, pelatihan, penilaian kinerja, data keluarga, mutasi, promosi, hingga dokumen administrasi lainnya.

Jika semua proses tersebut masih dilakukan manual, perusahaan akan menghadapi banyak risiko. Mulai dari data yang tercecer, salah hitung gaji, kesalahan pencatatan cuti, keterlambatan approval, duplikasi data, sampai kesulitan membuat laporan manajemen.

HRIS membantu mengurangi risiko tersebut dengan cara mengotomatisasi pekerjaan rutin dan menyimpan data dalam sistem yang lebih rapi. HR dapat fokus pada pekerjaan yang lebih strategis, seperti meningkatkan pengalaman karyawan, menyusun program pengembangan SDM, memperbaiki budaya kerja, dan mendukung kebutuhan bisnis.

Mengenal Human Resource Information System dan Perananannya

Keunggulan HRIS Dibanding Sistem Manual

Sebelum membahas fungsi HR yang dapat digantikan oleh HRIS, perusahaan perlu memahami keunggulan utama sistem ini.

1. Data karyawan tersimpan lebih rapi

Data karyawan adalah aset penting perusahaan. Di dalamnya terdapat informasi pribadi, riwayat pekerjaan, nomor rekening, data keluarga, status pajak, kontrak kerja, riwayat cuti, absensi, hingga dokumen penting lainnya.

Jika data tersebut disimpan secara manual, HR akan membutuhkan waktu lama untuk mencari dokumen tertentu. Risiko file hilang, salah versi, atau tidak terbarui juga lebih besar.

Dengan HRIS, data karyawan dapat disimpan dalam satu database. HR dapat mencari data lebih cepat, memperbarui informasi dengan lebih mudah, dan membatasi akses hanya kepada pihak yang berwenang.

2. Mengurangi human error

Kesalahan manusia sering terjadi dalam pekerjaan administratif. Misalnya salah input jam kerja, salah menghitung lembur, salah memotong pajak, salah mencatat cuti, atau salah memasukkan nomor rekening karyawan.

Kesalahan kecil dalam administrasi HR dapat berdampak besar, terutama jika berkaitan dengan gaji, pajak, BPJS, atau hak karyawan. HRIS membantu meminimalkan kesalahan tersebut karena banyak perhitungan dilakukan otomatis berdasarkan aturan yang sudah dimasukkan ke dalam sistem.

3. Proses approval lebih cepat

Dalam sistem manual, pengajuan cuti, lembur, klaim, atau perubahan data sering memerlukan formulir kertas dan tanda tangan berjenjang. Proses ini mudah tertunda jika atasan sedang tidak berada di kantor.

Dengan HRIS, proses approval dapat dilakukan secara online. Atasan dapat menyetujui atau menolak pengajuan melalui sistem, sementara HR dapat memantau statusnya secara real time.

4. Laporan HR lebih mudah dibuat

Manajemen membutuhkan data HR untuk mengambil keputusan. Misalnya laporan jumlah karyawan, turnover, absensi, keterlambatan, biaya payroll, jumlah lembur, penggunaan cuti, dan efektivitas rekrutmen.

Jika data masih tersebar di banyak file, HR membutuhkan waktu lama untuk membuat laporan. Dengan HRIS, laporan dapat dibuat lebih cepat karena data sudah tersimpan dalam sistem.

5. Transparansi untuk karyawan meningkat

HRIS biasanya dilengkapi fitur employee self-service. Melalui fitur ini, karyawan dapat melihat slip gaji, saldo cuti, jadwal kerja, riwayat absensi, status pengajuan, dan dokumen tertentu tanpa harus selalu bertanya kepada HR.

Transparansi seperti ini dapat mengurangi pertanyaan berulang, mempercepat layanan HR, dan membuat karyawan merasa lebih mudah mengakses informasi yang mereka butuhkan.

Beberapa Fungsi HR yang Dapat Digantikan oleh HRIS System

Fungsi HR yang Dapat Digantikan atau Diotomatisasi oleh HRIS

Berikut beberapa fungsi HR yang dapat digantikan, dibantu, atau diotomatisasi oleh HRIS dalam operasional perusahaan.

1. Pengelolaan Database Karyawan

Salah satu fungsi HR yang paling mudah diotomatisasi oleh HRIS adalah pengelolaan database karyawan. Dalam sistem manual, data karyawan biasanya tersimpan di berbagai tempat, seperti map fisik, spreadsheet, email, dan folder digital yang tidak terintegrasi.

HRIS memungkinkan perusahaan menyimpan seluruh data karyawan dalam satu sistem. Data yang dapat dikelola antara lain:

  • Nama lengkap dan identitas karyawan.
  • NIK, NPWP, dan data pajak.
  • Alamat dan kontak darurat.
  • Nomor rekening bank.
  • Status perkawinan dan tanggungan.
  • Riwayat jabatan dan departemen.
  • Status kerja, seperti PKWT atau PKWTT.
  • Dokumen perjanjian kerja.
  • Riwayat mutasi, promosi, dan perubahan gaji.
  • Riwayat absensi, cuti, lembur, dan pelatihan.

Dengan database yang terpusat, HR tidak perlu mencari data secara manual. Jika perusahaan membutuhkan data untuk payroll, BPJS, pajak, atau laporan internal, informasi dapat diakses lebih cepat.

Namun, karena data karyawan termasuk data pribadi, perusahaan juga perlu memperhatikan keamanan dan perlindungan data. Akses HRIS harus dibatasi berdasarkan peran, dilengkapi kontrol akses, audit trail, dan kebijakan penggunaan data yang jelas.

2. Proses Rekrutmen Karyawan

Rekrutmen adalah salah satu tugas utama HR. Proses ini mencakup membuat iklan lowongan kerja, menerima lamaran, menyeleksi CV, menjadwalkan interview, memberikan tes, menghubungi kandidat, hingga membuat penawaran kerja.

Jika dilakukan manual, proses rekrutmen bisa sangat memakan waktu. Apalagi jika satu posisi menerima ratusan lamaran. HR harus membuka CV satu per satu, mengelompokkan kandidat, membuat catatan interview, dan memastikan setiap tahap seleksi berjalan sesuai jadwal.

HRIS atau sistem rekrutmen yang terintegrasi dapat membantu proses tersebut dengan fitur seperti:

  • Database kandidat.
  • Form lamaran online.
  • Screening kandidat berdasarkan kriteria tertentu.
  • Tracking status kandidat.
  • Penjadwalan interview.
  • Catatan hasil interview.
  • Template email kandidat.
  • Laporan efektivitas rekrutmen.

Dengan sistem ini, HR dapat melihat kandidat mana yang masih dalam tahap screening, interview, offering, atau sudah ditolak. Proses rekrutmen menjadi lebih terstruktur dan tidak bergantung pada catatan manual.

Untuk mendukung proses ini, perusahaan dapat membaca artikel cara membuat iklan lowongan pekerjaan, personalia atau sumber daya manusia, dan cara mempersiapkan orientasi karyawan baru.

3. Onboarding Karyawan Baru

Setelah kandidat diterima, HR perlu memastikan karyawan baru dapat beradaptasi dengan baik. Proses onboarding mencakup pengumpulan dokumen, pengenalan perusahaan, pembuatan akun kerja, penjelasan peraturan perusahaan, pengenalan struktur organisasi, hingga pengaturan jadwal orientasi.

HRIS dapat membantu onboarding dengan membuat checklist digital. Misalnya, karyawan baru harus mengunggah KTP, NPWP, nomor rekening, kartu keluarga, foto, dan dokumen pendukung lainnya. HR dapat memantau dokumen mana yang sudah lengkap dan mana yang masih perlu dilengkapi.

Selain itu, HRIS juga dapat membantu mengatur alur onboarding seperti:

  • Pengisian data pribadi karyawan baru.
  • Pengumpulan dokumen digital.
  • Pemberian akses ke handbook perusahaan.
  • Pengenalan aturan cuti, absensi, dan payroll.
  • Penjadwalan orientasi.
  • Checklist probation atau masa percobaan.
  • Pengingat evaluasi karyawan baru.

Dengan onboarding yang lebih rapi, karyawan baru dapat memahami budaya kerja dan prosedur perusahaan sejak awal.

4. Pencatatan Absensi Karyawan

Absensi adalah salah satu fungsi HR yang paling sering diotomatisasi oleh HRIS. Data absensi sangat penting karena berhubungan dengan disiplin kerja, payroll, lembur, tunjangan kehadiran, cuti, dan evaluasi kinerja.

Dalam sistem manual, pencatatan absensi dapat dilakukan melalui tanda tangan, kartu hadir, spreadsheet, atau mesin fingerprint yang datanya perlu diunduh dan direkap. Cara ini masih bisa digunakan, tetapi sering memakan waktu ketika jumlah karyawan banyak.

HRIS yang terintegrasi dengan aplikasi absensi dapat membantu mencatat:

  • Jam masuk dan jam pulang.
  • Keterlambatan.
  • Pulang lebih awal.
  • Ketidakhadiran.
  • Lokasi absensi jika menggunakan GPS.
  • Foto selfie atau validasi biometrik jika tersedia.
  • Jadwal kerja dan shift.
  • Rekap absensi bulanan.

Data absensi yang sudah tercatat dapat langsung digunakan untuk payroll. Misalnya, jika perusahaan memberikan tunjangan kehadiran atau potongan keterlambatan, sistem dapat membantu menghitungnya sesuai aturan yang berlaku.

Untuk topik terkait, Anda dapat membaca artikel cara menghitung absensi karyawan, aplikasi absensi online, dan perbandingan absensi manual dan absensi digital.

5. Pengelolaan Jadwal Kerja dan Shift

Perusahaan yang menerapkan sistem shift membutuhkan pengaturan jadwal yang rapi. Contohnya perusahaan ritel, manufaktur, rumah sakit, restoran, keamanan, call center, logistik, dan operasional 24 jam.

Jika jadwal shift dibuat manual, HR atau supervisor harus berhati-hati agar tidak ada karyawan yang kelebihan jam kerja, kekurangan hari istirahat, atau bentrok dengan cuti. HRIS dapat membantu menyusun dan memantau jadwal kerja dengan lebih mudah.

Fitur yang biasanya dibutuhkan antara lain:

  • Pembuatan jadwal shift.
  • Pengaturan jam kerja harian.
  • Rotasi shift.
  • Penyesuaian jadwal karyawan.
  • Integrasi dengan absensi.
  • Deteksi keterlambatan berdasarkan shift.
  • Rekap jam kerja bulanan.

Dengan sistem yang terintegrasi, data shift dapat langsung memengaruhi absensi, lembur, dan payroll. Hal ini membuat proses administrasi lebih akurat.

Referensi terkait dapat dilihat pada artikel jenis jadwal kerja karyawan di perusahaan dan aplikasi shift kerja untuk mengatur sistem kerja karyawan.

6. Pengajuan dan Approval Cuti

Pengajuan cuti manual biasanya membutuhkan formulir kertas, tanda tangan atasan, dan pencatatan saldo cuti oleh HR. Proses ini bisa berjalan lambat, terutama jika perusahaan memiliki banyak karyawan atau atasan sering bekerja di luar kantor.

Dengan HRIS, karyawan dapat mengajukan cuti secara online. Sistem dapat menampilkan saldo cuti, tanggal yang dipilih, status approval, dan riwayat cuti. Atasan dapat menyetujui atau menolak pengajuan melalui sistem, sedangkan HR dapat memantau seluruh data secara terpusat.

HRIS dapat membantu mengelola beberapa jenis cuti, seperti:

  • Cuti tahunan.
  • Cuti sakit.
  • Cuti melahirkan.
  • Cuti penting.
  • Cuti menikah.
  • Cuti bersama.
  • Unpaid leave.

Jika cuti sudah disetujui, data tersebut dapat otomatis masuk ke absensi. Dengan begitu, karyawan tidak tercatat sebagai tidak hadir tanpa keterangan.

Untuk pembahasan lebih lengkap, baca artikel cara kerja aplikasi cuti online karyawan, ketentuan cuti tahunan bagi karyawan tetap dan kontrak, dan apakah sisa cuti karyawan dapat diuangkan.

7. Pengelolaan Lembur

Lembur adalah komponen yang sering memengaruhi penggajian. Jika lembur masih dikelola dengan form manual, HR perlu mengecek waktu lembur, persetujuan atasan, data absensi, dan rumus upah lembur secara terpisah.

HRIS dapat membantu proses lembur dari awal sampai akhir. Karyawan dapat mengajukan lembur melalui sistem, atasan dapat memberikan persetujuan, dan HR dapat melihat rekap lembur yang terhubung dengan absensi serta payroll.

Fitur lembur dalam HRIS biasanya mencakup:

  • Pengajuan lembur online.
  • Approval lembur oleh atasan.
  • Validasi dengan jam kerja aktual.
  • Perhitungan jam lembur.
  • Integrasi dengan payroll.
  • Laporan lembur per karyawan atau departemen.

Dengan sistem ini, perusahaan dapat mengurangi risiko lembur fiktif, salah hitung upah lembur, atau keterlambatan pembayaran lembur.

Untuk topik lembur, perusahaan dapat membaca artikel perhitungan lembur karyawan, ketentuan waktu kerja lembur, dan kekurangan form lembur manual.

8. Payroll dan Penggajian

Payroll adalah salah satu fungsi HR yang paling sensitif karena berkaitan langsung dengan hak karyawan. Kesalahan kecil dalam penggajian dapat menimbulkan komplain, menurunkan kepercayaan karyawan, dan membuat HR harus melakukan koreksi berulang.

Dalam payroll, HR perlu menghitung banyak komponen, seperti:

  • Gaji pokok.
  • Tunjangan tetap.
  • Tunjangan tidak tetap.
  • Uang lembur.
  • Bonus atau insentif.
  • Potongan absensi.
  • Potongan keterlambatan.
  • Iuran BPJS.
  • PPh 21.
  • Reimbursement.
  • Pinjaman karyawan jika ada.

HRIS atau software payroll dapat membantu menghitung komponen-komponen tersebut secara otomatis berdasarkan data yang sudah tersedia. Misalnya, data absensi, cuti, lembur, dan status pajak karyawan dapat langsung digunakan sebagai dasar perhitungan gaji.

Dengan payroll yang terintegrasi, perusahaan dapat mempercepat proses penggajian, mengurangi risiko salah hitung, dan membuat slip gaji lebih transparan.

Untuk mendalami topik payroll, Anda dapat membaca artikel siklus penggajian dalam perusahaan, contoh cara membuat slip gaji di Excel, dan cara menghitung gaji bersih di Excel.

9. Pembuatan Slip Gaji Online

Slip gaji adalah dokumen penting yang menunjukkan rincian penghasilan dan potongan karyawan. Dalam sistem manual, HR harus membuat slip gaji satu per satu, mengirimkannya melalui email, atau mencetaknya secara fisik.

HRIS dapat membuat slip gaji online secara otomatis setelah proses payroll selesai. Karyawan dapat mengakses slip gaji melalui akun masing-masing, sehingga HR tidak perlu mengirim dokumen satu per satu.

Slip gaji online biasanya memuat:

  • Identitas karyawan.
  • Periode gaji.
  • Gaji pokok.
  • Tunjangan.
  • Lembur.
  • Bonus atau insentif.
  • Potongan pajak.
  • Potongan BPJS.
  • Potongan lain.
  • Total take home pay.

Dengan slip gaji online, karyawan dapat mengecek rincian penghasilannya secara mandiri. Ini membantu meningkatkan transparansi dan mengurangi pertanyaan berulang kepada HR.

10. Perhitungan PPh 21 Karyawan

Perhitungan PPh 21 karyawan menjadi semakin penting karena aturan pajak harus diterapkan dengan akurat. HR perlu memperhatikan status PTKP, penghasilan bruto, pengurang pajak, BPJS, tunjangan, bonus, THR, dan metode perhitungan PPh 21 yang berlaku.

Sejak 2024, pemotongan PPh 21 bulanan untuk pegawai tetap menggunakan metode Tarif Efektif Rata-rata atau TER pada masa pajak selain masa pajak terakhir. Pada masa pajak terakhir, perusahaan tetap melakukan penghitungan kembali menggunakan tarif progresif sesuai ketentuan.

HRIS yang memiliki modul payroll dan pajak dapat membantu perusahaan menghitung PPh 21 berdasarkan data payroll karyawan. Hal ini mengurangi risiko salah hitung dan memudahkan perusahaan menyiapkan data untuk pembayaran serta pelaporan pajak.

Untuk topik PPh 21, Anda dapat membaca artikel perhitungan PPh Pasal 21 terbaru dengan Excel, cara menghitung PTKP, dan panduan hitung, bayar, dan lapor PPh 21 online.

11. Pengelolaan BPJS Karyawan

Perusahaan juga perlu mengelola iuran BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Data BPJS berkaitan dengan gaji, status karyawan, komponen upah, dan potongan payroll.

Jika perhitungan BPJS dilakukan manual, HR harus memastikan data karyawan selalu terbarui. Kesalahan gaji dasar, status kepesertaan, atau potongan dapat berdampak pada payroll dan administrasi perusahaan.

HRIS dapat membantu menyimpan data BPJS karyawan dan menghitung potongan yang terhubung dengan payroll. Sistem juga dapat membantu HR menyiapkan laporan atau data pendukung yang dibutuhkan.

Untuk referensi lebih lengkap, baca artikel cara menghitung iuran BPJS Kesehatan karyawan, iuran BPJS Ketenagakerjaan, dan menghitung manfaat dan iuran BPJS Ketenagakerjaan.

12. Reimbursement dan Klaim Karyawan

Reimbursement adalah penggantian biaya yang sebelumnya dikeluarkan karyawan untuk kepentingan perusahaan. Contohnya biaya transportasi, perjalanan dinas, pembelian alat kerja, konsumsi meeting, pulsa, internet, atau biaya operasional lainnya.

Jika reimbursement masih dilakukan manual, karyawan harus menyerahkan bukti fisik, mengisi formulir, meminta tanda tangan atasan, lalu menunggu proses pencairan. HR dan finance juga harus mengecek dokumen satu per satu.

HRIS dapat membantu proses reimbursement secara online. Karyawan cukup mengunggah bukti pembayaran, memilih kategori klaim, mengisi nominal, dan mengirim pengajuan. Atasan atau finance dapat melakukan approval melalui sistem.

Fitur ini membantu perusahaan mengurangi dokumen fisik, mempercepat proses klaim, dan membuat riwayat reimbursement lebih mudah diaudit.

13. Penilaian Kinerja dan KPI

Penilaian kinerja karyawan tidak cukup hanya berdasarkan kesan subjektif. Perusahaan perlu memiliki indikator yang jelas agar evaluasi berjalan lebih adil dan terukur.

HRIS dapat membantu mengelola data penilaian kinerja, KPI, target individu, hasil evaluasi, catatan atasan, dan riwayat performa karyawan dari waktu ke waktu.

Fitur performance management dalam HRIS biasanya dapat membantu:

  • Menetapkan KPI karyawan.
  • Mengatur periode penilaian.
  • Mengumpulkan penilaian dari atasan.
  • Mencatat pencapaian target.
  • Menyimpan riwayat evaluasi.
  • Membantu keputusan promosi, mutasi, atau pelatihan.

Dengan sistem ini, penilaian kinerja menjadi lebih terdokumentasi. HR dan manajemen dapat melihat perkembangan karyawan berdasarkan data, bukan hanya ingatan atau penilaian sesaat.

Untuk pembahasan terkait, baca artikel KPI atau Key Performance Indicator dan cara, manfaat, dan proses penilaian kinerja karyawan.

14. Pelatihan dan Pengembangan SDM

HRIS juga dapat membantu perusahaan mengelola pelatihan karyawan. Dalam sistem manual, HR sering kesulitan memantau siapa yang sudah mengikuti pelatihan, materi apa yang sudah diberikan, berapa biaya pelatihan, dan bagaimana hasil evaluasinya.

Dengan modul training atau learning management, HRIS dapat membantu:

  • Membuat daftar kebutuhan pelatihan.
  • Menjadwalkan training.
  • Mencatat peserta pelatihan.
  • Menyimpan sertifikat.
  • Mengukur hasil evaluasi pelatihan.
  • Menghubungkan pelatihan dengan kebutuhan kompetensi.

Data pelatihan ini dapat digunakan untuk menyusun program pengembangan karir, suksesi, promosi, atau perbaikan performa karyawan.

Untuk topik pengembangan SDM, Anda dapat membaca artikel manfaat pelatihan SDM bagi karyawan perusahaan dan tujuan serta tahapan pelatihan dan pengembangan SDM.

15. Pengelolaan Dokumen HR

HR mengelola banyak dokumen penting, seperti perjanjian kerja, surat pengangkatan, surat peringatan, dokumen cuti, dokumen payroll, surat mutasi, dokumen evaluasi kinerja, hingga kebijakan perusahaan.

Jika dokumen masih disimpan manual, pencarian dokumen akan memakan waktu. HRIS dapat membantu menyimpan dokumen secara digital dan mengelompokkannya berdasarkan nama karyawan, jenis dokumen, tanggal, atau status dokumen.

Dengan pengelolaan dokumen digital, HR dapat lebih mudah menelusuri riwayat administrasi karyawan. Hal ini penting untuk audit internal, kebutuhan legal, dan penyelesaian masalah hubungan kerja.

Untuk referensi dokumen kerja, baca artikel perjanjian kerja, Perjanjian Kerja Waktu Tertentu atau PKWT, dan Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu atau PKWTT.

16. Employee Self-Service

Employee self-service adalah fitur HRIS yang memungkinkan karyawan mengakses dan mengelola informasi tertentu secara mandiri. Fitur ini sangat membantu HR karena mengurangi pekerjaan administratif yang berulang.

Melalui employee self-service, karyawan dapat:

  • Melihat slip gaji.
  • Melihat saldo cuti.
  • Mengajukan cuti.
  • Mengajukan lembur.
  • Mengajukan reimbursement.
  • Memperbarui data pribadi tertentu.
  • Mengunduh dokumen karyawan.
  • Melihat jadwal kerja.
  • Melihat riwayat absensi.

Dengan fitur ini, HR tidak perlu selalu menjadi perantara untuk setiap pertanyaan administratif. Karyawan dapat memperoleh informasi dengan lebih cepat, sementara HR dapat fokus pada pekerjaan yang lebih penting.

17. Laporan dan HR Analytics

HRIS dapat membantu HR membuat laporan yang lebih cepat dan akurat. Data yang tersimpan dalam sistem dapat diolah menjadi laporan untuk kebutuhan manajemen.

Contoh laporan yang dapat dibuat melalui HRIS antara lain:

  • Jumlah karyawan aktif.
  • Komposisi karyawan per departemen.
  • Turnover karyawan.
  • Absensi dan keterlambatan.
  • Penggunaan cuti.
  • Total lembur.
  • Biaya payroll.
  • Status kontrak kerja.
  • Data pelatihan.
  • Hasil evaluasi kinerja.

Dengan laporan yang lebih cepat, HR dapat membantu manajemen mengambil keputusan berbasis data. Misalnya, perusahaan dapat melihat departemen mana yang memiliki tingkat turnover tinggi, karyawan mana yang sering lembur, atau posisi mana yang membutuhkan rekrutmen tambahan.

Fungsi HR yang Tidak Sepenuhnya Bisa Digantikan oleh HRIS

Walaupun HRIS dapat mengotomatisasi banyak pekerjaan, tidak semua fungsi HR dapat digantikan oleh sistem. HR tetap memiliki peran strategis yang membutuhkan empati, komunikasi, pertimbangan, dan pemahaman konteks.

1. Penyelesaian konflik karyawan

Konflik kerja tidak bisa diselesaikan hanya dengan data. HR perlu mendengarkan kedua pihak, memahami akar masalah, menjaga kerahasiaan, dan mencari solusi yang adil.

2. Pengembangan budaya perusahaan

Budaya kerja dibangun melalui kepemimpinan, komunikasi, kebiasaan, nilai, dan perilaku sehari-hari. HRIS dapat membantu menyediakan data, tetapi budaya tetap dibentuk oleh manusia.

3. Konseling dan pendampingan karyawan

Karyawan yang mengalami masalah performa, tekanan kerja, atau tantangan personal membutuhkan pendekatan yang manusiawi. Sistem hanya membantu dokumentasi, bukan menggantikan percakapan HR dengan karyawan.

4. Penyusunan strategi SDM

HRIS dapat memberikan laporan, tetapi strategi tetap perlu disusun oleh HR dan manajemen. Misalnya strategi rekrutmen, pengembangan talenta, struktur organisasi, employee engagement, dan suksesi jabatan.

5. Keputusan promosi, mutasi, dan PHK

Data HRIS dapat menjadi bahan pertimbangan, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan analisis manusia. HR dan manajemen harus melihat performa, potensi, kebutuhan bisnis, aspek legal, dan dampak terhadap organisasi.

Risiko Jika Perusahaan Menggunakan HRIS Tanpa Persiapan

HRIS dapat membantu perusahaan, tetapi penerapannya tetap membutuhkan persiapan. Jika tidak direncanakan dengan baik, sistem justru bisa menimbulkan masalah baru.

1. Data awal tidak rapi

Jika data karyawan yang dimasukkan ke HRIS tidak akurat, hasil perhitungan dan laporan juga akan salah. Sebelum implementasi, perusahaan perlu membersihkan dan memvalidasi data terlebih dahulu.

2. Karyawan tidak memahami cara penggunaan

HRIS membutuhkan perubahan kebiasaan. Karyawan dan atasan perlu diberi pelatihan agar tahu cara mengajukan cuti, melihat slip gaji, melakukan approval, atau memperbarui data.

3. Aturan perusahaan belum jelas

Sistem hanya menjalankan aturan yang dimasukkan. Jika aturan cuti, lembur, payroll, shift, atau approval belum jelas, HRIS tidak akan menyelesaikan masalah secara otomatis.

4. Keamanan data diabaikan

HRIS menyimpan banyak data sensitif. Perusahaan perlu memperhatikan hak akses, enkripsi, audit trail, kebijakan password, backup, dan kepatuhan terhadap perlindungan data pribadi.

5. Tidak ada pemilik sistem

Perusahaan perlu menentukan siapa yang bertanggung jawab atas HRIS. Misalnya HR admin, HRIS specialist, IT, finance, atau tim gabungan. Tanpa pemilik yang jelas, data dan proses dalam sistem bisa tidak terkelola dengan baik.

Checklist Memilih HRIS untuk Perusahaan

Sebelum memilih HRIS, perusahaan perlu menyesuaikan sistem dengan kebutuhan bisnis. Berikut checklist yang bisa digunakan:

  • Apakah HRIS dapat menyimpan database karyawan secara lengkap?
  • Apakah sistem memiliki fitur absensi online?
  • Apakah sistem mendukung pengaturan shift?
  • Apakah sistem memiliki fitur pengajuan cuti online?
  • Apakah sistem dapat mengelola lembur?
  • Apakah payroll dapat dihitung otomatis?
  • Apakah sistem mendukung perhitungan PPh 21 terbaru?
  • Apakah sistem dapat menghitung BPJS?
  • Apakah slip gaji dapat diakses secara online?
  • Apakah ada fitur reimbursement?
  • Apakah ada fitur rekrutmen atau onboarding?
  • Apakah sistem memiliki fitur performance management?
  • Apakah laporan HR mudah dibuat?
  • Apakah sistem memiliki employee self-service?
  • Apakah hak akses pengguna dapat diatur?
  • Apakah vendor memiliki dukungan teknis yang baik?
  • Apakah sistem bisa disesuaikan dengan kebijakan perusahaan?
  • Apakah biaya implementasi dan langganan sesuai anggaran?

Tahapan Implementasi HRIS

Agar implementasi HRIS berjalan lancar, perusahaan dapat mengikuti tahapan berikut.

1. Identifikasi kebutuhan HR

Mulailah dengan memetakan masalah utama. Apakah masalah terbesar ada pada absensi, payroll, cuti, data karyawan, rekrutmen, atau laporan HR? Dengan memahami kebutuhan utama, perusahaan dapat memilih fitur yang paling relevan.

2. Rapikan data karyawan

Sebelum data dimasukkan ke sistem, pastikan data karyawan sudah bersih dan akurat. Periksa NIK, NPWP, nomor rekening, status PTKP, status kerja, jabatan, departemen, tanggal masuk, dan data penting lainnya.

3. Susun aturan sistem

HR perlu menyiapkan aturan cuti, shift, lembur, payroll, approval, reimbursement, dan hak akses. Aturan ini akan menjadi dasar konfigurasi HRIS.

4. Lakukan uji coba

Sebelum digunakan seluruh karyawan, lakukan uji coba pada beberapa departemen atau data sampel. Pastikan hasil absensi, cuti, payroll, dan laporan sudah sesuai.

5. Latih HR, atasan, dan karyawan

Berikan pelatihan sederhana sesuai peran pengguna. HR perlu memahami konfigurasi sistem, atasan perlu tahu cara approval, dan karyawan perlu tahu cara menggunakan fitur self-service.

6. Evaluasi setelah berjalan

Setelah HRIS digunakan, lakukan evaluasi. Periksa apakah proses menjadi lebih cepat, apakah ada kendala penggunaan, dan apakah data yang dihasilkan sudah sesuai kebutuhan manajemen.

Contoh Perbandingan Proses HR Manual dan HRIS

Proses HR Sistem Manual Dengan HRIS
Database karyawan Disimpan di map, spreadsheet, dan folder terpisah. Disimpan dalam satu sistem dengan hak akses.
Absensi Direkap manual dari mesin atau formulir. Tercatat otomatis dan terhubung dengan payroll.
Cuti Menggunakan formulir dan tanda tangan manual. Diajukan dan disetujui secara online.
Lembur Form lembur manual dan hitung terpisah. Pengajuan, approval, dan perhitungan lebih terintegrasi.
Payroll Menggunakan spreadsheet dan rawan salah input. Dihitung otomatis berdasarkan komponen gaji dan data HR.
Slip gaji Dibuat dan dikirim satu per satu. Dapat diakses karyawan secara online.
Laporan HR Dikumpulkan manual dari banyak file. Dapat dibuat lebih cepat dari database sistem.

Manfaat HRIS bagi HR, Karyawan, dan Manajemen

Manfaat HRIS bagi HR

  • Mengurangi pekerjaan administratif yang berulang.
  • Mempercepat pencarian data karyawan.
  • Mengurangi risiko salah hitung payroll.
  • Memudahkan monitoring cuti, lembur, dan absensi.
  • Membantu membuat laporan untuk manajemen.
  • Meningkatkan akurasi data HR.

Manfaat HRIS bagi karyawan

  • Lebih mudah melihat slip gaji.
  • Lebih mudah mengajukan cuti dan lembur.
  • Dapat melihat saldo cuti secara mandiri.
  • Proses reimbursement lebih transparan.
  • Informasi jadwal kerja dan absensi lebih mudah diakses.

Manfaat HRIS bagi manajemen

  • Mendapat laporan SDM lebih cepat.
  • Dapat memantau biaya payroll dan lembur.
  • Dapat melihat tren absensi dan turnover.
  • Mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
  • Membantu perusahaan menjaga kepatuhan administrasi.

Pertanyaan yang Sering Muncul tentang HRIS

Apa itu HRIS?

HRIS adalah Human Resource Information System, yaitu sistem digital yang digunakan untuk mengelola data karyawan dan berbagai proses HR seperti absensi, cuti, payroll, rekrutmen, penilaian kinerja, dan laporan SDM.

Apakah HRIS bisa menggantikan HR?

HRIS dapat menggantikan atau mengotomatisasi banyak pekerjaan administratif HR. Namun, HRIS tidak sepenuhnya menggantikan peran HR karena fungsi strategis seperti employee relations, budaya kerja, konseling, dan pengambilan keputusan tetap membutuhkan manusia.

Fungsi HR apa saja yang bisa diotomatisasi HRIS?

Beberapa fungsi yang dapat diotomatisasi antara lain database karyawan, absensi, cuti, lembur, payroll, slip gaji, PPh 21, BPJS, reimbursement, rekrutmen, onboarding, performance management, training, dan laporan HR.

Apakah HRIS cocok untuk UMKM?

HRIS dapat digunakan oleh UMKM jika proses administrasi karyawan sudah mulai kompleks. UMKM dapat memilih sistem yang sederhana terlebih dahulu, misalnya fitur absensi, cuti, dan payroll.

Apakah HRIS aman untuk menyimpan data karyawan?

HRIS dapat membantu penyimpanan data lebih rapi dan aman jika sistem memiliki kontrol akses, backup, enkripsi, audit trail, serta kebijakan perlindungan data yang baik. Perusahaan tetap perlu memastikan vendor dan pengguna internal mematuhi aturan keamanan data.

Apa perbedaan HRIS dan software payroll?

Software payroll fokus pada penggajian, sedangkan HRIS memiliki cakupan lebih luas. HRIS dapat mencakup database karyawan, absensi, cuti, rekrutmen, payroll, penilaian kinerja, training, dan laporan HR.

Apakah HRIS bisa menghitung PPh 21?

HRIS yang memiliki modul payroll biasanya dapat membantu menghitung PPh 21. Namun, perusahaan tetap perlu memastikan sistem mengikuti aturan pajak terbaru dan data karyawan sudah benar.

Apa yang harus disiapkan sebelum memakai HRIS?

Perusahaan perlu menyiapkan data karyawan yang rapi, aturan cuti, lembur, payroll, struktur organisasi, hak akses pengguna, dan rencana pelatihan untuk HR, atasan, serta karyawan.

Kesimpulan

HRIS adalah sistem yang membantu perusahaan mengelola proses HR secara lebih efisien, akurat, dan terintegrasi. Banyak fungsi administratif HR yang sebelumnya dilakukan manual kini dapat digantikan atau diotomatisasi oleh HRIS.

Beberapa fungsi HR yang dapat dibantu HRIS antara lain pengelolaan database karyawan, rekrutmen, onboarding, absensi, jadwal kerja, cuti, lembur, payroll, slip gaji, PPh 21, BPJS, reimbursement, penilaian kinerja, pelatihan, dokumen HR, employee self-service, dan laporan HR.

Meski demikian, HRIS tidak menggantikan seluruh peran HR. Fungsi yang membutuhkan empati, komunikasi, negosiasi, strategi, dan pengambilan keputusan tetap membutuhkan manusia. HRIS sebaiknya dilihat sebagai alat bantu agar HR dapat bekerja lebih strategis, bukan sekadar mengurus administrasi.

Bagi perusahaan, penerapan HRIS dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi human error, mempercepat approval, meningkatkan transparansi karyawan, serta menyediakan data yang lebih baik untuk manajemen. Namun, implementasi HRIS harus dipersiapkan dengan benar, mulai dari validasi data, penentuan aturan, pelatihan pengguna, sampai perlindungan data pribadi.

Dengan HRIS yang tepat, perusahaan dapat mengelola sumber daya manusia secara lebih modern, terukur, dan siap menghadapi kebutuhan bisnis yang terus berkembang.

Referensi External


Putri Ayudhia

Putri Ayudhia

Putri Ayudhia adalah seorang penulis konten SEO dan blogger paruh waktu yang telah bekerja secara profesional selama lebih dari 7 tahun. Dia telah membantu berbagai perusahaan di Indonesia untuk menulis konten yang berkualitas, SEO-friendly, dan relevan dengan bidang HR dan Psikologi. Ayudhia memiliki pengetahuan yang kuat dalam SEO dan penulisan konten. Dia juga memiliki pengetahuan mendalam tentang HR dan Psikologi, yang membantu dia dalam menciptakan konten yang relevan dan berbobot. Dia memiliki keterampilan dalam melakukan riset pasar dan analisis, yang membantu dia dalam menciptakan strategi konten yang efektif.
https://bloghrd.com